Agar Diterima oleh Lingkungan Suami
Menurut psikolog Universitas Airlangga, Dra. Josephine M. J. Ratna, M. Psych, Psikolog, mengganti nama bukanlah masalah besar. Tapi jarang menjadi komitmen besar bagi pasangan menikah.
"Mungkin ada yang merasa nyaman kalau semuanya menggunakan family name dari suaminya. Sehingga memudahkan pengurusan dokumen-dokumen penting," kata Josephine.
Secara psikologis, seorang wanita memakai nama belakang suami, dengan harapan sosial dan diterima di lingkungan baru dengan peran baru.
"Layaknya sebuah status baru, harapan sosial tentulah mengandung konsekuensi bahwa si istri harus membuktikan kemampuannya," lanjut Josephine.
Ditambahkan Jo, sapaan kecilnya, pergantian nama sama sekali tidak menjamin sebuah perkawinan menjadi langgeng dan bahagia.
"Persoalan mengganti nama sebenarnya bagaimana kita mengartikannya saja. Karena diganti atau tidak, tidak ada jaminan sebuah perkawinan akan bahagia dan langgeng. Tapi sekali lagi itu merupakan pilihan setiap orang sehingga bagi yang tidak melakukannya, jangan menghakiminya," kata Jo.
Sumber:
Tabloid Wanita Indonesia
Tuesday, November 9, 2010
Monday, November 8, 2010
Menjaga Psikologi Anak Merapi
Ada Trauma, tapi Optimisme Juga Masih Tinggi
Bencana letusan Gunung Merapi merupakan tragedi kemanusiaan yang menimbulkan beragam konsekuensi. Selain kehancuran dimana-mana, erupsi yang hingga kini terus berlangsung itu juga mempengaruhi banyak hal. Termasuk, kondisi psikologi anak-anak korban letusan yang saat ini menghuni posko-posko pengungsian di sejumlah kota di Jogjakarta dan Jawa Tengah.
Sepintas anak-anak itu memang masih terlihat ceria. Mereka tidak tampak seperti pengungsi-pengsungsi lain yang sudah dewasa. Namun, pengaruh psikis akan terlihat ketika anak-anak di posko pengungsian tersebut diajak menggambar, bernyanyi, dan bercerita bersama. Apa yang mereka ekspresikan hampir seluruhnya berkaitan dengan erupsi yang terjadi sejak 26 Oktober lalu itu.
Ketika disuruh menggambar, kebanyakan menggambar hunung dengan lava yang mengalir keluar. Saat diminta bercerita pun, kisah mereka tak jauh-jauh dari letusan Gunung Merapi. “Pokoknya cerita mereka hampir selalu berhubungan sama panas. Malah, pernah ada yang cerita begini. Dari puncak gunung keluar naga. Naga itu nyemburin api ke mana-mana. Semacam itulah,” kata Bunga Merilla Rahma Zita, mahasiswi Fakultas Psikologi Unair yang sempat menjadi relawan di Merapi setelah erupsi pertama yang juga menewaskan sang Juru Kunci Mbah Marijan itu.
Bunga dan rekannya, Nengsri Susanti, serta beberapa mahasiswa lain, sempat menjadi relawan di posko Banyubiru, Muntilan, Magelang. Di sana, selain membantu menyediakan logistic, mereka mendampingi para pengungsi secara psikologis. Bunga dan Nengsri membawa beberapa gambar yang dibuat dengan krayon oleh anak-anak di posko pengungsian tersebut.
Hasilnya memang cukup mencengangkan. Rata-rata anak menggambar gunung dengan persepsi masing-masing. Ada yang menggambar gunung yang mengembuskan asap hitam, ada pula yang puncak gunungnya mengeluarkan lahar merah. Ada pula yang puncak gunungnya berwarna kelabu. Bahkan, ada yang mnggambar gunung, namun puncaknya berupa lengkungan. Bagian puncak itu seperti lenyap setelah gunung meletus.
Beberapa gambar yang dibawa ke Surabaya juga menunjukkan coretan-coretan yang menggambarkan truk tentara serta posko pengungsian. Namun, pada gambar-gambar tersebut, anak-anak itu juga melukiskan daerah persawahan yang masih hijau, masih ditumbuhi pepohonan dan bunga.
Kendati demikian, gambar gunung itu tidak serta-merta menunjukkan trauma mendalam yang dialami anak-anak tersebut. “Orang Indonesia itu kalau disuruh menggambar, rata-rata refleksnya menggambar gunung kan,” kata psikolog Josephine M. J. Ratna M. Psych kepada Jawa Pos.
Yang menunjukkan keterkaitan dengan tragedi Merapi hanya bagaimana anak-anak itu menggambarkan puncak gunung yang diselimuti awan hitam atau mengeluarkan lahar. Namun, belum tentu juga itu menunjukkan trauma. Sebab, gambar-gambar tersebut dibuat pada Minggu (31/10) atau lima hari setelah Merapi meletus pertama. Rata-rata anak penghuni posko Banyubiru dibawa ke pengungsian sebelum wedhus gembel menerjang kampung mereka. Dengan demikian, hampir tidak ada yang melihat bagaimana kampung mereka luluh lantak oleh letusan Merapi.
Setelah berada di pengungsian pun, mereka tidak bisa melihat kondisi puncak Merapi karena selalu diselimuti kabut. “Mungkin mereka menggambarkan apa yang mereka dengar dari orang lain. Bukan apa yang mereka lihat sendiri. Memang ada trauma, tapi belum seberapa mendalam,” ujar Josephine.
Ibu dua anak itu menambahkan. Pada gambar-gambar tersebut terlihat bahwa anak-anak masih memiliki optimism yang tnggi. Indiksinya, mereka menggambarkan bahwa di bawah gunung masih ada sawah menghijau dan pak tani yang bekerja di sawah. “Artinya, mereka masih melihat desa mereka subur dan hijau. Seetelah letusan, mereka juga berharap desa mereka kelak masih seperti itu. Optimisme ini yang harus terus dipupuk oleh para relawan yang mendampingi mereka,” katanya. (rum/c2/nw)
Sumber:
Jawa Pos, Senin 8 November 2010
Saturday, November 6, 2010
Kencan Sekarang, Yuk
Lebih Menyenangkan
Seseorang pasti suka apabila diberi surprise. Sebab, sesuatu yang tidak terencana biasanya lebih indah dan menyenangkan. Sama halnya dengan kencan dadakan. Hal itu bisa dijadikan solusi untuk membangkitkan kembali hubungan yang datar-datar saja. Selain itu, kencan dadakan efektif sebagai media penguji pasangan terhadap jadwalnya dan seberapa penting kita buat pasangan. Itu bisa dilihat lewat rekasi dia dalam menanggapi ajakan kencan yang mendadak tersebut. Namun, terlepas dari semua itu, kencan dadakan membuat kita lebih kreatif dalam menyikapi permasalahan. Kita juga bisa belajar untuk terbuka kepada pasangan, misalnya jika kondisi finansial belum siap. Tentunya, dengan kencan dadakan tersebut, kita bisa memperoleh quality time bersama orang tersayang. (daf/c7/fry).
Sumber:
Deteksi Jawa Pos, Sabtu 6 November 2010
Seseorang pasti suka apabila diberi surprise. Sebab, sesuatu yang tidak terencana biasanya lebih indah dan menyenangkan. Sama halnya dengan kencan dadakan. Hal itu bisa dijadikan solusi untuk membangkitkan kembali hubungan yang datar-datar saja. Selain itu, kencan dadakan efektif sebagai media penguji pasangan terhadap jadwalnya dan seberapa penting kita buat pasangan. Itu bisa dilihat lewat rekasi dia dalam menanggapi ajakan kencan yang mendadak tersebut. Namun, terlepas dari semua itu, kencan dadakan membuat kita lebih kreatif dalam menyikapi permasalahan. Kita juga bisa belajar untuk terbuka kepada pasangan, misalnya jika kondisi finansial belum siap. Tentunya, dengan kencan dadakan tersebut, kita bisa memperoleh quality time bersama orang tersayang. (daf/c7/fry).
Sumber:
Deteksi Jawa Pos, Sabtu 6 November 2010
Monday, October 25, 2010
MENGEMBANGKAN MOTIVASI ANAK SEJAK DINI
Oleh: Josephine Ratna, M.Psych
Pendahuluan
Anak-anak sangat mudah mempelajari sesuatu yang baru. Namun memotivasi mereka untuk tetap mau belajar akan dapat dicapai dengan menciptakan lingkungan (iklim belajar) yang mendukung, dan orangtua idealnya mampu menjadi fasilitator dan bukan hanya penentu aturan. Mengembangkan motivasi anak sejak dini merupakan tugas yang gampang-gampang susah, artinya tugas ini bisa berhasil diemban oleh orangtua bila anak mereka memang memiliki motivasi dari dalam yang kuat untuk mencapai sesuatu atau bila orangtua mampu mengetahui motivasi dari luar yang mampu menggerakkan anak untuk melakukan sesuatu. Tugas ini bisa menjadi sulit bila anak tidak mampu menangkap makna suatu aktivitas sehingga is sulit menimbulkan motivasi dari dalam dirinya sehingga berbagai bentuk tawaran dari luar yang bermaksud untuk mendorongnya melakukan sesuatu belum tentu menarik perhatiannya.
Karena setiap anak berkembang melalui tahap perkembangan tertentu, adalah penting bagi orangtua untuk mengenal anak mereka sesuai tahap perkembangan yang sedang dilampauinya, sehingga diharapkan orangtua akan mampu menstimulasi dan memotivasi anak mereka untuk mau terlibat dan berprestasi dibidang tertentu.
Pengertian Motivasi dan Tipe Motivasi
Motivasi berasal dari kata motif yang dapat diartikan sebagai daya penggerak yang ada di dalam diri seseorang untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi tercapainya suatu tujuan. Motif dapat diartikan sebagai suatu kondisi intern (kesiapsiagaan). Mc. Donald menyatakan bahwa motivasi adalah perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan munculnya "feeling" dan di dahului dengan tanggapan terhadap adanya tujuan. Dari pengertian yang dikemukakan oleh Mc. Donald ini mengandung tiga elemen/ciri pokok dalam motivasi itu, yakni motivasi itu mengawalinya terjadinya perubahan energi, ditandai dengan adanya feeling, dan dirangsang karena adanya tujuan.
Motivasi merupakan kondisi psikologis yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Dalam kegiatan belajar, motivasi dapat dikatakan sebagai keseluruhan daya penggerak di dalam diri anak/siswa yang menimbulkan, menjamin kelangsungan dan memberikan arah kegiatan belajar, sehingga diharapkan tujuan dapat tercapai. Dalam kegiatan belajar, motivasi sangat diperlukan, sebab seseorang yang tidak mempunyai motivasi dalam belajar, tidak akan mungkin melakukan aktivitas belajar.
Ada 2 macam motivasi yaitu :
• Motivasi Intrinsik timbul dari dalam diri individu sendiri tanpa ada paksaan dorongan orang lain Contoh : keingintahuan, keinginan untuk membuktikan diri, kebutuhan untuk dipuji, minat besar untuk melakukan sesuatu yang menyenangkan
• Motivasi Ekstrinsik. Jenis motivasi ini timbul sebagai akibat pengaruh dari luar individu berupa ajakan, suruhan, atau paksaan dari orang lain yang terkadang diikuti dengan iming-iming sesuatu agar anak lebih memilih untuk melakukan sesuatu.
Masalah Berkaitan dengan Motivasi
1. Motivasi padam atau tidak punya motivasi
Masalah ini biasanya terjadi bila anak merasa takut gagal, frustrasi karena prestasi tidak stabil, tidak memahami harapan orang lain (orangtua, guru, teman), rendah diri /minder, masalah emosi (marah, sedih, benci), kurang perhatian dan kurang penghargaan.
Bentuk sikap dan perilaku pada anak dengan motivasi padam/rendah antara lain : Menyerah / putus asa (“Ah….sekolah susah…gak enak, aku gak mau sekolah”) ; Menghindari tugas (“Nanti saja mengerjakan PRnya…aku mau main dulu) ; Mengejek anak lain yang punya motivasi (“Buat apa belajar, nanti tidak sempat main”) ; Melakukan hal lain untuk mencari perhatian (bermain, melawak) ; Merasa diri tidak kompeten (“Aku kan bodoh, jadi memang tidak bisa berhitung”) ; Agresif dan impulsif (“Sudah! Aku berhenti saja!”) ; Tidak mau mencoba walaupun sudah dirayu dan didorong (“Pokoknya aku tidak mau, tidak mau….!”)
2. Motivasi yang salah
Hal ini biasanya terjadi karena ajakan atau paksaan dari luar, sehingga anak melakukan sesuatu didasari oleh tujuan yang tidak jelas/salah. Bila tidak segera diperbaiki, anak akan belajar memanipulasi tujuan demi tercapainya sesuatu.
