Showing posts with label artikel ilmiah. Show all posts
Showing posts with label artikel ilmiah. Show all posts

Friday, July 11, 2008

Apa dan Bagaimana Distress Pada Anak?


Oleh: Dra. Josephine Ratna, PG DipSC, M. Psych
RS Surabaya Internasional

Apa dan Bagaimana Distress pada Anak?
Biasanya kalau seseorang merasa tertekan oleh sesuatu hal, ia akan menyebut dirinya sedang stress. Paahal stress itu artinya respon terhadap sebuah keadaan. Ada dua macam keadaan stress, yang menyenangkan dan berpengaruh positif disebut EUSTRESS, seperti: menang undian 100 juta, lulus ujian, akan menikah, naik kelas, dll. Sedangkan stress yang menimbulkan perasaan sedih dan berpengaruh negatif disebut DISTRESS, seperti: nilai jelek, keadaan sakit, orangtua meninggal, dll. Tidak hanya orang dewasa saja yang mengalami stress, anak-anak juga dapat mengalaminya.

Apa Penyebab Distress pada Anak?
Masalah makanan, distress tidak mau atau susah makan.
Di sekolah, distress karena guru yang galak atau teman yang suka berbuat jahat.
Di rumah, distress karena orangtua tidak perhatian, tidak ada teman bermain.
Berhubungan dengan aturan, distress karena kebanyakan aturan dari orangtua, tidak memahami keinginan dan aturan orangtua.
Phobia, distress karena rasa takut yang luar biasa terhadap sesuatu.
Distress karena jenius, sehingga berpikir sesuatu sesuai dengan persepsinya sendiri dan hanya meyakini bahwa pikirannyalah yang paling benar dan orang lain keliru (irrational thinking). Pada distress ini, anak tersebut sangat pintar, bisa menganalisa sendiri. Pasien yang mengalami distress ini sedikit sekali, 1 di antara seribu dan biasanya tidak dapat sembuh dengan hanya 1 kali konsultasi/pertemuan, karena perlu mengerti jalan pikiran mereka.
Distress karena volume suara orangtua waktu marah. Jika orangtua sedang marah, cenderung dalam posisi berdiri. Itu membuat anak tidak bisa melihat mata orangtua dan hanya melihat paha atau bagian bawah tubuh orangtua. Jadi yang dilihat anak adalah sosok raksasa yang menakutkan. Maka dari itu, sebaiknya waktu marah, disarankan anak diangkat sehingga menjadi selevel dengan pandangan mata orangtua (pandangan mata anak selevel dengan pandangan mata orangtua).
Orangtua yang defensif juga menyebabkan anak distress, karena mereka cenderung membela diri terhadap aturan yang telah mereka tetapkan dan merasa ini untuk kebaikan anak, padahal belum tentu anak suka.

Apa Gejalanya?
Banyak manifestasi perilaku akibat distress, berbeda-beda pada setiap anak. Misalnya:
a.    Tidak fokus
b.    Perilaku tidak sesuai (childish)
c.    Mudah sakit
d.    Mudah melawan orangtua
e.    Berontak
f.     Marah
g.    Sedih berlbihan
h.    Prestasi akademik menurun
i.      Mudah sakit perut
j.      Withdraw, menarik diri, tidak bisa diajak berkomunikasi

Depresi pada anak (clinical depression pada anak) bisa menjadi distress berganda (multiple distress), karena anak tidak ada penyaluran distress-nya, sementara orangtua otoriter, frustasi, tidak punya pengalaman, atau tidak punya teman curhat. Anak biasanya hanya diam saja dan memendamnya sampai suatu ketika ia tidak mampu menahan dan gejala akan muncul berlebihan.

Bagaimana Mengatasinya?
1.    Observasi
Bagi orangtua yang menghadapi masalah ini, sebaiknya melakukan observasi sudah berapa lama hal itu terjadi. Ini bisa dilihat dari rutinitas anak, sehingga bisa dilihat ‘pola tertentu yang berulang’, seperti anak menangis di pagi hari atau anak yang baru pindah sekolah yang biasanya mengalami separation anxiety (kecemasan berpisah dari orangtua, karena lingkungan baru).

