Lebih Menyenangkan
Seseorang pasti suka apabila diberi surprise. Sebab, sesuatu yang tidak terencana biasanya lebih indah dan menyenangkan. Sama halnya dengan kencan dadakan. Hal itu bisa dijadikan solusi untuk membangkitkan kembali hubungan yang datar-datar saja. Selain itu, kencan dadakan efektif sebagai media penguji pasangan terhadap jadwalnya dan seberapa penting kita buat pasangan. Itu bisa dilihat lewat rekasi dia dalam menanggapi ajakan kencan yang mendadak tersebut. Namun, terlepas dari semua itu, kencan dadakan membuat kita lebih kreatif dalam menyikapi permasalahan. Kita juga bisa belajar untuk terbuka kepada pasangan, misalnya jika kondisi finansial belum siap. Tentunya, dengan kencan dadakan tersebut, kita bisa memperoleh quality time bersama orang tersayang. (daf/c7/fry).
Sumber:
Deteksi Jawa Pos, Sabtu 6 November 2010
Showing posts with label Pacaran. Show all posts
Showing posts with label Pacaran. Show all posts
Saturday, November 6, 2010
Saturday, March 27, 2010
Karena Cinta Tak Bisa Menunggu - Ngasih Dia Batasan Waktu Nembak
Tak Siap Terima Resiko
Saat-saat pencerahan memang terasa berat dilakukan untuk beberapa orang. Keadaan seperti itu wajar. Sebab, pada hakikatnya nggak semua orang siap menerima resiko atas apa yang hendak dilakukan, termasuk resiko ditolak. Hal tersebut sering kali jadi hambatan utama mengapa orang itu nggak nembak-nembak. Faktor lain, bisa jadi karena alasan situasional. Entah karena tempat nggak cocok atau waktu yang nggak tepat. Bagi beberapa orang, faktor situasional seperti itu penting demi sebuah momen penembakan. Kalau belum tepat, ya tidak dilakukan. Karena itu, yakinkan perasaan lebih dahulu saat mau nyatakan cinta. Siapkan segalanya dengan sebaik-baiknya agar momen penembakan lebih mantap.
Sumber:
Deteksi Jawa Pos, Sabtu 27 Maret 2010
Saat-saat pencerahan memang terasa berat dilakukan untuk beberapa orang. Keadaan seperti itu wajar. Sebab, pada hakikatnya nggak semua orang siap menerima resiko atas apa yang hendak dilakukan, termasuk resiko ditolak. Hal tersebut sering kali jadi hambatan utama mengapa orang itu nggak nembak-nembak. Faktor lain, bisa jadi karena alasan situasional. Entah karena tempat nggak cocok atau waktu yang nggak tepat. Bagi beberapa orang, faktor situasional seperti itu penting demi sebuah momen penembakan. Kalau belum tepat, ya tidak dilakukan. Karena itu, yakinkan perasaan lebih dahulu saat mau nyatakan cinta. Siapkan segalanya dengan sebaik-baiknya agar momen penembakan lebih mantap.
Sumber:
Deteksi Jawa Pos, Sabtu 27 Maret 2010
Sunday, May 18, 2008
ABG Kasmaran? Capek Deh …
Masih ingat kasus Rico Ceper bukan? Duda berusia 34 tahun ini berpacaran dengan cewek ABG berusia 16 tahun, Stachy Lubis atau dipanggil achy. Meski saling cinta dan tak ada paksaan, cinta mereka dinilai terlarang. Achy memilih lengket bersama penyiar radio itu dibandingkan dengan orangtuanya.
Emosional, Pilihan Sesaat
Orangtua dengan anak ABG sudah selayaknya ekstra hati-hati. Josephine Ratna, M. Psych, psikolog klinis dari Rumah Sakit Surabaya Internasional menuturkan, saat memasuki usia puber, remaja cenderung emosional. Terutama pada ABG perempuan.
