Sunday, May 5, 2002

Bila Pasangan Tuntut Keperawanan

Media Barat pernah membanggakan selebriti kesayangan mereka, si Perawan Amerika, Brooke Shields. Meski akhirnya keperawanan si Blue Lagoon ini tidak memberinya jaminan kelanggengan biduk rumah tangganya dengan petenis Andre Agassi. Kini, publik Barat kembali menemukan sang perawan kebanggan mereka. Penyanyi remaja penuh talenta, Britney Spears, yang berani menyatakan dirinya masih perawan dan akan terus mempertahankannya sampai nanti menjelang pernikahannya.


Apa yang bisa kita tangkap? Ternyata era kebebasan yang selama ini menjadi dewa bagi negara-negara di belahan Barat sana, mereka masih berharap banyak pada sebuah keperawanan. Bagaimana dengan fenomena moral remaja dan anak baru gedhe (ABG) kita yang kian memprihatinkan itu?

“Kalau bisa dijaga bener deh sampai menjelang pernikahan nanti,” ujar keprihatinan peragawati papan atas Indonesia, Arzety Bilbina dan penyanyi R&B Sania, menyikapi keperawanan. Pasalnya, belum tentu si perempuan akan mendapat suami yang penuh pengertian mengenai keperawanan. Bagaimana kalau Mr Right atau Mr Perfect balik merongrong dengan menggunakan senjata keperawanan sepanjang hidup perkawinan mereka?

Sementara Josephine M. J. Ratna, psikolog Universitas Widya Mandala (UWM) Surabaya, menyarankan senada. Idealnya perempuan saat melangsungkan pernikahan masih virgin (perawan). Begitu pula mempelai laki-laki, masih perjaka.

Tapi kalau memang mereka sudah tak lagi perawan ataupun perjaka, tidak sepatutnya masalah itu dipertanyakan. Sebab, sebelum memutuskan untuk menikah, tentu mereka terlebih dahulu harus mengenal pasangan masing-masing.

“Kalau seorang suami mempertanyakan keperawanan istri, dan sebaliknya seorang istri mempertanyakan keperjakaan suami, sudah bukan saatnya. Itu hanya mencari-cari masalah dan pandangan mereka terhadap pernikahan sangat sempit. Pertanyaan semacam itu seharusnya dilontarkan sebelum mereka memutuskan untuk menikah,” tutur Josephine.

Karena itu, lanjutnya, pacaran sangat penting. Pacaran merupakan masa penjajakan untuk mengetahui lebih jauh tentang calon suami atau istri, untuk mengetahui sejauh mana mereka cocok untuk hidup bersama.

Pada masa ini, perempuan bisa mengungkapkan keadaan dirinya. Namun, khusus soal keperawanan, hendaknya jangan disampaikan secara vulgar dan juga jangan dengan nada seperti terdakwa, karena justru bisa ditafsirkan sebagai bentuk kesalahan dan kepasrahan. Cukup dengan isyarat, dan kalau ternyata calon suami tanggapannya negative, tidak berkenan, lebih baik hubungan tidak diteruskan.

Ia merasa heran dengan pasangan suami-istri yang sudah bertahun-tahun mengarungi kehidupan rumah tangga masih tetap mempersoalkan keperawanan dan menjadikan istrinya sebagai ‘bulan-bulanan’.

Itu sama artinya dia secara mental belum siap menikahi istrinya. Dalam kondisi semacam ini, keharmonisan rumah tangga sulit diharapkan. Seharusnya mereka bisa menerima apa adanya.


Bukan masalah fisik

Tentang operasi selaput dara, menurut Josephine, akan merugikan diri sendiri, terutama kalau suami bersifat terbuka. Sebab kalau suatu saat ketahuan, suami akan merasa telah dibohongi dan sulit untuk mengembalikan kepercayaannya.

Promosi mengenai keperawanan kini tengah digencarkan Singapura lewat program Singapore Virgins menyarankan senada. Bahwa operasi selaput dara sebelum menikah bukan jaminan. Karena keperawanan bukan sekadar urusan fisik semata. Namun terkandung aspek di dalamnya, dan nurani Anda akan terus ‘mempersoalkan’ selamanya.

Sasaran Singapore Virgins sebetuknya untuk menggarap kaum muda Negeri Singa itu yang cenderung bersikap mulai mengkhawatirkan. Bahkan berkembang anggapan di kalangan mereka, bahwa masih perawan berarti kuno dan tidak trendi. Berkembang pula anggapan, mereka yang belum ‘kehilangan’ keperawanannya merasa sebagai kelompok minoritas. Mereka juga merasa ketakutan, hingga usianya yang kepala dua atau tiga masih tetap perawan.

Banyaknya anggapan yang keliru mengenai hal itu. Seperti kasus klise, menyerahkan keperawanan sebagai bukti cinta kepada pasangan. Singapore Virgins menekankan bahwa, keperawanan tidak ada sangkut pautnya dengan usia seseorang. Bahwa cinta yang sesungguhnya lahir dari hati yang dalam, bukan dari mata atau tubuh seseorang. (lia/tri/SV)


Jika Mencintainya …

Jika Anda memang benar-benar mencintainya, maka:

• Hargai dia dan keputusannya.

• Jangan pernah mencoba mempengaruhinya untuk melakukan hubungan seks.

• Jangan pernah menekan dirinya.

• Lakukan hubungan seksual hanya setelah menikah.

• Tunjukkan rasa cinta tanpa pemaksaan hubungan seksual. (tri/SV)



Sumber:

Harian Surya, Minggu 5 Mei 2002

1 comment: