Oleh: Dra.Psi. Josephine M.J. Ratna, PG.Dip.Sc (UWA), M.Psych (Curtin) - Psikolog Klinis dan Kesehatan
Pendahuluan
Ada kisah menarik yang ditulis oleh Ara Johnson (www.cancerlynx.com/comforter.html) tentang dampak reaksi dari teman terhadap seseorang yang baru saja mengetahui bahwa ia menderita kanker :
1. Temanku yang pertama datang dan menunjukkan keterkejutannya dengan berkata : “Aku tak percaya kau mengidap kanker. Kupikir kamu selalu aktif, lincah dan sehat-sehat saja”.
Setelah teman pertama pergi …. Aku merasa sendirian dan merasa aneh…. Ada sesuatu yang berbeda dari aku yang dulu
2. Temanku yang kedua datang dan menginformasikan berbagai macam pengobatan kanker, katanya : “Apapun yang kau lakukan, pokoknya jangan mau kalau harus kemoterapi ! Itu hanya akan meracuni kamu”.
Begitu temanku yang kedua pergi, aku merasa takut sekali dan kebingungan…..
3. Kemudian, temanku yang ketiga datang “Barangkali Tuhan ingin mencambukmu karena telah berbuat sesuatu yang tak pantas dalam hidupmu!”.
Sesaat setelah temanku pergi, aku merasa bersalah…..
4. Datanglah temanku yang keempat dan ia berkata :”Kalau kau percaya Tuhan, kau pasti sembuh”
Kala ia meninggalkanku, aku merasa bahwa mungkin aku salah memeluk agamaku yang sekarang……
5. Teman kelima datang dan berkata “Semua pasti ada hikmahnya”.
Saat ia pulang, aku merasa sangat marah……
6. Teman keenam tidak datang. Aku merasa sedih dan sendirian…..
7. Teman ketujuh datang dan ia hanya memegang tanganku dan berkata : “Saya peduli, saya di sini dan saya akan membantumu melewatinya”. Begitu ia pulang, aku merasa sangat dicintai….
Pengaruh Kanker terhadap Kualitas Hidup
Definisi kualitas hidup menurut WHO adalah persepsi individual tentang hidupnya dalam konteks budaya dan sistem nilai yang berlaku di tempat ia hidup dan berhubungan erat dengan tujuan hidup, harapan, standard dan hal-hal mendasar lain yang ada pada dirinya.
Saat diagnosa kanker terjadi pada seseorang, bagaimana kualitas hidupnya ? Diagnosa kanker mampu merubah status kesehatan sesorang yang tadinya normal dan berada dalam kestabilan / keseimbangan menjadi hidup dalam ‘ancaman kematian setiap saat’ yang diiukti dengan perasaan takut dan ketidakpastian.
Ada 4 dimensi kualitas hidup, yaitu dimensi fisik, psikologis, social dan spiritual. Keempat dimensi inilah yang menjadi ukuran seberapa baik kualitas hidup seseorang.
Dampak Kanker terhadap Kualitas Hidup Pada Dimensi Fisik
Yang termasuk dalam dimensi fisik kualitas hidup adalah keadaan sehat yang nyaman dan penuh mobilitas. Saat kanker menyerang dan pengobatan dimulai, maka gejala dan keluhan (tidak terjadi pada setiap penderita kanker) seperti nyeri, merasa tak berdaya, lelah, mual, kerontokan rambut, hilang nafsu makan, perubahan fungsi pembuangan membuat individu tidak lagi nyaman dan mobilitas terganggu. Kondisi ini secara langsung mempengaruhi kualitas hidup mereka.
Tim medis dan perawatan paliatif telah memiliki cara untuk mempertahankan kualitas hidup penderita kanker dengan membantu penderita menghadapi gangguan fisiologis yang dialami.
Dampak Kanker Terhadap Kualitas Hidup Pada Dimensi Psikologis
Kualitas hidup manusia dalam dimensi psikologis diukur lewat bagaimana manusia menikmati hidupnya, keterlibatannya dalam kegiatan yang menimbulkan kegembiraan dan kemampuan untuk mendapatkan kepuasan dan mengendalikan hidupnya. Tantangan pada dimensi ini menjadi demikian besar tatkala individu menderita kanker, dimana ia berhadapan dengan situasi yang penuh ketidakpastian, kecemasan dan ketakutan akan masa depan yang menggiring mereka pada situasi depresif.
Memang tidak mudah bagi penderita kanker untuk bisa menerima dan menjalani hidup sebagai penderita kanker. Kecemasan dan rasa kuatir yang berlebihan merupakan 2 bentuk yang paling sering muncul dan biasanya meningkat pada beberapa titik :
1. pada saat investigasi awal terhadap gejala-gejala yang mencurigakan ;
2. pada saat diagnosa
3. saat menjalani tahap-tahap pengobatan dan pasien diharuskan mengecek terus gejala-gejala lanjutan yang mungkin muncul
4. saat terjadi kembali gejala-gejala awal yang telah berlalu
5. saat prognosis yang kurang baik disampaikan
6. pada saat-saat akhir dari perjuangan hidup
Reaksi / perilaku penderita kanker bervariasi, antara lain :
1. Penderita yang menghadapi kenyataan dengan penuh semangat untuk melawan
2. Merasa tak berdaya (helplessness), dimana penderita cenderung merasa kehilangan dan tidak mampu melakukan semua hal akibat penyakit ini
3. Fatalisme, artinya menerima kenyataan ini tanpa menunjukkan usaha untuk menyembuhkan diri
4. Rasa cemas berlebihan dan berkelanjutan, sehingga hal-hal yang berhubungan dengan kanker begitu mendominasi hidup penderita yang secara tidak langsung justru meningkatkan kecemasan
5. Menghindar dan menunjukkan usaha bawa ia tidak kuatir terhadap apapun…
Menilik reaksi di atas, perlu nantinya dibedakan reaksi yang masih normal dan reaksi yang sudah mengarah pada gangguan. Screening terhadap hal tersebut di atas perlu dilakukan oleh tenaga professional yang telah mendapatkan pelatihan untuk mendeteksi hal tersebut, misalnya psikolog, psikiater, atau staff palliative care yang telah dilatih.
Untuk dapat menerima dan memahami mengapa seorang penderita kanker bereaksi atau berperilaku / memiliki pola pikir tertentu, maka perlu diketahui apakah :
- terdapat riwayat gangguan psikiatrik sebelumnya ?
- dukungan dari keluarga dan teman cukup/kurang ?
- penderita tidak dapat menerima perubahan fisik yang terjadi akibat penyakit dan pengobatannya (misalnya kemoterapi dapat menimbulkan berbagai efek samping)?
- Penderita kurang terlibat dalam kegiatan-kegiatan yang menyenangkan dan memberikan kepuasan?
- Terdapat riwayat pengalaman kanker pada keluarga sebelumnya ?
- Penderita merasa tidak yakin akan efektivitas pengobatan?
- Penderita dan atau keluarga sedang mengalami permasalahan lain secara bersamaan?