2.    Temukan akar masalah
Dari hasil observasi, dicari dan temukan masalah, akar masalahnya. Seperti anak bayi yang tidak mau minum susu, lalu diare. Orang awam akan berpikiran jika anak anak alergi minum susu. Padahal diare itu bisa saja terjadi karena anak distress tidak mau minum susu, bukan karena alergi. Adanya “Mind Body Relationship”, dimana pikiran berdampak pada badan dan stress (respon terhadap sebuah keadaan) menghasilkan respon physiological dan psychological. Karena anak kecil belum bisa menyampaikan perasaan dan pikirannya, maka penyaluran distress-nya dalam bentuk lain. bisa menangis, melawan, sedih, memukul diri sendiri, marah, tidak sayang lingkungan sekitar, dll.

3.    Buat roleplay/bermain peran
Setelah observasi, bisa juga orangtua membuat roleplay untuk terapi. Orangtua pura-pura jadi ‘siapa’ buat anak.
Seperti distress yang dialami anak yang orangtuanya overprotective. Anak pulang sekolah wajib pulang ke rumah, semuanya diatur orangtua, aturan ketat. Juga untuk anak yang susah makan, makan lama, bisa diemut hingga 30 menit.
Pada kasus-kasus seperti ini, biasanya anak dan orangtua juga sama distress-nya. Biasanya bisa diterapi dengan pendekatan CBT – Cognitive Behaviour Therapy. Ini adalah intervensi paling mudah untuk mencari tahu akar permasalahan sesuatu yang menimbulkan perilaku tertentu, yang akhirnya bisa menimbulkan pola tertentu yang berulang.
Observasi bisa saja kurang berhasil karena ibu/yang melakukan observasi tidak dengan seksama melihat atau memperhatikan pola berulang yang ada pada anak atau ibu tidak mencatat kebiasaan anak.
Anak tidak mungkin menunjukkan perilaku bermasalah tanpa ada penyebabnya. Anak yang punya masalah biasanya menjadi diam, berubah dan tidak menunjukkan kegembiraan. Dengan melihat atau memperhatikan pola kebiasaan anak, orangtua bisa melihat apa yang diinginkan anak, sehingga kebutuhan utama anak bisa terpenuhi. Terabaikannya kebutuhan utama anak juga menyebabkan distress pada anak.

Bagaimana Efek Distress Pada Anak?
Untuk jangka panjang, distress dapat menjadi bagian dari kepribadian. Anak bisa terus menarik diri dari lingkungan, berpikir bahwa hidupnya tidak berguna dan menjadi pendendam.
Efek positif distress yang biasa terjadi pada anak-anak yang orangtuanya gagal menjadi orangtua yang baik, anak biasanya menjadi orang yang lebih bijaksana dalam menilai hidup.


Pengaruh Saat Dewasa:
Distress akan menjadi bagian hidup. Distress wajib diubah menjadi Eustress. Memang dibutuhkan skill yang baik untuk ini. Bisa juga melalui proses mem’bahagia’kan diri. Cari keseimbangan diri distress ke eustress. Bisa dengan jalan relaksasi, kembalikan fungsi respon tubuh. Bisa juga melalui proses imajinasi, sehingga bisa mengadopsi cara menghindari stress.

TIPS AGAR ANAK TIDAK DISTRESS:
1.    Jangan mendelegasikan tugas sebagai orangtua ke babysitter. Orangtua itu psikolog terbaik untuk anaknya, menjaga hubungan baik dan kerjasama yang baik antara orangtua dan anak sangat dibutuhkan.
2.    Jangan defensive, tidak ada jaminan untuk menjadi orangtua terbaik. Tidak ada orangtua yang sempurna.
3.    Distress dapat diminimalisir dengan memberi support ke anak.
4.    Ada baiknya orangtua berubah untuk anak sendiri.
5.    Patut diingat, bahwa komunikasi efektif antara anak dan orangtua terjadi hanya sampai anak berumur 12 tahun, karena biasanya setelah masuk ke masa puber, anak lebih suka berinteraksi dengan teman sebayanya, bukan dengan orangtuanya. Untuk itu tingkatkan komunikasi dengan anak semaksimal mungkin dan jadilah ‘teman’ bagi anak sesuai dengan usia perkembangannya. Orangtua wajib mau belajar agar anak betah bersama orangtuanya.

