Time Management
Pada dasarnya, nyuapin anak yang sudah beranjak remaja adalah tindakan yang salah. Sebab, seharusnya, mereka berusaha menunjukkan kemandirian. Dengan tingkat kemandirian anak yang minim, hendaknya, orangtua tidak memberikan kepercayaan serta kebebasan lebih kepada anak itu. Remaja yang masih menunggu disuapin orangtuanya akan tumbuh menjadi remaja childish dan manja. Bagi orangtua, berlakulah sedikit tega. Kalau anak mulai lapar, biarkan saja, toh nanti dia akan beranjak dari kegiatannya untuk makan. Biarkan dia makan sendiri. Kalaupun anak terlalu sibuk, tanamkan kepada mereka untuk tahu kapan menyempatkan diri untuk makan. Dengan demikian, secara tidak langsung, orangtua akan mengajarkan time management kepada anak.
Sumber:
Deteksi Jawa Pos, 18 Agustus 2010
Showing posts with label Remaja. Show all posts
Showing posts with label Remaja. Show all posts
Wednesday, August 18, 2010
Saturday, July 10, 2010
Pendampingan Orangtua Terhadap Siswa Belajar di SMA
Oleh : Josephine M.J.Ratna, M.Psych
“Ternyata anak kita sudah remaja dan mulai dewasa”
“Anak jaman sekarang susah dimengerti, mau jadi apa mereka?”
“Akhirnya sudah SMA anak kita…berarti musti siap mereka tidak mudah ditangani”
“Mereka mustinya sudah ngerti maksud kita, pasti mereka sengaja”
“Badan sih besar… pikiran dan sifat kayak anak kecil”
“Ah …anak sekarang mau gampang saja, ada saja akalnya …”
Ketika anak-anak memasuki SMA, serasa waktu berlalu sedemikian cepat…membuat para orangtua meningkat kecemasan dan kekuatirannya. Manifestasi dari kekuatiran dan kecemasan itu justru muncul dalam berbagai cara yang berdalih ‘melindungi’ anak mereka dengan berbagai larangan dan ‘ancaman’. Di sisi lain, remaja yang masuk ke jenjang studi SMA menganggap bahwa masa kanak-kanak telah berakhir…mereka punya label baru “anak SMA” yang diartikan sebagai cikal kedewasaan dan awal dari kebebasan. Komentar di atas hanya sebagian kecil dari wujud kegelisahan orangtua yang juga menunjukkan bahwa mereka merasa gamang dalam berhadapan dengan periode ini. Salah satu cara dan strategi yang kebanyakan dipilih oleh orangtua adalah mengingat kembali bagaimana masa remaja mereka sendiri, sehingga tidak heran bila komentar yang diawali dengan “Kalau papa/mama dulu……”. Bisa diperkirakan respon remaja SMA terhadap komentar ini ? EGP. Mengangguk tapi tidak mendengarkan….
Pendidik utama seorang anak adalah orang tuanya. Peran sekolah adalah membantu orang tua, melengkapi apa yang tidak bisa dilakukan orang tua di rumah berkaitan dengan pendidikan anak. Sekolah tidak bisa dan tidak akan bermaksud mengambil alih peran tersebut. Namun kerjasama dalam mendidik anak perlu diciptakan, supaya ada kesamaan gerak, ada kesepahaman dan kerjasama yang baik antara orang tua dan pihak sekolah. Nilai-nilai yang ditanamkan kepada anak di sekolah - sesuai dengan visi sekolah - semestinya mendapat suasana yang mendukung juga di rumah.
Tugas Perkembangan Usia Remaja
Secara teoritis, manusia memiliki tugas perkembangan sesuai dengan periode usia dan tugas perkembangan ini harus dipenuhi sejak bayi sampai mati. Ahli psikologi perkembangan bernama Havighurst menyatakan bahwa tugas perkembangan masa remaja adalah :
1. Menerima keadaan fisik dirinya sendiri dan menggunakan tubuhnya secara lebih efektif. Sederhana diucapkan tetapi tidak mudah dijalankan. Cukup banyak remaja yang sulit menerima keadaan fisiknya karena membandingkan dengan kriteria ideal yang ada dalam benaknya masing-masing. Misalnya perasaan tidak puas karena tidak seramping temannya, berjerawat, warna kulit tidak sesuai dengan harapan, tinggi badan dan ukuran tubuh tidak ideal, dan lain-lain.
Resiko : Akibat tidak mampu menerima keadaan fisik, remaja sering menjadi minder, tidak mudah menyesuaikan diri, merasa tidak mampu dan pada akhirnya ikut mempengaruhi prestasi akademik dan hal-hal lain.
Peran orangtua : membantu remaja untuk memfokuskan diri pada potensi dan kelebihan yang ada. Menyadarkan remaja bahwa sukses hidup tidak dinilai hanya dari penampilan luar. Mengajak dan memberi teladan untuk mensyukuri apa yang dimiliki dan tidak menuntut hal yang tidak mungkin terjadi. Jika ternyata permasalahan ini mengganggu tugas akademis, maka orangtua perlu mengambil langkah prioritas dalam menyelesaikan masalah, misalnya dengan melibatkan sekolah dan guru untuk membantu anak.
2. Mencapai kemandirian emosional dari orang tua dan orang-orang dewasa lainnya.
Usaha untuk mencapai kemandirian emosional bisa membuat remaja melawan keinginan atau bertentangan pendapat dengan orangtuanya. Hal ini biasanya menjadi salah satu alasan remaja dianggap bermental pemberontak di rumah. Ketika label pemberontak ditempelkan pada seorang remaja, secara bawah sadar remaja ini akan ‘menunggu waktu yang tepat’ untuk membuktikan bahwa mereka dapat bertanggungjawab atas keputusan pribadinya.
Resiko : Apabila masalah ‘pemberontakan remaja’ ini tidak terselesaikan, remaja cenderung untuk mencari jalan keluar di luar rumah, antara lain lebih memilih berada bersama teman-teman sebaya yang senasib, lebih sering di luar rumah, terutama apabila orangtua bersikap otoriter. Remaja yang mengalami permasalahan dengan orangtua biasanya suka curhat dengan teman sebayanya (teman sekolah atau tetangga). Hal ini tidak salah namun terkadang dengan curhat, remaja menjadi lebih mampu menghadapi permasalahan hidup selanjunya walaupun nasehat teman sebaya terkadangan belum mampu mendapatkan solusi yang terbaik. Jika teman curhat seusia, maka ada kalanya remaja justru tidak mendapatkan advis yang sesuai karena keterbatasan pengalaman teman. Perilaku berontak bisa berakibat pada persepsi ‘nakal’ yang terbentuk secara otomatis di pikiran mereka yang berinteraksi dengan si remaja pemberontak ini, akibatnya ia bisa kehilangan kesempatan untuk membuktikan kemampuannya. Prestasi akademis biasanya terpengaruhi karena ada nilai afeksi yang terukur dari sikap dan sifat selama remaja ini mengikuti pelajaran di seolah.
Peran orangtua : menempatkan diri menjadi teman bagi remaja, menjadi gaul sehingga lebih mampu memahami dunia mereka. Selain itu penting bagi orangtua untuk mengenal siapa teman anak remaja dan berteman pula dengan mereka. Terkadang teman anak justru akan mampu membawa ‘pesan’ lebih baik daripada ketika orangtua yang harus menyampaikan pemikiran mereka sendiri pada anak kandungnya. Selain itu orangtua hendaknya memberikan kepercayaan bagi anak untuk melakukan tugas orangdewasa dan orang tua cukup mengawasi.
3. Mematangkan suatu hubungan dan pergaulan antara lawan jenis yang sebaya. Dengan tugas ini remaja akan mampu bergaul secara baik dengan kedua jenis kelamin, baik laki-laki maupun perempuan. Tugas perkembangan ini akan tercapai bila sang remaja mampu berinteraksi dengan individu lawan jenisnya.
Resiko : Jika remaja bersekolah di sekolah khusus cowok atau khusus cewek, kemampuan untuk bergaul secara matang dengan jenis kelamin lain akan terpengaruhi. Kegiatan lain di luar sekolah ikut mempengaruhi ketrampilan dalam berinteraksi dengan laki-laki maupun perempuan.
Peran orangtua : Memahami adanya tugas perkembangan ini, hendaknya orangtua memberikan kesempatan yang luas bagi remaja untuk terlibat secara seimbang dalam kegiatan di dalam keluarga dan di luar rumah, sehingga mereka bisa melatih ketrampilan berinteraksi sosial antar sebaya baik sesama maupun lawan jenis kelamin. Ayah dan ibu secara khusus dapat mendampingi remaja putra dan putrinya dalam mengambil keputusan yang paling tepat dalam situasi sosial tertentu dimana terdapat nilai-nilai budaya yang berlaku karena kelaki-lakian atau keperempuanan. Misalnya sopan santun, kebebasan berperilaku dan lain-lain. Kemampuan untuk berinteraksi dengan seimbang itu hanya dapat terganggu apabila kita sendiri yang memang menciptakan batasan untuk bergaul.
4. Dapat menjalankan peran sosial maskulin dan feminin. Peran sosial yang dimaksud di sini adalah seperti yang diharapkan masyarakat, dan bergeser sesuai dengan peralihan zaman.
Resiko : Apabila pada zaman dahulu secara sosial dianggap baik bila laki-laki mencari nafkah di luar rumah sedangkan perempuan mengurus rumah tangga, dengan timbulnya kesadaran akan kesetaraan jender sekarang ini tidak harus demikian. Sehingga, yang paling penting untuk dipahami adalah sebagai anggota dari satu jenis kelamin, kita jangan sampai kemudian merasa berhak untuk mensubordinasi atau memperlakukan anggota jenis kelamin lain secara buruk atau semena-mena, baik di publik (masyarakat) maupun domestik (rumah tangga).
Peran Orangtua : Memahami perubahan zaman serta tuntutan kesetaraan jender sebagai kesempatan bagi anak laki-laki dan perempuan untuk bersaing secara sehat di segala bidang yang memungkinkan, termasuk dalam bidang akademik. Hendaknya orangtua memberikan dukungan yang sama baik kepada anak laki-laki dan perempuan dalam upaya mereka mengembangkan kemampuan akademis di segala bidang yang menjadi peminatannya.
5. Berperilaku sosial yang bertanggung jawab. Idealnya, seseorang tentu diharapkan untuk berpartisipasi demi kebaikan atau perbaikan di lingkungan sosialnya. Secara bertahap untuk mencapai hal ini bila remaja belum bisa berpartisipasi nyata dalam perbaikan lingkungan sosial, minimal mereka harusnya tidak menjadi beban bagi masyarakat atau lingkungan sosialnya.
Resiko : Secara emosional remaja masih dinilai belum stabil dan mudah terpicu oleh pengaruh dari luar. Misalnya remaja yang terlibat tawuran sampai menghancurkan fasilitas umum tentu tidak dapat dianggap telah melampaui tugas perkembangan yang satu ini dengan sukses.
Apabila dalam memenuhi tugas perkembangan ini remaja tidak berada di lingkungan yang memungkinkan ia berpartisipasi dan menunjukkan perilaku sosial yang bertanggungjawab (misalnya diberi peran basa-basi atau hanya penggembira atau justru peran yang terlalu besar), maka tidak heran jika mereka memilih untuk tidak mau ambil bagian karena resiko terlalu besar untuk dipersalahkan atau justru tidak menguntungkan. Akibatnya waktu berlalu dan remaja tidak mendapatkan latihan yang cukup untuk berkontribusi sosial.