Untuk membantu agar penderita kanker dapat menyesuaikan diri dengan penyakit yang dideritanya dan mengantisipasi agar tidak mengalami permasalahan lain yang dapat memperparah kondisi fisik dan psikologis mereka, maka lakukanlah beberapa hal mendasar di bawah ini agar kebutuhan emosional dan spiritualnya terpenuhi :
1. yakinkan penderita bahwa mereka dapat membicarakan apa yang mereka rasakan secara privat dengan orang yang mereka pilih ;
2. ciptakan suasana informal sehingga mendorong penderita untuk mengungkapkan perasaannya dengan lebih nyaman
3. jangan menyampaikan hal-hal yang tidak diminta oleh penderita
4. gunakan bahasa yang mudah dipahami dan hindari penggunaan istilah – istilah rumit yang tidak mudah dimengerti. Cek kembali untuk mengetahui apakah penderita telah menangkap informasi dengan benar
5. tunjukkan bahwa Anda memperhatikan mereka dengan memandang penderita saat berbicara.
6. Jangan memberikan nasehat yang tidak diminta. Nasehat yang berlebihan justru tidak membantu
7. Mengacu pada usaha untuk memberikan dukungan yang sesuai dengan kondisi penderita. Biasanya bantuan yang sangat berguna dimulai dengan membuat penderita mengevaluasi skedul hariannya untuk ‘merencanakan’ hidupnya lebih realistis sesuai dengan kondisinya saat itu. Cara ini dharapkan mampu mencegah penderita masuk dalam tahap depresi.
8. Pahami masalah budaya dan hal-hal yang berhubungan dengan keyakinan yang dipegang teguh oleh penderita dan keluarganya.
Dampak Kanker Terhadap Kualitas Hidup Pada Dimensi Sosial
Dimensi ini mengukur kualitas hidup individu dari seberapa baik manusia itu berinteraksi dan berperan dalam lingkungan sosialnya. Hal ini ditunjukkan pada hubungan social dalam lingkungan keluarga dan masyarakat sekitarnya, kontribusi yang diberikan kepada orang lain (pekerjaan, pendapatan dan hasil karya), dan lain sebagainya. Kualitas hidup pada dimensi ini akan terganggu saat seseorang menderita suatu penyakit sehingga menariknya dalam situasi ‘terisolir’ dan membuat lingkungan sosial ‘mengijinkan’ si penderita bebas dari peran sosialnya. Namun hal ini dapat menimbulkan beban bagi orang lain, antara lain beban finansial atas pembiayaan pengobatan, ketidakmampuan untuk menjadi semangat bagi lingkungannya dan lain-lain.
Pada dimensi ini hubungan emosional antar individu dapat pula terganggu. Ada ‘kewajiban moral’ untuk menjauhkan penderita dari situasi yang diperkirakan akan memperparah penyakitnya seperti pasangan yang ‘merelakan diri’ untuk tidak lagi melakukan hubungan seksual karena dikuatirkan akan menyebabkan kelelahan ; penderita tidak dilibatkan dalam keputusan dalam hal pembiayaan pengobatan ; penderita dibebaskan untuk beristirahat dan tugas pencarian nafkah dialihkan pada anggota keluarga lain ; dan sebagainya. Berikut akan dipaparkan singkat ilustrasi salah satu dampak lanjut pada dimensi ini, yaitu pada hubungan seksual.
Umumnya penderita kanker memfokuskan pengobatan pada usaha melawan kanker dan berusaha sembuh. Hal ini akan mempengaruhi kualitas hidup secara keseluruhan termasuk kehidupan seksual mereka.
Dalam masa pengobatan penderita akan mengalami berbagai perubahan dalam dirinya, yaitu perubahan fisik, psikologis, emosional, spiritual dan sosial. Bagi mereka yang bekerja di bidang kesehatan, biasanya lebih memfokuskan perhatian pada faktor medis, sementara mereka yang seharusnya memberikan perhatian pada perubahan non-medis bahkan ketika menghadapi penderita non-kanker sekalipun tetap akan mengalami kesulitan bila harus membicarakan tentang perubahan seksual.
Kehidupan seksual penderita kanker menjadi ‘ditinggalkan’ karena semua pihak ‘tidak membicarakan’. Efek samping dari pengobatan kanker yang banyak dilaporkan antara lain : keletihan, nyeri, mual, insomnia, konstipasi dan lain-lain membuat penderita tidak memperhatikan kehidupan seksual mereka. Hal ini masih ditambah lagi dengan dampak psikologis yang terjadi seperti kecemasan, rasa takut, depresi dan lain-lain yang juga akan mempengaruhi kehidupan seksual mereka. Pria dapat mengalami kesulitan ereksi dan wanita menjadi tidak bergairah. Bagi penderiota yang sudah berkeluarga, kehidupan seksual yang terganggu dapat menimbulkan permasalahan lain. (Hughes, 2000)
Namun sebagai manusia, unsur kebutuhan seksual tidak dapat ditinggalkan begitu saja. Tatkala menyadari bahwa begitu banyak hal yang ‘HILANG” setelah diagnosa kanker termasuk hubungan intim, penderita dapat merasa semakin tidak berarti dan bagi pasangan dari penderita dapat timbul perasaan bahwa ia tak lagi dapat berharap pemenuhan kebutuhan ini dari pasangannya. Bila hal ini tidak segera ditangani maka bukan tidak mungkin timbul perselingkuhan atau disfungsi seksual pada kedua belah pihak.
Penderita hendaknya diingatkan untuk melaporkan perubahan-perubahan yang mereka alami, termasuk perubahan dalam aktivitas kehiodupan seksualitasnya sehingga sebelum menjadi tambah parah (yang nantinya akan memperparah situasi menghadpi penyakit primernya yaitu kanker), hal ini sudah dapat terdeteksi dan ditangani. Oleh karenanya, para pekerja kesehatan juga hendaknya dibekali dengan pengetahuan dan ketrampilan untuk mendeteksi adanya perubahan seksualitas yang dialami oleh penderita kanker, karena hal ini secara cepat akan mempengaruhi kualitas kehidupan mereka.
Dampak Kanker Terhadap Kualitas Hidup Pada Dimensi Spiritualitas
Pada dimensi ini, seringkali lebih ditekankan pada aspek keagamaan / keyakinan yang dimiliki oleh individu. Kualitas hidup pada dimensi spiritualitas seseorang dinilai dari bagaimana ia mampu meyakini bahwa hidupnya berarti, mampu menaruh harapan pada kekuasaan yang lebih besar dari manusia (baca Tuhan, atau yang diagungkan). Pada dimensi spiritualitas ini, manusia yang kuat akan mampu menjalani ketidakpastian dan dari sini akan tumbuh dalam diri suatu penerimaan dan arti dari perjuangan hidup yang dijalani.
Diagnosa kanker pada kebanyakan penderita sering membawa mereka pada situasi keragu-raguan atas keyakinan mereka sendiri yang diwarnai dengan rasa bersalah dan konflik bathin antara menerima dan menolak kenyataan sakit ini.