Bentuk sikap dan perilaku anak yang mempunyai motivasi salah : Mengajak dan Memaksa orang lain melakukan hal yang tidak benar (“Ayo nyontek saja…. Daripada nilai jelek lalu kita tidak boleh bermain”) ; Berbohong (“Bilang saja kalau kita mau belajar, tapi nanti kita main dulu”) ; Memfitnah (“Bukan aku yang mencoreti buku tapi ada temanku yang menyuruh”)
3. Kesulitan menimbulkan motivasi anak
Bagi sebagian orangtua, menimbulkan motivasi anak bukanlah hal yang sulit, karena anak mereka memang memiliki keinginan besar untuk melakukan eksplorasi, mandiri, cerdas dan memiliki ambisi untuk mencapai sesuatu. Namun banyak orangtua mengalami kesulitan besar bahkan untuk membuat anak sedikit termotivasi untuk melakukan sesuatu. Berbagai upaya telah dilakukan misalnya memberi hadiah, menjanjikan sesuatu bila anak berhasil dan bahkan menghukum anak namun belum membuat sang anak termotivasi.
Anak yang acuh tak acuh (cuek) dan lebih senang menyendiri serta memiliki sifat dasar ‘pemberontak’ pada dasarnya tidak mudah termotivasi oleh hadiah maupun hukuman karena memiliki pola pikir yang berbeda dengan kebanyakan anak lain.
Strategi dan Kegiatan Untuk Menimbulkan Motivasi
Tantangan utama yang dihadpi orangtua dan guru adalah bagaimana menimbulkan motivasi intrinsic pada anak, sehingga anak akan dengan sendirinya termotivasi belajar hal baru, menyukai proses belajar itu sendiri dan mengetahui nilai / hasil akhir yang akan dicapainya melalui kegiatan ini.
Anak akan termotivasi bila :
1. Anak merasa kompeten (mampu melakukan sesuatu)
Orangtua hendaknya membantu anak untuk meraih kompetensi dan tidak membiarkan anak mereka berjuang sendirian. Beri tantangan yang diyakini mampu diselesaikan anak, sehingga ia merasakan suatu keberhasilan. Secara bertahap beri tantangan yang lebih besar disertai dengan kepercayaan orangtua bahwa anak akan mampu menghadapinya (bila perlu temani anak dengan sepenuh hati). Untuk menjadi kompeten, anak perlu tekun berlatih dan tugas orangtua juga memberi keteladanan dalam hal ketekunan. Orangtua yang menunjukkan kemalasan tidak dapat membantu anak termotivasi untuk rajin dan berprestasi.
2. Anak mempunyai pilihan dan dapat mengendalikan/mengontrol apa yang ia pelajari
Anak dan orang dewasa sekalipun akan lebih merasa nyaman bila mereka mempunyai alternative / pilihan. Adanya pilihan akan membuat anak terlatih untuk membuat pertimbangan, pembandingan dan akhirnya mengambil keputusan. Keberanian untuk mengambil keputusan akan menimbulkan motivasi untuk mencapai tujuan dari pilihan tersebut. Contoh, anak punya pilihan untuk belajar musik piano atau berenang. Orangtua membantu anak memberikan pertimbangan konsekuensi pilihan tersebut. Bila anak memilih untuk berenang, maka ia dipersiapkan untuk menjaga kondisi fisik dan diharapkan termotivasi untuk makan makanan bergizi.
3. Anak yakin akan kemampuan dirinya dan merasa / mendapatkan dukungan dari orangtuanya.
Ketika orangtua terlalu sayang kepada anaknya, maka mereka cenderung mengontrol apa yang dirasakan baik bagi anak dan kurang mempertimbangkan bagaimana perasaan anak sendiri akan pilihan orangtuanya. Dukungan yang paling dibutuhkan anak adalah rasa percaya orangtua bahwa anak mampu melakukan apa yang ingin dilakukannya. Bila orangtua tidak menyetujui apa yang akan dilakukan anak, sebaiknya orangtua memberi kesempatan anak mencoba dan tidak menghakimi di awal. Ketika anak semisal tidak berhasil menyelesaikan, maka peran orangtua sangat penting untuk tidak menunjukkan kekecewaan, tetapi tetap menunjukkan optimisme agar anak tidak berhenti mencoba karena orangtua juga tidak akan berhenti memberikan dukungan. Berada bersama anak dalam perjuangan adalah hal yang sangat dibutuhkan anak untuk tetap termotivasi melakukan sesuatu yang sulit.
4. Ada perpaduan antara kepribadian, minat belajar, gaya belajar, proses berpikir dan tahap perkembangan anak
Dalam mengembangkan motivasi anak, orangtua dan guru penting mempertimbangkan kepribadian, minat, gaya belajar, proses berpikir dan tahap perkembangan anak itu sendiri.
Anak dengan kepribadian introvert mempunyai cara yang berbeda dalam menunjukkan motivasinya melakukan sesuatu bila dibandingkan dengan anak yang ekstrovert.
Anak ekstrovert lebih mudah mengekspresikan apa yang diinginkannya sehingga orang lain lebih mudah mengukur tingkat motivasi anak. Seringkali ketika anak introvert mencapai keberhasilan, maka keberhasilannya tidak mendapatkan pujian yang belebihan bila dibandingkan pujian yang diterima oleh seorang anak ekstrovert.
Sejalan dengan bertambahnya usia anak, maka minat mulai ikut mengambil peran dalam membangun motivasi. Minat anak dapat diobservasi dari ketertarikan anak melakukan sesuatu, intensitas dan frekuensi ia menghabiskan waktu untuk melakukan suatu hal. Namun perlu disadari bahwa minat besar tidak selalu menghasilkan prestasi, tetapi adanya minat membuat anak menyukai dan menyenangi aktivitas tertentu. Artinya, minat memiliki peran besar dalam menimbulkan emosi positif dan emosi positif inilah yang akan memperkuat motivasi. Bila orangtua memperhatikan bahwa anak mereka berminat pada hal tertentu, beri dukungan dan tantangan agar minat tersebut semakin berkembang dan upayakan anak memiliki kompetensi yang berhubungan dengan minat tersebut. Perkuat rasa percaya diri anak dengan memberikan motivasi ekstrinsik, namun terus pupuk minat ke arah yang benar dengan memberi keteladanan. Contoh : Anak menunjukkan minat musik dan vokal. Ia suka bernyanyi sambil menari. Orangtua dapat membelikan CD atau VCD sehingga anak bisa melihat gaya dan cara menyanyi yang baik. Ketika ada kesempatan, maka anak didorong untuk berani menampilkan kemampuannya. Orangtua menunjukkan antusiasme ketika mendampingi anak dan mengambil foto atau merekam penampilan anak. Kemudian secara gembira mengevaluasi penampilan anak serta meyakinkan anak hal positif apa yang sudah ia dapatkan (pengalaman tampil di depan orang lain, keberanian menunjukkan kemampuan, dll).
Faktor gaya belajar sangat berperan dalam mengembangkan motivasi anak. Ada 3 macam gaya belajar yaitu : Visual (dengan melihat, menonton, melalui gambar, grafik) ; Auditori (dengan mendengarkan dan berdiskusi) dan Kinestetis (dengan melakukan). Anak- anak usia kurang dari 8 tahun biasanya memakai gaya belajar kinestetis, sehingga aktivitas di sekolah yang mengharuskan anak untuk duduk manis dan berdiskusi justru akan menurunkan minat dan motivasi belajar.
Di usia muda sekalipun, anak telah mengembangkan proses berpikir yang unik. Secara umum proses berpikir dibagi 3 yaitu proses berpikir analitis (mendetail) dan global (menyeluruh). Anak yang berpikir analitis biasanya memecah informasi secara mendetail dan kemudian mengurutkan secara logis, misalnya anak menceritakan secara runtut kegiatan yang dilakukan di sekolah. Anak analitis akan termotivasi jika berada di lingkungan yang teratur dengan aturan disiplin yang konsisten. Sebaliknya pembelajar global mengelompokkan informasi secara keseluruhan, cepat merangkum dan mencari inti cerita serta mengambil kesimpulan, tetapi sulit menerangkan langkah detail mencapai kesimpulan itu.
Tiap anak berkembang sesuai dengan tahap perkembangan tertentu, sehingga penting untuk menyesuaikan strategi mengembangkan motivasi menurut tahap perkembangan yang sedang dilaluinya. Contoh, anak usia 4-5 tahun akan mengalami masa Oedipus Complex atau Electra Complex (lihat Bagan Kompilasi Tahap Perkembangan), maka akan lebih efektif bila orangtua yang berlawanan jenislah yang mendampingi anak dan memberikan motivasi anak untuk melakukan sesuatu. Tantangan yang diberikan ibu pada anak laki-lakinya pada usia ini biasanya lebih efektif karena anak laki-laki pada masa ini lebih dekat dengan ibu. Tetapi bila cara Ibu memotivasi anak tidak menyenangkan makan akan menimbulkan bumerang dimana motivasi anak menjadi rendah atau bahkan padam.
Contoh penerapan : Doni (5.5 th) berminat belajar tentang dinosaurus, ia berpikir global, gaya belajar visual. Maka cara efektif mengajarkan tentang alam, Ibu (lawan jenis) dapat memakai gambar (melihat film), bercerita dari kesimpulan bahwa alam itu menyediakan berbagai sumber makanan dan mengambil contoh bagaimana dinosaurus makan dan hidup jaman dahulu.
Penutup
Memotivasi diri sendiri sama pentingnya dengan memotivasi orang lain, bahkan lebih penting karena keberhasilan itu menuntut 1% inspirasi dan 99% perjuangan. Mereka yang berhasil adalah mereka yang mengusahakan keberhasilan itu sendiri dengan mempertahankan motivasi diri untuk berbuat yang terbaik. Mari kita bantu anak kita masing-masing untuk mencapai keberhasilan masa depan dengan melatih mereka untuk mampu memotivasi diri sendiri. Selamat berjuang !
Wednesday, October 20, 2010
Penerapan Cognitive Behaviour Therapy dalam Kasus-Kasus Klinis
Oleh : Josephine M.J. Ratna, PG.Dip.Sc (UWA), M.Psych (Curtin), APS (Foreign Affiliate)
Pengantar
Cognitive Behaviour Therapy (CBT) merupakan salah satu alternative terapi yang dapat digunakan dalam intervensi psikologi, termasuk di dalamnya kasus-kasus klinis.
Baca ilustrasi di bawah ini :
Joe has been seeing a psychoanalyst for four years for treatment of the fear that he had monsters under his bed. It had been years since he had gotten a good night's sleep. Furthermore, his progress was very poor, and he knew it. So, one day he stops seeing the psychoanalyst and decides to try something different.
A few weeks later, Joe's former psychoanalyst meets his old client in the supermarket, and is surprised to find him looking well-rested, energetic, and cheerful. "Doc!" Joe says, "It's amazing! I'm cured!"
"That's great news!" the psychoanalyst says. "you seem to be doing much better. How?"
"I went to see another doctor," Joe says enthusiastically, "and he cured me in just ONE session!"
"One?!" the psychoanalyst asks incredulously
Yeah," continues Joe, "my new doctor is a behaviorist." "A behaviorist?" the psychoanalyst asks. "How did he cure you in one session?"
"Oh, easy," says Joe. "He told me to cut the legs off of my bed."
Dari ilustrasi di atas dan cukup banyak contoh nyata yang menunjukkan bahwa banyak kasus klinis akut dan kronis yang secara mencengangkan dapat di’selesaikan’ dan klien/pasien menunjukkan kemajuan yang berarti setelah terapis menerapkan teknik CBT. Apakah hal ini membuktikan bahwa CBT adalah teknik yang lebih baik dibandingkan teknik terapi lainnya ?
Tidak demikian. CBT pada dasarnya berkembang dan bersintesis dengan berbagai macam pendekatan lain, namun dengan menekankan adanya tahapan dan system yang memungkinkan baik klien, terapis maupun individu yang terlibat langsung maupun tidak langsung ikut menjadi bagian yang tidak terpisahkan untuk menghasilkan perubahan yang diharapkan.
Perkembangan Cognitive Behaviour Therapy
Dasar empiris dari pendekatan kognitif – perilaku dalam mengatasi permasalahan psikologis sebenarnya berawal dari pandangan Darwinian yang menyatakan bahwa ada kesinambungan antara manusia dan hewan, dimana perilaku primitif hewani dapat diaplikasikan dan digeneralisasikan pada manusia. Hal ini dibuktikan dengan teori Pavlov – Classical Conditioning dimana disimpulkan bahwa perilaku dan respon emosional dapat dikondisikan/dikontrol, termasuk di dalamnya adalah pemahaman tentang fenomena psikopatologi.
