Showing posts with label perkembangan anak. Show all posts
Showing posts with label perkembangan anak. Show all posts

Monday, October 25, 2010

MENGEMBANGKAN MOTIVASI ANAK SEJAK DINI

Oleh: Josephine Ratna, M.Psych

Pendahuluan

Anak-anak sangat mudah mempelajari sesuatu yang baru. Namun memotivasi mereka untuk tetap mau belajar akan dapat dicapai dengan menciptakan lingkungan (iklim belajar) yang mendukung, dan orangtua idealnya mampu menjadi fasilitator dan bukan hanya penentu aturan. Mengembangkan motivasi anak sejak dini merupakan tugas yang gampang-gampang susah, artinya tugas ini bisa berhasil diemban oleh orangtua bila anak mereka memang memiliki motivasi dari dalam yang kuat untuk mencapai sesuatu atau bila orangtua mampu mengetahui motivasi dari luar yang mampu menggerakkan anak untuk melakukan sesuatu. Tugas ini bisa menjadi sulit bila anak tidak mampu menangkap makna suatu aktivitas sehingga is sulit menimbulkan motivasi dari dalam dirinya sehingga berbagai bentuk tawaran dari luar yang bermaksud untuk mendorongnya melakukan sesuatu belum tentu menarik perhatiannya.
Karena setiap anak berkembang melalui tahap perkembangan tertentu, adalah penting bagi orangtua untuk mengenal anak mereka sesuai tahap perkembangan yang sedang dilampauinya, sehingga diharapkan orangtua akan mampu menstimulasi dan memotivasi anak mereka untuk mau terlibat dan berprestasi dibidang tertentu.

 
Pengertian Motivasi dan Tipe Motivasi

Motivasi berasal dari kata motif yang dapat diartikan sebagai daya penggerak yang ada di dalam diri seseorang untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi tercapainya suatu tujuan. Motif dapat diartikan sebagai suatu kondisi intern (kesiapsiagaan). Mc. Donald menyatakan bahwa motivasi adalah perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan munculnya "feeling" dan di dahului dengan tanggapan terhadap adanya tujuan. Dari pengertian yang dikemukakan oleh Mc. Donald ini mengandung tiga elemen/ciri pokok dalam motivasi itu, yakni motivasi itu mengawalinya terjadinya perubahan energi, ditandai dengan adanya feeling, dan dirangsang karena adanya tujuan.
Motivasi merupakan kondisi psikologis yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Dalam kegiatan belajar, motivasi dapat dikatakan sebagai keseluruhan daya penggerak di dalam diri anak/siswa yang menimbulkan, menjamin kelangsungan dan memberikan arah kegiatan belajar, sehingga diharapkan tujuan dapat tercapai. Dalam kegiatan belajar, motivasi sangat diperlukan, sebab seseorang yang tidak mempunyai motivasi dalam belajar, tidak akan mungkin melakukan aktivitas belajar.
Ada 2 macam motivasi yaitu :

• Motivasi Intrinsik timbul dari dalam diri individu sendiri tanpa ada paksaan dorongan orang lain Contoh : keingintahuan, keinginan untuk membuktikan diri, kebutuhan untuk dipuji, minat besar untuk melakukan sesuatu yang menyenangkan

• Motivasi Ekstrinsik. Jenis motivasi ini timbul sebagai akibat pengaruh dari luar individu berupa ajakan, suruhan, atau paksaan dari orang lain yang terkadang diikuti dengan iming-iming sesuatu agar anak lebih memilih untuk melakukan sesuatu.