Sumber:
Buletin From Us – RAMSAY Health Care, Edisi 11 Juli – September 2008.


Monday, June 30, 2008

Pelupa dan Perhatian Mudah teralih? Waspadai ADD!


Attention Deficit Disoder (ADD) atau gangguan pemusatan perhatian, ternyata tidak hanya dialami anak-anak. Tapi, orang dewasa pun bisa mengalaminya. Apa tanda-tandanya?

Selama ini Attention Deficit Disoder (ADD) atau gangguan pemusatan perhatian sering dianggap hanya bisa terjadi pada anak-anak. Faktanya, orang dewasa pun bisa terserang gangguan tersebut.

Hal itu juga dibenarkan oleh Josephine M. J. Ratna, M. Psych. Hanya saja, menurut staf medis di RS Surabaya Internsional itu, ADD pada orang dewasa sebenarnya merupakan gejala sisa dari gangguan semasa kecilnya. 

“Atau, bisa juga karena saat kecil gangguan ADD-nya tidak terdeteksi. Sehingga, ketika dewasa gejala tersebut tampak semakin jelas,” ujar Josephine. 

Artinya, ADD memang berproses sejak masa anak-anak hingga dewasa. ADD yang ‘tersisa’, atau muncul kembali ketika dewasa itu, mengindikasikan bahwa penanganan yang sudah dilakukan sejak terdeteksi itu belum sempurna. 

“Sebab, pada umumnya ADD berkurang, bahkan hilang seiring dengan perkembangan kognitif seseorang,” ungkap Josephine.

Gejala
Hingga kini, belum diketahui secara pasti penyebab ADD. Namun, ada bukti yang menyebutkan bahwa faktor biologis, genetis, dan lingkungan ikut berperan. 

Pada faktor biologis, ada dua neurotransmitter di otak yang terganggu, yakni yang memproduksi dopamine dan norepinefrin. Dopamine merupakan zat yang bertanggung jawab pada tingkah laku dan hubungan sosial, serta mengontrol aktivitas fisik. Sementara norepinefrin terkait dengan konsentrasi, memusatkan perhatian, dan perasaan. 

Faktor genetis tentu saja terkait dengan keturunan. Sehingga, apabila orangtua mengalami ADD, kemungkinan besar anaknya pun akan begitu. Dan, faktor lingkungan ini lebih besar pada karakter pola asuh dalam keluarga. 

Nah, untuk mengetahui apakah seseorang mengidap ADD atau tidak, salah satunya bisa Anda lakukan dengan memperhatikan gejala berikut ini:

·         Perhatian Mudah Teralih
Orang yang ADD, perhatiannya akan mudah teralih. Misalnya, ia sedang mengerjakan tugas A, belum selesai dengan tugas A, ia sudah mengerjakan tugas B.
“Atau, kalau lagi kumpul bersama teman, bisa jadi ia sibuk sendiri dengan handphone, sementara yang lain ngobrol,” kata Josephine. 

·         Lamban Berpikir
Seseorang yang ADD cenderung lamban dalam berpikir. Ia akan kesulitan mencerna informs dari orang lain, sehingga sulit baginya untuk menjalankan suatu perintah yang agak rumit. 

·         Mudah Lupa
Akibat kemampuannya yang kurang dalam mencerna informasi panjang atau detil, orang ADD jadi mudah lupa. “Ia suka lupa meletakkan barang dan marah kalau tidak ketemu,” ujarnya.

·         Sering Keliru
Ketidakmampuannya menyerap informasi dengan jelas, membuat orang yang ADD sering keliru menafsirkan sebuah perintah atau kata-kata dari orang lain. “Kadang, meskipun sesuatu sudah dilakukan secara rutin, orang ADD ttap lupa,” tukasnya. 

·         Sering Bertanya
Di antara rekan-rekan kerjanya yang lain, mereka yang menderita ADD menonjol karena sering bertanya. “Ketika rapat atau briefing, orang ADD akan sering bertanya karena kelambatannya mencerna informasi. Ia sering dikira telmi atau telat mikir, paahal bukan begitu. Karena memang ada yang ‘salah’ di otaknya, terkait dengan pemrosesan informasi,”
imbuh Josephine. 