Peran Orangtua : Tanggungjawab sosial tidak dapat ditunjukkan secara otomatis, melainkan melalui sebuah proses. Orangtua diharapkan memberikan kemudahan bagi remaja untuk menunjukkan tanggungjawab sosialnya dan memberikan penghargaan yang cukup, misalnya mengijinkan dan mendorong anak menjadi anggota panitia atau ikut dalam organisasi sosial di lingkungan sekolah atau tempat tinggal. Sehingga terlihat bagaimana mereka terlatih untuk mengembangkan kepekaan sosial termasuk berlatih untuk berperilaku yang bertanggungjawab dan dapat diterima oleh komunitas sosial yang lebih luas. Penerimaan dijadikan sebagai bentuk apresiasi dan pengakuan. Hendaknya orangtua menjadi orang pertama yang memberikan apresiasi dan pengakuan ini.
6. Mempersiapkan diri untuk memiliki karier atau pekerjaan yang mempunyai konsekuensi ekonomi dan finansial. Setelah melepaskan diri dari ketergantungan emosional dengan orangtua atau orang dewasa lain, tugas yang menanti remaja adalah juga melepaskan diri dari ketergantungan finansial dari mereka. Biasanya setelah setahun berada di SMA, siswa harus memilih penjurusan yang tepat dan sesuai dengan minat dan kemampuan mereka. Penjurusan merupakan bagian penting dalam memenuhi tugas perkembangan ini.
Resiko : Pada remaja yang memiliki orangtua yang otoriter dan dominant, seringkali tidak mampu menilai kemampuan dan minat diri sendiri karena mendapatkan pendampingan orangtua yang terlalu besar/kuat. Ia menjadi tidak mampu menilai diri sendiri yang pada akhirnya bisa berakibat remaja menyesali atau tidak merasa bertanggungjawab atas pilihan orangtua. Dalam konteks kompetisi yang sangat besar antar remaja untuk berlomba menunjukkan prestasi, orangtua mau tidak mau seolah ‘mengharuskan’ anak untuk mendapatkan pelajaran tambahan dan tidak mengijinkan anak memiliki waktu terlalu banyak untuk mengerjakan sesuatu yang mereka senangi. Orangtua berdalih bahwa anak harus menggunakan waktu yang ada untuk belajar, belajar dan belajar atas dasar persiapan karier mendatang. Alhasil anak justru mengalami kondisi yang tidak kondusif untuk berprestasi karena kelelahan dan kebosanan rutinitas.
Peran Orangtua : Membantu anak memiliki keseimbangan waktu belajar di sekolah dan waktu untuk mengembangkan hobi dan minat. Juga sangat baik bila remaja berkesempatan untuk belajar bekerja (magang) betapapun kecil penghasilan yang diperoleh. Orangtua dengan relasi yang cukup besar diharapkan mampu membuka peluang dan mendorong anaknya secara positif untuk mau memanfaatkan waktu kosong dengan mencoba merasakan dunia kerja yang sesungguhnya dan menganalisa kegiatan ini sebagai kegiatan yang penting agar anak siap terjun dan bekerja di masyarakat.
Tugas-tugas perkembangan ini harus dicapai sebelum seorang remaja melangkah ke tahapan perkembangan selanjutnya. Apabila remaja tadi gagal dalam memenuhi tugas perkembangannya secara tepat waktu, maka ia akan sulit untuk memenuhi tugas perkembangan fase selanjutnya. Atau, apabila ia gagal melaksanakan tugas perkembangannya pada waktu yang tepat, maka ia akan mengalami kesulitan untuk menyelesaikannya di waktu yang lain, atau melaksanakan tugas perkembangan pada tahapan yang lebih lanjut.
Potensi Permasalahan Berhubungan Dengan Studi
Memahami adanya tugas perkembangan yang harus dilalui remaja, tuntutan terhadap mereka juga meningkat seiring dengan level pendidikan yang sedang mereka tempuh. SMA merupakan saat dimana siswa menerima tempaan yang lebih serius dalam mempersiapkan diri memilih jenjang pendalaman ketrampilan yang lebih terarah untuk karier masa depan.
Orangtua perlu memahami bahwa di era pendidikan modern ini, sekolah dituntut memberikan persiapan yang cukup bagi siswa untuk mampu bersaing di jenjang pendidikan selanjutnya, termasuk mempersiapkan karakter yang kuat dan mampu dibanggakan. Di sisi lain, orangtua sendiri memiliki harapan dan tuntutan bagi anak-anak mereka untuk nantinya dipersiapkan dalam meneruskan usaha atau terlibat dalam pekerjaan yang menuntut kesiapan dalam berbagai bidang. Namun demikian, segala sesuatunya nantinya akan terpulang pada remaja/siswa sendiri dalam menjalani dan memanfaatkan peluang dan kesempatan yang ada. Dalam proses penggemblengan di tingkat SMA, orangtua dituntut untuk mampu mendampingi perjuangan remaja dan ikut terlibat aktif sebagai partner sekolah dalam menjalankan pendidikan bagi putra-putri mereka.
Berikut ini adalah daftar singkat beberapa potensi masalah yang biasa disampaikan oleh siswa dan orangtua siswa SMA :
1. Penyesuaian diri dengan teman baru : biasanya terjadi pada beberapa bulan di tahun pertama
2. Grouping : berkelompok (kelas sosial, kemampuan, minat, atau bahkan terdapat pengelompokan berdasarkan permasalahan perilaku)
3. Belajar mandiri masih belum otomatis sehingga menimbulkan konflik dengan orangtua dan guru
4. Tuntutan orangtua dianggap konvensional (kuno), namun anak sendiri kerap tidak mampu menunjukkan kemampuan yang mereka miliki tetapi tidak mau menerima tuntutan orangtua
5. Time management (membagi waktu belajar dan kesenangan)
6. Dilema tawaran menarik non akademis vs akademis : hal ini bisa membuat anak menentukan pilihan yang baginya lebih mudah (melakukan kegiatan non akademis) dan akhirnya meninggalkan jalur akademis bila dirasakan nyaman. Banyak orangtua berpikiran negative terhadap kegiatan non akademis, namun sekolah perlu terus mensosialisasikan keuntungan mengikuti kegiatan non-akademis.
7. Prestige Sekolah : terkadang untuk mengikutsertakan siswa dalam kompetisi tertentu, sekolah akan memilihkan anak yang sesuai denga yang diharapkan. Adalah suatu kebanggaan tersendiri bag pihak sekolah untuk bisa menemukan siswa/guru yang akan membawa nama baik sekolah (jika memenangkan kompetisi). Namun perlu didorong agar sekolah memberikan penghargaan karakter anak pula.
8. Pengaruh teman dan lingkungan (pornografi, teknologi informasi) : orangtua mengalami kesulitan dalam menetapkan pembatasan pergaulan dan teknologi informasi, sehingga yang bisa dilakukan hanyalah memberikan ancaman dan hukuman atau bisa saja memberikan kebebasan namun dilakukan monitoring berkala.
9. Pacaran : Masa SMA = masa bercinta dan menemukan pacar. Problematika seputar kualitas pacar dan gaya pacaran yang menjadi fokus problematika.
10. Komunikasi dengan Orangtua, Guru dan Teman : adalah problematika klasik yang dialami oleh hampir semua orangtua remaja. Kunci komunikasi dan mendengarkan dengan empati adalah hal yang harus dilatihkan pada remaja dan juga orangtuanya.
11. Finansial : pengeluaran cukup banyak tetapi belum dapat menghasilkan uang
12. Minat dan Bakat : belum yakin dan masih sulit menentukan pilihan (penjurusan)
13. Kelas Akselerasi : jika kemampuan anak di atas rata-rata mengarah pada superior, pendidikan anak sangat memungkinkan untuk dipercepat sesuai dengan ketersediaan tempat di beberapa sekolah. Siswa dalam kelas akselerasi juga harus didampingi dalam pengembangan diri dibidang lainnya.
14. Beda cara belajar di SMA dibandingkan SD dan SMP
Mengenal Anak Lewat Kecerdasan Majemuk
Walaupun telah berulangkali disampaikan bahwa banyak faktor yang akan menunjang keberhasilan studi anak. Berikut disampaikan secara terperinci hal apa sajakah yang penting diobservasi pada anak-anak kita sehingga nantinya bisa diberikan pelatihan atau penanganan yang paling pas untuk dirinya. Bandingkan tiap tipe dan tentukan mana yang dominant terlihat pada anak kita :
1. Anak Visual (spatial)
Anak visual banyak belajar dan menyerap informasi dari apa-apa yang dilihatnya. Mereka sangat menyukai gambar, warna, diagram, dan segala yang terlihat, baik dalam bentuk 2 dimensi atau 3 dimensi. Anak visual biasanya juga spasial, pandai membayangkan ruang 3 dimensi. Jika bepergian ke suatu tempat, mereka tidak mengingat berdasarkan nama jalan, tetapi bangunan atau simbol yang mereka lihat sebagai penanda visual.
Media dan cara belajar
Menggunakan gambar, diagram, grafik, warna-warni, besar-kecil, belajar berkhayal secara visual, membayangkan sebuah konsep/informasi dengan: tempat, bentuk, warna, menggunakan layout, spasial, peta, maket, realitas mainan: kamera, pensil/spidol warna, balok aneka warna, ganti kata dengan gambar; bantu pemahaman kata dengan warna
2. Anak Aural (auditory-musical)
Anak aural menyerap informasi dengan pendengaran; baik suara maupun musik. Mereka sensitif dengan intonasi, irama, dinamika, tempo, keras-pelan, suara jauh-dekat. Anak aural belajar sambil mendengarkan musik, tidak menyukai “kesunyian”. Mereka senang bersenandung, membuat nada/rima sendiri. Bagi anak aural, bunyi/nada/lagu membawa pada sebuah emosi atau peristiwa tertentu. Walaupun sedang membaca buku, mereka membutuhkan suara/musik untuk menemaninya.
Media dan cara belajar:
Menggunakan metode ceramah/kuliah, melodi untuk teks; bergumam, membaca dengan suara keras (read aloud), membangun suasana musikal utk menciptakan suasana menggunakan media audio visual CD/VCD dan mendengarkan kuliah/ pidato/radio di rumah dan jalan
3. Anak Verbal (linguistic).
Anak verbal menyukai kata dan bahasa. Mereka pandai membuat distingsi makna kata, baik secara lisan maupun tulisan. Anak-anak verbal memilih kata, berkata-kata atau menulis secara terstruktur dengan pilihan kata/kalimat yang baik. Mereka sensitif terhadap pilihan kata dan mengingat sebuah tempat/peristiwa/konsep dengan nama dan kata-kata kunci. Anak-anak verbal biasanya senang membaca dan menulis; membuat sajak, puisi, diari, rima, berpidato, dan sebagainya.
Media dan cara belajar: menggunakan cara yang umum seperti di kelas; buku dan ceramah, melakukan diskusi, membaca dan menulis, bermain peran (role-playing).
4. Anak Fisik (kinesthetic).
Anak fisik menggunakan anggota badan mereka untuk belajar. Mereka senang mencoba dan melakukan segala sesuatu sendiri (learning by doing). Mereka belajar dengan cara: menyentuh, membangun, memperbaiki, membuat. Mereka seringkali tidak sabar membaca buku petunjuk atau diagram, dan langsung ingin mencoba melakukan sendiri. Anak-anak fisik sensitif terhadap tekstur, cara kerja, dan realitas fisik yang terlihat nyata di hadapannya. Mereka tidak suka berkhayal atau membayangkan.
Media dan cara belajar: menggunakan pekerjaan tangan, hands-on projects
menulis, menggambar, membuat maket, merakit benda, memperbaiki barang rusak, membuat rancangan, berolahraga dan permainan aktivitas di luar rumah (outdoor activities), drama dan permainan peran, balok, robot, mesin, alat-alat olahraga.
5. Anak Logis (mathematical)
Anak logis menggunakan logika, argumen, dan mencari pola keteraturan. Anak logis senang mencari struktur dan pola dari segala sesuatu yang ada di sekitarnya. Mereka pandai mencari hubungan, membuat perbandingan, memilah dan membuat klasifikasi. Anak logis senang melakukan pekerjaan mental/berfikir.
Anak logis adalah tipikal anak yang berhasil di model belajar seperti sekolah. Masyarakat saat ini sangat menghargai anak logis.
Media dan cara belajar: menggunakan buku & teori mengenai berbagai hal
bermain puzzle dan teka-teki, membuat aturan dan prosedur yang jelas
membuat rencana dan jadwal
6. Anak Sosial (interpersonal).
Anak sosial memiliki kecenderungan untuk bergaul dan berkelompok secara sosial. Mereka supel dan pandai bergaul dengan siapapun, baik dengan teman sebaya maupun orang yang lebih tua/lebih muda. Orang mendengarkan dan menyukai mereka. Mereka menikmati pertemanan, berbagi cerita atau ilmu dengan orang lain. Anak sosial mendapatkan ilmu dari mendengarkan orang lain atau mencari umpan balik dari respon orang lain terhadap apa-apa yang disampaikannya.
Media dan cara belajar: mengikuti kelompok, klub, organisasi
melakukan proyek yang dikerjakan bersama, berdiskusi dan bermain peran (role-playing), melakukan kegiatan lapangan yang melibatkan banyak orang
mengikuti seminar atau training dengan sistem kelas.
7. Anak Penyendiri (intrapersonal).
Anak penyendiri memiliki kecenderungan pendiam dan reflektif. Mereka lebih efektif untuk belajar jika seorang diri, bukan dalam kelompok. Anak penyendiri biasanya memiliki kecenderungan untuk mandiri, mengenali kekuatan dan kekurangan pribadi. Anak penyendiri sensitif terhadap pribadi dan kedalaman saat mempelajari atau mengerjakan sesuatu.
Media & cara belajar: menekuni hobi atau sesuatu yang ditekuni
mengeksplorasi buku atau materi-materi yang bisa dilakukan sendiri, mengerjakan proyek mandiri, membuat jurnal, diari, blog
8. Anak Alam (Natural)
Anak alam memiliki ketertarikan akan keindahan alami dan baru bisa belajar bila menemukan pejelasan specifik tentang fenomena tertentu. Hal-hal yang berkaitan dengan upaya melestarikan alam adalah yang sangat disukainya.
Media & cara belajar: memelihara hewan dan menanam tumbuhan untuk dilihat perkembangannya, berada di lingkungan alam, mendapatkan nasehat di lingkungan yang nyaman, inisiatif untuk menyelenggarakan program berbasis lingkungan sehat.
Rekomendasi Pendampingan Belajar di SMA
Langkah penting dalam pendampingan anak :
1. Ortu harus meyakini bahwa “Sukses ortu tidak menjamin sukses anak”
2. Mendefinisikan apa yang dimaksud dengan sukses? membantu memformalisasikan masalah
3. Menentukan prioritas masalah untuk diselesaikan
4. Mengelola proses belajar
5. Mendorong inisiatif dan partisipasi
6. Menjadi pendamping yang berenergi
7. Bertindak asertif dan tegas
8. Mengajarkan ketekunan, kerja keras, kesabaran dan ketulusan untuk menjadi bahagia bagi orang lain
9. Mendorong anak menjadi kreatif dan berani untuk menyampaikan gagasan.
10. Menjadi orangtua GAUL
Penutup
Menghadiri pertemuan orangtua merupakan satu tanda kepedulian dan keinginan untuk belajar memahami remaja, putra-putri tercinta. Tidak ada sekolah menjadi orangtua dan demikian pula tidak ada tempat belajar menjadi anak, sehingga yang terjadi adalah upaya terus menerus untuk menyempurnakan diri dalam peran menjadi orangtua yang baik bagi anak.
Bekerjasama dengan sekolah dalam mendampingi studi anak di SMA haruslah dilihat sebagai kesempatan untuk lebih mengenal putra-putri kita dalam lingkungan belajar kesehariannya. Namun dalam kesempatan ini pula, orangtua dapat belajar untuk menilai bagaimana anak mengambil keputusan dan bila dirasa perlu, kritik pada anak sangat dimungkinkan, tanpa harus disertai ancaman. Mari berjuang bersama !
Makalah disampaikan dalam Pertemuan Orangtua Siswa di SMAK Santo Yusup Malang - 9 dan 10 Juli 2010
“Ternyata anak kita sudah remaja dan mulai dewasa”
“Anak jaman sekarang susah dimengerti, mau jadi apa mereka?”
“Akhirnya sudah SMA anak kita…berarti musti siap mereka tidak mudah ditangani”
“Mereka mustinya sudah ngerti maksud kita, pasti mereka sengaja”
“Badan sih besar… pikiran dan sifat kayak anak kecil”
“Ah …anak sekarang mau gampang saja, ada saja akalnya …”
Ketika anak-anak memasuki SMA, serasa waktu berlalu sedemikian cepat…membuat para orangtua meningkat kecemasan dan kekuatirannya. Manifestasi dari kekuatiran dan kecemasan itu justru muncul dalam berbagai cara yang berdalih ‘melindungi’ anak mereka dengan berbagai larangan dan ‘ancaman’. Di sisi lain, remaja yang masuk ke jenjang studi SMA menganggap bahwa masa kanak-kanak telah berakhir…mereka punya label baru “anak SMA” yang diartikan sebagai cikal kedewasaan dan awal dari kebebasan. Komentar di atas hanya sebagian kecil dari wujud kegelisahan orangtua yang juga menunjukkan bahwa mereka merasa gamang dalam berhadapan dengan periode ini. Salah satu cara dan strategi yang kebanyakan dipilih oleh orangtua adalah mengingat kembali bagaimana masa remaja mereka sendiri, sehingga tidak heran bila komentar yang diawali dengan “Kalau papa/mama dulu……”. Bisa diperkirakan respon remaja SMA terhadap komentar ini ? EGP. Mengangguk tapi tidak mendengarkan….
Pendidik utama seorang anak adalah orang tuanya. Peran sekolah adalah membantu orang tua, melengkapi apa yang tidak bisa dilakukan orang tua di rumah berkaitan dengan pendidikan anak. Sekolah tidak bisa dan tidak akan bermaksud mengambil alih peran tersebut. Namun kerjasama dalam mendidik anak perlu diciptakan, supaya ada kesamaan gerak, ada kesepahaman dan kerjasama yang baik antara orang tua dan pihak sekolah. Nilai-nilai yang ditanamkan kepada anak di sekolah - sesuai dengan visi sekolah - semestinya mendapat suasana yang mendukung juga di rumah.
Tugas Perkembangan Usia Remaja
Secara teoritis, manusia memiliki tugas perkembangan sesuai dengan periode usia dan tugas perkembangan ini harus dipenuhi sejak bayi sampai mati. Ahli psikologi perkembangan bernama Havighurst menyatakan bahwa tugas perkembangan masa remaja adalah :
1. Menerima keadaan fisik dirinya sendiri dan menggunakan tubuhnya secara lebih efektif. Sederhana diucapkan tetapi tidak mudah dijalankan. Cukup banyak remaja yang sulit menerima keadaan fisiknya karena membandingkan dengan kriteria ideal yang ada dalam benaknya masing-masing. Misalnya perasaan tidak puas karena tidak seramping temannya, berjerawat, warna kulit tidak sesuai dengan harapan, tinggi badan dan ukuran tubuh tidak ideal, dan lain-lain.
Resiko : Akibat tidak mampu menerima keadaan fisik, remaja sering menjadi minder, tidak mudah menyesuaikan diri, merasa tidak mampu dan pada akhirnya ikut mempengaruhi prestasi akademik dan hal-hal lain.
Peran orangtua : membantu remaja untuk memfokuskan diri pada potensi dan kelebihan yang ada. Menyadarkan remaja bahwa sukses hidup tidak dinilai hanya dari penampilan luar. Mengajak dan memberi teladan untuk mensyukuri apa yang dimiliki dan tidak menuntut hal yang tidak mungkin terjadi. Jika ternyata permasalahan ini mengganggu tugas akademis, maka orangtua perlu mengambil langkah prioritas dalam menyelesaikan masalah, misalnya dengan melibatkan sekolah dan guru untuk membantu anak.
2. Mencapai kemandirian emosional dari orang tua dan orang-orang dewasa lainnya.
Usaha untuk mencapai kemandirian emosional bisa membuat remaja melawan keinginan atau bertentangan pendapat dengan orangtuanya. Hal ini biasanya menjadi salah satu alasan remaja dianggap bermental pemberontak di rumah. Ketika label pemberontak ditempelkan pada seorang remaja, secara bawah sadar remaja ini akan ‘menunggu waktu yang tepat’ untuk membuktikan bahwa mereka dapat bertanggungjawab atas keputusan pribadinya.
Resiko : Apabila masalah ‘pemberontakan remaja’ ini tidak terselesaikan, remaja cenderung untuk mencari jalan keluar di luar rumah, antara lain lebih memilih berada bersama teman-teman sebaya yang senasib, lebih sering di luar rumah, terutama apabila orangtua bersikap otoriter. Remaja yang mengalami permasalahan dengan orangtua biasanya suka curhat dengan teman sebayanya (teman sekolah atau tetangga). Hal ini tidak salah namun terkadang dengan curhat, remaja menjadi lebih mampu menghadapi permasalahan hidup selanjunya walaupun nasehat teman sebaya terkadangan belum mampu mendapatkan solusi yang terbaik. Jika teman curhat seusia, maka ada kalanya remaja justru tidak mendapatkan advis yang sesuai karena keterbatasan pengalaman teman. Perilaku berontak bisa berakibat pada persepsi ‘nakal’ yang terbentuk secara otomatis di pikiran mereka yang berinteraksi dengan si remaja pemberontak ini, akibatnya ia bisa kehilangan kesempatan untuk membuktikan kemampuannya. Prestasi akademis biasanya terpengaruhi karena ada nilai afeksi yang terukur dari sikap dan sifat selama remaja ini mengikuti pelajaran di seolah.
Peran orangtua : menempatkan diri menjadi teman bagi remaja, menjadi gaul sehingga lebih mampu memahami dunia mereka. Selain itu penting bagi orangtua untuk mengenal siapa teman anak remaja dan berteman pula dengan mereka. Terkadang teman anak justru akan mampu membawa ‘pesan’ lebih baik daripada ketika orangtua yang harus menyampaikan pemikiran mereka sendiri pada anak kandungnya. Selain itu orangtua hendaknya memberikan kepercayaan bagi anak untuk melakukan tugas orangdewasa dan orang tua cukup mengawasi.
3. Mematangkan suatu hubungan dan pergaulan antara lawan jenis yang sebaya. Dengan tugas ini remaja akan mampu bergaul secara baik dengan kedua jenis kelamin, baik laki-laki maupun perempuan. Tugas perkembangan ini akan tercapai bila sang remaja mampu berinteraksi dengan individu lawan jenisnya.
Resiko : Jika remaja bersekolah di sekolah khusus cowok atau khusus cewek, kemampuan untuk bergaul secara matang dengan jenis kelamin lain akan terpengaruhi. Kegiatan lain di luar sekolah ikut mempengaruhi ketrampilan dalam berinteraksi dengan laki-laki maupun perempuan.
Peran orangtua : Memahami adanya tugas perkembangan ini, hendaknya orangtua memberikan kesempatan yang luas bagi remaja untuk terlibat secara seimbang dalam kegiatan di dalam keluarga dan di luar rumah, sehingga mereka bisa melatih ketrampilan berinteraksi sosial antar sebaya baik sesama maupun lawan jenis kelamin. Ayah dan ibu secara khusus dapat mendampingi remaja putra dan putrinya dalam mengambil keputusan yang paling tepat dalam situasi sosial tertentu dimana terdapat nilai-nilai budaya yang berlaku karena kelaki-lakian atau keperempuanan. Misalnya sopan santun, kebebasan berperilaku dan lain-lain. Kemampuan untuk berinteraksi dengan seimbang itu hanya dapat terganggu apabila kita sendiri yang memang menciptakan batasan untuk bergaul.
4. Dapat menjalankan peran sosial maskulin dan feminin. Peran sosial yang dimaksud di sini adalah seperti yang diharapkan masyarakat, dan bergeser sesuai dengan peralihan zaman.
Resiko : Apabila pada zaman dahulu secara sosial dianggap baik bila laki-laki mencari nafkah di luar rumah sedangkan perempuan mengurus rumah tangga, dengan timbulnya kesadaran akan kesetaraan jender sekarang ini tidak harus demikian. Sehingga, yang paling penting untuk dipahami adalah sebagai anggota dari satu jenis kelamin, kita jangan sampai kemudian merasa berhak untuk mensubordinasi atau memperlakukan anggota jenis kelamin lain secara buruk atau semena-mena, baik di publik (masyarakat) maupun domestik (rumah tangga).
Peran Orangtua : Memahami perubahan zaman serta tuntutan kesetaraan jender sebagai kesempatan bagi anak laki-laki dan perempuan untuk bersaing secara sehat di segala bidang yang memungkinkan, termasuk dalam bidang akademik. Hendaknya orangtua memberikan dukungan yang sama baik kepada anak laki-laki dan perempuan dalam upaya mereka mengembangkan kemampuan akademis di segala bidang yang menjadi peminatannya.
5. Berperilaku sosial yang bertanggung jawab. Idealnya, seseorang tentu diharapkan untuk berpartisipasi demi kebaikan atau perbaikan di lingkungan sosialnya. Secara bertahap untuk mencapai hal ini bila remaja belum bisa berpartisipasi nyata dalam perbaikan lingkungan sosial, minimal mereka harusnya tidak menjadi beban bagi masyarakat atau lingkungan sosialnya.
Resiko : Secara emosional remaja masih dinilai belum stabil dan mudah terpicu oleh pengaruh dari luar. Misalnya remaja yang terlibat tawuran sampai menghancurkan fasilitas umum tentu tidak dapat dianggap telah melampaui tugas perkembangan yang satu ini dengan sukses.
Apabila dalam memenuhi tugas perkembangan ini remaja tidak berada di lingkungan yang memungkinkan ia berpartisipasi dan menunjukkan perilaku sosial yang bertanggungjawab (misalnya diberi peran basa-basi atau hanya penggembira atau justru peran yang terlalu besar), maka tidak heran jika mereka memilih untuk tidak mau ambil bagian karena resiko terlalu besar untuk dipersalahkan atau justru tidak menguntungkan. Akibatnya waktu berlalu dan remaja tidak mendapatkan latihan yang cukup untuk berkontribusi sosial.
Peran Orangtua : Tanggungjawab sosial tidak dapat ditunjukkan secara otomatis, melainkan melalui sebuah proses. Orangtua diharapkan memberikan kemudahan bagi remaja untuk menunjukkan tanggungjawab sosialnya dan memberikan penghargaan yang cukup, misalnya mengijinkan dan mendorong anak menjadi anggota panitia atau ikut dalam organisasi sosial di lingkungan sekolah atau tempat tinggal. Sehingga terlihat bagaimana mereka terlatih untuk mengembangkan kepekaan sosial termasuk berlatih untuk berperilaku yang bertanggungjawab dan dapat diterima oleh komunitas sosial yang lebih luas. Penerimaan dijadikan sebagai bentuk apresiasi dan pengakuan. Hendaknya orangtua menjadi orang pertama yang memberikan apresiasi dan pengakuan ini.
6. Mempersiapkan diri untuk memiliki karier atau pekerjaan yang mempunyai konsekuensi ekonomi dan finansial. Setelah melepaskan diri dari ketergantungan emosional dengan orangtua atau orang dewasa lain, tugas yang menanti remaja adalah juga melepaskan diri dari ketergantungan finansial dari mereka. Biasanya setelah setahun berada di SMA, siswa harus memilih penjurusan yang tepat dan sesuai dengan minat dan kemampuan mereka. Penjurusan merupakan bagian penting dalam memenuhi tugas perkembangan ini.
Resiko : Pada remaja yang memiliki orangtua yang otoriter dan dominant, seringkali tidak mampu menilai kemampuan dan minat diri sendiri karena mendapatkan pendampingan orangtua yang terlalu besar/kuat. Ia menjadi tidak mampu menilai diri sendiri yang pada akhirnya bisa berakibat remaja menyesali atau tidak merasa bertanggungjawab atas pilihan orangtua. Dalam konteks kompetisi yang sangat besar antar remaja untuk berlomba menunjukkan prestasi, orangtua mau tidak mau seolah ‘mengharuskan’ anak untuk mendapatkan pelajaran tambahan dan tidak mengijinkan anak memiliki waktu terlalu banyak untuk mengerjakan sesuatu yang mereka senangi. Orangtua berdalih bahwa anak harus menggunakan waktu yang ada untuk belajar, belajar dan belajar atas dasar persiapan karier mendatang. Alhasil anak justru mengalami kondisi yang tidak kondusif untuk berprestasi karena kelelahan dan kebosanan rutinitas.
Peran Orangtua : Membantu anak memiliki keseimbangan waktu belajar di sekolah dan waktu untuk mengembangkan hobi dan minat. Juga sangat baik bila remaja berkesempatan untuk belajar bekerja (magang) betapapun kecil penghasilan yang diperoleh. Orangtua dengan relasi yang cukup besar diharapkan mampu membuka peluang dan mendorong anaknya secara positif untuk mau memanfaatkan waktu kosong dengan mencoba merasakan dunia kerja yang sesungguhnya dan menganalisa kegiatan ini sebagai kegiatan yang penting agar anak siap terjun dan bekerja di masyarakat.
Tugas-tugas perkembangan ini harus dicapai sebelum seorang remaja melangkah ke tahapan perkembangan selanjutnya. Apabila remaja tadi gagal dalam memenuhi tugas perkembangannya secara tepat waktu, maka ia akan sulit untuk memenuhi tugas perkembangan fase selanjutnya. Atau, apabila ia gagal melaksanakan tugas perkembangannya pada waktu yang tepat, maka ia akan mengalami kesulitan untuk menyelesaikannya di waktu yang lain, atau melaksanakan tugas perkembangan pada tahapan yang lebih lanjut.
Potensi Permasalahan Berhubungan Dengan Studi
Memahami adanya tugas perkembangan yang harus dilalui remaja, tuntutan terhadap mereka juga meningkat seiring dengan level pendidikan yang sedang mereka tempuh. SMA merupakan saat dimana siswa menerima tempaan yang lebih serius dalam mempersiapkan diri memilih jenjang pendalaman ketrampilan yang lebih terarah untuk karier masa depan.
Orangtua perlu memahami bahwa di era pendidikan modern ini, sekolah dituntut memberikan persiapan yang cukup bagi siswa untuk mampu bersaing di jenjang pendidikan selanjutnya, termasuk mempersiapkan karakter yang kuat dan mampu dibanggakan. Di sisi lain, orangtua sendiri memiliki harapan dan tuntutan bagi anak-anak mereka untuk nantinya dipersiapkan dalam meneruskan usaha atau terlibat dalam pekerjaan yang menuntut kesiapan dalam berbagai bidang. Namun demikian, segala sesuatunya nantinya akan terpulang pada remaja/siswa sendiri dalam menjalani dan memanfaatkan peluang dan kesempatan yang ada. Dalam proses penggemblengan di tingkat SMA, orangtua dituntut untuk mampu mendampingi perjuangan remaja dan ikut terlibat aktif sebagai partner sekolah dalam menjalankan pendidikan bagi putra-putri mereka.
Berikut ini adalah daftar singkat beberapa potensi masalah yang biasa disampaikan oleh siswa dan orangtua siswa SMA :
1. Penyesuaian diri dengan teman baru : biasanya terjadi pada beberapa bulan di tahun pertama
2. Grouping : berkelompok (kelas sosial, kemampuan, minat, atau bahkan terdapat pengelompokan berdasarkan permasalahan perilaku)
3. Belajar mandiri masih belum otomatis sehingga menimbulkan konflik dengan orangtua dan guru
4. Tuntutan orangtua dianggap konvensional (kuno), namun anak sendiri kerap tidak mampu menunjukkan kemampuan yang mereka miliki tetapi tidak mau menerima tuntutan orangtua
5. Time management (membagi waktu belajar dan kesenangan)
6. Dilema tawaran menarik non akademis vs akademis : hal ini bisa membuat anak menentukan pilihan yang baginya lebih mudah (melakukan kegiatan non akademis) dan akhirnya meninggalkan jalur akademis bila dirasakan nyaman. Banyak orangtua berpikiran negative terhadap kegiatan non akademis, namun sekolah perlu terus mensosialisasikan keuntungan mengikuti kegiatan non-akademis.
7. Prestige Sekolah : terkadang untuk mengikutsertakan siswa dalam kompetisi tertentu, sekolah akan memilihkan anak yang sesuai denga yang diharapkan. Adalah suatu kebanggaan tersendiri bag pihak sekolah untuk bisa menemukan siswa/guru yang akan membawa nama baik sekolah (jika memenangkan kompetisi). Namun perlu didorong agar sekolah memberikan penghargaan karakter anak pula.
8. Pengaruh teman dan lingkungan (pornografi, teknologi informasi) : orangtua mengalami kesulitan dalam menetapkan pembatasan pergaulan dan teknologi informasi, sehingga yang bisa dilakukan hanyalah memberikan ancaman dan hukuman atau bisa saja memberikan kebebasan namun dilakukan monitoring berkala.
9. Pacaran : Masa SMA = masa bercinta dan menemukan pacar. Problematika seputar kualitas pacar dan gaya pacaran yang menjadi fokus problematika.
10. Komunikasi dengan Orangtua, Guru dan Teman : adalah problematika klasik yang dialami oleh hampir semua orangtua remaja. Kunci komunikasi dan mendengarkan dengan empati adalah hal yang harus dilatihkan pada remaja dan juga orangtuanya.
11. Finansial : pengeluaran cukup banyak tetapi belum dapat menghasilkan uang
12. Minat dan Bakat : belum yakin dan masih sulit menentukan pilihan (penjurusan)
13. Kelas Akselerasi : jika kemampuan anak di atas rata-rata mengarah pada superior, pendidikan anak sangat memungkinkan untuk dipercepat sesuai dengan ketersediaan tempat di beberapa sekolah. Siswa dalam kelas akselerasi juga harus didampingi dalam pengembangan diri dibidang lainnya.
14. Beda cara belajar di SMA dibandingkan SD dan SMP
Mengenal Anak Lewat Kecerdasan Majemuk
Walaupun telah berulangkali disampaikan bahwa banyak faktor yang akan menunjang keberhasilan studi anak. Berikut disampaikan secara terperinci hal apa sajakah yang penting diobservasi pada anak-anak kita sehingga nantinya bisa diberikan pelatihan atau penanganan yang paling pas untuk dirinya. Bandingkan tiap tipe dan tentukan mana yang dominant terlihat pada anak kita :
1. Anak Visual (spatial)
Anak visual banyak belajar dan menyerap informasi dari apa-apa yang dilihatnya. Mereka sangat menyukai gambar, warna, diagram, dan segala yang terlihat, baik dalam bentuk 2 dimensi atau 3 dimensi. Anak visual biasanya juga spasial, pandai membayangkan ruang 3 dimensi. Jika bepergian ke suatu tempat, mereka tidak mengingat berdasarkan nama jalan, tetapi bangunan atau simbol yang mereka lihat sebagai penanda visual.