“Biasanya keputusan yang mereka ambil lebih bersifat situasional. Bukan keputusan jangka panjang, karena mereka lebih mengedepankan emosi,” terang Josephine. Artinya peran dan sikap orangtua yang benar dibutuhkan saat anak memasuki masa rawan ini. Berikut beberapa tipsnya.
· Orangtua harus menjalankan perannya sesuai usia anak. Bila anak berusia di bawah lima tahun, orangtua berperan sebagai orangtua. Saat anak berusia lima tahun hingga sebelum puber, orangtua berperan sebagai guru. Dan untuk usia puber ke atas, orangtua harus menganggap si anak sebagai teman. “Orangtua harus bisa mengubah pola asuhnya. Jangan terus-terusan menerapkan aturan lama,” saran Josephine.
· Di saat anak masuk dalam fase puber, ketertarikan terhadap lawan jenis datang lebih cepat. Dan tak dimungkiri, dorongan-dorongan seksual pasti pernah dirasakan. “Di waktu inilah, butuh pengalihan dari dorongan-dorongan yang timbul tersebut. Misalnya mengikuti kegiatan sekolah yang membuat mereka bangga,” kata Josephine.
· Cara berkomunikasi antara orangtua dan anak perlu diperhatikan. Orangtua tidak boleh selalu merasa benar dan memaksakan kehendaknya. Masa remaja adalah masa eksperimentasi. Semakin dilarang, anak akan semakin berontak dan tidak percaya. Nah, di sini orangtua harus pandai-pandai menyampaikan pesannya. Salah satunya lewat contoh-contoh.
· Orangtua yang jenis kelaminnya dengan anak, diharapkan bisa lebih dekat hubungannya. Bila anak perempuan, maka peranan ayah sangat penting. Anak akan lebih percaya karena si ayah berbeda dengan dirinya. “Namun kadang si bapak tidak siap bila harus berdekatan dengan putrinya. Sementara si ibu tidak rela bila harus jauh dari putrinya yang beranjak dewasa,” kata Josephine.
· Jangan langsung menghakimi apa yang dilakukan anak. Orangtua hendaknya mengerti kebutuhan anak saat itu. Di masa puber, anak butuh disayangi, diperhatikan dan dikagumi. “Tak ada orangtua yang ingin mencelakakan anaknya. Dan yang paling pas untuk tempat curhat adalah orangtua,” tegas Josephine. (tis)
Sumber:
Harian Surya, Minggu 18 Mei 2008
Sunday, November 17, 2002
Musti Siap Keluar Duit - Risiko Nemenin Pacar Belanja
Refleksi Cinta
Cowok yang menemani pacarnya belanja, bukanlah hal yang patut dirisaukan. Di satu sisi, hal itu merefleksikan cinta yang ada di antara mereka. Di sisi lain, banyaknya cara belanja yang instan dan mudah, merangsang cowok untuk nggak sekadar menjadi pengantar saja. Tapi lebih ke konsultan dan teman belanja yang menyenangkan. Namun, cowok bukan makhluk yang suka membuang waktu untuk belanja. Mereka lebih suka langsung beli sesuatu. Tak heran, cowok terkesan males nganterin ceweknya berbelanja. Cowok suka pada cewek yang mandiri dalam urusan belanja.
Sumber:
Deteksi Jawa Pos, Sabtu 17 November 2001
Cowok yang menemani pacarnya belanja, bukanlah hal yang patut dirisaukan. Di satu sisi, hal itu merefleksikan cinta yang ada di antara mereka. Di sisi lain, banyaknya cara belanja yang instan dan mudah, merangsang cowok untuk nggak sekadar menjadi pengantar saja. Tapi lebih ke konsultan dan teman belanja yang menyenangkan. Namun, cowok bukan makhluk yang suka membuang waktu untuk belanja. Mereka lebih suka langsung beli sesuatu. Tak heran, cowok terkesan males nganterin ceweknya berbelanja. Cowok suka pada cewek yang mandiri dalam urusan belanja.
Sumber:
Deteksi Jawa Pos, Sabtu 17 November 2001
Subscribe to:
Comments (Atom)