·         Lainnya
Sebenarnya, masih banyak gejala yang bisa menggambarkan ADD. Gejala lainnya meliputi, suka interupsi, tak mau antri, mudah bosan dan gelisah, kreatif, intuitif, dan sebagainya.

Cara Mengatasi
Meskipun ada gejala yang mengarah pada terjadinya ADD, pengakan diagnosa secara medis tetap diperlukan. “Lakukan pemeriksaan langsung pada psikiater atau psikolog klinis yang praktik di rumah sakit,” ungkap Josephine. 

Penegakan diagnosa itu penting, apalagi jika gangguan pemusatan perhatian ini sampai berimbas pada diri sendiri maupun orang di sekitarnya. “Dengan diagnosa yang tepat, tentu bisa dilakukan terapi yang tepat pula,” imbuhnya. Berikut ini beberapa hal yang biasanya digunakan untuk terapi ADD:


1.    Obat
Pada mereka yang level ADD-nya cukup parah (sampai menghambat seseorang secara sosial, edukasi, dan emosional, red), dokter biasanya member obat sebagai salah satu bentuk terapi. “Tentu dengan resep khusus, tidak bisa ditebus sendiri,” ujar Josephine. Obat yang diberikan, yaitu dari golongan psikostimulan. Salah satunya adalah methylphenidate yang bekerja dengan meningkatkan pelepasan dopamine dan noradrenalin di dalam otak.

2.    Manajemen Diri
Hal yang paling mudah untuk mengurangi gejala ADD atau membantu proses terapi adalah dengan manajemen diri.
“Di sini sangat dibutuhkan kesadaran individu bahwa dirinya mengalami gangguan dan ada kemauan kuat untuk sembuh,” ungkap Josephine. Agar bisa memanage diri sendiri, yang dibutuhkan adalah:
o   Agenda
Ini merupakan sebuah ‘alat’ untuk membantunya mengingat detil sebuah pekerjaan. Selain itu, agenda juga berfungsi untuk mengatur jadwal aktivitas individu.
o   Pengingat
Pengingat atau reminder ini bisa dibuat sendiri. Misalnya, dengan memanfaatkan fitur di handphone. Fungsinya untuk mengantisipasi jika agenda hilang atau tertinggal.

3.    Bantuan Luar
Jika ada seseorang yang dapat dipercaya bisa membantu keluar dari masalah ADD, cobalah untuk memintanya bantuan.
Misalnya, kalau berada di rumah, minta suami untuk mengingatkan. Sementara kalau berada di kantor, mintalah bantuan pada sekretaris atau staf anda. (bianda)

Jangan Hanya Lihat Satu Gejala!
Josephine menegaskan bahwa penegakan diagnosa ADD pada wanita dewasa harus sangat berhati-hati. “Jangan asal melabel hanya karena melihat salah satu gejala saja, misalnya perhatian mudah beralih,” ujarnya. 

Bisa jadi gejala perhatian yang mudah beralih itu terjadi karena memang ‘kodrat’ wanita yang multitasking dalam kehidupan sehari-harinya. “Terlebih wanita zaman sekarang. Ia bisa berkarier sekaligus berumahtangga,” imbuhnya. 

Dan memang, seorang wanita dewasa itu bisa mengerjakan maupun memikirkan beberapa hal dalam satu waktu. Terkait dengan tugas kantor, misalnya ia seorang karyawati bagian administrasi, maka ia harus merekap data, melakukan inventarisasi, menerima telepon, dan sebagainya. Semua itu bisa dilakukan dalam waktu yang bersamaan. Sebab, tidak mungkin ketika sedang menginventarisasi dan ada telepon bordering, ia tidak mengangkatnya. 

Begitu pula dengan seorang wanita yang sehari-harinya menjadi ibu rumah tangga. Selain mengurus anak, ia harus mencuci, memasak dan sebagainya. Dalam pemikiran seorang wanita, akan sulit jadinya jika mengerjakan sesuatu menunggu satu hal selesai. 