Konsep dan pemahaman bahwa ada faktor belajar pada manusia yang memungkinkan ia mengontrol perilaku dikenal dengan pendekatan Operant Conditioning, dimana ditekankan bahwa perilaku akan dikuatkan atau berubah tergantung pada manipulasi dari konsekuensi yang ada. Semakin menyenangkan konsekuensi yang akan diperoleh dari suatu tindakan, maka tindakan yang sama akan cenderung diulang. Semakin negatif akibat yang mungkin diterima dari suatu perilaku, diharapkan perilaku tersebut akan berubah atau menurun frekuensinya.
Teknik terapi perilaku yang lebih menekankan pada hasil akhir yaitu perubahan perilaku menjadi berkembang pesat dengan dikenalkannya berbagai pendekatan baru seperti :
• Watson dengan teori generalisasi pada rangsang yang mirip ;
• Wolpe dengan pendekatan desensitisasi sistematis ;
• Bandura dengan teori modeling/imitasi ;
• Mowrer dengan eksperimentasi enuresis (melibatkan aspek fisiologis) ;
• Dollard & Miller dengan teori psikoanalitik dan teori belajar yang menonjolkan peran budaya dan faktor sosial dalam pembentukan nilai dan perilaku ;
• Wolpe dengan penjelasan neurofisiologi terhadap munculnya rasa takut dan cemas serta bagaimana manusia pada dasarnya belajar tentang rangsang yang menimbulkan kecemasan dari respon fisiologinya ; memperkenalkan pentingnya pengalaman nyata pada individu yang nantinya dipergunakan untuk membuat individu tersebut mampu mengembangkan kemampuan imajinasi akan suatu situasi yang mencemaskan untuk kemudian mengontrolnya melalui teknik relaksasi
Dalam perkembangan selanjutnya, semakin banyak teori yang menekankan bahwa ada faktor lain yang sangat mempengaruhi perilaku dan bagaimana perilaku yang ini akan dapat menimbulkan konsekuensi yang lebih luas dan/atau patologis apabila tidak ditangani dengan benar. Faktor lain yang dimaksud adalah faktor kognitif dan pengaruh lingkungan.
Integrasi aspek kognitif dan perilaku berkembang dari teori 3 sistem yang diperkenalkan oleh Lang dan Rachman, dimana pada individu terdapat aspek perilaku, kognitif/afektif dan fisiologis yang walaupun berkaitan namun tidak berubah pada saat yang sama – desynchronous. Pemahaman tentang 3 sistem ini membawa angin segar dalam perkembangan intervensi psikologis karena semakin dipahami bahwa munculnya problem tidak terlepas dari 3 sistem yang saling berkaitan namun masing-masing sistem memiliki karakteristik unik yang perlu dipertimbangkan.
Pada akhirnya pendekatan CBT sangat dipengaruhi oleh :
• Teori Bandura tentang observational learning dan self-efficacy yang menekankan bahwa perilaku sangat dipengaruhi oleh proses pencernaan kognitif akan hal-hal yang diobservasi sebelum munculnya perilaku serta efektivitas dari perubahan perilaku yang sangat bergantung pada persepsi individu sendiri ;
• Meichenbaum yang memperkenalkan model self instructional training, dimana dikemukakan bahwa perubahan perilaku dapat terjadi bila individu sendirilah yang mengubah instruksi, menginginkan perubahan tersebut terjadi dan melatihnya ;
• Cognitive therapy yang diperkenalkan oleh Beck – yang menemukan korelasi antara negative thinking pada penderita depresi dan untuk mengatasi depresi sangat penting bagi individu tersebut untuk menyadari, menemukan dan mengubah pemikiran negatif otomatis yang muncul tentang diri sendiri, pengalaman saat ini dan masa depan (cognitive triad)
Pengertian dan Ciri-Ciri CBT
Cognitive Behaviour Therapy adalah model terapi terstruktur jangka pendek yang melibatkan kolaborasi antara individu yang bermasalah dengan terapisnya dalam rangka mencapai tujuan terapeutik yang telah disepakati bersama
Ciri-ciri CBT :
1. Melibatkan kerjasama aktif antara KLIEN, TERAPIS, KEY OTHERS, RELEVANT OTHERS
2. Psikolog sebagai mediator & fasilitator ; menolong klien mengenali pola berpikir yang menjadi sebab timbulnya disfungsi perilaku
3. Tujuan terapi adalah :
• menyusun secara seksama dan terstruktur tugas yang akan digunakan oleh klien dan terapis dalam rangka menolong klien mengevaluasi dan mengubah distorsi pola pikir dan disfungsi perilakunya
• Memberi kesempatan klien belajar beradaptasi dalam situasi kini dan mendatang
4. Mengacu pada :
• perubahan yang diharapkan klien (realistik dan memungkinkan adanya evaluasi)
• Keterlibatan dan partisipasi klien untuk menolong dirinya (self-help)
5. Time limited therapy
Model Pengukuran CBT
Ada beberapa cara yang biasa dipergunakan dalam CBT untuk mendapatkan informasi sekaligus menjadi bagian dari proses terapi, yaitu :
1. Behavioural Interviewing
2. Self Monitoring
3. Self-report questionnaires
4. Information from other people
5. Direct Observation of behaviour
6. Behavioural by-products
7. Physiological Measures
Ke-7 model di atas tidak harus dilakukan semuanya namun bergantung pada kasus yang ada.
Penerapan CBT
Untuk menggunakan pendekatan CBT dalam menangani kasus, sangat penting diperhatikan bahwa terapis harus terlebih dahulu memahami bahwa CBT tidak dapat diterapkan pada klien-klien tertentu (dependent personality, dalam pengaruh obat-obatan, kelainan neurofisiologi, tidak dapat diajak berkomunikasi, dan tidak punya konsep self-help).
CBT tidak dapat dijalankan terpisah dari pendekatan lainnya, sehingga dapat dikatakan bahwa CBT justru memberikan fleksibilitas bagi terapis dan klien untuk mengeksplorasi cara tertentu untuk mengungkap sesuatu.
Contoh : ketika interview, klien dan keluarga dapat diminta untuk menjabarkan onset (awal mula munculnya perilaku bermasalah) dengan membuat urutan kejadian (time event chart) atau bila dirasakan lebih nyaman dengan teknik psikoanalisa dapat pula dilakukan demikian.
Mengingat keberhasilan CBT sangat tergantung pada kolaborasi dan peran aktif klien (self instructional training), maka klien sering akan diminta memberikan catatan tentang permasalahannya untuk kemudian dibahas pada pertemuan selanjutnya. Memberikan PR dan proses mencatat hal-hal tertentu yang disepakati pada pertemuan sesungguhnya mempunyai fungsi terapeutik bagi klien sendiri sehingga pada pertemuan selanjutnya lebih ditekankan pada anchoring insight (mengkonfirmasi dan memberikan penegasan pada insight yang muncul).
Contoh penerapan CBT pada kasus kecemasan :
Anxiety : perasaan cemas atas situasi yang dianggap / dirasakan membahayakan
Tujuan CBT : membantu klien mengidentifikasi, mengevaluasi dan mengubah persepsi bahaya yang tidak realistis dan mengubah perilaku yang menyebabkan salah persepsi
Tipe kecemasan : Panik, Generalized Anxiety
Model kognitif ?
Pelaksanaan CBT :
* Identifikasi pemikiran negatif
* Mengubah pikiran negatif dan
perilaku yang menyertai
pikiran tersebut
Contoh penerapan CBT pada kasus depresi :
Faktor penyebab bervariasi dan interaksi banyak faktor
Gejala depresi :
* sedih berlebihan
* mudah menangis
* rasa bersalah
* menganggap diri menyusahkan
* merasa tidak berguna kini & yang akan datang (masa depan)
* mudah tersinggung, cemas dan tegang
Tujuan treatment depresi :
* Mempercepat penyembuhan dari episode depresi
* Mengalihkan individu ke situasi tidak / bukan depresif menjadi normal dan
proporsional
* Mencegah terjadinya episode berikut (kekambuhan) yang lebih parah
Model kognitif ?
CBT untuk depresi
Bertujuan agar klien dapat berpikir lebih rasional serta berani mengubah perilakunya
untuk keluar dari episode depresi
Biasanya mencoba mengatasi cognitive errors
Strategi utama : Cognitive à Behavioural à Cognitive Behavioural à Preventive strategies
Penutup
Cognitive Behaviour Therapy memberikan angin segar dalam intervensi psikologis dan sudah banyak penelitian yang menemukan efektivitas dan efisiensi dari penerapan pendekatan ini untuk kasus-kasus klinis. Namun CBT tidak dapat diterapkan untuk menyelesaikan semua masalah psikologis dan tidak dapat dilaksanakan terpisah dari pendekatan lain.
Terapis yang hendak menerapkan pendekatan CBT ini hendaknya melatih diri, memiliki keyakinan akan efektivitas intervensi ini dan fleksibel untuk mendesain program yang sesuai untuk tiap kasus. Latihan terus menerus akan meningkatkan kepekaan penggunaan model pengukuran dan pemberian tugas untuk mendapatkan informasi yang relevan sekaligus memungkinkan proses penggalian informasi sebagai bagian dari proses terapeutiknya sendiri. Ukuran keberhasilan adalah pada bagaimana klien mampu mengidentifikasi sendiri distorsi pola pikir yang mempengaruhi perilakunya atau bagaimana perilakunya menimbulkan pola pikir disfungsional yang menghambat aspek kehidupan lain dalam dirinya.
Pengantar
Cognitive Behaviour Therapy (CBT) merupakan salah satu alternative terapi yang dapat digunakan dalam intervensi psikologi, termasuk di dalamnya kasus-kasus klinis.
Baca ilustrasi di bawah ini :
Joe has been seeing a psychoanalyst for four years for treatment of the fear that he had monsters under his bed. It had been years since he had gotten a good night's sleep. Furthermore, his progress was very poor, and he knew it. So, one day he stops seeing the psychoanalyst and decides to try something different.
A few weeks later, Joe's former psychoanalyst meets his old client in the supermarket, and is surprised to find him looking well-rested, energetic, and cheerful. "Doc!" Joe says, "It's amazing! I'm cured!"
"That's great news!" the psychoanalyst says. "you seem to be doing much better. How?"
"I went to see another doctor," Joe says enthusiastically, "and he cured me in just ONE session!"
"One?!" the psychoanalyst asks incredulously
Yeah," continues Joe, "my new doctor is a behaviorist." "A behaviorist?" the psychoanalyst asks. "How did he cure you in one session?"
"Oh, easy," says Joe. "He told me to cut the legs off of my bed."
Dari ilustrasi di atas dan cukup banyak contoh nyata yang menunjukkan bahwa banyak kasus klinis akut dan kronis yang secara mencengangkan dapat di’selesaikan’ dan klien/pasien menunjukkan kemajuan yang berarti setelah terapis menerapkan teknik CBT. Apakah hal ini membuktikan bahwa CBT adalah teknik yang lebih baik dibandingkan teknik terapi lainnya ?
Tidak demikian. CBT pada dasarnya berkembang dan bersintesis dengan berbagai macam pendekatan lain, namun dengan menekankan adanya tahapan dan system yang memungkinkan baik klien, terapis maupun individu yang terlibat langsung maupun tidak langsung ikut menjadi bagian yang tidak terpisahkan untuk menghasilkan perubahan yang diharapkan.
Perkembangan Cognitive Behaviour Therapy
Dasar empiris dari pendekatan kognitif – perilaku dalam mengatasi permasalahan psikologis sebenarnya berawal dari pandangan Darwinian yang menyatakan bahwa ada kesinambungan antara manusia dan hewan, dimana perilaku primitif hewani dapat diaplikasikan dan digeneralisasikan pada manusia. Hal ini dibuktikan dengan teori Pavlov – Classical Conditioning dimana disimpulkan bahwa perilaku dan respon emosional dapat dikondisikan/dikontrol, termasuk di dalamnya adalah pemahaman tentang fenomena psikopatologi.
Konsep dan pemahaman bahwa ada faktor belajar pada manusia yang memungkinkan ia mengontrol perilaku dikenal dengan pendekatan Operant Conditioning, dimana ditekankan bahwa perilaku akan dikuatkan atau berubah tergantung pada manipulasi dari konsekuensi yang ada. Semakin menyenangkan konsekuensi yang akan diperoleh dari suatu tindakan, maka tindakan yang sama akan cenderung diulang. Semakin negatif akibat yang mungkin diterima dari suatu perilaku, diharapkan perilaku tersebut akan berubah atau menurun frekuensinya.