Masalah Berkaitan dengan Motivasi

1. Motivasi padam atau tidak punya motivasi

Masalah ini biasanya terjadi bila anak merasa takut gagal, frustrasi karena prestasi tidak stabil, tidak memahami harapan orang lain (orangtua, guru, teman), rendah diri /minder, masalah emosi (marah, sedih, benci), kurang perhatian dan kurang penghargaan.
Bentuk sikap dan perilaku pada anak dengan motivasi padam/rendah antara lain : Menyerah / putus asa (“Ah….sekolah susah…gak enak, aku gak mau sekolah”) ; Menghindari tugas (“Nanti saja mengerjakan PRnya…aku mau main dulu) ; Mengejek anak lain yang punya motivasi (“Buat apa belajar, nanti tidak sempat main”) ; Melakukan hal lain untuk mencari perhatian (bermain, melawak) ; Merasa diri tidak kompeten (“Aku kan bodoh, jadi memang tidak bisa berhitung”) ; Agresif dan impulsif (“Sudah! Aku berhenti saja!”) ; Tidak mau mencoba walaupun sudah dirayu dan didorong (“Pokoknya aku tidak mau, tidak mau….!”)

 
2. Motivasi yang salah

Hal ini biasanya terjadi karena ajakan atau paksaan dari luar, sehingga anak melakukan sesuatu didasari oleh tujuan yang tidak jelas/salah. Bila tidak segera diperbaiki, anak akan belajar memanipulasi tujuan demi tercapainya sesuatu.
Bentuk sikap dan perilaku anak yang mempunyai motivasi salah : Mengajak dan Memaksa orang lain melakukan hal yang tidak benar (“Ayo nyontek saja…. Daripada nilai jelek lalu kita tidak boleh bermain”) ; Berbohong (“Bilang saja kalau kita mau belajar, tapi nanti kita main dulu”) ; Memfitnah (“Bukan aku yang mencoreti buku tapi ada temanku yang menyuruh”)

 
3. Kesulitan menimbulkan motivasi anak

Bagi sebagian orangtua, menimbulkan motivasi anak bukanlah hal yang sulit, karena anak mereka memang memiliki keinginan besar untuk melakukan eksplorasi, mandiri, cerdas dan memiliki ambisi untuk mencapai sesuatu. Namun banyak orangtua mengalami kesulitan besar bahkan untuk membuat anak sedikit termotivasi untuk melakukan sesuatu. Berbagai upaya telah dilakukan misalnya memberi hadiah, menjanjikan sesuatu bila anak berhasil dan bahkan menghukum anak namun belum membuat sang anak termotivasi.
Anak yang acuh tak acuh (cuek) dan lebih senang menyendiri serta memiliki sifat dasar ‘pemberontak’ pada dasarnya tidak mudah termotivasi oleh hadiah maupun hukuman karena memiliki pola pikir yang berbeda dengan kebanyakan anak lain.

 
Strategi dan Kegiatan Untuk Menimbulkan Motivasi

Tantangan utama yang dihadpi orangtua dan guru adalah bagaimana menimbulkan motivasi intrinsic pada anak, sehingga anak akan dengan sendirinya termotivasi belajar hal baru, menyukai proses belajar itu sendiri dan mengetahui nilai / hasil akhir yang akan dicapainya melalui kegiatan ini.

Anak akan termotivasi bila :

1. Anak merasa kompeten (mampu melakukan sesuatu)

Orangtua hendaknya membantu anak untuk meraih kompetensi dan tidak membiarkan anak mereka berjuang sendirian. Beri tantangan yang diyakini mampu diselesaikan anak, sehingga ia merasakan suatu keberhasilan. Secara bertahap beri tantangan yang lebih besar disertai dengan kepercayaan orangtua bahwa anak akan mampu menghadapinya (bila perlu temani anak dengan sepenuh hati). Untuk menjadi kompeten, anak perlu tekun berlatih dan tugas orangtua juga memberi keteladanan dalam hal ketekunan. Orangtua yang menunjukkan kemalasan tidak dapat membantu anak termotivasi untuk rajin dan berprestasi.