Media dan cara belajar
Menggunakan gambar, diagram, grafik, warna-warni, besar-kecil, belajar berkhayal secara visual, membayangkan sebuah konsep/informasi dengan: tempat, bentuk, warna, menggunakan layout, spasial, peta, maket, realitas mainan: kamera, pensil/spidol warna, balok aneka warna, ganti kata dengan gambar; bantu pemahaman kata dengan warna
2. Anak Aural (auditory-musical)
Anak aural menyerap informasi dengan pendengaran; baik suara maupun musik. Mereka sensitif dengan intonasi, irama, dinamika, tempo, keras-pelan, suara jauh-dekat. Anak aural belajar sambil mendengarkan musik, tidak menyukai “kesunyian”. Mereka senang bersenandung, membuat nada/rima sendiri. Bagi anak aural, bunyi/nada/lagu membawa pada sebuah emosi atau peristiwa tertentu. Walaupun sedang membaca buku, mereka membutuhkan suara/musik untuk menemaninya.
Media dan cara belajar:
Menggunakan metode ceramah/kuliah, melodi untuk teks; bergumam, membaca dengan suara keras (read aloud), membangun suasana musikal utk menciptakan suasana menggunakan media audio visual CD/VCD dan mendengarkan kuliah/ pidato/radio di rumah dan jalan
3. Anak Verbal (linguistic).
Anak verbal menyukai kata dan bahasa. Mereka pandai membuat distingsi makna kata, baik secara lisan maupun tulisan. Anak-anak verbal memilih kata, berkata-kata atau menulis secara terstruktur dengan pilihan kata/kalimat yang baik. Mereka sensitif terhadap pilihan kata dan mengingat sebuah tempat/peristiwa/konsep dengan nama dan kata-kata kunci. Anak-anak verbal biasanya senang membaca dan menulis; membuat sajak, puisi, diari, rima, berpidato, dan sebagainya.
Media dan cara belajar: menggunakan cara yang umum seperti di kelas; buku dan ceramah, melakukan diskusi, membaca dan menulis, bermain peran (role-playing).
4. Anak Fisik (kinesthetic).
Anak fisik menggunakan anggota badan mereka untuk belajar. Mereka senang mencoba dan melakukan segala sesuatu sendiri (learning by doing). Mereka belajar dengan cara: menyentuh, membangun, memperbaiki, membuat. Mereka seringkali tidak sabar membaca buku petunjuk atau diagram, dan langsung ingin mencoba melakukan sendiri. Anak-anak fisik sensitif terhadap tekstur, cara kerja, dan realitas fisik yang terlihat nyata di hadapannya. Mereka tidak suka berkhayal atau membayangkan.
Media dan cara belajar: menggunakan pekerjaan tangan, hands-on projects
menulis, menggambar, membuat maket, merakit benda, memperbaiki barang rusak, membuat rancangan, berolahraga dan permainan aktivitas di luar rumah (outdoor activities), drama dan permainan peran, balok, robot, mesin, alat-alat olahraga.
5. Anak Logis (mathematical)
Anak logis menggunakan logika, argumen, dan mencari pola keteraturan. Anak logis senang mencari struktur dan pola dari segala sesuatu yang ada di sekitarnya. Mereka pandai mencari hubungan, membuat perbandingan, memilah dan membuat klasifikasi. Anak logis senang melakukan pekerjaan mental/berfikir.
Anak logis adalah tipikal anak yang berhasil di model belajar seperti sekolah. Masyarakat saat ini sangat menghargai anak logis.
Media dan cara belajar: menggunakan buku & teori mengenai berbagai hal
bermain puzzle dan teka-teki, membuat aturan dan prosedur yang jelas
membuat rencana dan jadwal
6. Anak Sosial (interpersonal).
Anak sosial memiliki kecenderungan untuk bergaul dan berkelompok secara sosial. Mereka supel dan pandai bergaul dengan siapapun, baik dengan teman sebaya maupun orang yang lebih tua/lebih muda. Orang mendengarkan dan menyukai mereka. Mereka menikmati pertemanan, berbagi cerita atau ilmu dengan orang lain. Anak sosial mendapatkan ilmu dari mendengarkan orang lain atau mencari umpan balik dari respon orang lain terhadap apa-apa yang disampaikannya.
Media dan cara belajar: mengikuti kelompok, klub, organisasi
melakukan proyek yang dikerjakan bersama, berdiskusi dan bermain peran (role-playing), melakukan kegiatan lapangan yang melibatkan banyak orang
mengikuti seminar atau training dengan sistem kelas.
7. Anak Penyendiri (intrapersonal).
Anak penyendiri memiliki kecenderungan pendiam dan reflektif. Mereka lebih efektif untuk belajar jika seorang diri, bukan dalam kelompok. Anak penyendiri biasanya memiliki kecenderungan untuk mandiri, mengenali kekuatan dan kekurangan pribadi. Anak penyendiri sensitif terhadap pribadi dan kedalaman saat mempelajari atau mengerjakan sesuatu.
Media & cara belajar: menekuni hobi atau sesuatu yang ditekuni
mengeksplorasi buku atau materi-materi yang bisa dilakukan sendiri, mengerjakan proyek mandiri, membuat jurnal, diari, blog
8. Anak Alam (Natural)
Anak alam memiliki ketertarikan akan keindahan alami dan baru bisa belajar bila menemukan pejelasan specifik tentang fenomena tertentu. Hal-hal yang berkaitan dengan upaya melestarikan alam adalah yang sangat disukainya.
Media & cara belajar: memelihara hewan dan menanam tumbuhan untuk dilihat perkembangannya, berada di lingkungan alam, mendapatkan nasehat di lingkungan yang nyaman, inisiatif untuk menyelenggarakan program berbasis lingkungan sehat.
Rekomendasi Pendampingan Belajar di SMA
Langkah penting dalam pendampingan anak :
1. Ortu harus meyakini bahwa “Sukses ortu tidak menjamin sukses anak”
2. Mendefinisikan apa yang dimaksud dengan sukses? membantu memformalisasikan masalah
3. Menentukan prioritas masalah untuk diselesaikan
4. Mengelola proses belajar
5. Mendorong inisiatif dan partisipasi
6. Menjadi pendamping yang berenergi
7. Bertindak asertif dan tegas
8. Mengajarkan ketekunan, kerja keras, kesabaran dan ketulusan untuk menjadi bahagia bagi orang lain
9. Mendorong anak menjadi kreatif dan berani untuk menyampaikan gagasan.
10. Menjadi orangtua GAUL
Penutup
Menghadiri pertemuan orangtua merupakan satu tanda kepedulian dan keinginan untuk belajar memahami remaja, putra-putri tercinta. Tidak ada sekolah menjadi orangtua dan demikian pula tidak ada tempat belajar menjadi anak, sehingga yang terjadi adalah upaya terus menerus untuk menyempurnakan diri dalam peran menjadi orangtua yang baik bagi anak.
Bekerjasama dengan sekolah dalam mendampingi studi anak di SMA haruslah dilihat sebagai kesempatan untuk lebih mengenal putra-putri kita dalam lingkungan belajar kesehariannya. Namun dalam kesempatan ini pula, orangtua dapat belajar untuk menilai bagaimana anak mengambil keputusan dan bila dirasa perlu, kritik pada anak sangat dimungkinkan, tanpa harus disertai ancaman. Mari berjuang bersama !
Makalah disampaikan dalam Pertemuan Orangtua Siswa di SMAK Santo Yusup Malang - 9 dan 10 Juli 2010
Tuesday, April 27, 2010
Selalu Ceria di Mana Saja - Teman Penyemangat dalam Berbagai Kondisi
Salurkan ke Hal Positif
Remaja saat ini dituntut untuk menjadi dinamis. Banyaknya hal yang dibebankan di pundaknya menjadi salah satu alasan mengapa remaja selalu on fire. Mau tak mau, remaja harus berpacu dengan waktu dan berkompetisi dengan orang lain. Agar bisa survive, mereka harus menumbuhkan semangat dari dalam diri. Semangat itu adalah bentuk energi berlebih yang harus disalurkan. Salurkan hal tersebut untuk hal positif. Sebab jika tidak disalurkan ke hal positif, energi itu akan bersifat merusak. Selain diperlukan media penyaluran, lingkungan sekitar hendaknya juga mendukung. Beri penghargaan agar dia tetap bersemangat dan beri kritik saat berlebihan. Semua hal itu dilakukan agar si anak tetap terkendali.
Sumber:
Deteksi Jawa Pos, Selasa 27 April 2010
Remaja saat ini dituntut untuk menjadi dinamis. Banyaknya hal yang dibebankan di pundaknya menjadi salah satu alasan mengapa remaja selalu on fire. Mau tak mau, remaja harus berpacu dengan waktu dan berkompetisi dengan orang lain. Agar bisa survive, mereka harus menumbuhkan semangat dari dalam diri. Semangat itu adalah bentuk energi berlebih yang harus disalurkan. Salurkan hal tersebut untuk hal positif. Sebab jika tidak disalurkan ke hal positif, energi itu akan bersifat merusak. Selain diperlukan media penyaluran, lingkungan sekitar hendaknya juga mendukung. Beri penghargaan agar dia tetap bersemangat dan beri kritik saat berlebihan. Semua hal itu dilakukan agar si anak tetap terkendali.
Sumber:
Deteksi Jawa Pos, Selasa 27 April 2010
Saturday, March 27, 2010
Karena Cinta Tak Bisa Menunggu - Ngasih Dia Batasan Waktu Nembak
Tak Siap Terima Resiko
Saat-saat pencerahan memang terasa berat dilakukan untuk beberapa orang. Keadaan seperti itu wajar. Sebab, pada hakikatnya nggak semua orang siap menerima resiko atas apa yang hendak dilakukan, termasuk resiko ditolak. Hal tersebut sering kali jadi hambatan utama mengapa orang itu nggak nembak-nembak. Faktor lain, bisa jadi karena alasan situasional. Entah karena tempat nggak cocok atau waktu yang nggak tepat. Bagi beberapa orang, faktor situasional seperti itu penting demi sebuah momen penembakan. Kalau belum tepat, ya tidak dilakukan. Karena itu, yakinkan perasaan lebih dahulu saat mau nyatakan cinta. Siapkan segalanya dengan sebaik-baiknya agar momen penembakan lebih mantap.
Sumber:
Deteksi Jawa Pos, Sabtu 27 Maret 2010
Saat-saat pencerahan memang terasa berat dilakukan untuk beberapa orang. Keadaan seperti itu wajar. Sebab, pada hakikatnya nggak semua orang siap menerima resiko atas apa yang hendak dilakukan, termasuk resiko ditolak. Hal tersebut sering kali jadi hambatan utama mengapa orang itu nggak nembak-nembak. Faktor lain, bisa jadi karena alasan situasional. Entah karena tempat nggak cocok atau waktu yang nggak tepat. Bagi beberapa orang, faktor situasional seperti itu penting demi sebuah momen penembakan. Kalau belum tepat, ya tidak dilakukan. Karena itu, yakinkan perasaan lebih dahulu saat mau nyatakan cinta. Siapkan segalanya dengan sebaik-baiknya agar momen penembakan lebih mantap.