Teknik terapi perilaku yang lebih menekankan pada hasil akhir yaitu perubahan perilaku menjadi berkembang pesat dengan dikenalkannya berbagai pendekatan baru seperti :
• Watson dengan teori generalisasi pada rangsang yang mirip ;
• Wolpe dengan pendekatan desensitisasi sistematis ;
• Bandura dengan teori modeling/imitasi ;
• Mowrer dengan eksperimentasi enuresis (melibatkan aspek fisiologis) ;
• Dollard & Miller dengan teori psikoanalitik dan teori belajar yang menonjolkan peran budaya dan faktor sosial dalam pembentukan nilai dan perilaku ;
• Wolpe dengan penjelasan neurofisiologi terhadap munculnya rasa takut dan cemas serta bagaimana manusia pada dasarnya belajar tentang rangsang yang menimbulkan kecemasan dari respon fisiologinya ; memperkenalkan pentingnya pengalaman nyata pada individu yang nantinya dipergunakan untuk membuat individu tersebut mampu mengembangkan kemampuan imajinasi akan suatu situasi yang mencemaskan untuk kemudian mengontrolnya melalui teknik relaksasi
Dalam perkembangan selanjutnya, semakin banyak teori yang menekankan bahwa ada faktor lain yang sangat mempengaruhi perilaku dan bagaimana perilaku yang ini akan dapat menimbulkan konsekuensi yang lebih luas dan/atau patologis apabila tidak ditangani dengan benar. Faktor lain yang dimaksud adalah faktor kognitif dan pengaruh lingkungan.
Integrasi aspek kognitif dan perilaku berkembang dari teori 3 sistem yang diperkenalkan oleh Lang dan Rachman, dimana pada individu terdapat aspek perilaku, kognitif/afektif dan fisiologis yang walaupun berkaitan namun tidak berubah pada saat yang sama – desynchronous. Pemahaman tentang 3 sistem ini membawa angin segar dalam perkembangan intervensi psikologis karena semakin dipahami bahwa munculnya problem tidak terlepas dari 3 sistem yang saling berkaitan namun masing-masing sistem memiliki karakteristik unik yang perlu dipertimbangkan.
Pada akhirnya pendekatan CBT sangat dipengaruhi oleh :
• Teori Bandura tentang observational learning dan self-efficacy yang menekankan bahwa perilaku sangat dipengaruhi oleh proses pencernaan kognitif akan hal-hal yang diobservasi sebelum munculnya perilaku serta efektivitas dari perubahan perilaku yang sangat bergantung pada persepsi individu sendiri ;
• Meichenbaum yang memperkenalkan model self instructional training, dimana dikemukakan bahwa perubahan perilaku dapat terjadi bila individu sendirilah yang mengubah instruksi, menginginkan perubahan tersebut terjadi dan melatihnya ;
• Cognitive therapy yang diperkenalkan oleh Beck – yang menemukan korelasi antara negative thinking pada penderita depresi dan untuk mengatasi depresi sangat penting bagi individu tersebut untuk menyadari, menemukan dan mengubah pemikiran negatif otomatis yang muncul tentang diri sendiri, pengalaman saat ini dan masa depan (cognitive triad)
Pengertian dan Ciri-Ciri CBT
Cognitive Behaviour Therapy adalah model terapi terstruktur jangka pendek yang melibatkan kolaborasi antara individu yang bermasalah dengan terapisnya dalam rangka mencapai tujuan terapeutik yang telah disepakati bersama
Ciri-ciri CBT :
1. Melibatkan kerjasama aktif antara KLIEN, TERAPIS, KEY OTHERS, RELEVANT OTHERS
2. Psikolog sebagai mediator & fasilitator ; menolong klien mengenali pola berpikir yang menjadi sebab timbulnya disfungsi perilaku
3. Tujuan terapi adalah :
• menyusun secara seksama dan terstruktur tugas yang akan digunakan oleh klien dan terapis dalam rangka menolong klien mengevaluasi dan mengubah distorsi pola pikir dan disfungsi perilakunya
• Memberi kesempatan klien belajar beradaptasi dalam situasi kini dan mendatang
4. Mengacu pada :
• perubahan yang diharapkan klien (realistik dan memungkinkan adanya evaluasi)
• Keterlibatan dan partisipasi klien untuk menolong dirinya (self-help)
5. Time limited therapy
Model Pengukuran CBT
Ada beberapa cara yang biasa dipergunakan dalam CBT untuk mendapatkan informasi sekaligus menjadi bagian dari proses terapi, yaitu :
1. Behavioural Interviewing
2. Self Monitoring
3. Self-report questionnaires
4. Information from other people
5. Direct Observation of behaviour
6. Behavioural by-products
7. Physiological Measures
Ke-7 model di atas tidak harus dilakukan semuanya namun bergantung pada kasus yang ada.
Penerapan CBT
Untuk menggunakan pendekatan CBT dalam menangani kasus, sangat penting diperhatikan bahwa terapis harus terlebih dahulu memahami bahwa CBT tidak dapat diterapkan pada klien-klien tertentu (dependent personality, dalam pengaruh obat-obatan, kelainan neurofisiologi, tidak dapat diajak berkomunikasi, dan tidak punya konsep self-help).
CBT tidak dapat dijalankan terpisah dari pendekatan lainnya, sehingga dapat dikatakan bahwa CBT justru memberikan fleksibilitas bagi terapis dan klien untuk mengeksplorasi cara tertentu untuk mengungkap sesuatu.
Contoh : ketika interview, klien dan keluarga dapat diminta untuk menjabarkan onset (awal mula munculnya perilaku bermasalah) dengan membuat urutan kejadian (time event chart) atau bila dirasakan lebih nyaman dengan teknik psikoanalisa dapat pula dilakukan demikian.
Mengingat keberhasilan CBT sangat tergantung pada kolaborasi dan peran aktif klien (self instructional training), maka klien sering akan diminta memberikan catatan tentang permasalahannya untuk kemudian dibahas pada pertemuan selanjutnya. Memberikan PR dan proses mencatat hal-hal tertentu yang disepakati pada pertemuan sesungguhnya mempunyai fungsi terapeutik bagi klien sendiri sehingga pada pertemuan selanjutnya lebih ditekankan pada anchoring insight (mengkonfirmasi dan memberikan penegasan pada insight yang muncul).
Contoh penerapan CBT pada kasus kecemasan :
Anxiety : perasaan cemas atas situasi yang dianggap / dirasakan membahayakan
Tujuan CBT : membantu klien mengidentifikasi, mengevaluasi dan mengubah persepsi bahaya yang tidak realistis dan mengubah perilaku yang menyebabkan salah persepsi
Tipe kecemasan : Panik, Generalized Anxiety
Model kognitif ?
Pelaksanaan CBT :
* Identifikasi pemikiran negatif
* Mengubah pikiran negatif dan
perilaku yang menyertai
pikiran tersebut
Contoh penerapan CBT pada kasus depresi :
Faktor penyebab bervariasi dan interaksi banyak faktor
Gejala depresi :
* sedih berlebihan
* mudah menangis
* rasa bersalah
* menganggap diri menyusahkan
* merasa tidak berguna kini & yang akan datang (masa depan)
* mudah tersinggung, cemas dan tegang
Tujuan treatment depresi :
* Mempercepat penyembuhan dari episode depresi
* Mengalihkan individu ke situasi tidak / bukan depresif menjadi normal dan
proporsional
* Mencegah terjadinya episode berikut (kekambuhan) yang lebih parah
Model kognitif ?
CBT untuk depresi
Bertujuan agar klien dapat berpikir lebih rasional serta berani mengubah perilakunya
untuk keluar dari episode depresi
Biasanya mencoba mengatasi cognitive errors
Strategi utama : Cognitive à Behavioural à Cognitive Behavioural à Preventive strategies
Penutup
Cognitive Behaviour Therapy memberikan angin segar dalam intervensi psikologis dan sudah banyak penelitian yang menemukan efektivitas dan efisiensi dari penerapan pendekatan ini untuk kasus-kasus klinis. Namun CBT tidak dapat diterapkan untuk menyelesaikan semua masalah psikologis dan tidak dapat dilaksanakan terpisah dari pendekatan lain.
Terapis yang hendak menerapkan pendekatan CBT ini hendaknya melatih diri, memiliki keyakinan akan efektivitas intervensi ini dan fleksibel untuk mendesain program yang sesuai untuk tiap kasus. Latihan terus menerus akan meningkatkan kepekaan penggunaan model pengukuran dan pemberian tugas untuk mendapatkan informasi yang relevan sekaligus memungkinkan proses penggalian informasi sebagai bagian dari proses terapeutiknya sendiri. Ukuran keberhasilan adalah pada bagaimana klien mampu mengidentifikasi sendiri distorsi pola pikir yang mempengaruhi perilakunya atau bagaimana perilakunya menimbulkan pola pikir disfungsional yang menghambat aspek kehidupan lain dalam dirinya.
Labels:
cognitive behaviour therapy,
klinis,
Makalah Ilmiah
Wednesday, August 18, 2010
STOP Disuapin Ortu
Time Management
Pada dasarnya, nyuapin anak yang sudah beranjak remaja adalah tindakan yang salah. Sebab, seharusnya, mereka berusaha menunjukkan kemandirian. Dengan tingkat kemandirian anak yang minim, hendaknya, orangtua tidak memberikan kepercayaan serta kebebasan lebih kepada anak itu. Remaja yang masih menunggu disuapin orangtuanya akan tumbuh menjadi remaja childish dan manja. Bagi orangtua, berlakulah sedikit tega. Kalau anak mulai lapar, biarkan saja, toh nanti dia akan beranjak dari kegiatannya untuk makan. Biarkan dia makan sendiri. Kalaupun anak terlalu sibuk, tanamkan kepada mereka untuk tahu kapan menyempatkan diri untuk makan. Dengan demikian, secara tidak langsung, orangtua akan mengajarkan time management kepada anak.
Sumber:
Deteksi Jawa Pos, 18 Agustus 2010
Pada dasarnya, nyuapin anak yang sudah beranjak remaja adalah tindakan yang salah. Sebab, seharusnya, mereka berusaha menunjukkan kemandirian. Dengan tingkat kemandirian anak yang minim, hendaknya, orangtua tidak memberikan kepercayaan serta kebebasan lebih kepada anak itu. Remaja yang masih menunggu disuapin orangtuanya akan tumbuh menjadi remaja childish dan manja. Bagi orangtua, berlakulah sedikit tega. Kalau anak mulai lapar, biarkan saja, toh nanti dia akan beranjak dari kegiatannya untuk makan. Biarkan dia makan sendiri. Kalaupun anak terlalu sibuk, tanamkan kepada mereka untuk tahu kapan menyempatkan diri untuk makan. Dengan demikian, secara tidak langsung, orangtua akan mengajarkan time management kepada anak.
Sumber:
Deteksi Jawa Pos, 18 Agustus 2010
Saturday, July 10, 2010
Pendampingan Orangtua Terhadap Siswa Belajar di SMA
Oleh : Josephine M.J.Ratna, M.Psych
“Ternyata anak kita sudah remaja dan mulai dewasa”
“Anak jaman sekarang susah dimengerti, mau jadi apa mereka?”
“Akhirnya sudah SMA anak kita…berarti musti siap mereka tidak mudah ditangani”
“Mereka mustinya sudah ngerti maksud kita, pasti mereka sengaja”
“Badan sih besar… pikiran dan sifat kayak anak kecil”
“Ah …anak sekarang mau gampang saja, ada saja akalnya …”
Ketika anak-anak memasuki SMA, serasa waktu berlalu sedemikian cepat…membuat para orangtua meningkat kecemasan dan kekuatirannya. Manifestasi dari kekuatiran dan kecemasan itu justru muncul dalam berbagai cara yang berdalih ‘melindungi’ anak mereka dengan berbagai larangan dan ‘ancaman’. Di sisi lain, remaja yang masuk ke jenjang studi SMA menganggap bahwa masa kanak-kanak telah berakhir…mereka punya label baru “anak SMA” yang diartikan sebagai cikal kedewasaan dan awal dari kebebasan. Komentar di atas hanya sebagian kecil dari wujud kegelisahan orangtua yang juga menunjukkan bahwa mereka merasa gamang dalam berhadapan dengan periode ini. Salah satu cara dan strategi yang kebanyakan dipilih oleh orangtua adalah mengingat kembali bagaimana masa remaja mereka sendiri, sehingga tidak heran bila komentar yang diawali dengan “Kalau papa/mama dulu……”. Bisa diperkirakan respon remaja SMA terhadap komentar ini ? EGP. Mengangguk tapi tidak mendengarkan….
Pendidik utama seorang anak adalah orang tuanya. Peran sekolah adalah membantu orang tua, melengkapi apa yang tidak bisa dilakukan orang tua di rumah berkaitan dengan pendidikan anak. Sekolah tidak bisa dan tidak akan bermaksud mengambil alih peran tersebut. Namun kerjasama dalam mendidik anak perlu diciptakan, supaya ada kesamaan gerak, ada kesepahaman dan kerjasama yang baik antara orang tua dan pihak sekolah. Nilai-nilai yang ditanamkan kepada anak di sekolah - sesuai dengan visi sekolah - semestinya mendapat suasana yang mendukung juga di rumah.