2. Anak mempunyai pilihan dan dapat mengendalikan/mengontrol apa yang ia pelajari

Anak dan orang dewasa sekalipun akan lebih merasa nyaman bila mereka mempunyai alternative / pilihan. Adanya pilihan akan membuat anak terlatih untuk membuat pertimbangan, pembandingan dan akhirnya mengambil keputusan. Keberanian untuk mengambil keputusan akan menimbulkan motivasi untuk mencapai tujuan dari pilihan tersebut. Contoh, anak punya pilihan untuk belajar musik piano atau berenang. Orangtua membantu anak memberikan pertimbangan konsekuensi pilihan tersebut. Bila anak memilih untuk berenang, maka ia dipersiapkan untuk menjaga kondisi fisik dan diharapkan termotivasi untuk makan makanan bergizi.

3. Anak yakin akan kemampuan dirinya dan merasa / mendapatkan dukungan dari orangtuanya.

Ketika orangtua terlalu sayang kepada anaknya, maka mereka cenderung mengontrol apa yang dirasakan baik bagi anak dan kurang mempertimbangkan bagaimana perasaan anak sendiri akan pilihan orangtuanya. Dukungan yang paling dibutuhkan anak adalah rasa percaya orangtua bahwa anak mampu melakukan apa yang ingin dilakukannya. Bila orangtua tidak menyetujui apa yang akan dilakukan anak, sebaiknya orangtua memberi kesempatan anak mencoba dan tidak menghakimi di awal. Ketika anak semisal tidak berhasil menyelesaikan, maka peran orangtua sangat penting untuk tidak menunjukkan kekecewaan, tetapi tetap menunjukkan optimisme agar anak tidak berhenti mencoba karena orangtua juga tidak akan berhenti memberikan dukungan. Berada bersama anak dalam perjuangan adalah hal yang sangat dibutuhkan anak untuk tetap termotivasi melakukan sesuatu yang sulit.

4. Ada perpaduan antara kepribadian, minat belajar, gaya belajar, proses berpikir dan tahap perkembangan anak

Dalam mengembangkan motivasi anak, orangtua dan guru penting mempertimbangkan kepribadian, minat, gaya belajar, proses berpikir dan tahap perkembangan anak itu sendiri.

Anak dengan kepribadian introvert mempunyai cara yang berbeda dalam menunjukkan motivasinya melakukan sesuatu bila dibandingkan dengan anak yang ekstrovert.

Anak ekstrovert lebih mudah mengekspresikan apa yang diinginkannya sehingga orang lain lebih mudah mengukur tingkat motivasi anak. Seringkali ketika anak introvert mencapai keberhasilan, maka keberhasilannya tidak mendapatkan pujian yang belebihan bila dibandingkan pujian yang diterima oleh seorang anak ekstrovert.

Sejalan dengan bertambahnya usia anak, maka minat mulai ikut mengambil peran dalam membangun motivasi. Minat anak dapat diobservasi dari ketertarikan anak melakukan sesuatu, intensitas dan frekuensi ia menghabiskan waktu untuk melakukan suatu hal. Namun perlu disadari bahwa minat besar tidak selalu menghasilkan prestasi, tetapi adanya minat membuat anak menyukai dan menyenangi aktivitas tertentu. Artinya, minat memiliki peran besar dalam menimbulkan emosi positif dan emosi positif inilah yang akan memperkuat motivasi. Bila orangtua memperhatikan bahwa anak mereka berminat pada hal tertentu, beri dukungan dan tantangan agar minat tersebut semakin berkembang dan upayakan anak memiliki kompetensi yang berhubungan dengan minat tersebut. Perkuat rasa percaya diri anak dengan memberikan motivasi ekstrinsik, namun terus pupuk minat ke arah yang benar dengan memberi keteladanan. Contoh : Anak menunjukkan minat musik dan vokal. Ia suka bernyanyi sambil menari. Orangtua dapat membelikan CD atau VCD sehingga anak bisa melihat gaya dan cara menyanyi yang baik. Ketika ada kesempatan, maka anak didorong untuk berani menampilkan kemampuannya. Orangtua menunjukkan antusiasme ketika mendampingi anak dan mengambil foto atau merekam penampilan anak. Kemudian secara gembira mengevaluasi penampilan anak serta meyakinkan anak hal positif apa yang sudah ia dapatkan (pengalaman tampil di depan orang lain, keberanian menunjukkan kemampuan, dll).

