Saturday, June 21, 2008

No Money No Honey

Bikin yang Meaningful

Selain disesuaikan dengan kemampuan, bujet pedekate sebaiknya disesuaikan dengan kepribadian dan keadaan. Kalau sudah sering ketemu, berarti butuh mengajaknya pergi ke tempat baru, yang artinya butuh bujet lebih besar. Sedangkan kalau orang yang didekati justru speechless ketika ketemu, cari jalur komunikasi lain. Misalnya lewat telepon, SMS, atau e-mail. Dengan begitu, mungkin bujetnya bisa lebih murah. Tapi, yang paling penting bukan besar kecilnya bujet pedekate. Yang penting, bagaimana dengan bujet itu, pedekate bisa terasa meaningful, bermakna. Jadi, bujet itu tidak perlu berlebihan.

Sumber:
Deteksi Jawa Pos, Sabtu 21 Juni 2008

Sunday, May 18, 2008

ABG Kasmaran? Capek Deh …


Masih ingat kasus Rico Ceper bukan? Duda berusia 34 tahun ini berpacaran dengan cewek ABG berusia 16 tahun, Stachy Lubis atau dipanggil achy. Meski saling cinta dan tak ada paksaan, cinta mereka dinilai terlarang. Achy memilih lengket bersama penyiar radio itu dibandingkan dengan orangtuanya.

Emosional, Pilihan Sesaat
Orangtua dengan anak ABG sudah selayaknya ekstra hati-hati. Josephine Ratna, M. Psych, psikolog klinis dari Rumah Sakit Surabaya Internasional menuturkan, saat memasuki usia puber, remaja cenderung emosional. Terutama pada ABG perempuan. 

“Biasanya keputusan yang mereka ambil lebih bersifat situasional. Bukan keputusan jangka panjang, karena mereka lebih mengedepankan emosi,” terang Josephine. Artinya peran dan sikap orangtua yang benar dibutuhkan saat anak memasuki masa rawan ini. Berikut beberapa tipsnya.

·         Orangtua harus menjalankan perannya sesuai usia anak. Bila anak berusia di bawah lima tahun, orangtua berperan sebagai orangtua. Saat anak berusia lima tahun hingga sebelum puber, orangtua berperan sebagai guru. Dan untuk usia puber ke atas, orangtua harus menganggap si anak sebagai teman. “Orangtua harus bisa mengubah pola asuhnya. Jangan terus-terusan menerapkan aturan lama,” saran Josephine.
·         Di saat anak masuk dalam fase puber, ketertarikan terhadap lawan jenis datang lebih cepat. Dan tak dimungkiri, dorongan-dorongan seksual pasti pernah dirasakan. “Di waktu inilah, butuh pengalihan dari dorongan-dorongan yang timbul tersebut. Misalnya mengikuti kegiatan sekolah yang membuat mereka bangga,” kata Josephine.
·         Cara berkomunikasi antara orangtua dan anak perlu diperhatikan. Orangtua tidak boleh selalu merasa benar dan memaksakan kehendaknya. Masa remaja adalah masa eksperimentasi. Semakin dilarang, anak akan semakin berontak dan tidak percaya. Nah, di sini orangtua harus pandai-pandai menyampaikan pesannya. Salah satunya lewat contoh-contoh.
·         Orangtua yang jenis kelaminnya dengan anak, diharapkan bisa lebih dekat hubungannya. Bila anak perempuan, maka peranan ayah sangat penting. Anak akan lebih percaya karena si ayah berbeda dengan dirinya. “Namun kadang si bapak tidak siap bila harus berdekatan dengan putrinya. Sementara si ibu tidak rela bila harus jauh dari putrinya yang beranjak dewasa,” kata Josephine.
·         Jangan langsung menghakimi apa yang dilakukan anak. Orangtua hendaknya mengerti kebutuhan anak saat itu. Di masa puber, anak butuh disayangi, diperhatikan dan dikagumi. “Tak ada orangtua yang ingin mencelakakan anaknya. Dan yang paling pas untuk tempat curhat adalah orangtua,” tegas Josephine. (tis)

Sumber:
Harian Surya, Minggu 18 Mei 2008

Sunday, May 11, 2008

Main Boneka Cara Digital

Bagus untuk Edukasi Kehidupan

Life simulation game adalah salah satu bentuk kemajuan teknologi di dunia permainan. Permainan itu mengambil beberapa fase dalam kehidupan, seperi bekerja, menikah, dan berinteraksi dengan orang lain. Prinsipnya, permainan seperti ini bagus untuk edukasi. Sebab, mengajarkan pemainnya untuk mengatur strategi hidup. Misalnya, bagaimana mengatur pengeluaran atau bagaimana mencari pekerjaan. Namun, tetap ada bahayanya. Apalagi jika saat bermain, ia lantas berbuat curang. Itu akan membuat pemain berpikir bahwa kehidupan bisa disikapi seperi itu. Padahal, kenyataannya tidak. Dalam kehidupan nyata, ada seperangkat aturan. Sementara itu, dalam life simulation game, tidak ada feedback. Yang penting, jangan sampai aktivitas memainkan life simulation game mengganggu interaksi kita dengan orang lain dalam kehidupan nyata.

Sumber:
Deteksi Jawa Pos, Minggu 11 Mei 2008

Tuesday, April 1, 2008

Happy Eifril Fool! - Ready Nge-Trick, Watch Out Di-Trick

Be Careful Philih the Victim

Nge-trick saath Eifril Fool is hak everybody. But, be careful philih the victim. Better kitcha philih friends yiang seumuruyan, jyangan philih other people yiang age-nya lebhih tcua. Because, friends lebhih bhisa understanding maksyud kitcha. Kalau kitcha nge-trick other people djengan age lebhih tcua, ditcakutkhan tcimbul miss communication you know. Kelhanjutcanya, kitcha dicap not polite. Tcidak shophan. If kitcha lihath djari cici fositif, actually Eifril Fool is the day for us for beladjayar about tolerance. because, dhalam mencalanhi life, sometimes humor is needed. Believe or not, Eifril Fool also bisa membyuat dua persons yang shedang bertcengkar become friends. Finally, kalauw kitcha nge-trick other people, jhangan mhemaksa merekha untchuk maklum. If the victim marhah, kitcha harhus tcerima. (kiy/dat)

Sumber:
Deteksi Jawa Pos, Selasa 1 April 2008

Sunday, March 30, 2008

Mengatasi Konflik di Tempat Kerja

Setiap orang yang bekerja pasti penuh mengalami konflik di tempat kerja. Bagaimana cara tepat mengatasinya?

Tempat kerja adalah salah satu tempat bertemunya orang dengan beragam karakter dan keinginan. Perbedaan karakter ataupun keinginan dari masing-masing pekerjaannya, bukan tidak mungkin akan menimbulkan gesekan yang berujung pada terjadinya konflik.
Memang, bukan hanya di tempat kerja, di lingkungan lain pun, di mana banyak orang berkumpul, akan berisiko memunculkan konflik. Demikian yang diungkapkan Josephine M.J. Ratna, M. Psych., Cilinical and Health Psychologist dari RS Surabaya Internasional.

Namun, di tempat kerja, kata Josephine, konflik pun bisa muncul dalam tipe relasi apa pun. “Bisa berupa konflik vertical antara bawahan dengan atasan, bisa juga konflik horizontal antarsesama pekerja yang posisinya sama,” ujarnya.

Ada Perbedaan
Menurut Josephine, secara umum penybab terjadinya konflik di tempat kerja adalah karena perbedaan yang dipicu oleh masalah komunikasi. Perbedaan tersebut meliputi:

·         Persepsi
Hampir tiap orang memiliki persepsi sendiri atas suatu hal yang sedang dihadapi ataupun didengar. Tanpa komunikasi yang jelas, perbedaan persepsi bisa menimbulkan konflik.
Misalnya, seorang general manager (GM) meminta manager-nya untuk mengambil barang di kantor pos. dalam persepsi si GM, manager-nya akan punya kesempatan berkenalan dengan direktur kantor pos.
Sementara dalam persepsi manager, bisa saja ia merasa diremehkan karena disuruh melakukan pekerjaan yang bisa dilakukan level office boy.
Akhirnya si manager berpikir kalau itu sikap yang merendahkannya. Itu berarti persepsi mereka tidak bertemu. Maka, terjadilah konflik!” tandasnya.