Bagi penderita kanker, satu keinginan utama pada umumnya adalah untuk segera sembuh, bagaimanapun dan apapun caranya. Demikian pula pihak keluarga menginginkan hal yang sama. Dorongan untuk segera bebas dari kanker terutama didorong oleh rasa TAKUT (Fear) yang mempengaruhi segala sendi kehidupan mereka, yang termanifestasi dalam bentuk takut akan kematian, takut akan kanker itu sendiri dan takut bahwa banyak pihak akan menderita akibat penyakit ini (Bain, 2002). Dari kesemuanya ini yang paling berat menghantui seorang penderita kanker adalah bahwa sewaktu-waktu ia dapat saja meninggal dunia dan ia merasa tidak siap. Di saat inilah unsur spiritualitas muncul, seperti introspeksi terhadap perbuatan dosa yang telah dilakukan selama hidup, mengevaluasi berbagai kemungkinan bahwa kanker yang diderita mungkin saja akibat kesalahan yang telah dilakukan sebelumnya. Ketika unsur spiritualitas individu tersentuh dan penderita benar-benar ‘MENCARI SESUATU DALAM DIRINYA’, biasanya ia akan tiba pada suatu “PENEMUAN KEMBALI” tentang diri dan hubungannya dengan sang Pencipta. Namun dalam proses pencarian inilah biasanya penderita akan melewati tahap-tahap denial (penyangkalan), marah sampai akhirnya menerima kenyataan.
Untuk dapat membantu penderita kanker dengan mempertimbangkan aspek spiritualitas ini, maka akan bijaksana bila penderita dan keluarga melibatkan/memiliki teman bincang yang memiliki keyakinan keagamaan yang sama, sehingga tidak terdapat konflik yang berpangkal dari perbedaan keyakinan. Namun di sisi lain, pendampingan spiritual dalam menghadapi situasi sakit biasanya bersifat universal, sehingga siapapun sebenarnya memiliki kemampuan memberikan pendampingan spiritualitas.
Peran Keluarga dan Teman
Kanker tidak hanya mempengaruhi penderita sendiri, tetapi juga pada keluarganya. Sangat penting untuk memahami beberapa faktor berkaitan dengan keluarga penderita kanker :
1. Apakah dan bagaimana keluarga memberikan support pada penderita untuk tetap punya semangat hidup yang tinggi ?
Kemampuan keluarga penderita kanker untuk memberikan dukungan sangatlah penting. Namun perlu diingat bahwa tiap anggota keluarga mungkin mempunyai persepsi individual tentang penyakit ini termasuk pula opini terhadap model penyembuhan / intervensi dan juga pandangan tentang tenaga medis dan profesi lain yang terlibat.
Dukungan keluarga penderita kanker tidak hanya dukungan emosional dan psikologis semata, namun pada kenyataannya mereka akan terlibat pula dalam permasalahan finansial, pekerjaan, bahkan termasuk pula pembagian tugas pengasuhan (terutama bila terdapat anak dari penderita yang masih membutuhkan pengawasan dan pengasuhan). Komitmen keluarga pada awal biasanya masih mudah didapatkan, namun setelah jangka waktu tertentu focus perhatian bisa saja berubah dan penderita dan keluarga intinya tetap harus mengupayakan sendiri bagaimana menjalani hidupnya dan tidak bergantung pada keluarga saja.
2. Apakah penderita dan keluarganya mampu tetap mempertahankan hubungan interpersonal yang baik seperti sebelum salah satu anggota keluarganya menderita kanker ? Banyak penelitian menemukan bahwa penderita yang mampu menjalin dan mempertahankan hubungan baik dengan anggota keluarga yang lain lebih dapat menerima dan menyesuaikan diri dengan keadaan sakit kankernya. Apabila hubungan antar anggota keluarga memang sudah tidak harmonis, maka diagnosa kanker justru akan membuat keluarga tidak dapat diharapkan menjalankan fungsi suportif pada penderita.
3. Bagi pasangan (suami atau istri) dari penderita kanker, biasanya mereka juga merupakan pihak yang diharapkan memberikan dukungan yang terbesar, namun pada kenyataannya pasangan biasanya justru membutuhkan pendampingan emosional untuk menghadapi kenyataan ini.
4. Bila terdapat riwayat kanker pada keluarga, maka reaksi penderita dan keluarga akan berbeda karena biasanya mereka ‘lebih terbiasa dan lebih siap’, walaupun reaksi awal biasanya tak berbeda dengan mereka yang tidak mempunyai riwayat keluarga dengan kanker.
Saat ini perawatan penderita kanker sudah menekankan pentingnya pendekatan holistik, sehingga pemahaman para pekerja medis dan profesi lain yang berkaitan (psikolog, pekerja social, agamawan, dan lain-lain) terhadap pentingnya intervensi pada keluarga penderita kanker perlu terus ditingkatkan.
Sebagai seorang teman dari penderita kanker, bila Anda memutuskan untuk berperan lebih dari sekedar teman dan bermaksud memberikan dukungan bagi penderita kanker, maka beberapa hal di bawah ini dapat Anda pertimbangkan (Buchholz & Buchholz, 2003) :
1. Siapkan diri sendiri dan bertindaklah apa adanya, tidak perlu di buat-buat
2. Dengarkan dan jangan menghakimi !
3. Ketika menjadi semakin dekat, Anda bisa merasakan ‘sakit’ nya. Anda kan merasakan ‘sakit’ Anda sendiri. Artinya pertemanan Anda dengan penderita terkadang membuat Anda sendiri menemukan hal-hal yang menyakitkan dalam hidup Anda. Saat ini Anda merasa bahwa Anda hanyalah manusia biasa yang tidak kekal
4. Temukan keindahan dari sekeliling Anda. Bawalah bunga, gambar/foto keindahan alam, CD yang menggambarkan keindahan alam sekitar untuk memberikan kekuatan bahwa ciptaan Nya sungguh indah termasuk KITA
5. Dalam kebersamaan dengan penderita, Anda dan penderita bersama sesungguhnya saling ‘disembuhkan’. Menolong orang lain terkadang membuat kita menerima sesuatu pengalaman dan pelajaran berharga.
Peran Perawat dan Antisipasi Burn Out
Para pekerja kesehatan khususnya perawat ikut terkena dampak atas pekerjaan yang dilakukannya setiap hari. Bergumul dengan pasien, khususnya penderita kanker memberikan dampak fisiologis, psikologis dan sosial.
Perawat pasien dengan penyakit terminal seperti kanker, memiliki tingkat distress yang cukup tinggi, terutama bagi para perawat pemula. Berhadapan dengan penderita dan keluarganya yang depresi, merasa takut, penuh ketidakpastian dan melihat secara terus-menerus ‘perjuangan’ melawan penyakit seringkali justru menimbulkan distress yang berat pula bagi perawat. Oleh karena itu, sangat penting bagi perawat untuk secara berkala mendapat pendampingan psikologis pula untuk mencegah terjadinya burn out yang bila tidak diantisipasi justru dapat menimbulkan permasalahan yang lebih besar, seperti melakukan tindakan yang tidak sepatutnya yang dapat mengancam jiwa pasien serta akhirnya merugikan diri sendiri dan tempat kerja secara umum.