Tugas Perkembangan Usia Remaja
Secara teoritis, manusia memiliki tugas perkembangan sesuai dengan periode usia dan tugas perkembangan ini harus dipenuhi sejak bayi sampai mati. Ahli psikologi perkembangan bernama Havighurst menyatakan bahwa tugas perkembangan masa remaja adalah :
1. Menerima keadaan fisik dirinya sendiri dan menggunakan tubuhnya secara lebih efektif. Sederhana diucapkan tetapi tidak mudah dijalankan. Cukup banyak remaja yang sulit menerima keadaan fisiknya karena membandingkan dengan kriteria ideal yang ada dalam benaknya masing-masing. Misalnya perasaan tidak puas karena tidak seramping temannya, berjerawat, warna kulit tidak sesuai dengan harapan, tinggi badan dan ukuran tubuh tidak ideal, dan lain-lain.
Resiko : Akibat tidak mampu menerima keadaan fisik, remaja sering menjadi minder, tidak mudah menyesuaikan diri, merasa tidak mampu dan pada akhirnya ikut mempengaruhi prestasi akademik dan hal-hal lain.
Peran orangtua : membantu remaja untuk memfokuskan diri pada potensi dan kelebihan yang ada. Menyadarkan remaja bahwa sukses hidup tidak dinilai hanya dari penampilan luar. Mengajak dan memberi teladan untuk mensyukuri apa yang dimiliki dan tidak menuntut hal yang tidak mungkin terjadi. Jika ternyata permasalahan ini mengganggu tugas akademis, maka orangtua perlu mengambil langkah prioritas dalam menyelesaikan masalah, misalnya dengan melibatkan sekolah dan guru untuk membantu anak.
2. Mencapai kemandirian emosional dari orang tua dan orang-orang dewasa lainnya.
Usaha untuk mencapai kemandirian emosional bisa membuat remaja melawan keinginan atau bertentangan pendapat dengan orangtuanya. Hal ini biasanya menjadi salah satu alasan remaja dianggap bermental pemberontak di rumah. Ketika label pemberontak ditempelkan pada seorang remaja, secara bawah sadar remaja ini akan ‘menunggu waktu yang tepat’ untuk membuktikan bahwa mereka dapat bertanggungjawab atas keputusan pribadinya.
Resiko : Apabila masalah ‘pemberontakan remaja’ ini tidak terselesaikan, remaja cenderung untuk mencari jalan keluar di luar rumah, antara lain lebih memilih berada bersama teman-teman sebaya yang senasib, lebih sering di luar rumah, terutama apabila orangtua bersikap otoriter. Remaja yang mengalami permasalahan dengan orangtua biasanya suka curhat dengan teman sebayanya (teman sekolah atau tetangga). Hal ini tidak salah namun terkadang dengan curhat, remaja menjadi lebih mampu menghadapi permasalahan hidup selanjunya walaupun nasehat teman sebaya terkadangan belum mampu mendapatkan solusi yang terbaik. Jika teman curhat seusia, maka ada kalanya remaja justru tidak mendapatkan advis yang sesuai karena keterbatasan pengalaman teman. Perilaku berontak bisa berakibat pada persepsi ‘nakal’ yang terbentuk secara otomatis di pikiran mereka yang berinteraksi dengan si remaja pemberontak ini, akibatnya ia bisa kehilangan kesempatan untuk membuktikan kemampuannya. Prestasi akademis biasanya terpengaruhi karena ada nilai afeksi yang terukur dari sikap dan sifat selama remaja ini mengikuti pelajaran di seolah.
Peran orangtua : menempatkan diri menjadi teman bagi remaja, menjadi gaul sehingga lebih mampu memahami dunia mereka. Selain itu penting bagi orangtua untuk mengenal siapa teman anak remaja dan berteman pula dengan mereka. Terkadang teman anak justru akan mampu membawa ‘pesan’ lebih baik daripada ketika orangtua yang harus menyampaikan pemikiran mereka sendiri pada anak kandungnya. Selain itu orangtua hendaknya memberikan kepercayaan bagi anak untuk melakukan tugas orangdewasa dan orang tua cukup mengawasi.
3. Mematangkan suatu hubungan dan pergaulan antara lawan jenis yang sebaya. Dengan tugas ini remaja akan mampu bergaul secara baik dengan kedua jenis kelamin, baik laki-laki maupun perempuan. Tugas perkembangan ini akan tercapai bila sang remaja mampu berinteraksi dengan individu lawan jenisnya.
Resiko : Jika remaja bersekolah di sekolah khusus cowok atau khusus cewek, kemampuan untuk bergaul secara matang dengan jenis kelamin lain akan terpengaruhi. Kegiatan lain di luar sekolah ikut mempengaruhi ketrampilan dalam berinteraksi dengan laki-laki maupun perempuan.
Peran orangtua : Memahami adanya tugas perkembangan ini, hendaknya orangtua memberikan kesempatan yang luas bagi remaja untuk terlibat secara seimbang dalam kegiatan di dalam keluarga dan di luar rumah, sehingga mereka bisa melatih ketrampilan berinteraksi sosial antar sebaya baik sesama maupun lawan jenis kelamin. Ayah dan ibu secara khusus dapat mendampingi remaja putra dan putrinya dalam mengambil keputusan yang paling tepat dalam situasi sosial tertentu dimana terdapat nilai-nilai budaya yang berlaku karena kelaki-lakian atau keperempuanan. Misalnya sopan santun, kebebasan berperilaku dan lain-lain. Kemampuan untuk berinteraksi dengan seimbang itu hanya dapat terganggu apabila kita sendiri yang memang menciptakan batasan untuk bergaul.
4. Dapat menjalankan peran sosial maskulin dan feminin. Peran sosial yang dimaksud di sini adalah seperti yang diharapkan masyarakat, dan bergeser sesuai dengan peralihan zaman.
Resiko : Apabila pada zaman dahulu secara sosial dianggap baik bila laki-laki mencari nafkah di luar rumah sedangkan perempuan mengurus rumah tangga, dengan timbulnya kesadaran akan kesetaraan jender sekarang ini tidak harus demikian. Sehingga, yang paling penting untuk dipahami adalah sebagai anggota dari satu jenis kelamin, kita jangan sampai kemudian merasa berhak untuk mensubordinasi atau memperlakukan anggota jenis kelamin lain secara buruk atau semena-mena, baik di publik (masyarakat) maupun domestik (rumah tangga).
Peran Orangtua : Memahami perubahan zaman serta tuntutan kesetaraan jender sebagai kesempatan bagi anak laki-laki dan perempuan untuk bersaing secara sehat di segala bidang yang memungkinkan, termasuk dalam bidang akademik. Hendaknya orangtua memberikan dukungan yang sama baik kepada anak laki-laki dan perempuan dalam upaya mereka mengembangkan kemampuan akademis di segala bidang yang menjadi peminatannya.
5. Berperilaku sosial yang bertanggung jawab. Idealnya, seseorang tentu diharapkan untuk berpartisipasi demi kebaikan atau perbaikan di lingkungan sosialnya. Secara bertahap untuk mencapai hal ini bila remaja belum bisa berpartisipasi nyata dalam perbaikan lingkungan sosial, minimal mereka harusnya tidak menjadi beban bagi masyarakat atau lingkungan sosialnya.
Resiko : Secara emosional remaja masih dinilai belum stabil dan mudah terpicu oleh pengaruh dari luar. Misalnya remaja yang terlibat tawuran sampai menghancurkan fasilitas umum tentu tidak dapat dianggap telah melampaui tugas perkembangan yang satu ini dengan sukses.
Apabila dalam memenuhi tugas perkembangan ini remaja tidak berada di lingkungan yang memungkinkan ia berpartisipasi dan menunjukkan perilaku sosial yang bertanggungjawab (misalnya diberi peran basa-basi atau hanya penggembira atau justru peran yang terlalu besar), maka tidak heran jika mereka memilih untuk tidak mau ambil bagian karena resiko terlalu besar untuk dipersalahkan atau justru tidak menguntungkan. Akibatnya waktu berlalu dan remaja tidak mendapatkan latihan yang cukup untuk berkontribusi sosial.
Peran Orangtua : Tanggungjawab sosial tidak dapat ditunjukkan secara otomatis, melainkan melalui sebuah proses. Orangtua diharapkan memberikan kemudahan bagi remaja untuk menunjukkan tanggungjawab sosialnya dan memberikan penghargaan yang cukup, misalnya mengijinkan dan mendorong anak menjadi anggota panitia atau ikut dalam organisasi sosial di lingkungan sekolah atau tempat tinggal. Sehingga terlihat bagaimana mereka terlatih untuk mengembangkan kepekaan sosial termasuk berlatih untuk berperilaku yang bertanggungjawab dan dapat diterima oleh komunitas sosial yang lebih luas. Penerimaan dijadikan sebagai bentuk apresiasi dan pengakuan. Hendaknya orangtua menjadi orang pertama yang memberikan apresiasi dan pengakuan ini.
6. Mempersiapkan diri untuk memiliki karier atau pekerjaan yang mempunyai konsekuensi ekonomi dan finansial. Setelah melepaskan diri dari ketergantungan emosional dengan orangtua atau orang dewasa lain, tugas yang menanti remaja adalah juga melepaskan diri dari ketergantungan finansial dari mereka. Biasanya setelah setahun berada di SMA, siswa harus memilih penjurusan yang tepat dan sesuai dengan minat dan kemampuan mereka. Penjurusan merupakan bagian penting dalam memenuhi tugas perkembangan ini.
Resiko : Pada remaja yang memiliki orangtua yang otoriter dan dominant, seringkali tidak mampu menilai kemampuan dan minat diri sendiri karena mendapatkan pendampingan orangtua yang terlalu besar/kuat. Ia menjadi tidak mampu menilai diri sendiri yang pada akhirnya bisa berakibat remaja menyesali atau tidak merasa bertanggungjawab atas pilihan orangtua. Dalam konteks kompetisi yang sangat besar antar remaja untuk berlomba menunjukkan prestasi, orangtua mau tidak mau seolah ‘mengharuskan’ anak untuk mendapatkan pelajaran tambahan dan tidak mengijinkan anak memiliki waktu terlalu banyak untuk mengerjakan sesuatu yang mereka senangi. Orangtua berdalih bahwa anak harus menggunakan waktu yang ada untuk belajar, belajar dan belajar atas dasar persiapan karier mendatang. Alhasil anak justru mengalami kondisi yang tidak kondusif untuk berprestasi karena kelelahan dan kebosanan rutinitas.
Peran Orangtua : Membantu anak memiliki keseimbangan waktu belajar di sekolah dan waktu untuk mengembangkan hobi dan minat. Juga sangat baik bila remaja berkesempatan untuk belajar bekerja (magang) betapapun kecil penghasilan yang diperoleh. Orangtua dengan relasi yang cukup besar diharapkan mampu membuka peluang dan mendorong anaknya secara positif untuk mau memanfaatkan waktu kosong dengan mencoba merasakan dunia kerja yang sesungguhnya dan menganalisa kegiatan ini sebagai kegiatan yang penting agar anak siap terjun dan bekerja di masyarakat.
Tugas-tugas perkembangan ini harus dicapai sebelum seorang remaja melangkah ke tahapan perkembangan selanjutnya. Apabila remaja tadi gagal dalam memenuhi tugas perkembangannya secara tepat waktu, maka ia akan sulit untuk memenuhi tugas perkembangan fase selanjutnya. Atau, apabila ia gagal melaksanakan tugas perkembangannya pada waktu yang tepat, maka ia akan mengalami kesulitan untuk menyelesaikannya di waktu yang lain, atau melaksanakan tugas perkembangan pada tahapan yang lebih lanjut.
Potensi Permasalahan Berhubungan Dengan Studi
Memahami adanya tugas perkembangan yang harus dilalui remaja, tuntutan terhadap mereka juga meningkat seiring dengan level pendidikan yang sedang mereka tempuh. SMA merupakan saat dimana siswa menerima tempaan yang lebih serius dalam mempersiapkan diri memilih jenjang pendalaman ketrampilan yang lebih terarah untuk karier masa depan.
Orangtua perlu memahami bahwa di era pendidikan modern ini, sekolah dituntut memberikan persiapan yang cukup bagi siswa untuk mampu bersaing di jenjang pendidikan selanjutnya, termasuk mempersiapkan karakter yang kuat dan mampu dibanggakan. Di sisi lain, orangtua sendiri memiliki harapan dan tuntutan bagi anak-anak mereka untuk nantinya dipersiapkan dalam meneruskan usaha atau terlibat dalam pekerjaan yang menuntut kesiapan dalam berbagai bidang. Namun demikian, segala sesuatunya nantinya akan terpulang pada remaja/siswa sendiri dalam menjalani dan memanfaatkan peluang dan kesempatan yang ada. Dalam proses penggemblengan di tingkat SMA, orangtua dituntut untuk mampu mendampingi perjuangan remaja dan ikut terlibat aktif sebagai partner sekolah dalam menjalankan pendidikan bagi putra-putri mereka.