“Dalam pikiran mereka, kalau dilakukan bersamaan bisa lebih cepat, kenapa harus menunggu selesai satu-satu? Jadi, jika hanya mengalami perhatian mudah teralih, jangan keburu memvonis ADD,” tandasnya. (bianda)

Sumber:
Tabloid Cantiq – Edisi 50, IV Juni 2008

Sunday, March 30, 2008

Mengatasi Konflik di Tempat Kerja

Setiap orang yang bekerja pasti penuh mengalami konflik di tempat kerja. Bagaimana cara tepat mengatasinya?

Tempat kerja adalah salah satu tempat bertemunya orang dengan beragam karakter dan keinginan. Perbedaan karakter ataupun keinginan dari masing-masing pekerjaannya, bukan tidak mungkin akan menimbulkan gesekan yang berujung pada terjadinya konflik.
Memang, bukan hanya di tempat kerja, di lingkungan lain pun, di mana banyak orang berkumpul, akan berisiko memunculkan konflik. Demikian yang diungkapkan Josephine M.J. Ratna, M. Psych., Cilinical and Health Psychologist dari RS Surabaya Internasional.

Namun, di tempat kerja, kata Josephine, konflik pun bisa muncul dalam tipe relasi apa pun. “Bisa berupa konflik vertical antara bawahan dengan atasan, bisa juga konflik horizontal antarsesama pekerja yang posisinya sama,” ujarnya.

Ada Perbedaan
Menurut Josephine, secara umum penybab terjadinya konflik di tempat kerja adalah karena perbedaan yang dipicu oleh masalah komunikasi. Perbedaan tersebut meliputi:

·         Persepsi
Hampir tiap orang memiliki persepsi sendiri atas suatu hal yang sedang dihadapi ataupun didengar. Tanpa komunikasi yang jelas, perbedaan persepsi bisa menimbulkan konflik.
Misalnya, seorang general manager (GM) meminta manager-nya untuk mengambil barang di kantor pos. dalam persepsi si GM, manager-nya akan punya kesempatan berkenalan dengan direktur kantor pos.
Sementara dalam persepsi manager, bisa saja ia merasa diremehkan karena disuruh melakukan pekerjaan yang bisa dilakukan level office boy.
Akhirnya si manager berpikir kalau itu sikap yang merendahkannya. Itu berarti persepsi mereka tidak bertemu. Maka, terjadilah konflik!” tandasnya.

·         Perlakuan
Adanya perbedaan perlakuan dari atasan pada dua orang bawahan atau lebih pada level yang sama bisa menyebabkan konflik. Misalnya, manager memfasilitasi supervisor dari divisi keuangan sesuai dengan anggaran yang diajukan.
Sementara, supervisor dari divisi produksi tidak dipenuhi fasilitasnya. Padahal, anggaran yang diajukan sama. “Hal yang tidak fair seperti itu sangat berpotensi menimbulkan konflik,” ungkap Josephine.

·         Kepentingan
Setiap orang dalam sebuah organisasi tentu memiliki kepentingan masing-masing. Tak jarang kepentingan tiap individu berbeda. Sehingga, konflik bisa terjadi.

·         Karakter
Karakter tiap orang yang berbeda juga bisa menimbulkan konflik. Misalnya, dalam sebuah team work, satu orang sangat memerhatikan detil, sementara orang yang lain tidak.
Atau satu orang memiliki kepribadian ekstrovert sementara yang lain introvert.
Tanpa komunikasi yang baik, pasti akan sering terjadi konflik, dalam hubungan kerja mereka,” imbuh Josephine.

Baik dan Buruk
Sekilas mendengar kata “konflik” yang terbayang pasti sesuatu yang buruk. Padahal tidak selalu demikian. “Bahkan, jika dalam sebuah organisasi tidak ada konflik, itu namanya stagnan. Makanya, ada perusahaan yang sengaja menciptakan konflik agar ada dinamika di dalamnya,” tukas Josephine.

Tapi memang, ada berbagai akibat yang bisa ditimbulkan. “Ada yang baik dan buruk, bergantung bagaimana kita mengarahkan penyelesaiannya,” ujarnya.