Faktor gaya belajar sangat berperan dalam mengembangkan motivasi anak. Ada 3 macam gaya belajar yaitu : Visual (dengan melihat, menonton, melalui gambar, grafik) ; Auditori (dengan mendengarkan dan berdiskusi) dan Kinestetis (dengan melakukan). Anak- anak usia kurang dari 8 tahun biasanya memakai gaya belajar kinestetis, sehingga aktivitas di sekolah yang mengharuskan anak untuk duduk manis dan berdiskusi justru akan menurunkan minat dan motivasi belajar.

Di usia muda sekalipun, anak telah mengembangkan proses berpikir yang unik. Secara umum proses berpikir dibagi 3 yaitu proses berpikir analitis (mendetail) dan global (menyeluruh). Anak yang berpikir analitis biasanya memecah informasi secara mendetail dan kemudian mengurutkan secara logis, misalnya anak menceritakan secara runtut kegiatan yang dilakukan di sekolah. Anak analitis akan termotivasi jika berada di lingkungan yang teratur dengan aturan disiplin yang konsisten. Sebaliknya pembelajar global mengelompokkan informasi secara keseluruhan, cepat merangkum dan mencari inti cerita serta mengambil kesimpulan, tetapi sulit menerangkan langkah detail mencapai kesimpulan itu.

Tiap anak berkembang sesuai dengan tahap perkembangan tertentu, sehingga penting untuk menyesuaikan strategi mengembangkan motivasi menurut tahap perkembangan yang sedang dilaluinya. Contoh, anak usia 4-5 tahun akan mengalami masa Oedipus Complex atau Electra Complex (lihat Bagan Kompilasi Tahap Perkembangan), maka akan lebih efektif bila orangtua yang berlawanan jenislah yang mendampingi anak dan memberikan motivasi anak untuk melakukan sesuatu. Tantangan yang diberikan ibu pada anak laki-lakinya pada usia ini biasanya lebih efektif karena anak laki-laki pada masa ini lebih dekat dengan ibu. Tetapi bila cara Ibu memotivasi anak tidak menyenangkan makan akan menimbulkan bumerang dimana motivasi anak menjadi rendah atau bahkan padam.

Contoh penerapan : Doni (5.5 th) berminat belajar tentang dinosaurus, ia berpikir global, gaya belajar visual. Maka cara efektif mengajarkan tentang alam, Ibu (lawan jenis) dapat memakai gambar (melihat film), bercerita dari kesimpulan bahwa alam itu menyediakan berbagai sumber makanan dan mengambil contoh bagaimana dinosaurus makan dan hidup jaman dahulu.

Penutup

Memotivasi diri sendiri sama pentingnya dengan memotivasi orang lain, bahkan lebih penting karena keberhasilan itu menuntut 1% inspirasi dan 99% perjuangan. Mereka yang berhasil adalah mereka yang mengusahakan keberhasilan itu sendiri dengan mempertahankan motivasi diri untuk berbuat yang terbaik. Mari kita bantu anak kita masing-masing untuk mencapai keberhasilan masa depan dengan melatih mereka untuk mampu memotivasi diri sendiri. Selamat berjuang !

Friday, July 11, 2008

Apa dan Bagaimana Distress Pada Anak?


Oleh: Dra. Josephine Ratna, PG DipSC, M. Psych
RS Surabaya Internasional

Apa dan Bagaimana Distress pada Anak?
Biasanya kalau seseorang merasa tertekan oleh sesuatu hal, ia akan menyebut dirinya sedang stress. Paahal stress itu artinya respon terhadap sebuah keadaan. Ada dua macam keadaan stress, yang menyenangkan dan berpengaruh positif disebut EUSTRESS, seperti: menang undian 100 juta, lulus ujian, akan menikah, naik kelas, dll. Sedangkan stress yang menimbulkan perasaan sedih dan berpengaruh negatif disebut DISTRESS, seperti: nilai jelek, keadaan sakit, orangtua meninggal, dll. Tidak hanya orang dewasa saja yang mengalami stress, anak-anak juga dapat mengalaminya.