Berikut ini adalah daftar singkat beberapa potensi masalah yang biasa disampaikan oleh siswa dan orangtua siswa SMA :
1. Penyesuaian diri dengan teman baru : biasanya terjadi pada beberapa bulan di tahun pertama
2. Grouping : berkelompok (kelas sosial, kemampuan, minat, atau bahkan terdapat pengelompokan berdasarkan permasalahan perilaku)
3. Belajar mandiri masih belum otomatis sehingga menimbulkan konflik dengan orangtua dan guru
4. Tuntutan orangtua dianggap konvensional (kuno), namun anak sendiri kerap tidak mampu menunjukkan kemampuan yang mereka miliki tetapi tidak mau menerima tuntutan orangtua
5. Time management (membagi waktu belajar dan kesenangan)
6. Dilema tawaran menarik non akademis vs akademis : hal ini bisa membuat anak menentukan pilihan yang baginya lebih mudah (melakukan kegiatan non akademis) dan akhirnya meninggalkan jalur akademis bila dirasakan nyaman. Banyak orangtua berpikiran negative terhadap kegiatan non akademis, namun sekolah perlu terus mensosialisasikan keuntungan mengikuti kegiatan non-akademis.
7. Prestige Sekolah : terkadang untuk mengikutsertakan siswa dalam kompetisi tertentu, sekolah akan memilihkan anak yang sesuai denga yang diharapkan. Adalah suatu kebanggaan tersendiri bag pihak sekolah untuk bisa menemukan siswa/guru yang akan membawa nama baik sekolah (jika memenangkan kompetisi). Namun perlu didorong agar sekolah memberikan penghargaan karakter anak pula.
8. Pengaruh teman dan lingkungan (pornografi, teknologi informasi) : orangtua mengalami kesulitan dalam menetapkan pembatasan pergaulan dan teknologi informasi, sehingga yang bisa dilakukan hanyalah memberikan ancaman dan hukuman atau bisa saja memberikan kebebasan namun dilakukan monitoring berkala.
9. Pacaran : Masa SMA = masa bercinta dan menemukan pacar. Problematika seputar kualitas pacar dan gaya pacaran yang menjadi fokus problematika.
10. Komunikasi dengan Orangtua, Guru dan Teman : adalah problematika klasik yang dialami oleh hampir semua orangtua remaja. Kunci komunikasi dan mendengarkan dengan empati adalah hal yang harus dilatihkan pada remaja dan juga orangtuanya.
11. Finansial : pengeluaran cukup banyak tetapi belum dapat menghasilkan uang
12. Minat dan Bakat : belum yakin dan masih sulit menentukan pilihan (penjurusan)
13. Kelas Akselerasi : jika kemampuan anak di atas rata-rata mengarah pada superior, pendidikan anak sangat memungkinkan untuk dipercepat sesuai dengan ketersediaan tempat di beberapa sekolah. Siswa dalam kelas akselerasi juga harus didampingi dalam pengembangan diri dibidang lainnya.
14. Beda cara belajar di SMA dibandingkan SD dan SMP
Mengenal Anak Lewat Kecerdasan Majemuk
Walaupun telah berulangkali disampaikan bahwa banyak faktor yang akan menunjang keberhasilan studi anak. Berikut disampaikan secara terperinci hal apa sajakah yang penting diobservasi pada anak-anak kita sehingga nantinya bisa diberikan pelatihan atau penanganan yang paling pas untuk dirinya. Bandingkan tiap tipe dan tentukan mana yang dominant terlihat pada anak kita :
1. Anak Visual (spatial)
Anak visual banyak belajar dan menyerap informasi dari apa-apa yang dilihatnya. Mereka sangat menyukai gambar, warna, diagram, dan segala yang terlihat, baik dalam bentuk 2 dimensi atau 3 dimensi. Anak visual biasanya juga spasial, pandai membayangkan ruang 3 dimensi. Jika bepergian ke suatu tempat, mereka tidak mengingat berdasarkan nama jalan, tetapi bangunan atau simbol yang mereka lihat sebagai penanda visual.
Media dan cara belajar
Menggunakan gambar, diagram, grafik, warna-warni, besar-kecil, belajar berkhayal secara visual, membayangkan sebuah konsep/informasi dengan: tempat, bentuk, warna, menggunakan layout, spasial, peta, maket, realitas mainan: kamera, pensil/spidol warna, balok aneka warna, ganti kata dengan gambar; bantu pemahaman kata dengan warna
2. Anak Aural (auditory-musical)
Anak aural menyerap informasi dengan pendengaran; baik suara maupun musik. Mereka sensitif dengan intonasi, irama, dinamika, tempo, keras-pelan, suara jauh-dekat. Anak aural belajar sambil mendengarkan musik, tidak menyukai “kesunyian”. Mereka senang bersenandung, membuat nada/rima sendiri. Bagi anak aural, bunyi/nada/lagu membawa pada sebuah emosi atau peristiwa tertentu. Walaupun sedang membaca buku, mereka membutuhkan suara/musik untuk menemaninya.
Media dan cara belajar:
Menggunakan metode ceramah/kuliah, melodi untuk teks; bergumam, membaca dengan suara keras (read aloud), membangun suasana musikal utk menciptakan suasana menggunakan media audio visual CD/VCD dan mendengarkan kuliah/ pidato/radio di rumah dan jalan
3. Anak Verbal (linguistic).
Anak verbal menyukai kata dan bahasa. Mereka pandai membuat distingsi makna kata, baik secara lisan maupun tulisan. Anak-anak verbal memilih kata, berkata-kata atau menulis secara terstruktur dengan pilihan kata/kalimat yang baik. Mereka sensitif terhadap pilihan kata dan mengingat sebuah tempat/peristiwa/konsep dengan nama dan kata-kata kunci. Anak-anak verbal biasanya senang membaca dan menulis; membuat sajak, puisi, diari, rima, berpidato, dan sebagainya.
Media dan cara belajar: menggunakan cara yang umum seperti di kelas; buku dan ceramah, melakukan diskusi, membaca dan menulis, bermain peran (role-playing).
4. Anak Fisik (kinesthetic).
Anak fisik menggunakan anggota badan mereka untuk belajar. Mereka senang mencoba dan melakukan segala sesuatu sendiri (learning by doing). Mereka belajar dengan cara: menyentuh, membangun, memperbaiki, membuat. Mereka seringkali tidak sabar membaca buku petunjuk atau diagram, dan langsung ingin mencoba melakukan sendiri. Anak-anak fisik sensitif terhadap tekstur, cara kerja, dan realitas fisik yang terlihat nyata di hadapannya. Mereka tidak suka berkhayal atau membayangkan.
Media dan cara belajar: menggunakan pekerjaan tangan, hands-on projects
menulis, menggambar, membuat maket, merakit benda, memperbaiki barang rusak, membuat rancangan, berolahraga dan permainan aktivitas di luar rumah (outdoor activities), drama dan permainan peran, balok, robot, mesin, alat-alat olahraga.
5. Anak Logis (mathematical)
Anak logis menggunakan logika, argumen, dan mencari pola keteraturan. Anak logis senang mencari struktur dan pola dari segala sesuatu yang ada di sekitarnya. Mereka pandai mencari hubungan, membuat perbandingan, memilah dan membuat klasifikasi. Anak logis senang melakukan pekerjaan mental/berfikir.
Anak logis adalah tipikal anak yang berhasil di model belajar seperti sekolah. Masyarakat saat ini sangat menghargai anak logis.
Media dan cara belajar: menggunakan buku & teori mengenai berbagai hal
bermain puzzle dan teka-teki, membuat aturan dan prosedur yang jelas
membuat rencana dan jadwal
6. Anak Sosial (interpersonal).
Anak sosial memiliki kecenderungan untuk bergaul dan berkelompok secara sosial. Mereka supel dan pandai bergaul dengan siapapun, baik dengan teman sebaya maupun orang yang lebih tua/lebih muda. Orang mendengarkan dan menyukai mereka. Mereka menikmati pertemanan, berbagi cerita atau ilmu dengan orang lain. Anak sosial mendapatkan ilmu dari mendengarkan orang lain atau mencari umpan balik dari respon orang lain terhadap apa-apa yang disampaikannya.
Media dan cara belajar: mengikuti kelompok, klub, organisasi
melakukan proyek yang dikerjakan bersama, berdiskusi dan bermain peran (role-playing), melakukan kegiatan lapangan yang melibatkan banyak orang
mengikuti seminar atau training dengan sistem kelas.
7. Anak Penyendiri (intrapersonal).
Anak penyendiri memiliki kecenderungan pendiam dan reflektif. Mereka lebih efektif untuk belajar jika seorang diri, bukan dalam kelompok. Anak penyendiri biasanya memiliki kecenderungan untuk mandiri, mengenali kekuatan dan kekurangan pribadi. Anak penyendiri sensitif terhadap pribadi dan kedalaman saat mempelajari atau mengerjakan sesuatu.
Media & cara belajar: menekuni hobi atau sesuatu yang ditekuni
mengeksplorasi buku atau materi-materi yang bisa dilakukan sendiri, mengerjakan proyek mandiri, membuat jurnal, diari, blog
8. Anak Alam (Natural)
Anak alam memiliki ketertarikan akan keindahan alami dan baru bisa belajar bila menemukan pejelasan specifik tentang fenomena tertentu. Hal-hal yang berkaitan dengan upaya melestarikan alam adalah yang sangat disukainya.
Media & cara belajar: memelihara hewan dan menanam tumbuhan untuk dilihat perkembangannya, berada di lingkungan alam, mendapatkan nasehat di lingkungan yang nyaman, inisiatif untuk menyelenggarakan program berbasis lingkungan sehat.
Rekomendasi Pendampingan Belajar di SMA
Langkah penting dalam pendampingan anak :
1. Ortu harus meyakini bahwa “Sukses ortu tidak menjamin sukses anak”
2. Mendefinisikan apa yang dimaksud dengan sukses? membantu memformalisasikan masalah
3. Menentukan prioritas masalah untuk diselesaikan
4. Mengelola proses belajar
5. Mendorong inisiatif dan partisipasi
6. Menjadi pendamping yang berenergi
7. Bertindak asertif dan tegas
8. Mengajarkan ketekunan, kerja keras, kesabaran dan ketulusan untuk menjadi bahagia bagi orang lain
9. Mendorong anak menjadi kreatif dan berani untuk menyampaikan gagasan.
10. Menjadi orangtua GAUL
Penutup
Menghadiri pertemuan orangtua merupakan satu tanda kepedulian dan keinginan untuk belajar memahami remaja, putra-putri tercinta. Tidak ada sekolah menjadi orangtua dan demikian pula tidak ada tempat belajar menjadi anak, sehingga yang terjadi adalah upaya terus menerus untuk menyempurnakan diri dalam peran menjadi orangtua yang baik bagi anak.
Bekerjasama dengan sekolah dalam mendampingi studi anak di SMA haruslah dilihat sebagai kesempatan untuk lebih mengenal putra-putri kita dalam lingkungan belajar kesehariannya. Namun dalam kesempatan ini pula, orangtua dapat belajar untuk menilai bagaimana anak mengambil keputusan dan bila dirasa perlu, kritik pada anak sangat dimungkinkan, tanpa harus disertai ancaman. Mari berjuang bersama !
Makalah disampaikan dalam Pertemuan Orangtua Siswa di SMAK Santo Yusup Malang - 9 dan 10 Juli 2010
“Ternyata anak kita sudah remaja dan mulai dewasa”
“Anak jaman sekarang susah dimengerti, mau jadi apa mereka?”
“Akhirnya sudah SMA anak kita…berarti musti siap mereka tidak mudah ditangani”
“Mereka mustinya sudah ngerti maksud kita, pasti mereka sengaja”
“Badan sih besar… pikiran dan sifat kayak anak kecil”
“Ah …anak sekarang mau gampang saja, ada saja akalnya …”
Ketika anak-anak memasuki SMA, serasa waktu berlalu sedemikian cepat…membuat para orangtua meningkat kecemasan dan kekuatirannya. Manifestasi dari kekuatiran dan kecemasan itu justru muncul dalam berbagai cara yang berdalih ‘melindungi’ anak mereka dengan berbagai larangan dan ‘ancaman’. Di sisi lain, remaja yang masuk ke jenjang studi SMA menganggap bahwa masa kanak-kanak telah berakhir…mereka punya label baru “anak SMA” yang diartikan sebagai cikal kedewasaan dan awal dari kebebasan. Komentar di atas hanya sebagian kecil dari wujud kegelisahan orangtua yang juga menunjukkan bahwa mereka merasa gamang dalam berhadapan dengan periode ini. Salah satu cara dan strategi yang kebanyakan dipilih oleh orangtua adalah mengingat kembali bagaimana masa remaja mereka sendiri, sehingga tidak heran bila komentar yang diawali dengan “Kalau papa/mama dulu……”. Bisa diperkirakan respon remaja SMA terhadap komentar ini ? EGP. Mengangguk tapi tidak mendengarkan….