Sumber:
Deteksi Jawa Pos, Sabtu 27 Maret 2010
Thursday, December 31, 2009
Welcoming 2010 - Keluarga Berkesan, Teman Bakal Seru
Bergantung Makna Perayaan
Pemilihan perayaan tahun baru bersama teman atau keluarga sebenarnya bergantung cara pribadi tersebut memaknai tahun baru. Jadi, pikirkan dulu, apa makna tahun baru bagi kita. Dari situ, kita akan tahu acara apa saja yang harus disiapkan menjelang tahun baru dan dirayakan dengan siapa. Contohnya, jika satu tahun baru ingin bersama keluarga besar, orang tersebut pasti akan lebih memilih merayakan tahun baru bersama keluarga. Apalagi, jika keluarga itu punya tradisi berkumpul pada tahun baru. Tentunya, akan lebih bermakna jika dirayakan bersama keluarga. Namun, beda lagi jika pada tahun baru ingin merasakan atmosfer bersama teman baru. Pasti selebrasi pergantian tahun akan lebih seru jika dilakukan bersama teman-teman.
Sumber:
Deteksi Jawa Pos, Kamis 31 Desember 2009
Pemilihan perayaan tahun baru bersama teman atau keluarga sebenarnya bergantung cara pribadi tersebut memaknai tahun baru. Jadi, pikirkan dulu, apa makna tahun baru bagi kita. Dari situ, kita akan tahu acara apa saja yang harus disiapkan menjelang tahun baru dan dirayakan dengan siapa. Contohnya, jika satu tahun baru ingin bersama keluarga besar, orang tersebut pasti akan lebih memilih merayakan tahun baru bersama keluarga. Apalagi, jika keluarga itu punya tradisi berkumpul pada tahun baru. Tentunya, akan lebih bermakna jika dirayakan bersama keluarga. Namun, beda lagi jika pada tahun baru ingin merasakan atmosfer bersama teman baru. Pasti selebrasi pergantian tahun akan lebih seru jika dilakukan bersama teman-teman.
Sumber:
Deteksi Jawa Pos, Kamis 31 Desember 2009
Wednesday, March 18, 2009
Ingat-Ingat Pesan Mama
Wujud Psikologi Transpersonal
Sebenarnya, hubungan ortu dan anak terbentuk sejak anak dalam kandungan. Apa yang disebut bonding itu terus berkembang seiring dengan terus bertumbuhnya si anak di bawah asuhan mereka. Insting sebagai orangtua merupakan kemampuan dasar yang sifatnya given, tidak bisa dipelajari. Dengan insting tersebut, orangtua bisa merasakan apa yang dirasakan sang anak. Menurut psikologi transpersonal, orang lain bakal merasakan jika kita memikirkan mereka, seperti ada energi yang tersampaikan. Ditambah lagi, kedekatan antara dua pribadi pasti membuat satu sama lain hafal terhadap karakter masing-masing. Karena intelligence spiritual yang lebih tinggi, orangtua lebih sering merasakan perubahan pada si anak. Perubahan itulah yang menjadi pertanda.
Sumber:
Deteksi Jawa Pos, Rabu 18 Maret 2009
Sebenarnya, hubungan ortu dan anak terbentuk sejak anak dalam kandungan. Apa yang disebut bonding itu terus berkembang seiring dengan terus bertumbuhnya si anak di bawah asuhan mereka. Insting sebagai orangtua merupakan kemampuan dasar yang sifatnya given, tidak bisa dipelajari. Dengan insting tersebut, orangtua bisa merasakan apa yang dirasakan sang anak. Menurut psikologi transpersonal, orang lain bakal merasakan jika kita memikirkan mereka, seperti ada energi yang tersampaikan. Ditambah lagi, kedekatan antara dua pribadi pasti membuat satu sama lain hafal terhadap karakter masing-masing. Karena intelligence spiritual yang lebih tinggi, orangtua lebih sering merasakan perubahan pada si anak. Perubahan itulah yang menjadi pertanda.
Sumber:
Deteksi Jawa Pos, Rabu 18 Maret 2009
Saturday, January 3, 2009
Dokter Cinta Beraksi
Mempercepat Penyembuhan
Memberikan perhatian kepada orang yang kita cintai adalah suatu keharusan. Apalagi ketika pacar sedang sakit. Dengan menjenguk pacar, itu menunjukkan bahwa kita perhatian kepadanya. Kita seolah-olah berkata kepada pacar, ini lho, aku juga ada di saat kamu susah, bukan cuma saat senang saja. Di samping itu, memang ada hubungan yang kuat antara mind dengan body. Ada riset yang menyebutkan bahwa mind yang bahagia bisa mengurangi rasa sakit seseorang. Ketika seseorang yang sedang sakit dikunjungi oleh orang yang dicintainya, terutama pacar, akan ada semangat yang mendorongnya untuk segera sembuh dan tak kelihatan lemah di depan si dia. Sehingga, biasanya proses penyembuhan si sakit juga akan jadi lebih cepat.
Sumber:
Deteksi Jawa Pos, Sabtu 3 Januari 2009
Memberikan perhatian kepada orang yang kita cintai adalah suatu keharusan. Apalagi ketika pacar sedang sakit. Dengan menjenguk pacar, itu menunjukkan bahwa kita perhatian kepadanya. Kita seolah-olah berkata kepada pacar, ini lho, aku juga ada di saat kamu susah, bukan cuma saat senang saja. Di samping itu, memang ada hubungan yang kuat antara mind dengan body. Ada riset yang menyebutkan bahwa mind yang bahagia bisa mengurangi rasa sakit seseorang. Ketika seseorang yang sedang sakit dikunjungi oleh orang yang dicintainya, terutama pacar, akan ada semangat yang mendorongnya untuk segera sembuh dan tak kelihatan lemah di depan si dia. Sehingga, biasanya proses penyembuhan si sakit juga akan jadi lebih cepat.
Sumber:
Deteksi Jawa Pos, Sabtu 3 Januari 2009
Tuesday, November 11, 2008
Warning, si Charming Mendekat - Kalau Status Taken, Boleh Direspons tapi Jangan Diembat
Pantang Main Belakang
Dalam kondisi punya pasangan tapi ada yang pedekate, kita normal jika merasa bimbang. Apalagi, orang itu lebih menarik daripada pasangan kita. Entah fisik atau kepribadian. Namun, kita harus bijak menyikapinya. Jangan main belakang. Kita harus berani jujur mengatakan bahwa kita sudah punya pasangan. Saat itulah komitmen kita diuji. Bagaimana kesetiaan kita dan seberapa jauh kita menerima pasangan kita apa adanya. Didekati orang juga tidak boleh disimpan sendiri. Itu harus dikomunikasikan dengan pasangan. Selain minta saran, itu juga harus bisa jadi introspeksi diri baginya. Dalam hubungan, harus dikembangkan sikap mau maju. Artinya, bukan sekadar menerima, tapi saling memperbaiki diri.
Sumber:
Deteksi Jawa Pos, Sabtu 11 November 2008
Dalam kondisi punya pasangan tapi ada yang pedekate, kita normal jika merasa bimbang. Apalagi, orang itu lebih menarik daripada pasangan kita. Entah fisik atau kepribadian. Namun, kita harus bijak menyikapinya. Jangan main belakang. Kita harus berani jujur mengatakan bahwa kita sudah punya pasangan. Saat itulah komitmen kita diuji. Bagaimana kesetiaan kita dan seberapa jauh kita menerima pasangan kita apa adanya. Didekati orang juga tidak boleh disimpan sendiri. Itu harus dikomunikasikan dengan pasangan. Selain minta saran, itu juga harus bisa jadi introspeksi diri baginya. Dalam hubungan, harus dikembangkan sikap mau maju. Artinya, bukan sekadar menerima, tapi saling memperbaiki diri.
Sumber:
Deteksi Jawa Pos, Sabtu 11 November 2008
Saturday, July 26, 2008
Balada Cinta Tambalan
Cocok, Jalan Terus
Sebenarnya, jadian karena pelarian tidak selalu berimbas buruk bagi hubungan pacaran. Awalnya memang disebabkan ingin melupakan trauma dari hubungan sebelumnya. Tetapi, ada dua sudut pandang. Pertama, jika niatnya hanya ingin melupakan mantan, tidak baik untuk dilanjutkan. Akan tetapi, ketika menjalin hubungan menemukan evaluasi yang baik, tidak ada salahnya dilanjutkan. Dengan catatan, jujur. Berterus teranglah kepada pasangan bahwa awal kalian bersatu memang karena pelarian. Tetapi, di dalam proses pelarian itu, ternyata kalian menemukan cinta sejati. Ingat, prinsip jalinan cinta adalah saling respek. Di sana akan terlihat, kalau sekedar pelarian, cintanya juga "sekadar" saja.
Sumber:
Deteksi Jawa Pos, Sabtu 26 Juli 2008
Sebenarnya, jadian karena pelarian tidak selalu berimbas buruk bagi hubungan pacaran. Awalnya memang disebabkan ingin melupakan trauma dari hubungan sebelumnya. Tetapi, ada dua sudut pandang. Pertama, jika niatnya hanya ingin melupakan mantan, tidak baik untuk dilanjutkan. Akan tetapi, ketika menjalin hubungan menemukan evaluasi yang baik, tidak ada salahnya dilanjutkan. Dengan catatan, jujur. Berterus teranglah kepada pasangan bahwa awal kalian bersatu memang karena pelarian. Tetapi, di dalam proses pelarian itu, ternyata kalian menemukan cinta sejati. Ingat, prinsip jalinan cinta adalah saling respek. Di sana akan terlihat, kalau sekedar pelarian, cintanya juga "sekadar" saja.
Sumber:
Deteksi Jawa Pos, Sabtu 26 Juli 2008
Saturday, June 21, 2008
No Money No Honey
Bikin yang Meaningful
Selain disesuaikan dengan kemampuan, bujet pedekate sebaiknya disesuaikan dengan kepribadian dan keadaan. Kalau sudah sering ketemu, berarti butuh mengajaknya pergi ke tempat baru, yang artinya butuh bujet lebih besar. Sedangkan kalau orang yang didekati justru speechless ketika ketemu, cari jalur komunikasi lain. Misalnya lewat telepon, SMS, atau e-mail. Dengan begitu, mungkin bujetnya bisa lebih murah. Tapi, yang paling penting bukan besar kecilnya bujet pedekate. Yang penting, bagaimana dengan bujet itu, pedekate bisa terasa meaningful, bermakna. Jadi, bujet itu tidak perlu berlebihan.
Sumber:
Deteksi Jawa Pos, Sabtu 21 Juni 2008
Selain disesuaikan dengan kemampuan, bujet pedekate sebaiknya disesuaikan dengan kepribadian dan keadaan. Kalau sudah sering ketemu, berarti butuh mengajaknya pergi ke tempat baru, yang artinya butuh bujet lebih besar. Sedangkan kalau orang yang didekati justru speechless ketika ketemu, cari jalur komunikasi lain. Misalnya lewat telepon, SMS, atau e-mail. Dengan begitu, mungkin bujetnya bisa lebih murah. Tapi, yang paling penting bukan besar kecilnya bujet pedekate. Yang penting, bagaimana dengan bujet itu, pedekate bisa terasa meaningful, bermakna. Jadi, bujet itu tidak perlu berlebihan.
Sumber:
Deteksi Jawa Pos, Sabtu 21 Juni 2008
Sunday, May 18, 2008
ABG Kasmaran? Capek Deh …
Masih ingat kasus Rico Ceper bukan? Duda berusia 34 tahun ini berpacaran dengan cewek ABG berusia 16 tahun, Stachy Lubis atau dipanggil achy. Meski saling cinta dan tak ada paksaan, cinta mereka dinilai terlarang. Achy memilih lengket bersama penyiar radio itu dibandingkan dengan orangtuanya.