Apa Penyebab Distress pada Anak?
Masalah makanan, distress tidak mau atau susah makan.
Di sekolah, distress karena guru yang galak atau teman yang suka berbuat jahat.
Di rumah, distress karena orangtua tidak perhatian, tidak ada teman bermain.
Berhubungan dengan aturan, distress karena kebanyakan aturan dari orangtua, tidak memahami keinginan dan aturan orangtua.
Phobia, distress karena rasa takut yang luar biasa terhadap sesuatu.
Distress karena jenius, sehingga berpikir sesuatu sesuai dengan persepsinya sendiri dan hanya meyakini bahwa pikirannyalah yang paling benar dan orang lain keliru (irrational thinking). Pada distress ini, anak tersebut sangat pintar, bisa menganalisa sendiri. Pasien yang mengalami distress ini sedikit sekali, 1 di antara seribu dan biasanya tidak dapat sembuh dengan hanya 1 kali konsultasi/pertemuan, karena perlu mengerti jalan pikiran mereka.
Distress karena volume suara orangtua waktu marah. Jika orangtua sedang marah, cenderung dalam posisi berdiri. Itu membuat anak tidak bisa melihat mata orangtua dan hanya melihat paha atau bagian bawah tubuh orangtua. Jadi yang dilihat anak adalah sosok raksasa yang menakutkan. Maka dari itu, sebaiknya waktu marah, disarankan anak diangkat sehingga menjadi selevel dengan pandangan mata orangtua (pandangan mata anak selevel dengan pandangan mata orangtua).
Orangtua yang defensif juga menyebabkan anak distress, karena mereka cenderung membela diri terhadap aturan yang telah mereka tetapkan dan merasa ini untuk kebaikan anak, padahal belum tentu anak suka.

Apa Gejalanya?
Banyak manifestasi perilaku akibat distress, berbeda-beda pada setiap anak. Misalnya:
a.    Tidak fokus
b.    Perilaku tidak sesuai (childish)
c.    Mudah sakit
d.    Mudah melawan orangtua
e.    Berontak
f.     Marah
g.    Sedih berlbihan
h.    Prestasi akademik menurun
i.      Mudah sakit perut
j.      Withdraw, menarik diri, tidak bisa diajak berkomunikasi

Depresi pada anak (clinical depression pada anak) bisa menjadi distress berganda (multiple distress), karena anak tidak ada penyaluran distress-nya, sementara orangtua otoriter, frustasi, tidak punya pengalaman, atau tidak punya teman curhat. Anak biasanya hanya diam saja dan memendamnya sampai suatu ketika ia tidak mampu menahan dan gejala akan muncul berlebihan.

Bagaimana Mengatasinya?
1.    Observasi
Bagi orangtua yang menghadapi masalah ini, sebaiknya melakukan observasi sudah berapa lama hal itu terjadi. Ini bisa dilihat dari rutinitas anak, sehingga bisa dilihat ‘pola tertentu yang berulang’, seperti anak menangis di pagi hari atau anak yang baru pindah sekolah yang biasanya mengalami separation anxiety (kecemasan berpisah dari orangtua, karena lingkungan baru).

2.    Temukan akar masalah
Dari hasil observasi, dicari dan temukan masalah, akar masalahnya. Seperti anak bayi yang tidak mau minum susu, lalu diare. Orang awam akan berpikiran jika anak anak alergi minum susu. Padahal diare itu bisa saja terjadi karena anak distress tidak mau minum susu, bukan karena alergi. Adanya “Mind Body Relationship”, dimana pikiran berdampak pada badan dan stress (respon terhadap sebuah keadaan) menghasilkan respon physiological dan psychological. Karena anak kecil belum bisa menyampaikan perasaan dan pikirannya, maka penyaluran distress-nya dalam bentuk lain. bisa menangis, melawan, sedih, memukul diri sendiri, marah, tidak sayang lingkungan sekitar, dll.