Pendidik utama seorang anak adalah orang tuanya. Peran sekolah adalah membantu orang tua, melengkapi apa yang tidak bisa dilakukan orang tua di rumah berkaitan dengan pendidikan anak. Sekolah tidak bisa dan tidak akan bermaksud mengambil alih peran tersebut. Namun kerjasama dalam mendidik anak perlu diciptakan, supaya ada kesamaan gerak, ada kesepahaman dan kerjasama yang baik antara orang tua dan pihak sekolah. Nilai-nilai yang ditanamkan kepada anak di sekolah - sesuai dengan visi sekolah - semestinya mendapat suasana yang mendukung juga di rumah.
Tugas Perkembangan Usia Remaja
Secara teoritis, manusia memiliki tugas perkembangan sesuai dengan periode usia dan tugas perkembangan ini harus dipenuhi sejak bayi sampai mati. Ahli psikologi perkembangan bernama Havighurst menyatakan bahwa tugas perkembangan masa remaja adalah :
1. Menerima keadaan fisik dirinya sendiri dan menggunakan tubuhnya secara lebih efektif. Sederhana diucapkan tetapi tidak mudah dijalankan. Cukup banyak remaja yang sulit menerima keadaan fisiknya karena membandingkan dengan kriteria ideal yang ada dalam benaknya masing-masing. Misalnya perasaan tidak puas karena tidak seramping temannya, berjerawat, warna kulit tidak sesuai dengan harapan, tinggi badan dan ukuran tubuh tidak ideal, dan lain-lain.
Resiko : Akibat tidak mampu menerima keadaan fisik, remaja sering menjadi minder, tidak mudah menyesuaikan diri, merasa tidak mampu dan pada akhirnya ikut mempengaruhi prestasi akademik dan hal-hal lain.
Peran orangtua : membantu remaja untuk memfokuskan diri pada potensi dan kelebihan yang ada. Menyadarkan remaja bahwa sukses hidup tidak dinilai hanya dari penampilan luar. Mengajak dan memberi teladan untuk mensyukuri apa yang dimiliki dan tidak menuntut hal yang tidak mungkin terjadi. Jika ternyata permasalahan ini mengganggu tugas akademis, maka orangtua perlu mengambil langkah prioritas dalam menyelesaikan masalah, misalnya dengan melibatkan sekolah dan guru untuk membantu anak.
2. Mencapai kemandirian emosional dari orang tua dan orang-orang dewasa lainnya.
Usaha untuk mencapai kemandirian emosional bisa membuat remaja melawan keinginan atau bertentangan pendapat dengan orangtuanya. Hal ini biasanya menjadi salah satu alasan remaja dianggap bermental pemberontak di rumah. Ketika label pemberontak ditempelkan pada seorang remaja, secara bawah sadar remaja ini akan ‘menunggu waktu yang tepat’ untuk membuktikan bahwa mereka dapat bertanggungjawab atas keputusan pribadinya.
Resiko : Apabila masalah ‘pemberontakan remaja’ ini tidak terselesaikan, remaja cenderung untuk mencari jalan keluar di luar rumah, antara lain lebih memilih berada bersama teman-teman sebaya yang senasib, lebih sering di luar rumah, terutama apabila orangtua bersikap otoriter. Remaja yang mengalami permasalahan dengan orangtua biasanya suka curhat dengan teman sebayanya (teman sekolah atau tetangga). Hal ini tidak salah namun terkadang dengan curhat, remaja menjadi lebih mampu menghadapi permasalahan hidup selanjunya walaupun nasehat teman sebaya terkadangan belum mampu mendapatkan solusi yang terbaik. Jika teman curhat seusia, maka ada kalanya remaja justru tidak mendapatkan advis yang sesuai karena keterbatasan pengalaman teman. Perilaku berontak bisa berakibat pada persepsi ‘nakal’ yang terbentuk secara otomatis di pikiran mereka yang berinteraksi dengan si remaja pemberontak ini, akibatnya ia bisa kehilangan kesempatan untuk membuktikan kemampuannya. Prestasi akademis biasanya terpengaruhi karena ada nilai afeksi yang terukur dari sikap dan sifat selama remaja ini mengikuti pelajaran di seolah.
Peran orangtua : menempatkan diri menjadi teman bagi remaja, menjadi gaul sehingga lebih mampu memahami dunia mereka. Selain itu penting bagi orangtua untuk mengenal siapa teman anak remaja dan berteman pula dengan mereka. Terkadang teman anak justru akan mampu membawa ‘pesan’ lebih baik daripada ketika orangtua yang harus menyampaikan pemikiran mereka sendiri pada anak kandungnya. Selain itu orangtua hendaknya memberikan kepercayaan bagi anak untuk melakukan tugas orangdewasa dan orang tua cukup mengawasi.
3. Mematangkan suatu hubungan dan pergaulan antara lawan jenis yang sebaya. Dengan tugas ini remaja akan mampu bergaul secara baik dengan kedua jenis kelamin, baik laki-laki maupun perempuan. Tugas perkembangan ini akan tercapai bila sang remaja mampu berinteraksi dengan individu lawan jenisnya.
Resiko : Jika remaja bersekolah di sekolah khusus cowok atau khusus cewek, kemampuan untuk bergaul secara matang dengan jenis kelamin lain akan terpengaruhi. Kegiatan lain di luar sekolah ikut mempengaruhi ketrampilan dalam berinteraksi dengan laki-laki maupun perempuan.
Peran orangtua : Memahami adanya tugas perkembangan ini, hendaknya orangtua memberikan kesempatan yang luas bagi remaja untuk terlibat secara seimbang dalam kegiatan di dalam keluarga dan di luar rumah, sehingga mereka bisa melatih ketrampilan berinteraksi sosial antar sebaya baik sesama maupun lawan jenis kelamin. Ayah dan ibu secara khusus dapat mendampingi remaja putra dan putrinya dalam mengambil keputusan yang paling tepat dalam situasi sosial tertentu dimana terdapat nilai-nilai budaya yang berlaku karena kelaki-lakian atau keperempuanan. Misalnya sopan santun, kebebasan berperilaku dan lain-lain. Kemampuan untuk berinteraksi dengan seimbang itu hanya dapat terganggu apabila kita sendiri yang memang menciptakan batasan untuk bergaul.
4. Dapat menjalankan peran sosial maskulin dan feminin. Peran sosial yang dimaksud di sini adalah seperti yang diharapkan masyarakat, dan bergeser sesuai dengan peralihan zaman.
Resiko : Apabila pada zaman dahulu secara sosial dianggap baik bila laki-laki mencari nafkah di luar rumah sedangkan perempuan mengurus rumah tangga, dengan timbulnya kesadaran akan kesetaraan jender sekarang ini tidak harus demikian. Sehingga, yang paling penting untuk dipahami adalah sebagai anggota dari satu jenis kelamin, kita jangan sampai kemudian merasa berhak untuk mensubordinasi atau memperlakukan anggota jenis kelamin lain secara buruk atau semena-mena, baik di publik (masyarakat) maupun domestik (rumah tangga).
Peran Orangtua : Memahami perubahan zaman serta tuntutan kesetaraan jender sebagai kesempatan bagi anak laki-laki dan perempuan untuk bersaing secara sehat di segala bidang yang memungkinkan, termasuk dalam bidang akademik. Hendaknya orangtua memberikan dukungan yang sama baik kepada anak laki-laki dan perempuan dalam upaya mereka mengembangkan kemampuan akademis di segala bidang yang menjadi peminatannya.
5. Berperilaku sosial yang bertanggung jawab. Idealnya, seseorang tentu diharapkan untuk berpartisipasi demi kebaikan atau perbaikan di lingkungan sosialnya. Secara bertahap untuk mencapai hal ini bila remaja belum bisa berpartisipasi nyata dalam perbaikan lingkungan sosial, minimal mereka harusnya tidak menjadi beban bagi masyarakat atau lingkungan sosialnya.
Resiko : Secara emosional remaja masih dinilai belum stabil dan mudah terpicu oleh pengaruh dari luar. Misalnya remaja yang terlibat tawuran sampai menghancurkan fasilitas umum tentu tidak dapat dianggap telah melampaui tugas perkembangan yang satu ini dengan sukses.
Apabila dalam memenuhi tugas perkembangan ini remaja tidak berada di lingkungan yang memungkinkan ia berpartisipasi dan menunjukkan perilaku sosial yang bertanggungjawab (misalnya diberi peran basa-basi atau hanya penggembira atau justru peran yang terlalu besar), maka tidak heran jika mereka memilih untuk tidak mau ambil bagian karena resiko terlalu besar untuk dipersalahkan atau justru tidak menguntungkan. Akibatnya waktu berlalu dan remaja tidak mendapatkan latihan yang cukup untuk berkontribusi sosial.
Peran Orangtua : Tanggungjawab sosial tidak dapat ditunjukkan secara otomatis, melainkan melalui sebuah proses. Orangtua diharapkan memberikan kemudahan bagi remaja untuk menunjukkan tanggungjawab sosialnya dan memberikan penghargaan yang cukup, misalnya mengijinkan dan mendorong anak menjadi anggota panitia atau ikut dalam organisasi sosial di lingkungan sekolah atau tempat tinggal. Sehingga terlihat bagaimana mereka terlatih untuk mengembangkan kepekaan sosial termasuk berlatih untuk berperilaku yang bertanggungjawab dan dapat diterima oleh komunitas sosial yang lebih luas. Penerimaan dijadikan sebagai bentuk apresiasi dan pengakuan. Hendaknya orangtua menjadi orang pertama yang memberikan apresiasi dan pengakuan ini.
6. Mempersiapkan diri untuk memiliki karier atau pekerjaan yang mempunyai konsekuensi ekonomi dan finansial. Setelah melepaskan diri dari ketergantungan emosional dengan orangtua atau orang dewasa lain, tugas yang menanti remaja adalah juga melepaskan diri dari ketergantungan finansial dari mereka. Biasanya setelah setahun berada di SMA, siswa harus memilih penjurusan yang tepat dan sesuai dengan minat dan kemampuan mereka. Penjurusan merupakan bagian penting dalam memenuhi tugas perkembangan ini.
Resiko : Pada remaja yang memiliki orangtua yang otoriter dan dominant, seringkali tidak mampu menilai kemampuan dan minat diri sendiri karena mendapatkan pendampingan orangtua yang terlalu besar/kuat. Ia menjadi tidak mampu menilai diri sendiri yang pada akhirnya bisa berakibat remaja menyesali atau tidak merasa bertanggungjawab atas pilihan orangtua. Dalam konteks kompetisi yang sangat besar antar remaja untuk berlomba menunjukkan prestasi, orangtua mau tidak mau seolah ‘mengharuskan’ anak untuk mendapatkan pelajaran tambahan dan tidak mengijinkan anak memiliki waktu terlalu banyak untuk mengerjakan sesuatu yang mereka senangi. Orangtua berdalih bahwa anak harus menggunakan waktu yang ada untuk belajar, belajar dan belajar atas dasar persiapan karier mendatang. Alhasil anak justru mengalami kondisi yang tidak kondusif untuk berprestasi karena kelelahan dan kebosanan rutinitas.
Peran Orangtua : Membantu anak memiliki keseimbangan waktu belajar di sekolah dan waktu untuk mengembangkan hobi dan minat. Juga sangat baik bila remaja berkesempatan untuk belajar bekerja (magang) betapapun kecil penghasilan yang diperoleh. Orangtua dengan relasi yang cukup besar diharapkan mampu membuka peluang dan mendorong anaknya secara positif untuk mau memanfaatkan waktu kosong dengan mencoba merasakan dunia kerja yang sesungguhnya dan menganalisa kegiatan ini sebagai kegiatan yang penting agar anak siap terjun dan bekerja di masyarakat.
Tugas-tugas perkembangan ini harus dicapai sebelum seorang remaja melangkah ke tahapan perkembangan selanjutnya. Apabila remaja tadi gagal dalam memenuhi tugas perkembangannya secara tepat waktu, maka ia akan sulit untuk memenuhi tugas perkembangan fase selanjutnya. Atau, apabila ia gagal melaksanakan tugas perkembangannya pada waktu yang tepat, maka ia akan mengalami kesulitan untuk menyelesaikannya di waktu yang lain, atau melaksanakan tugas perkembangan pada tahapan yang lebih lanjut.