·         Perlakuan
Adanya perbedaan perlakuan dari atasan pada dua orang bawahan atau lebih pada level yang sama bisa menyebabkan konflik. Misalnya, manager memfasilitasi supervisor dari divisi keuangan sesuai dengan anggaran yang diajukan.
Sementara, supervisor dari divisi produksi tidak dipenuhi fasilitasnya. Padahal, anggaran yang diajukan sama. “Hal yang tidak fair seperti itu sangat berpotensi menimbulkan konflik,” ungkap Josephine.

·         Kepentingan
Setiap orang dalam sebuah organisasi tentu memiliki kepentingan masing-masing. Tak jarang kepentingan tiap individu berbeda. Sehingga, konflik bisa terjadi.

·         Karakter
Karakter tiap orang yang berbeda juga bisa menimbulkan konflik. Misalnya, dalam sebuah team work, satu orang sangat memerhatikan detil, sementara orang yang lain tidak.
Atau satu orang memiliki kepribadian ekstrovert sementara yang lain introvert.
Tanpa komunikasi yang baik, pasti akan sering terjadi konflik, dalam hubungan kerja mereka,” imbuh Josephine.

Baik dan Buruk
Sekilas mendengar kata “konflik” yang terbayang pasti sesuatu yang buruk. Padahal tidak selalu demikian. “Bahkan, jika dalam sebuah organisasi tidak ada konflik, itu namanya stagnan. Makanya, ada perusahaan yang sengaja menciptakan konflik agar ada dinamika di dalamnya,” tukas Josephine.

Tapi memang, ada berbagai akibat yang bisa ditimbulkan. “Ada yang baik dan buruk, bergantung bagaimana kita mengarahkan penyelesaiannya,” ujarnya.

Bisa berakibat baik jika penyelesaian konflik dilakukan dengan komunikasi yang tepat. “Jadi, konflik dibicarakan bersama, ada proses saling mendengarkan. Apapun hasilnya, semua saling belajar untuk memahami satu sama lain,” ucapnya.
Dengan penyelesaian yang baik, tiap individu akan menjadi lebih berkembang karena jiwanya diperkaya dengan usaha memahami pandangan orang lain. 

“Konflik itu menjadi sehat selama kita bisa menjadikannya sebagai pelengkap kekurangan dan sarana belajar,” katanya. 

Sebaliknya, konflik bisa berakibat buruk, misalnya jika tak kunjung diselesaikan, sengaja dihindari atau dijauhkan. Tentu itu bisa terakumulasi dan suatu saat meledak ketika ada pemicunya. 

“Kalau sudah meledak, kondisi bisa jadi sangat emosional dan irasional. Ujung-ujungnya merugikan diri sendiri lho!” imbuh Josephine. 

Akibat buruk bisa juga terjadi jika memang tidak ada pihak yang belajar berkompromi.
“Memang wajar kalau naluri orang itu ingin menang, tapi kan juga harus memerhatikan kepentingan orang lain. Kalau ngotot tapi merugikan banyak orang kan juga tidak baik,” ungkapnya. (bianda)

Bergantung Individu dan Sistem
Dalam pandangan Josephine, konflik bisa diselesaikan, bisa juga tidak diselesaikan. “Semua sangat bergantung pada individu dan sistem yang berlaku di perusahaan,” katanya.

Bergantung ada individu, misalnya pada orang dengan tipe introvert dan ekstrovert. “Kalau orang introvert akan cenderung menghindari konflik atau membuat jarak dengan sumber konflik. Sementara orang ekstrovert psti akan lebih konfrontatif ketika mengalami konflik,” paparnya.
Sedangkan bergantung pada sistem perusahaan, maksudnya bahwa tiap perusahaan memiliki manajemen tersendiri dalam menghadapi konflik. 

Dalam sebuah perusahaan yang baik, seharunya ada wadah tersendiri untuk menyelesaikan konflik. “Pada perusahaan- perusahaan besar biasanya sudah diciptakan sistem untuk mendengar suara hati karyawan,” tukas Josephine.