Bisa berakibat baik jika penyelesaian konflik dilakukan dengan komunikasi yang tepat. “Jadi, konflik dibicarakan bersama, ada proses saling mendengarkan. Apapun hasilnya, semua saling belajar untuk memahami satu sama lain,” ucapnya.
Dengan penyelesaian yang baik, tiap individu akan menjadi lebih berkembang karena jiwanya diperkaya dengan usaha memahami pandangan orang lain. 

“Konflik itu menjadi sehat selama kita bisa menjadikannya sebagai pelengkap kekurangan dan sarana belajar,” katanya. 

Sebaliknya, konflik bisa berakibat buruk, misalnya jika tak kunjung diselesaikan, sengaja dihindari atau dijauhkan. Tentu itu bisa terakumulasi dan suatu saat meledak ketika ada pemicunya. 

“Kalau sudah meledak, kondisi bisa jadi sangat emosional dan irasional. Ujung-ujungnya merugikan diri sendiri lho!” imbuh Josephine. 

Akibat buruk bisa juga terjadi jika memang tidak ada pihak yang belajar berkompromi.
“Memang wajar kalau naluri orang itu ingin menang, tapi kan juga harus memerhatikan kepentingan orang lain. Kalau ngotot tapi merugikan banyak orang kan juga tidak baik,” ungkapnya. (bianda)

Bergantung Individu dan Sistem
Dalam pandangan Josephine, konflik bisa diselesaikan, bisa juga tidak diselesaikan. “Semua sangat bergantung pada individu dan sistem yang berlaku di perusahaan,” katanya.

Bergantung ada individu, misalnya pada orang dengan tipe introvert dan ekstrovert. “Kalau orang introvert akan cenderung menghindari konflik atau membuat jarak dengan sumber konflik. Sementara orang ekstrovert psti akan lebih konfrontatif ketika mengalami konflik,” paparnya.
Sedangkan bergantung pada sistem perusahaan, maksudnya bahwa tiap perusahaan memiliki manajemen tersendiri dalam menghadapi konflik. 

Dalam sebuah perusahaan yang baik, seharunya ada wadah tersendiri untuk menyelesaikan konflik. “Pada perusahaan- perusahaan besar biasanya sudah diciptakan sistem untuk mendengar suara hati karyawan,” tukas Josephine.

Misalnya, ketika seseorang berkonflik dengan rekan kerjanya, ia bisa meminta form dari supervisornya mengenai persoalan yang dihadapinya. Kemudian form tersebut diisi untuk diserahkan pada bagian HRD. 

Atau, ada juga perusahaan yang memberikan tempat khusus penampungan curhat para karyawannya, dengan meletakkan boks di depan front office. Bisa juga dengan mnciptakan line atau layanan khusus curhat tentang masalah pekerjaan. “Apapun bentuknya, sehatusnya tiap perusahaan punya. Namun, jangan sekadar punya hanya untuk menjadi formalitas. Melainkan, juga untuk ditindaklanjuti,” kata Josephine. 

Selain itu, ia juga mengingakan bahwa akar tejadinya konflik adalah komunikasi. Karenanya, jika komunikasi tidak berjalan lancar, tentu konflik yang terjadi akan semakin panas dan berlarut-larut. (bianda)

Munculkan Stres
Setiap kali terjadi konfik, sudah pasti akan memicu munculnya stress. Namun, stress jangan melulu diartikan sebagai sebuah tekanan yang menimbulkan efek negative. “Sebab, ada yang namanya eustress, dan ada yang namanya distress,” ungkapnya.

Eustress merupakan respon positif individu terhadap suatu stressor atau penyebab stress yang datang. Misalnya, ketika konflik karena perbedaan pendapat dengan atasan, seseorang justru termotivasi untuk memperuangkan pandangannya demi kepentingan orang banyak. “Itu malah baik,” kata Josephine.

Sedangkan, distress adalah kebalikannya. Sebab, merupakan respon negatif ketika individu dihadapkan pada stressor. Misalnya, karena mengalami konflik, seseorang malah jadi malasa, agresif dan hal-hal buruk lainnya. (bianda)

Sumber:
Tabloid Cantiq – edisi 36, III Maret 2008

Tuesday, October 30, 2007

Terobsesi Langsing? Awal Gangguan Makan

Disadari atau tidak, gangguan makan seringkali diderita oleh wanita. Seperti apa sih gangguan makan yang kerap terjadi?