Potensi Permasalahan Berhubungan Dengan Studi
Memahami adanya tugas perkembangan yang harus dilalui remaja, tuntutan terhadap mereka juga meningkat seiring dengan level pendidikan yang sedang mereka tempuh. SMA merupakan saat dimana siswa menerima tempaan yang lebih serius dalam mempersiapkan diri memilih jenjang pendalaman ketrampilan yang lebih terarah untuk karier masa depan.
Orangtua perlu memahami bahwa di era pendidikan modern ini, sekolah dituntut memberikan persiapan yang cukup bagi siswa untuk mampu bersaing di jenjang pendidikan selanjutnya, termasuk mempersiapkan karakter yang kuat dan mampu dibanggakan. Di sisi lain, orangtua sendiri memiliki harapan dan tuntutan bagi anak-anak mereka untuk nantinya dipersiapkan dalam meneruskan usaha atau terlibat dalam pekerjaan yang menuntut kesiapan dalam berbagai bidang. Namun demikian, segala sesuatunya nantinya akan terpulang pada remaja/siswa sendiri dalam menjalani dan memanfaatkan peluang dan kesempatan yang ada. Dalam proses penggemblengan di tingkat SMA, orangtua dituntut untuk mampu mendampingi perjuangan remaja dan ikut terlibat aktif sebagai partner sekolah dalam menjalankan pendidikan bagi putra-putri mereka.
Berikut ini adalah daftar singkat beberapa potensi masalah yang biasa disampaikan oleh siswa dan orangtua siswa SMA :
1. Penyesuaian diri dengan teman baru : biasanya terjadi pada beberapa bulan di tahun pertama
2. Grouping : berkelompok (kelas sosial, kemampuan, minat, atau bahkan terdapat pengelompokan berdasarkan permasalahan perilaku)
3. Belajar mandiri masih belum otomatis sehingga menimbulkan konflik dengan orangtua dan guru
4. Tuntutan orangtua dianggap konvensional (kuno), namun anak sendiri kerap tidak mampu menunjukkan kemampuan yang mereka miliki tetapi tidak mau menerima tuntutan orangtua
5. Time management (membagi waktu belajar dan kesenangan)
6. Dilema tawaran menarik non akademis vs akademis : hal ini bisa membuat anak menentukan pilihan yang baginya lebih mudah (melakukan kegiatan non akademis) dan akhirnya meninggalkan jalur akademis bila dirasakan nyaman. Banyak orangtua berpikiran negative terhadap kegiatan non akademis, namun sekolah perlu terus mensosialisasikan keuntungan mengikuti kegiatan non-akademis.
7. Prestige Sekolah : terkadang untuk mengikutsertakan siswa dalam kompetisi tertentu, sekolah akan memilihkan anak yang sesuai denga yang diharapkan. Adalah suatu kebanggaan tersendiri bag pihak sekolah untuk bisa menemukan siswa/guru yang akan membawa nama baik sekolah (jika memenangkan kompetisi). Namun perlu didorong agar sekolah memberikan penghargaan karakter anak pula.
8. Pengaruh teman dan lingkungan (pornografi, teknologi informasi) : orangtua mengalami kesulitan dalam menetapkan pembatasan pergaulan dan teknologi informasi, sehingga yang bisa dilakukan hanyalah memberikan ancaman dan hukuman atau bisa saja memberikan kebebasan namun dilakukan monitoring berkala.
9. Pacaran : Masa SMA = masa bercinta dan menemukan pacar. Problematika seputar kualitas pacar dan gaya pacaran yang menjadi fokus problematika.
10. Komunikasi dengan Orangtua, Guru dan Teman : adalah problematika klasik yang dialami oleh hampir semua orangtua remaja. Kunci komunikasi dan mendengarkan dengan empati adalah hal yang harus dilatihkan pada remaja dan juga orangtuanya.
11. Finansial : pengeluaran cukup banyak tetapi belum dapat menghasilkan uang
12. Minat dan Bakat : belum yakin dan masih sulit menentukan pilihan (penjurusan)
13. Kelas Akselerasi : jika kemampuan anak di atas rata-rata mengarah pada superior, pendidikan anak sangat memungkinkan untuk dipercepat sesuai dengan ketersediaan tempat di beberapa sekolah. Siswa dalam kelas akselerasi juga harus didampingi dalam pengembangan diri dibidang lainnya.
14. Beda cara belajar di SMA dibandingkan SD dan SMP
Mengenal Anak Lewat Kecerdasan Majemuk
Walaupun telah berulangkali disampaikan bahwa banyak faktor yang akan menunjang keberhasilan studi anak. Berikut disampaikan secara terperinci hal apa sajakah yang penting diobservasi pada anak-anak kita sehingga nantinya bisa diberikan pelatihan atau penanganan yang paling pas untuk dirinya. Bandingkan tiap tipe dan tentukan mana yang dominant terlihat pada anak kita :
1. Anak Visual (spatial)
Anak visual banyak belajar dan menyerap informasi dari apa-apa yang dilihatnya. Mereka sangat menyukai gambar, warna, diagram, dan segala yang terlihat, baik dalam bentuk 2 dimensi atau 3 dimensi. Anak visual biasanya juga spasial, pandai membayangkan ruang 3 dimensi. Jika bepergian ke suatu tempat, mereka tidak mengingat berdasarkan nama jalan, tetapi bangunan atau simbol yang mereka lihat sebagai penanda visual.
Media dan cara belajar
Menggunakan gambar, diagram, grafik, warna-warni, besar-kecil, belajar berkhayal secara visual, membayangkan sebuah konsep/informasi dengan: tempat, bentuk, warna, menggunakan layout, spasial, peta, maket, realitas mainan: kamera, pensil/spidol warna, balok aneka warna, ganti kata dengan gambar; bantu pemahaman kata dengan warna
2. Anak Aural (auditory-musical)
Anak aural menyerap informasi dengan pendengaran; baik suara maupun musik. Mereka sensitif dengan intonasi, irama, dinamika, tempo, keras-pelan, suara jauh-dekat. Anak aural belajar sambil mendengarkan musik, tidak menyukai “kesunyian”. Mereka senang bersenandung, membuat nada/rima sendiri. Bagi anak aural, bunyi/nada/lagu membawa pada sebuah emosi atau peristiwa tertentu. Walaupun sedang membaca buku, mereka membutuhkan suara/musik untuk menemaninya.
Media dan cara belajar:
Menggunakan metode ceramah/kuliah, melodi untuk teks; bergumam, membaca dengan suara keras (read aloud), membangun suasana musikal utk menciptakan suasana menggunakan media audio visual CD/VCD dan mendengarkan kuliah/ pidato/radio di rumah dan jalan
3. Anak Verbal (linguistic).
Anak verbal menyukai kata dan bahasa. Mereka pandai membuat distingsi makna kata, baik secara lisan maupun tulisan. Anak-anak verbal memilih kata, berkata-kata atau menulis secara terstruktur dengan pilihan kata/kalimat yang baik. Mereka sensitif terhadap pilihan kata dan mengingat sebuah tempat/peristiwa/konsep dengan nama dan kata-kata kunci. Anak-anak verbal biasanya senang membaca dan menulis; membuat sajak, puisi, diari, rima, berpidato, dan sebagainya.
Media dan cara belajar: menggunakan cara yang umum seperti di kelas; buku dan ceramah, melakukan diskusi, membaca dan menulis, bermain peran (role-playing).
4. Anak Fisik (kinesthetic).
Anak fisik menggunakan anggota badan mereka untuk belajar. Mereka senang mencoba dan melakukan segala sesuatu sendiri (learning by doing). Mereka belajar dengan cara: menyentuh, membangun, memperbaiki, membuat. Mereka seringkali tidak sabar membaca buku petunjuk atau diagram, dan langsung ingin mencoba melakukan sendiri. Anak-anak fisik sensitif terhadap tekstur, cara kerja, dan realitas fisik yang terlihat nyata di hadapannya. Mereka tidak suka berkhayal atau membayangkan.
Media dan cara belajar: menggunakan pekerjaan tangan, hands-on projects
menulis, menggambar, membuat maket, merakit benda, memperbaiki barang rusak, membuat rancangan, berolahraga dan permainan aktivitas di luar rumah (outdoor activities), drama dan permainan peran, balok, robot, mesin, alat-alat olahraga.
5. Anak Logis (mathematical)
Anak logis menggunakan logika, argumen, dan mencari pola keteraturan. Anak logis senang mencari struktur dan pola dari segala sesuatu yang ada di sekitarnya. Mereka pandai mencari hubungan, membuat perbandingan, memilah dan membuat klasifikasi. Anak logis senang melakukan pekerjaan mental/berfikir.
Anak logis adalah tipikal anak yang berhasil di model belajar seperti sekolah. Masyarakat saat ini sangat menghargai anak logis.
Media dan cara belajar: menggunakan buku & teori mengenai berbagai hal
bermain puzzle dan teka-teki, membuat aturan dan prosedur yang jelas
membuat rencana dan jadwal
6. Anak Sosial (interpersonal).
Anak sosial memiliki kecenderungan untuk bergaul dan berkelompok secara sosial. Mereka supel dan pandai bergaul dengan siapapun, baik dengan teman sebaya maupun orang yang lebih tua/lebih muda. Orang mendengarkan dan menyukai mereka. Mereka menikmati pertemanan, berbagi cerita atau ilmu dengan orang lain. Anak sosial mendapatkan ilmu dari mendengarkan orang lain atau mencari umpan balik dari respon orang lain terhadap apa-apa yang disampaikannya.
Media dan cara belajar: mengikuti kelompok, klub, organisasi
melakukan proyek yang dikerjakan bersama, berdiskusi dan bermain peran (role-playing), melakukan kegiatan lapangan yang melibatkan banyak orang
mengikuti seminar atau training dengan sistem kelas.
7. Anak Penyendiri (intrapersonal).
Anak penyendiri memiliki kecenderungan pendiam dan reflektif. Mereka lebih efektif untuk belajar jika seorang diri, bukan dalam kelompok. Anak penyendiri biasanya memiliki kecenderungan untuk mandiri, mengenali kekuatan dan kekurangan pribadi. Anak penyendiri sensitif terhadap pribadi dan kedalaman saat mempelajari atau mengerjakan sesuatu.
Media & cara belajar: menekuni hobi atau sesuatu yang ditekuni
mengeksplorasi buku atau materi-materi yang bisa dilakukan sendiri, mengerjakan proyek mandiri, membuat jurnal, diari, blog
8. Anak Alam (Natural)
Anak alam memiliki ketertarikan akan keindahan alami dan baru bisa belajar bila menemukan pejelasan specifik tentang fenomena tertentu. Hal-hal yang berkaitan dengan upaya melestarikan alam adalah yang sangat disukainya.
Media & cara belajar: memelihara hewan dan menanam tumbuhan untuk dilihat perkembangannya, berada di lingkungan alam, mendapatkan nasehat di lingkungan yang nyaman, inisiatif untuk menyelenggarakan program berbasis lingkungan sehat.
Rekomendasi Pendampingan Belajar di SMA
Langkah penting dalam pendampingan anak :
1. Ortu harus meyakini bahwa “Sukses ortu tidak menjamin sukses anak”
2. Mendefinisikan apa yang dimaksud dengan sukses? membantu memformalisasikan masalah
3. Menentukan prioritas masalah untuk diselesaikan
4. Mengelola proses belajar
5. Mendorong inisiatif dan partisipasi
6. Menjadi pendamping yang berenergi
7. Bertindak asertif dan tegas
8. Mengajarkan ketekunan, kerja keras, kesabaran dan ketulusan untuk menjadi bahagia bagi orang lain
9. Mendorong anak menjadi kreatif dan berani untuk menyampaikan gagasan.
10. Menjadi orangtua GAUL
Penutup
Menghadiri pertemuan orangtua merupakan satu tanda kepedulian dan keinginan untuk belajar memahami remaja, putra-putri tercinta. Tidak ada sekolah menjadi orangtua dan demikian pula tidak ada tempat belajar menjadi anak, sehingga yang terjadi adalah upaya terus menerus untuk menyempurnakan diri dalam peran menjadi orangtua yang baik bagi anak.
Bekerjasama dengan sekolah dalam mendampingi studi anak di SMA haruslah dilihat sebagai kesempatan untuk lebih mengenal putra-putri kita dalam lingkungan belajar kesehariannya. Namun dalam kesempatan ini pula, orangtua dapat belajar untuk menilai bagaimana anak mengambil keputusan dan bila dirasa perlu, kritik pada anak sangat dimungkinkan, tanpa harus disertai ancaman. Mari berjuang bersama !
Makalah disampaikan dalam Pertemuan Orangtua Siswa di SMAK Santo Yusup Malang - 9 dan 10 Juli 2010
Subscribe to:
Comments (Atom)