3.    Buat roleplay/bermain peran
Setelah observasi, bisa juga orangtua membuat roleplay untuk terapi. Orangtua pura-pura jadi ‘siapa’ buat anak.
Seperti distress yang dialami anak yang orangtuanya overprotective. Anak pulang sekolah wajib pulang ke rumah, semuanya diatur orangtua, aturan ketat. Juga untuk anak yang susah makan, makan lama, bisa diemut hingga 30 menit.
Pada kasus-kasus seperti ini, biasanya anak dan orangtua juga sama distress-nya. Biasanya bisa diterapi dengan pendekatan CBT – Cognitive Behaviour Therapy. Ini adalah intervensi paling mudah untuk mencari tahu akar permasalahan sesuatu yang menimbulkan perilaku tertentu, yang akhirnya bisa menimbulkan pola tertentu yang berulang.
Observasi bisa saja kurang berhasil karena ibu/yang melakukan observasi tidak dengan seksama melihat atau memperhatikan pola berulang yang ada pada anak atau ibu tidak mencatat kebiasaan anak.
Anak tidak mungkin menunjukkan perilaku bermasalah tanpa ada penyebabnya. Anak yang punya masalah biasanya menjadi diam, berubah dan tidak menunjukkan kegembiraan. Dengan melihat atau memperhatikan pola kebiasaan anak, orangtua bisa melihat apa yang diinginkan anak, sehingga kebutuhan utama anak bisa terpenuhi. Terabaikannya kebutuhan utama anak juga menyebabkan distress pada anak.

Bagaimana Efek Distress Pada Anak?
Untuk jangka panjang, distress dapat menjadi bagian dari kepribadian. Anak bisa terus menarik diri dari lingkungan, berpikir bahwa hidupnya tidak berguna dan menjadi pendendam.
Efek positif distress yang biasa terjadi pada anak-anak yang orangtuanya gagal menjadi orangtua yang baik, anak biasanya menjadi orang yang lebih bijaksana dalam menilai hidup.


Pengaruh Saat Dewasa:
Distress akan menjadi bagian hidup. Distress wajib diubah menjadi Eustress. Memang dibutuhkan skill yang baik untuk ini. Bisa juga melalui proses mem’bahagia’kan diri. Cari keseimbangan diri distress ke eustress. Bisa dengan jalan relaksasi, kembalikan fungsi respon tubuh. Bisa juga melalui proses imajinasi, sehingga bisa mengadopsi cara menghindari stress.

TIPS AGAR ANAK TIDAK DISTRESS:
1.    Jangan mendelegasikan tugas sebagai orangtua ke babysitter. Orangtua itu psikolog terbaik untuk anaknya, menjaga hubungan baik dan kerjasama yang baik antara orangtua dan anak sangat dibutuhkan.
2.    Jangan defensive, tidak ada jaminan untuk menjadi orangtua terbaik. Tidak ada orangtua yang sempurna.
3.    Distress dapat diminimalisir dengan memberi support ke anak.
4.    Ada baiknya orangtua berubah untuk anak sendiri.
5.    Patut diingat, bahwa komunikasi efektif antara anak dan orangtua terjadi hanya sampai anak berumur 12 tahun, karena biasanya setelah masuk ke masa puber, anak lebih suka berinteraksi dengan teman sebayanya, bukan dengan orangtuanya. Untuk itu tingkatkan komunikasi dengan anak semaksimal mungkin dan jadilah ‘teman’ bagi anak sesuai dengan usia perkembangannya. Orangtua wajib mau belajar agar anak betah bersama orangtuanya.

Sumber:
Buletin From Us – RAMSAY Health Care, Edisi 11 Juli – September 2008.