Misalnya, ketika seseorang berkonflik dengan rekan kerjanya, ia bisa meminta form dari supervisornya mengenai persoalan yang dihadapinya. Kemudian form tersebut diisi untuk diserahkan pada bagian HRD. 

Atau, ada juga perusahaan yang memberikan tempat khusus penampungan curhat para karyawannya, dengan meletakkan boks di depan front office. Bisa juga dengan mnciptakan line atau layanan khusus curhat tentang masalah pekerjaan. “Apapun bentuknya, sehatusnya tiap perusahaan punya. Namun, jangan sekadar punya hanya untuk menjadi formalitas. Melainkan, juga untuk ditindaklanjuti,” kata Josephine. 

Selain itu, ia juga mengingakan bahwa akar tejadinya konflik adalah komunikasi. Karenanya, jika komunikasi tidak berjalan lancar, tentu konflik yang terjadi akan semakin panas dan berlarut-larut. (bianda)

Munculkan Stres
Setiap kali terjadi konfik, sudah pasti akan memicu munculnya stress. Namun, stress jangan melulu diartikan sebagai sebuah tekanan yang menimbulkan efek negative. “Sebab, ada yang namanya eustress, dan ada yang namanya distress,” ungkapnya.

Eustress merupakan respon positif individu terhadap suatu stressor atau penyebab stress yang datang. Misalnya, ketika konflik karena perbedaan pendapat dengan atasan, seseorang justru termotivasi untuk memperuangkan pandangannya demi kepentingan orang banyak. “Itu malah baik,” kata Josephine.

Sedangkan, distress adalah kebalikannya. Sebab, merupakan respon negatif ketika individu dihadapkan pada stressor. Misalnya, karena mengalami konflik, seseorang malah jadi malasa, agresif dan hal-hal buruk lainnya. (bianda)

Sumber:
Tabloid Cantiq – edisi 36, III Maret 2008

Saturday, March 8, 2008

Nggak Kencan, Nggak Masalah

Banyak Opsi Pengganti

Penolakan kencan seharusnya memang tak mengganggu hubungan, karena esensi pacaran bukanlah kencan. Pacaran adalah proses mengenal seseorang. Dulu, pacaran diidentikkan dengan apel setiap malam minggu. Kini, terjadi pergeseran. Didukung kecanggihan teknologi, untuk menunjukkan perhatian dan berkomunikasi, itu bisa dilakukan lewat SMS, telepon, chat on-line, webcam dan lainnya. Jadi, ada opsi pengganti jadwal apel. Yang paling penting adalah konsep pacaran sehat dengan mementingkan kualitas, bukan kuantitas. Wujudnya, bisa tatap muka, komunikasi dan share idea. (hil/azz)

Sumber:
Deteksi Jawa Pos, Sabtu 8 Maret 2008

Sunday, February 10, 2008

Minta Boneka dong Yang

Bisa untuk Pengganti Pacar

Bagi seorang cewek, makna hadiah Valentine dari sang pacar bukan sekadar pemberian. Bahkan, tak jarang dijadikan pengganti kehadiran pacar. Maka, tak heran kalau cewek berusia remaja sekarang lebih ingin diberi boneka ketimbang bunga atau coklat. Format pemberian tersebut dianggap lebih long lasting dan bisa jadi sasaran ketika kangen dengan pacar. Bisa dipeluk atau sekadar dipandang. Pemilihan hadiah Valentine berupa boneka juga menunjukkan bahwa kini mulai terjadi pergeseran konsep romantisme di kalangan remaja. Itu menunjukkan bahwa dalam hal pacaran mereka ingin fun. Hadiah bunga mungkin dianggap terlalu serius. Kado cokelat barangkali terasa kurang personal. Yang pasti, pilih boneka sesuai selera si cewek. Itu akan membuat kado lebih spesial dan personal. Sesuai sifat cewek yang ingin dicintai dan diperlakukan spesial. (rum/kkn)

Sumber:
Deteksi Jawa Pos, Minggu 10 Februari 2008