Wanita mana sih yang tidak ingin memiliki tubuh langsing? Pasti semua wanita menginginkannya. Buktinya, demi mendapatkan tubuh langsing, wanita rela menempuh berbagai cara, mulai yang wajar sampai tidak wajar. Cara wajar untuk mendapatkan tubuh langsing antara lain dengan mengatur pola makan dan olahraga secara rutin. 
Sedang cara tidak wajar untuk mendapatkan tubuh langsing misalnya, dengan menahan lapar dan memuntahkan kembali makanan yang sudah dimakan. “Cara yang tidak wajar itu sama dengan eating disorder atau gangguan makan,” ujar Josephine M.J. Ratna, M. Psych. 
Ditambahkan Cilinical and Health Psychologist RS Surabaya Internasional itu, ada beberapa jenis gangguan makan, yang mungkin terjadi akibat seseorang terobsesi untuk menjadi langsing. Gangguan makan itu adalah anorexia nervosa dan bulimia nervosa. 
Kedua gangguan itu pada dasarnya mempunya tujuan sama, yaitu untuk menguruskan badan. “Gangguan itu biasanya muncul ketika seseorang memasuki usia puber. Jarang terjadi pada anak-anak. Kalaupun ada, mungkin hanya ‘bibitnya’ saja,” ujar Josephine.

Berbahaya
Gangguan makan seperti apa anorexia nervosa dan bulimia nervosa itu sebenarnya? Berikut penjelasan Josephine:

Anorexia Nervosa
Anorexia Nervosa atau biasa disebut anoreksia saja adalah gangguan makan untuk membuat badan kurus, dengan cara membatasi makanan secara sengaja dan mengontrolnya sangat ketat. ”Jadi, penderitanya benar-benar menghindari aktivitas makan,” tukas Josephine. 
Padahal penderita anoreksia sebenarnya sadar bahwa mereka kelaparan. Tapi, karena takut berat badannya bertambah, mereka tetap memaksakan diri menahan rasa lapar tersebut.
Selain itu, persepsi terhadap rasa kenyang mengalami gangguan, sehingga ketika mereka mengkonsumsi makanan dalam porsi kecil pun mereka akan merasa sangat kenyang. Bahkan mual!

Dan, kebanyakan, ketika mereka terpaksa makan akibat terlalu lapar, mereka akan merasa sangat bersalah, walau yang dimakan hanya sedikit. Kalau sudah berlebih mereka bahkan memuntahkan kembali makanannya. 

“Nah, daripada harus merasa bersalah, mereka lebih memilih untuk mati-matian berdiet demi memiliki tubuh yang kurus. 

Tak heran bila tubuh penderita anoreksia rata-rata berat badannya 15 persen kurang dari berat badan normal. Meski sudah begitu kurus, mereka masih tetap merasa dirinya gemuk,” papar Josephine. 

Tanda seseorang menderita anoreksia sendiri, menurut ibu dua anak itu, bisa diketahui secara khas. Yaitu, minimal tidak mengalami menstruasi selama tiga bulan. Hal itu terjadi karena dalam tubuhnya tidak ada nutrisi yang cukup, sehingga aktivitas hormon terganggu. 

Yang lebih mengkhawatirkan, perilaku anoreksia ini bisa berdampak fatal, karena menahan laparnya dilakukan mati-matian, hingga lebih kea rah bunuh diri. “Tanpa makanan dengan gizi cukup, tentu tubuh dan organ-organ di dalamnya tidak akan mampu bekerja dengan baik,” tandas Josephine.

Bulimia
Kalau penderita anoreksia mati-matian menahan lapar dan berusaha untuk tidak makan atau hanya makan dua-tiga sendok nasi saja per hari, penderita bulimia lebih cenderung ke binge. Artinya, penderita bulimia makan dalam jumlah banyak atau berlebihan. 

Apalagi bila itu makanan favoritnya, bisa-bisa sulit dihentikan. “Padahal, belum tentu mereka menikmati makannya. Mereka cuma ingin mengunyah saja, ngga lapar pun ingin binge,” jelas Josephine. 