Emosional, Pilihan Sesaat
Orangtua dengan anak ABG sudah selayaknya ekstra hati-hati. Josephine Ratna, M. Psych, psikolog klinis dari Rumah Sakit Surabaya Internasional menuturkan, saat memasuki usia puber, remaja cenderung emosional. Terutama pada ABG perempuan.
“Biasanya keputusan yang mereka ambil lebih bersifat situasional. Bukan keputusan jangka panjang, karena mereka lebih mengedepankan emosi,” terang Josephine. Artinya peran dan sikap orangtua yang benar dibutuhkan saat anak memasuki masa rawan ini. Berikut beberapa tipsnya.
· Orangtua harus menjalankan perannya sesuai usia anak. Bila anak berusia di bawah lima tahun, orangtua berperan sebagai orangtua. Saat anak berusia lima tahun hingga sebelum puber, orangtua berperan sebagai guru. Dan untuk usia puber ke atas, orangtua harus menganggap si anak sebagai teman. “Orangtua harus bisa mengubah pola asuhnya. Jangan terus-terusan menerapkan aturan lama,” saran Josephine.
· Di saat anak masuk dalam fase puber, ketertarikan terhadap lawan jenis datang lebih cepat. Dan tak dimungkiri, dorongan-dorongan seksual pasti pernah dirasakan. “Di waktu inilah, butuh pengalihan dari dorongan-dorongan yang timbul tersebut. Misalnya mengikuti kegiatan sekolah yang membuat mereka bangga,” kata Josephine.
· Cara berkomunikasi antara orangtua dan anak perlu diperhatikan. Orangtua tidak boleh selalu merasa benar dan memaksakan kehendaknya. Masa remaja adalah masa eksperimentasi. Semakin dilarang, anak akan semakin berontak dan tidak percaya. Nah, di sini orangtua harus pandai-pandai menyampaikan pesannya. Salah satunya lewat contoh-contoh.
· Orangtua yang jenis kelaminnya dengan anak, diharapkan bisa lebih dekat hubungannya. Bila anak perempuan, maka peranan ayah sangat penting. Anak akan lebih percaya karena si ayah berbeda dengan dirinya. “Namun kadang si bapak tidak siap bila harus berdekatan dengan putrinya. Sementara si ibu tidak rela bila harus jauh dari putrinya yang beranjak dewasa,” kata Josephine.
· Jangan langsung menghakimi apa yang dilakukan anak. Orangtua hendaknya mengerti kebutuhan anak saat itu. Di masa puber, anak butuh disayangi, diperhatikan dan dikagumi. “Tak ada orangtua yang ingin mencelakakan anaknya. Dan yang paling pas untuk tempat curhat adalah orangtua,” tegas Josephine. (tis)
Sumber:
Harian Surya, Minggu 18 Mei 2008
Sunday, May 11, 2008
Main Boneka Cara Digital
Bagus untuk Edukasi Kehidupan
Life simulation game adalah salah satu bentuk kemajuan teknologi di dunia permainan. Permainan itu mengambil beberapa fase dalam kehidupan, seperi bekerja, menikah, dan berinteraksi dengan orang lain. Prinsipnya, permainan seperti ini bagus untuk edukasi. Sebab, mengajarkan pemainnya untuk mengatur strategi hidup. Misalnya, bagaimana mengatur pengeluaran atau bagaimana mencari pekerjaan. Namun, tetap ada bahayanya. Apalagi jika saat bermain, ia lantas berbuat curang. Itu akan membuat pemain berpikir bahwa kehidupan bisa disikapi seperi itu. Padahal, kenyataannya tidak. Dalam kehidupan nyata, ada seperangkat aturan. Sementara itu, dalam life simulation game, tidak ada feedback. Yang penting, jangan sampai aktivitas memainkan life simulation game mengganggu interaksi kita dengan orang lain dalam kehidupan nyata.
Sumber:
Deteksi Jawa Pos, Minggu 11 Mei 2008
Life simulation game adalah salah satu bentuk kemajuan teknologi di dunia permainan. Permainan itu mengambil beberapa fase dalam kehidupan, seperi bekerja, menikah, dan berinteraksi dengan orang lain. Prinsipnya, permainan seperti ini bagus untuk edukasi. Sebab, mengajarkan pemainnya untuk mengatur strategi hidup. Misalnya, bagaimana mengatur pengeluaran atau bagaimana mencari pekerjaan. Namun, tetap ada bahayanya. Apalagi jika saat bermain, ia lantas berbuat curang. Itu akan membuat pemain berpikir bahwa kehidupan bisa disikapi seperi itu. Padahal, kenyataannya tidak. Dalam kehidupan nyata, ada seperangkat aturan. Sementara itu, dalam life simulation game, tidak ada feedback. Yang penting, jangan sampai aktivitas memainkan life simulation game mengganggu interaksi kita dengan orang lain dalam kehidupan nyata.
Sumber:
Deteksi Jawa Pos, Minggu 11 Mei 2008
Tuesday, April 1, 2008
Happy Eifril Fool! - Ready Nge-Trick, Watch Out Di-Trick
Be Careful Philih the Victim
Nge-trick saath Eifril Fool is hak everybody. But, be careful philih the victim. Better kitcha philih friends yiang seumuruyan, jyangan philih other people yiang age-nya lebhih tcua. Because, friends lebhih bhisa understanding maksyud kitcha. Kalau kitcha nge-trick other people djengan age lebhih tcua, ditcakutkhan tcimbul miss communication you know. Kelhanjutcanya, kitcha dicap not polite. Tcidak shophan. If kitcha lihath djari cici fositif, actually Eifril Fool is the day for us for beladjayar about tolerance. because, dhalam mencalanhi life, sometimes humor is needed. Believe or not, Eifril Fool also bisa membyuat dua persons yang shedang bertcengkar become friends. Finally, kalauw kitcha nge-trick other people, jhangan mhemaksa merekha untchuk maklum. If the victim marhah, kitcha harhus tcerima. (kiy/dat)
Sumber:
Deteksi Jawa Pos, Selasa 1 April 2008
Nge-trick saath Eifril Fool is hak everybody. But, be careful philih the victim. Better kitcha philih friends yiang seumuruyan, jyangan philih other people yiang age-nya lebhih tcua. Because, friends lebhih bhisa understanding maksyud kitcha. Kalau kitcha nge-trick other people djengan age lebhih tcua, ditcakutkhan tcimbul miss communication you know. Kelhanjutcanya, kitcha dicap not polite. Tcidak shophan. If kitcha lihath djari cici fositif, actually Eifril Fool is the day for us for beladjayar about tolerance. because, dhalam mencalanhi life, sometimes humor is needed. Believe or not, Eifril Fool also bisa membyuat dua persons yang shedang bertcengkar become friends. Finally, kalauw kitcha nge-trick other people, jhangan mhemaksa merekha untchuk maklum. If the victim marhah, kitcha harhus tcerima. (kiy/dat)
Sumber:
Deteksi Jawa Pos, Selasa 1 April 2008
Saturday, March 8, 2008
Nggak Kencan, Nggak Masalah
Banyak Opsi Pengganti
Penolakan kencan seharusnya memang tak mengganggu hubungan, karena esensi pacaran bukanlah kencan. Pacaran adalah proses mengenal seseorang. Dulu, pacaran diidentikkan dengan apel setiap malam minggu. Kini, terjadi pergeseran. Didukung kecanggihan teknologi, untuk menunjukkan perhatian dan berkomunikasi, itu bisa dilakukan lewat SMS, telepon, chat on-line, webcam dan lainnya. Jadi, ada opsi pengganti jadwal apel. Yang paling penting adalah konsep pacaran sehat dengan mementingkan kualitas, bukan kuantitas. Wujudnya, bisa tatap muka, komunikasi dan share idea. (hil/azz)
Sumber:
Deteksi Jawa Pos, Sabtu 8 Maret 2008
Penolakan kencan seharusnya memang tak mengganggu hubungan, karena esensi pacaran bukanlah kencan. Pacaran adalah proses mengenal seseorang. Dulu, pacaran diidentikkan dengan apel setiap malam minggu. Kini, terjadi pergeseran. Didukung kecanggihan teknologi, untuk menunjukkan perhatian dan berkomunikasi, itu bisa dilakukan lewat SMS, telepon, chat on-line, webcam dan lainnya. Jadi, ada opsi pengganti jadwal apel. Yang paling penting adalah konsep pacaran sehat dengan mementingkan kualitas, bukan kuantitas. Wujudnya, bisa tatap muka, komunikasi dan share idea. (hil/azz)
Sumber:
Deteksi Jawa Pos, Sabtu 8 Maret 2008
Sunday, February 10, 2008
Minta Boneka dong Yang
Bisa untuk Pengganti Pacar
Bagi seorang cewek, makna hadiah Valentine dari sang pacar bukan sekadar pemberian. Bahkan, tak jarang dijadikan pengganti kehadiran pacar. Maka, tak heran kalau cewek berusia remaja sekarang lebih ingin diberi boneka ketimbang bunga atau coklat. Format pemberian tersebut dianggap lebih long lasting dan bisa jadi sasaran ketika kangen dengan pacar. Bisa dipeluk atau sekadar dipandang. Pemilihan hadiah Valentine berupa boneka juga menunjukkan bahwa kini mulai terjadi pergeseran konsep romantisme di kalangan remaja. Itu menunjukkan bahwa dalam hal pacaran mereka ingin fun. Hadiah bunga mungkin dianggap terlalu serius. Kado cokelat barangkali terasa kurang personal. Yang pasti, pilih boneka sesuai selera si cewek. Itu akan membuat kado lebih spesial dan personal. Sesuai sifat cewek yang ingin dicintai dan diperlakukan spesial. (rum/kkn)
Sumber:
Deteksi Jawa Pos, Minggu 10 Februari 2008
Bagi seorang cewek, makna hadiah Valentine dari sang pacar bukan sekadar pemberian. Bahkan, tak jarang dijadikan pengganti kehadiran pacar. Maka, tak heran kalau cewek berusia remaja sekarang lebih ingin diberi boneka ketimbang bunga atau coklat. Format pemberian tersebut dianggap lebih long lasting dan bisa jadi sasaran ketika kangen dengan pacar. Bisa dipeluk atau sekadar dipandang. Pemilihan hadiah Valentine berupa boneka juga menunjukkan bahwa kini mulai terjadi pergeseran konsep romantisme di kalangan remaja. Itu menunjukkan bahwa dalam hal pacaran mereka ingin fun. Hadiah bunga mungkin dianggap terlalu serius. Kado cokelat barangkali terasa kurang personal. Yang pasti, pilih boneka sesuai selera si cewek. Itu akan membuat kado lebih spesial dan personal. Sesuai sifat cewek yang ingin dicintai dan diperlakukan spesial. (rum/kkn)
Sumber:
Deteksi Jawa Pos, Minggu 10 Februari 2008
Wednesday, January 9, 2008
Ada Gosip? Come to Mama
Sebagai Sarana Komunikasi
Bergosip sebenarnya punya konotasi negatif di mata masyarakat. Namun, bakal berbeda halnya kalau yang melakukan ibu dan anak. Kegiatan itu bisa berubah menjadi ajang mempererat komunikasi. Melalui bergosip, secara tidak langsung ibu juga dapat menyelami dunia si anak. Cara tersebut lebih luwes karena anak tidak akan merasa terintervensi dan tercampuri urusannya. Jika seorang anak berinisiatif bergosip dengan ibunya, itu tanda dia percaya pada ortu. Itu juga cara untuk mencoba bersikap terbuka. Syaratnya, topik yang dipilih harus benar. Agar, si anak dapat menyesuaikan diri dan tidak matang sebelum waktunya. (kiy)