Ciri-ciri job burn out yang dapat dijadikan pertanda perlunya ‘time out’ bagi perawat antara lain meliputi aspek fisiologis, psikologis, perilaku :
Dampak fisiologis akibat burn out :
- merasa lelah berkepanjangan
- gangguan tidur
- pusing hebat
- sering sakit
Dampak psikologis yang nampak pada perilaku akibat burn out :
- menjauhkan diri dan menghindar dari pasien dan keluarganya, termasuk dari rekan sekerja
- image negatif tentang diri sendiri (misalnya merasa bersalah dan belum berbuat maksimal, menganggap diri bukan perawat yang baik, dst)
- depresi
- sering marah dan mudah tersinggung
- sering absen / minta ijin
- tidak menunjukkan perhatian pada detail pekerjaannya sebagaimana seharusnya
- timbul konflik dengan individu lain
- sulit mengambil keputusan yang berhubungan dengan perawatan pada pasien
- sulit berempati (merasakan apa yang dirasakan orang lain / pasien), sehingga terkesan tidak mau peduli, tidak perhatian (acuh tak acuh) dan tidak berperasaan
- tidak menunjukkan keinginan untuk membantu
Bagi perawat yang telah menunjukkan job burn out, hendaknya manajemen rumah sakit segera mengambil tindakan agar hal ini tidak mempengaruhi pasien lebih lanjut.
Intervensi Psikologis bagi Penderita Kanker
Banyak literature dan penelitian tentang pengaruh intervensi psikologis pada penderita kanker memberikan dampak positif pada kualitas hidup mereka. Dalam setiap tahap yang dilalui penderita mulai sejak diagnosa sampai dengan menghadapi tahap akhir kehidupan, intervensi psikologis sangat berperan.
Secara singkat pada makalah ini disampaikan bahwa pada mereka yang mengalami kesulitan penyesuaian diri terhadap penyakit kanker dan pengobatannya, maka tim paliatif bersama-sama tim psikologi merancang suatu intervensi untuk mengubah pola pikir dan perilaku melalui beberapa pendekatan baik pendekatan individual, kelompok maupun yang melibatkan keluarga. Diharapkan melalui intervensi ini, tiap dimensi kualitas hidup yang sudah dijelaskan di atas akan diperbaiki.
Contohnya, pada penderita kanker yang memiliki kecemasan yang berlebihan maka ia akan diikutsertakan pada program relaksasi, restrukturisasi kognitif, biofeedback dan cognitive-behaviour therapy. Penderita dan keluarga bersama-sama diajak berdiskusi tentang masa depan dan kebutuhan individual, sehingga penderita tidak kehilangan fungsinya sebagai manusia yang punya arti social. Pada intervensi psikologis ini penting disadari bahwa reaksi psikologis terhadap suatu perubahan adalah suatu yang wajar namun antisipasi terhadap dampak negatif berkelanjutan dari reaksi tersebutlah yang penting untuk dicegah. Dalam hal ini, pekerja kesehatan khususnya perawat mempunyai peran besar dalam mendeteksi dan menginformasikannya pada tim yang merawat penderita kanker.
Penutup
Untuk mampu memberikan penanganan yang holistic bagi penderita kanker dan keluarganya, maka latihan penajaman ketrampilan pada masing-masing profesi kesehatan perlu dilakukan secara terus-menerus. Intuisi dan pendekatan individual saja tidaklah cukup untuk mampu menjaga kualitas hidup optimal dari penderita kanker. Oleh karenanya, dari waktu ke waktu perlu ditingkatkan penelitian tentang metode dan strategi yang tepat untuk menjaga kualitas hidup penderita kanker di Indonesia khususnya, mengingat kualitas hidup berkaitan erat dengan system nilai dan budaya yang berlaku di masyarakat tempat tinggal penderita.
Disampaikan oleh Josephine M.J. Ratna, M.Psych dalam:
Seminar Keperawatan “Peran Perawat Dalam Meningkatkan Kualitas Hidup Penderita Kanker”
Akademi Keperawatan Katolik St. Vincentius A Paulo Surabaya
Sabtu 6 Desember 2003, Gedung Emaus lt. 5, jl. Jambi 12, Surabaya
Referensi
Baider, L., Cooper, C.L., Kaplan De-Nour, A. (eds) (1996). Cancer and Family. John Wiley and Sons : England.
Baider, L., Perettz, T., Hadani, P.E., Koch, U. (2001). Psychological intervention in cancer patients : a randomized study. General Hospital Psychiatry, 23(5) : 272-277.
Buchholz, W.M & Buchholz, S.W. (2003). Five Advanced Tips for Helping Friends with Cancer. http://www.cancerlynx.com/friend.html
Hilderley, L. (2001). Quality of Life. Rhode Island Cancer Council. http://www.ricancercouncil.org.issues/general_dec2001.php
Hughes, M.K. (2000). Sexuality and Cancer. http://cancerlynx.com/sexuality.html
Johnson, A. (2003). Cancer Comforters. http://www.cancerlynx.com/comforter.html
Ramirez, A.J., Graham, J., Richard, M.A., Cull, A., Gregory, W.M., Leaning, M.S., Snashall, D.C., Timothy, A.R. (1995). Burnout and Psychiatric Disorder Among cancer Clinicians. British Journal of Cancer, 71 : 1263 – 1269.
Spiegel, D., Fobair, P., Rosenbaum, E.H., Rosenbaum, I.R. (1998). Introduction to Cancer Psychosocial Support. http://www.cancersupportivecare.com/live.html
Watson, M. Psychological Adjustment Over Time. http://cope.uicc.org/updates/adjust.shtml
http://www.psychsociety.com.au/news/media_releases/10.1_5.asp
http://www.acs.ohio-state.edu/units/research/archive/caninter.htm
http://www.cancer.gov/cancerinfo/pdq/supportivecare/adjustment/healthprofessional
Saturday, December 6, 2003
Sunday, November 17, 2002
Musti Siap Keluar Duit - Risiko Nemenin Pacar Belanja
Refleksi Cinta
Cowok yang menemani pacarnya belanja, bukanlah hal yang patut dirisaukan. Di satu sisi, hal itu merefleksikan cinta yang ada di antara mereka. Di sisi lain, banyaknya cara belanja yang instan dan mudah, merangsang cowok untuk nggak sekadar menjadi pengantar saja. Tapi lebih ke konsultan dan teman belanja yang menyenangkan. Namun, cowok bukan makhluk yang suka membuang waktu untuk belanja. Mereka lebih suka langsung beli sesuatu. Tak heran, cowok terkesan males nganterin ceweknya berbelanja. Cowok suka pada cewek yang mandiri dalam urusan belanja.
Sumber:
Deteksi Jawa Pos, Sabtu 17 November 2001
Cowok yang menemani pacarnya belanja, bukanlah hal yang patut dirisaukan. Di satu sisi, hal itu merefleksikan cinta yang ada di antara mereka. Di sisi lain, banyaknya cara belanja yang instan dan mudah, merangsang cowok untuk nggak sekadar menjadi pengantar saja. Tapi lebih ke konsultan dan teman belanja yang menyenangkan. Namun, cowok bukan makhluk yang suka membuang waktu untuk belanja. Mereka lebih suka langsung beli sesuatu. Tak heran, cowok terkesan males nganterin ceweknya berbelanja. Cowok suka pada cewek yang mandiri dalam urusan belanja.