Namun, mereka makan berlbihan hanya untuk memuaskan keinginan. Sebab, makanan itu akan dkeluarkan kembali, hingga tak ada yang tersisa. Dalam persepsi mereka, dengan cara seperti itu mereka tetap kurus, tanpa perlu menahan keinginannya untuk makan. 

Untuk mengeluarkan kembali makanan yang sudah masuk, para penderita bulimia bisa melakukan dengan beberapa cara. Misalnya, memuntahkan makanan yang sudah ditelannya dengan memasukkan jari tangan, sedotan, sikat gigi, dan sebagainya. 

“Kalau nggak begitu ya dengan berpuasa selama dua puluh empat jam, tanpa makan dan minum, mengkonsumsi pil pelangsing dan obat laksatif atau diare,” ujarnya.

Selain itu, mereka juga melakukan olahraga secara berlebihan, melebihi batas normal orang biasa melakukannya. Disbanding penderita anoreksia, berat badan penderita bulimia biasanya normal atau sebelumnya memang obesitas.

Bahkan, kata Josephine, sebuah penelitian menyebutkan, 40 persen mereka yang obesitas adalah penganut gaya makan binge. Dan, cirri utama para penderita bulimia adalah memiliki kebiasaan binge dan muntah berkali-kali. 

Seperti halnya anoreksia, bulimia juga bisa membahayakan penderita.

Tak Segera Diterapi, Bisa Infertil
Gangguan anoreksia atau bulimia harus segera diatasi agar tidak berdampak buruk. Bukan hanya secara fisik, tapi juga psikologik. 

Secara fisik, penderita anoreksia atau bulimia bisa mengalami kurang gizi, mudah sakit, bahkan infertile! Sebab, “Nutrisi yang masuk ke dalam tubuh tidak mencukupi, sehingga hormon-hormon dalam tubuh tidak bisa bekerja dengan baik. Apalagi, bila penderita mengkonsumsi pil-pil yang tak jelas,” tandas Josephine. 

Sedang secara psikologis, penderita gangguan makan bisa menjadi stress, menjadi prefeksionis dengan penampilannya, sering berbohong pada orang-orang di sekitar, dan sebagainya. “Bisa juga terkait antara fisik dan psikologis. Misalnya, kalau fisik sudah terlalu lemas, maka prestasi kerjanya bisa menurun drastic,” ujarnya.

Karena itu, bila tanda-tanda gangguan makan sudah muncul, Josephine mengingatkan agar segera dilakukan terapi dengan baik. Dengan begitu, waktu yang dibutuhkan untuk menyembuhkan tidak terlalu lama. Berikut terapi yang bisa dilakukan untuk mengatasi anoreksia atau bulimia:

·         Terapi Nutrisi
Dilakukan untuk mengatur jadwal makan, memberikan penjelasan mengenai tujuan terapi nutrisi, pentingnya diet sehat dan akibat buruk dari pola makan yang salah terhadap kesehatan. Terapi ini bisa dilakukan oleh dokter.

·         Konseling
Terapi ini untuk membantu pasien yang depresi, terganggu emosional, atau adanya faktor sosial sehingga mendorong terjadinya gangguan makan. Tujuannya agar pasien mengeluarkan perasaannya, unek-unek dan akan membantu penderita menghadapi perubahan hidup dan memperkuat rasa percaya diri.

·         Psikoterapi
Biasanya ini dilakukan oleh psikolog, yakni dengan terapi kognitif. Di mana pasien diubah persepsi dan cara berpikirnya, dari persepsi yang salah mengenai tubuhnya sampai menjadi lebih obyektif, dan menghilangkan sikap dan rekasi yang salah terhadap makanan.

·         Pengobatan
Untuk terapi obat, dokterlah yang berhak memberikannya. Penderita bisa diberi obat seperti antidepresan bersama dengan pngobatan psikoterapi.

·         Dukungan
Karena pengaruh lingkungan sosial sangat besar, maka dukungan dan perhatian dari orang-orang di lingkungan sekitar akan sangat berharga bagi pasien. (bianda)

Sumber:
Tabloid Cantiq – edisi 14, II Oktober 2007.