Sumber:
Deteksi Jawa Pos, Rabu 9 Januari 2008
Bergosip sebenarnya punya konotasi negatif di mata masyarakat. Namun, bakal berbeda halnya kalau yang melakukan ibu dan anak. Kegiatan itu bisa berubah menjadi ajang mempererat komunikasi. Melalui bergosip, secara tidak langsung ibu juga dapat menyelami dunia si anak. Cara tersebut lebih luwes karena anak tidak akan merasa terintervensi dan tercampuri urusannya. Jika seorang anak berinisiatif bergosip dengan ibunya, itu tanda dia percaya pada ortu. Itu juga cara untuk mencoba bersikap terbuka. Syaratnya, topik yang dipilih harus benar. Agar, si anak dapat menyesuaikan diri dan tidak matang sebelum waktunya. (kiy)
Sumber:
Deteksi Jawa Pos, Rabu 9 Januari 2008
Friday, December 7, 2007
Take Home Midnight - Tonton TV Tengah Malam, Film Jadi Pilihan
Perhatikan Kondisi Tubuh
Bisa dimengerti bahwa remaja sekarang lebih suka nonton TV tengah malam. Tapi, ini pun punya dampak baik dan buruk. Di satu sisi, ini bisa menguntungkan karena anak bisa refreshing setelah belajar. Di sisi lain, ini juga membahayakan. Sebab, kalau terlalu sering dilakukan, siklus tubuh bisa terganggu. Akibatnya, fungsi berpikir berkurang, mudah mengantuk, dan sering bad mood saat beraktivitas di siang hari karena kurang istirahat. Anak juga bisa tersugesti. Dari yang sebelumnya melek di tengah malam untuk nonton TV, lama-lama akan merasa harus menonton TV di tengah malam agar bisa tidur. Ini yang tidak baik. Coba kontrol diri. Kalau sudah capek dan mengantuk, sebaiknya istirahat. (rum)
Sumber:
Deteksi Jawa Pos, Jumat 7 Desember 2007
Bisa dimengerti bahwa remaja sekarang lebih suka nonton TV tengah malam. Tapi, ini pun punya dampak baik dan buruk. Di satu sisi, ini bisa menguntungkan karena anak bisa refreshing setelah belajar. Di sisi lain, ini juga membahayakan. Sebab, kalau terlalu sering dilakukan, siklus tubuh bisa terganggu. Akibatnya, fungsi berpikir berkurang, mudah mengantuk, dan sering bad mood saat beraktivitas di siang hari karena kurang istirahat. Anak juga bisa tersugesti. Dari yang sebelumnya melek di tengah malam untuk nonton TV, lama-lama akan merasa harus menonton TV di tengah malam agar bisa tidur. Ini yang tidak baik. Coba kontrol diri. Kalau sudah capek dan mengantuk, sebaiknya istirahat. (rum)
Sumber:
Deteksi Jawa Pos, Jumat 7 Desember 2007
Saturday, November 3, 2007
Antara Harga Diri dan Gosip - Gengsi, Malu Kalau Diputusin
Belajar Mengambil Keputusan
Keputusan dibuat supaya kita tidak menyesal di kemudian hari. Dalam pacaran, putus adalah proses remaja menerima konsekuensi dari keputusannya. Kalau memang tidak cocok setelah dikaji dari positif dan negatifnya hubungan tersebut, ya kenapa tidak putus. Masalah sakit hati memang harus kita pertimbangkan. Tapi, berani berkata tidak harus dilakukan kalau memang tidak mau. Namun, jangan serta-merta jadi sembarangan mengakhiri hubungan. Sebelum putus, ada baiknya minta pendapat orang lain. Apakah tindakan ini dilakukan karena egois. Semestinya, pasangan saling menghargai perasaan satu sama lain. (puz)
Sumber:
Deteksi Jawa Pos, Sabtu 3 November 2007
Keputusan dibuat supaya kita tidak menyesal di kemudian hari. Dalam pacaran, putus adalah proses remaja menerima konsekuensi dari keputusannya. Kalau memang tidak cocok setelah dikaji dari positif dan negatifnya hubungan tersebut, ya kenapa tidak putus. Masalah sakit hati memang harus kita pertimbangkan. Tapi, berani berkata tidak harus dilakukan kalau memang tidak mau. Namun, jangan serta-merta jadi sembarangan mengakhiri hubungan. Sebelum putus, ada baiknya minta pendapat orang lain. Apakah tindakan ini dilakukan karena egois. Semestinya, pasangan saling menghargai perasaan satu sama lain. (puz)
Sumber:
Deteksi Jawa Pos, Sabtu 3 November 2007
Tuesday, October 2, 2007
Arti Sahabat Sudah Bergeser
Pengertian dari kata sahabat saat ini adalah teman dalam menjalankan minat. Bukan lagi orang lain yang selalu bersama kita dalam semua aktivitas dan berbagi semua rahasia. Itulah sebabnya, kita jadi bisa punya banyak sahabat. Misalnya begini, kita melakukan minat X dengan A. Kemudian, menjalani minat Y dengan sahabat B. Dari pengertian di atas, bisa ditarik suatu kesimpulan bahwa sebenarnya kita bukan bosan pada sahabat. Melainkan, kita tertarik pada minat lain yang tidak melibatkan sahabat tertentu di dalamnya. Akibatnya, kita seperti meninggalkan sahabat. Ada cara untuk mencegah hal tersebut. Yaitu, memperkenalkan, mengajak, atau melibatkan sahabat pada minta kita yang baru. (hil)
Sumber:
Jawa Pos, Selasa 2 Oktober 2007
Sumber:
Jawa Pos, Selasa 2 Oktober 2007
Monday, July 23, 2007
Ortu Jangan Terlalu Membebani Anak
Malang - Surya
Orangtua menjadi sorotan tajam dalam perkembangan perilaku siswa yang mulai beranjak remaja. Orangtua yang terlalu protekdif terhadap anak mereka justru akan membuat siswa kurang memahami diri mereka dan lebih mudah terpengaruh pergaulan yang menjurus kepada kenakalan remaja. Hal itu dibahas dalam seminar bertajuk "Tantangan Pendidikan ke Depan" di aula SMAK St. Albertus (Dempo) yang dihadiri pakar pendidikan ITS Surabaya, Drs. Kresnayana Yahya, MSc., dan psikolog, Dra. Josephine Ratna, M. Psych.
Menurut Kresnayana Yahya, mengekang pergaulan anak justru akan berdampak buruk terhaap perkembangan mental anak. "Jika anak dibiarkan berinteraksi dengan lingkungan, maka anak akan menemukan berbagai inspirasi sebagai sumber kreativitas dan kompetensi siswa," papar pakar statistik ini, Sabtu (21/7).
Menurutnya, membebani anak dengan berbagai target mulai dari harus belajar serius hingga larangan menggunakan internet justru akan menciptakan anak yang lemah. Sementara saat ini persaingan dalam dunia pendidikan hingga dunia kerja makin ketat. "Beri mereka sedikit kepercayaan. Jika perlu bebaskan mereka menggunakan internet sebab di dalamnya terdapat banyak ilmu pengetahuan," paparnya.
Internet merupakan salah satu perkembangan teknologi yang tidak bisa dihindari dan semua masyarakat membutuhkannya jika mereka ingin maju. Cara melindungi siswa dari berbagai situs "aneh" adalah dengan memberikan pengertian yang benar tentang manfaat teknologi. "Yang namanya remaja selalu ingin mencoba segala hal itu wajar. Tapi beri mereka ketentuan rambu-rambu yang harus mereka patuhi," terangnya.
Hal yang sama juga diakui oleh psikolog, Josephine Ratna. Menurutnya, sikap over protektif justru akan membuat anak menjadikan WC sekolah sebagai "rumah kedua" mereka. Di dalam WC, katanya, mereka akan membaca buku yang tak seharusnya mereka ketahui. "Siswa akan encari jalan belakang, dan ironisnya lagi mereka justru didukung teman-temannya dalam melakukan berbagai tindakan yang merusak mental mereka," jelas Josephine dihadapan ratusan orangtua siswa Dempo.
Ditambahkan, orangtua harus menjadi teman yang akrab bagi anaknya, sehingga mampu mengontrol sang anak secara efektif, bukan malah mengekang anak. Jika perlu, beri mereka tanggung jawab yang akan membuat mereka berpikir lebih dewasa untuk melanggar aturan yang telah disepakati antara orangtua dan anak. "Peranan dan kedekatan emosional dengan anak justru akan sangat membantu siswa dalam melalui masa transisi (remaja - red) mereka dengan baik," tandasnya. (st11)
Sumber:
Harian Surya, Senin 23 Juli 2007
Orangtua menjadi sorotan tajam dalam perkembangan perilaku siswa yang mulai beranjak remaja. Orangtua yang terlalu protekdif terhadap anak mereka justru akan membuat siswa kurang memahami diri mereka dan lebih mudah terpengaruh pergaulan yang menjurus kepada kenakalan remaja. Hal itu dibahas dalam seminar bertajuk "Tantangan Pendidikan ke Depan" di aula SMAK St. Albertus (Dempo) yang dihadiri pakar pendidikan ITS Surabaya, Drs. Kresnayana Yahya, MSc., dan psikolog, Dra. Josephine Ratna, M. Psych.
Menurut Kresnayana Yahya, mengekang pergaulan anak justru akan berdampak buruk terhaap perkembangan mental anak. "Jika anak dibiarkan berinteraksi dengan lingkungan, maka anak akan menemukan berbagai inspirasi sebagai sumber kreativitas dan kompetensi siswa," papar pakar statistik ini, Sabtu (21/7).
Menurutnya, membebani anak dengan berbagai target mulai dari harus belajar serius hingga larangan menggunakan internet justru akan menciptakan anak yang lemah. Sementara saat ini persaingan dalam dunia pendidikan hingga dunia kerja makin ketat. "Beri mereka sedikit kepercayaan. Jika perlu bebaskan mereka menggunakan internet sebab di dalamnya terdapat banyak ilmu pengetahuan," paparnya.
Internet merupakan salah satu perkembangan teknologi yang tidak bisa dihindari dan semua masyarakat membutuhkannya jika mereka ingin maju. Cara melindungi siswa dari berbagai situs "aneh" adalah dengan memberikan pengertian yang benar tentang manfaat teknologi. "Yang namanya remaja selalu ingin mencoba segala hal itu wajar. Tapi beri mereka ketentuan rambu-rambu yang harus mereka patuhi," terangnya.
Hal yang sama juga diakui oleh psikolog, Josephine Ratna. Menurutnya, sikap over protektif justru akan membuat anak menjadikan WC sekolah sebagai "rumah kedua" mereka. Di dalam WC, katanya, mereka akan membaca buku yang tak seharusnya mereka ketahui. "Siswa akan encari jalan belakang, dan ironisnya lagi mereka justru didukung teman-temannya dalam melakukan berbagai tindakan yang merusak mental mereka," jelas Josephine dihadapan ratusan orangtua siswa Dempo.
Ditambahkan, orangtua harus menjadi teman yang akrab bagi anaknya, sehingga mampu mengontrol sang anak secara efektif, bukan malah mengekang anak. Jika perlu, beri mereka tanggung jawab yang akan membuat mereka berpikir lebih dewasa untuk melanggar aturan yang telah disepakati antara orangtua dan anak. "Peranan dan kedekatan emosional dengan anak justru akan sangat membantu siswa dalam melalui masa transisi (remaja - red) mereka dengan baik," tandasnya. (st11)
Sumber:
Harian Surya, Senin 23 Juli 2007
Subscribe to:
Posts (Atom)