Sumber:
Deteksi Jawa Pos, Sabtu 17 November 2001
Sunday, July 14, 2002
Celaka Dua Belas Impotensi!
Cobalah Katarsis
"Berdasarkan data, kasus disfungsi ereksi sebagian besar disebabkan penyakit organik"
Dalam nada tegas, psikolog Dra Josephine Maria Julianti Ratna PGDip (Sc), M. Psych., menekankan bahwa keberadaan seorang pria tidak ditentukan dari keampuhan fungsi kejantanannya.
"Bukan itu ukuran kemanusiaan seorang laki-laki," tegasnya menjawab Surya, Jumat (12/7) di ruang kerjanya.
Bahkan ia dengan tegas menyatakan munculnya persepsi tersebut mengesankan adanya pemahaman yang sangat gender. Bahwa sosok laki-laki itu harus kuat, harus mampu memuaskan pasangannya dalam multiorgasme dan sederet harus-harus lainnya sebagai suatu pola kognitif.
Bila sejuta harus itu diyakini dan diterima otak sebagai suatu persepsi kebenaran, akan terefleksi sebagai suatu kebenaran dalam bersikap. Sehingga bila pria tidak merasa greng atau tidak merasakan adanya stroom dengan pasangannya, ia sudah terlanjur memvonis kemampuan seksualnya sendiri. Yang kurang jantanlah, kurang greng, kurang besar watt stroomnya, bahkan tidak menutup kemungkinan ia memvonis dirinya homo.
"Itu sungguh keliru," sesalnya.
Itu sebabnya Josephine menyarankan untuk tidak bersikap negatif, karena nurani akan jauh lebih mendengar pengakuan tersebut yang belum tentu kebenarannya dibanding orang lain. Pasalnya, suara hati yang terlanjur menyuarakan hal-hal negatif sebagai premis ekstrem akan diterima otak sebagai suatu kebenaran.
"Mungkin tidak terlalu berpengaruh bagi mereka yang memiliki kepribadian kuat, namun sebaliknya bagi mereka yang berkepribadian labil, bila keharusan atau premis-premis ekstrem tadi tidak tercapai, ia sontak akan down dan sangat terpukul," terangnya.
Kalaupun benar ada gangguan seksual, seperti ejakulasi dini hingga impotensi, jangan dianggap sebagai hal yang sepele. Bahkan ia mengingatkan, karena sikap menerima tadi justru akan menggiringnya untuk merasionalisasikan 'kesalahan' yang terjadi.
Sebagai contoh, Josephine menyebutkan, acapkali karena perjalanan usia banyak pasangan menganggap seks sudah bukan prioritas lagi. Sehingga, bila ada kesalahan ataupun disfungsi seksual ia memilih cara untuk merasionalkannya dengan mengalihkan kelemahan pada kegiatan lain.
Seperti, lari dan membenamkan diri pada pekerjaan dan sebagainya.
"Jangan pernah bersikap seperti itu," sarannya. Karena, masalah tidak akan pernah selesai bahkan akan terlambat untuk menyadari adanya kesalahan yang ada.
Karenanya, Josephine menyarankan, kalaupun ada perubahan, "Alangkah lebih baiknya bila dilakukan secara bersama-sama dengan pasangan." Karena itu akan jauh lebih bermakna untuk menerima adanya perubahan yang terjadi pada keduanya. Termasuk adanya perubahan dalam disfungsi ereksi. Pasalnya, dengan adanya admit bahwa ada sesuatu yang salah di antara mereka, sikap itu sudah memenangkan 40 persen sendiri proses kesembuhan.
Karenanya Josephine begitu tidak setuju dengan adanya gangguan seksual yang dialami salah satu pasangan suami itri menjadikan alasan bagi pasangan yang lain memilih solusi jalan pembenaran yang keliru.
Misalnya, dengan mencari kenikmatan di luar rumah dengan cara berselingkuh. Terlebih bila pasangan yang memilih jalan selingkuh menggunakan alasan ketidakmampuan seksual pasangan sebagai tidak menerima nafkah batin.
"Itu sungguh sebuah dikotomi yang salah tentang nafkah lahir dan nafkah batin," sesalnya.
Ia malah mempertanyakan, apakah dengan memberi nafkah lahir, lalu kemudian nafkah batinnya beres begitu saja? Justru, keduanya bukan terpisah, tetapi saling melengkapi satu sama lain.
Lebih jauh Josephine menawarkan cara untuk berusaha katarsis dengan pihak ketiga. Dalam hal ini ia menyarankan untuk berbagi masalah, curhat sebagai salah satu langkah berkatarsis dengan ahlinya. Bisa psikolog ataupun ahli medis.
Kerap terjadi, kunci permasalahannya baru diketahui masing-masing pasangan justru setelah mereka saling berbuka diri di depan ahlinya. "Karena berdua mereka akan saling menceritakan dengan jujur persoalan yang mereka hadapi," yakinnya.
Sumber:
Harian Surya, Minggu 14 Juli 2002
Sunday, June 30, 2002
Bila Suami Anak Mami
Kegagalan Oedipus Complex
Menurut psikolog Dra. Josephine Ratna, M. Psych., sikap suami yang sangat tergantung secara psikis terhadap orangtua (ibu), itu karena dia gagal melampaui tahapan Oedipus Complex.
Suatu tahapan yang dilalui setiap orang pada usia antara 5-7 tahun. Dan itu terjadi akibat orangtua yang terlalu sayang kepada anak, sehingga tidak memberikan kesempatan pada anak untuk belajar mandiri. Sebuah rasa sayang terhadap anak yang salah dalam penerapannya.
"Karena terlalu sayang, si orangtua tidak memberi kebebasan anak. Setiap kali anak mau melakukan sesuatu selalu dilarang, dengan alasannya, khawatir terjadi sesuatu yang mencelakai anak. Begitu juga anak tidak diberi kesempatan mengerjakan sesuatu. Mainan atau pekerjaan yang seharusnya dilakukan anak, diambil alih, dengan alasan kasihan atau merasa anak tidak akan bisa. Itu dilakukan si ibu karena rasa sayangnya pada si anak, tanpa mengetahui atau memikirkan dampaknya psikologis pada anak," papar Vivin, panggilan akrab Josephine Maria Julianti Ratna.
Lebih parah lagi, lanjutnya, bila orangtua selalu mengatakan, "Kamu tidak bisa, sini biar mama yang mengerjakan," atau membela anak yang sedang dimarahi ayahnya. Kondisi ini membuat anak merasa nyaman bersama ibunya, sehingga tidak bisa melewati tahapan Oedipus Complex. "Kalau orangtua sayang terhadap anak, kasih sayang itu hendaknya diwujudkan dengan memberi kesempatan anak berusaha mandiri. Dan yang paling baik dilakukan adalah saat anak berusia 5-7 tahun, karena anak menentukan perkembangan dan keadaan psikis dikemudian hari.
Untuk mengubah sikap 'anak mami' menjadi seorang pria dewasa yang mandiri, menurut psikolog yang praktek di RS Surabaya International dan RSK Santo Vincentius A Paulo (RKZ) ini tidak mudah. Kuncinya ada pada ibunya. Selain harus memberi semangat untuk bersikap mandiri secara terus menerus, si ibu juga harus rela 'melepas' anaknya. "Kalau mengharapkan kesadaran muncul dari dai (suami- , Red) terlalu sulit," tandas Vivin. Kalau ibunya tidak 'rela' dan ikhlas melepas, kata Vivin, istri harus berjuang agar suami mau menjalani terapi atau konsultasi dengan psikolog. "Sekali lagi, kuncinya pada ibunya," tandas Vivin.
Sumber:
Harian Surya, Minggu 30 Juni 2002
Menurut psikolog Dra. Josephine Ratna, M. Psych., sikap suami yang sangat tergantung secara psikis terhadap orangtua (ibu), itu karena dia gagal melampaui tahapan Oedipus Complex.
Suatu tahapan yang dilalui setiap orang pada usia antara 5-7 tahun. Dan itu terjadi akibat orangtua yang terlalu sayang kepada anak, sehingga tidak memberikan kesempatan pada anak untuk belajar mandiri. Sebuah rasa sayang terhadap anak yang salah dalam penerapannya.
"Karena terlalu sayang, si orangtua tidak memberi kebebasan anak. Setiap kali anak mau melakukan sesuatu selalu dilarang, dengan alasannya, khawatir terjadi sesuatu yang mencelakai anak. Begitu juga anak tidak diberi kesempatan mengerjakan sesuatu. Mainan atau pekerjaan yang seharusnya dilakukan anak, diambil alih, dengan alasan kasihan atau merasa anak tidak akan bisa. Itu dilakukan si ibu karena rasa sayangnya pada si anak, tanpa mengetahui atau memikirkan dampaknya psikologis pada anak," papar Vivin, panggilan akrab Josephine Maria Julianti Ratna.
Lebih parah lagi, lanjutnya, bila orangtua selalu mengatakan, "Kamu tidak bisa, sini biar mama yang mengerjakan," atau membela anak yang sedang dimarahi ayahnya. Kondisi ini membuat anak merasa nyaman bersama ibunya, sehingga tidak bisa melewati tahapan Oedipus Complex. "Kalau orangtua sayang terhadap anak, kasih sayang itu hendaknya diwujudkan dengan memberi kesempatan anak berusaha mandiri. Dan yang paling baik dilakukan adalah saat anak berusia 5-7 tahun, karena anak menentukan perkembangan dan keadaan psikis dikemudian hari.
Untuk mengubah sikap 'anak mami' menjadi seorang pria dewasa yang mandiri, menurut psikolog yang praktek di RS Surabaya International dan RSK Santo Vincentius A Paulo (RKZ) ini tidak mudah. Kuncinya ada pada ibunya. Selain harus memberi semangat untuk bersikap mandiri secara terus menerus, si ibu juga harus rela 'melepas' anaknya. "Kalau mengharapkan kesadaran muncul dari dai (suami- , Red) terlalu sulit," tandas Vivin. Kalau ibunya tidak 'rela' dan ikhlas melepas, kata Vivin, istri harus berjuang agar suami mau menjalani terapi atau konsultasi dengan psikolog. "Sekali lagi, kuncinya pada ibunya," tandas Vivin.
Sumber:
Harian Surya, Minggu 30 Juni 2002
Sunday, May 5, 2002
Bila Pasangan Tuntut Keperawanan
Media Barat pernah membanggakan selebriti kesayangan mereka, si Perawan Amerika, Brooke Shields. Meski akhirnya keperawanan si Blue Lagoon ini tidak memberinya jaminan kelanggengan biduk rumah tangganya dengan petenis Andre Agassi. Kini, publik Barat kembali menemukan sang perawan kebanggan mereka. Penyanyi remaja penuh talenta, Britney Spears, yang berani menyatakan dirinya masih perawan dan akan terus mempertahankannya sampai nanti menjelang pernikahannya.
Apa yang bisa kita tangkap? Ternyata era kebebasan yang selama ini menjadi dewa bagi negara-negara di belahan Barat sana, mereka masih berharap banyak pada sebuah keperawanan. Bagaimana dengan fenomena moral remaja dan anak baru gedhe (ABG) kita yang kian memprihatinkan itu?
“Kalau bisa dijaga bener deh sampai menjelang pernikahan nanti,” ujar keprihatinan peragawati papan atas Indonesia, Arzety Bilbina dan penyanyi R&B Sania, menyikapi keperawanan. Pasalnya, belum tentu si perempuan akan mendapat suami yang penuh pengertian mengenai keperawanan. Bagaimana kalau Mr Right atau Mr Perfect balik merongrong dengan menggunakan senjata keperawanan sepanjang hidup perkawinan mereka?
Sementara Josephine M. J. Ratna, psikolog Universitas Widya Mandala (UWM) Surabaya, menyarankan senada. Idealnya perempuan saat melangsungkan pernikahan masih virgin (perawan). Begitu pula mempelai laki-laki, masih perjaka.
Tapi kalau memang mereka sudah tak lagi perawan ataupun perjaka, tidak sepatutnya masalah itu dipertanyakan. Sebab, sebelum memutuskan untuk menikah, tentu mereka terlebih dahulu harus mengenal pasangan masing-masing.
“Kalau seorang suami mempertanyakan keperawanan istri, dan sebaliknya seorang istri mempertanyakan keperjakaan suami, sudah bukan saatnya. Itu hanya mencari-cari masalah dan pandangan mereka terhadap pernikahan sangat sempit. Pertanyaan semacam itu seharusnya dilontarkan sebelum mereka memutuskan untuk menikah,” tutur Josephine.
Karena itu, lanjutnya, pacaran sangat penting. Pacaran merupakan masa penjajakan untuk mengetahui lebih jauh tentang calon suami atau istri, untuk mengetahui sejauh mana mereka cocok untuk hidup bersama.
Pada masa ini, perempuan bisa mengungkapkan keadaan dirinya. Namun, khusus soal keperawanan, hendaknya jangan disampaikan secara vulgar dan juga jangan dengan nada seperti terdakwa, karena justru bisa ditafsirkan sebagai bentuk kesalahan dan kepasrahan. Cukup dengan isyarat, dan kalau ternyata calon suami tanggapannya negative, tidak berkenan, lebih baik hubungan tidak diteruskan.
Ia merasa heran dengan pasangan suami-istri yang sudah bertahun-tahun mengarungi kehidupan rumah tangga masih tetap mempersoalkan keperawanan dan menjadikan istrinya sebagai ‘bulan-bulanan’.
Itu sama artinya dia secara mental belum siap menikahi istrinya. Dalam kondisi semacam ini, keharmonisan rumah tangga sulit diharapkan. Seharusnya mereka bisa menerima apa adanya.
Bukan masalah fisik
Tentang operasi selaput dara, menurut Josephine, akan merugikan diri sendiri, terutama kalau suami bersifat terbuka. Sebab kalau suatu saat ketahuan, suami akan merasa telah dibohongi dan sulit untuk mengembalikan kepercayaannya.
Promosi mengenai keperawanan kini tengah digencarkan Singapura lewat program Singapore Virgins menyarankan senada. Bahwa operasi selaput dara sebelum menikah bukan jaminan. Karena keperawanan bukan sekadar urusan fisik semata. Namun terkandung aspek di dalamnya, dan nurani Anda akan terus ‘mempersoalkan’ selamanya.
Sasaran Singapore Virgins sebetuknya untuk menggarap kaum muda Negeri Singa itu yang cenderung bersikap mulai mengkhawatirkan. Bahkan berkembang anggapan di kalangan mereka, bahwa masih perawan berarti kuno dan tidak trendi. Berkembang pula anggapan, mereka yang belum ‘kehilangan’ keperawanannya merasa sebagai kelompok minoritas. Mereka juga merasa ketakutan, hingga usianya yang kepala dua atau tiga masih tetap perawan.
Banyaknya anggapan yang keliru mengenai hal itu. Seperti kasus klise, menyerahkan keperawanan sebagai bukti cinta kepada pasangan. Singapore Virgins menekankan bahwa, keperawanan tidak ada sangkut pautnya dengan usia seseorang. Bahwa cinta yang sesungguhnya lahir dari hati yang dalam, bukan dari mata atau tubuh seseorang. (lia/tri/SV)
Jika Mencintainya …
Jika Anda memang benar-benar mencintainya, maka:
• Hargai dia dan keputusannya.
• Jangan pernah mencoba mempengaruhinya untuk melakukan hubungan seks.
• Jangan pernah menekan dirinya.
• Lakukan hubungan seksual hanya setelah menikah.
• Tunjukkan rasa cinta tanpa pemaksaan hubungan seksual. (tri/SV)
Sumber:
Harian Surya, Minggu 5 Mei 2002
Apa yang bisa kita tangkap? Ternyata era kebebasan yang selama ini menjadi dewa bagi negara-negara di belahan Barat sana, mereka masih berharap banyak pada sebuah keperawanan. Bagaimana dengan fenomena moral remaja dan anak baru gedhe (ABG) kita yang kian memprihatinkan itu?
“Kalau bisa dijaga bener deh sampai menjelang pernikahan nanti,” ujar keprihatinan peragawati papan atas Indonesia, Arzety Bilbina dan penyanyi R&B Sania, menyikapi keperawanan. Pasalnya, belum tentu si perempuan akan mendapat suami yang penuh pengertian mengenai keperawanan. Bagaimana kalau Mr Right atau Mr Perfect balik merongrong dengan menggunakan senjata keperawanan sepanjang hidup perkawinan mereka?
Sementara Josephine M. J. Ratna, psikolog Universitas Widya Mandala (UWM) Surabaya, menyarankan senada. Idealnya perempuan saat melangsungkan pernikahan masih virgin (perawan). Begitu pula mempelai laki-laki, masih perjaka.
Tapi kalau memang mereka sudah tak lagi perawan ataupun perjaka, tidak sepatutnya masalah itu dipertanyakan. Sebab, sebelum memutuskan untuk menikah, tentu mereka terlebih dahulu harus mengenal pasangan masing-masing.
“Kalau seorang suami mempertanyakan keperawanan istri, dan sebaliknya seorang istri mempertanyakan keperjakaan suami, sudah bukan saatnya. Itu hanya mencari-cari masalah dan pandangan mereka terhadap pernikahan sangat sempit. Pertanyaan semacam itu seharusnya dilontarkan sebelum mereka memutuskan untuk menikah,” tutur Josephine.
Karena itu, lanjutnya, pacaran sangat penting. Pacaran merupakan masa penjajakan untuk mengetahui lebih jauh tentang calon suami atau istri, untuk mengetahui sejauh mana mereka cocok untuk hidup bersama.
Pada masa ini, perempuan bisa mengungkapkan keadaan dirinya. Namun, khusus soal keperawanan, hendaknya jangan disampaikan secara vulgar dan juga jangan dengan nada seperti terdakwa, karena justru bisa ditafsirkan sebagai bentuk kesalahan dan kepasrahan. Cukup dengan isyarat, dan kalau ternyata calon suami tanggapannya negative, tidak berkenan, lebih baik hubungan tidak diteruskan.
Ia merasa heran dengan pasangan suami-istri yang sudah bertahun-tahun mengarungi kehidupan rumah tangga masih tetap mempersoalkan keperawanan dan menjadikan istrinya sebagai ‘bulan-bulanan’.
Itu sama artinya dia secara mental belum siap menikahi istrinya. Dalam kondisi semacam ini, keharmonisan rumah tangga sulit diharapkan. Seharusnya mereka bisa menerima apa adanya.
Bukan masalah fisik
Tentang operasi selaput dara, menurut Josephine, akan merugikan diri sendiri, terutama kalau suami bersifat terbuka. Sebab kalau suatu saat ketahuan, suami akan merasa telah dibohongi dan sulit untuk mengembalikan kepercayaannya.
Promosi mengenai keperawanan kini tengah digencarkan Singapura lewat program Singapore Virgins menyarankan senada. Bahwa operasi selaput dara sebelum menikah bukan jaminan. Karena keperawanan bukan sekadar urusan fisik semata. Namun terkandung aspek di dalamnya, dan nurani Anda akan terus ‘mempersoalkan’ selamanya.
Sasaran Singapore Virgins sebetuknya untuk menggarap kaum muda Negeri Singa itu yang cenderung bersikap mulai mengkhawatirkan. Bahkan berkembang anggapan di kalangan mereka, bahwa masih perawan berarti kuno dan tidak trendi. Berkembang pula anggapan, mereka yang belum ‘kehilangan’ keperawanannya merasa sebagai kelompok minoritas. Mereka juga merasa ketakutan, hingga usianya yang kepala dua atau tiga masih tetap perawan.
Banyaknya anggapan yang keliru mengenai hal itu. Seperti kasus klise, menyerahkan keperawanan sebagai bukti cinta kepada pasangan. Singapore Virgins menekankan bahwa, keperawanan tidak ada sangkut pautnya dengan usia seseorang. Bahwa cinta yang sesungguhnya lahir dari hati yang dalam, bukan dari mata atau tubuh seseorang. (lia/tri/SV)
Jika Mencintainya …
Jika Anda memang benar-benar mencintainya, maka:
• Hargai dia dan keputusannya.
• Jangan pernah mencoba mempengaruhinya untuk melakukan hubungan seks.
• Jangan pernah menekan dirinya.
• Lakukan hubungan seksual hanya setelah menikah.
• Tunjukkan rasa cinta tanpa pemaksaan hubungan seksual. (tri/SV)
Sumber:
Harian Surya, Minggu 5 Mei 2002
Sunday, April 7, 2002
Beri Kesempatan Suami
Beban yang dihadapi Nia Daniaty, secara psikologis memang berat. Meskipun yang memiliki persoalan itu suami, namun ebagai public figure, justru ia yang menjadi sorotan dan pergunjingan masyarakat. Apalagi perkawinan pertamanya juga berantakan.
Untuk meringankan beban itu, menurut psikolog Dra. Josephine Maria Julianti Ratna, M. Psych., Nia Daniaty harus berpikir secara rasional, tidak perlu hanyut dalam persoalan yang dihadapi suaminya. Juga tidak perlu menyalahkan suami, karena hal itu akan memunculkan persoalan baru dalam rumah tangganya.
"Persoalan yang sedang dihadapi adalah persoalan suami dengan wanita yang pernah menjadi istrinya. Beri kesempatan kepada suami untuk menyelesaikan," kata Josephine.
Apa Nia tidak merasa ditipu? "Persoalan suami tak semuanya diketahui istri. Begitu juga sebaliknya, karena setiap individu memiliki persoalan masing-masing. Apalagi mereka baru menikah dan pacarannya juga relatif sebentar. Wong yang sudah berkeluarga selama bertahun-tahun saja belum tentu tahu semua persoalan yang dihadapi pasangan kok. Nia Daniaty tak perlu merasa dirinya ditipu," kata Josephine.
Disamping itu, lanjutnya, Nia tidak perlu banyak berkomentar tentang kasus itu. Semakin dia banyak berbicara, akan menimbulkan polemik, dan tentunya dia akan semakin menjadi sorotan masyarakat dengan berbagai macam penilaian. Dan hal itu justru akan menjadikan beban Nia semakin berat.
Sumber:
Harian Surya, 7 April 2002
Untuk meringankan beban itu, menurut psikolog Dra. Josephine Maria Julianti Ratna, M. Psych., Nia Daniaty harus berpikir secara rasional, tidak perlu hanyut dalam persoalan yang dihadapi suaminya. Juga tidak perlu menyalahkan suami, karena hal itu akan memunculkan persoalan baru dalam rumah tangganya.
"Persoalan yang sedang dihadapi adalah persoalan suami dengan wanita yang pernah menjadi istrinya. Beri kesempatan kepada suami untuk menyelesaikan," kata Josephine.
Apa Nia tidak merasa ditipu? "Persoalan suami tak semuanya diketahui istri. Begitu juga sebaliknya, karena setiap individu memiliki persoalan masing-masing. Apalagi mereka baru menikah dan pacarannya juga relatif sebentar. Wong yang sudah berkeluarga selama bertahun-tahun saja belum tentu tahu semua persoalan yang dihadapi pasangan kok. Nia Daniaty tak perlu merasa dirinya ditipu," kata Josephine.
Disamping itu, lanjutnya, Nia tidak perlu banyak berkomentar tentang kasus itu. Semakin dia banyak berbicara, akan menimbulkan polemik, dan tentunya dia akan semakin menjadi sorotan masyarakat dengan berbagai macam penilaian. Dan hal itu justru akan menjadikan beban Nia semakin berat.
Sumber:
Harian Surya, 7 April 2002
Dekatkan sejak pacaran
“Dia akan bertambah tertekan kalau ternyata suami membela ibunya”
Hubungan menantu perempuan dengan mertua perempuan selalu digambarkan penuh konflik bagaikan hubungan kucing dan anjing, tentu saja gambaran semacam itu tidak sepenuhnya benar, kenyataannya banyak yang rukun-rukun saja.
Namun juga tak dapat disalahkan, sebab kenyataannya memang banyak terjadi konflik antara menantu perempuan dan mertua perempuan.
Konflik itu muncul karena secara psikologis, mertua perempuan sadar atau tidak sadar merasa anak laki-lakinya ‘dirampas’ menantunya. Ibu yang bertahun-tahun membesarkan dan mendidik merasa kehilangan. Apalagi kalau anaknya itu anak lelaki satu-satunya atau anak kesayangan.
Keadaan bertambah parah jika sebelum menikah anak laki-lakinya itu pencari nafkah utama keluarga dan selalu mengutamakan kepentingan ibu, sedang ibunya mengurus keperluan putranya. Setelah menikah, tentu perhatian itu ditumpahkan kepada istri serta anak-anaknya. Akibatnya, ibu merasa diacuhkan dan disia-siakan.
Karena perasaan-perasaan itu, maka seringkali ibu mertua bersikap sinis, galak dan selalu mengkritik menantu perempuannya. Segala hal mengenai menantu perempuannya dinilainya kurang. Keadaan bertambah parah kalau ibu dan menantu perempuan tinggal satu rumah, apalagi tinggal di rumah miliki suami, maupun suami masih tinggal di rumah orangtuanya.
Urusan dapur pun menjadi masalah. Ibu mertua tidak mau ‘daerah kekuasaannya’ direbut menantu, karena merasa dia yang berkuasa di rumah itu. Selain itu, dia merasa lebih tahu seera makan anaknya. Sikap ibu mertua makin menjadi-jadi kalau dulu dia tidak merestui perkawinan anaknya, baik karena perbedaan status, ekonomi atau lainnya. Hal ini bisa menjadi alasan untuk menjatuhkan menantu perempuannya.
Dalam kasus seperti itu, umumnya menantu perempuan hanya bisa mengeluh pada suami, dan tentu saja hal itu mengganggu keharmonisan rumah tangga mereka. “Dia akan bertambah tertekan kalau ternyata suami membela ibunya,” kata Dra. Josephine Maria Julianti Ratna M. Psych, Psikolog di RS Surabaya International, yang juga Direktur Australia Education Centre di Surabaya.
Mengapa konflik seperti itu jarang terjadi antara menantu lelaki dan mertua perempuan ataupun mertua lelaki? “Karena menantu laki-laki kodratnya sebagai pencari nafkah keluarga, sehingga sebagian besar waktunya dihabiskan di luar rumah. Dengan demikian, sumber-sumber penyebab konflik dengan mertua bisa dihindari,” ujarnya.
Sinergi Segitiga
Untuk menghindari konflik menantu perempuan dengan mertua perempuan, menurut Josephine, mereka harus bisa menciptakan hubungan segitiga, yaitu hubungan antara istri dengan suami, istri (menantu) dengan mertua dan suami dengan ibunya.
“Jangan berupa hubungan garis lurus (istri-suami-mertua, atau istri-mertua-suami, Red), karena yang berada di tengah menjadi serba salah,” tandas Josephine.
Agar tercipta hubungan segitiga yang baik, lanjut Josephine, hendaknya dimulai sedini mungkin. Akan lebih bagus di saat masih pacaran. Hendaknya pacar sering diajak ke rumah calon mertua, supaya saling kenal dan menjadi keluarga sendiri. Dengan begitu, ketika menikah, mertua tak merasa anaknya dirampas orang lain. Sementara menantu perempuan juga harus bisa bersikap baik dan menjadikan mertua perempuan seperti ibu kandungnya sendiri.
“Bisa juga dengan cara lain. Sebelum menikah, buat perjanjian dengan suami, tak perlu harus tertulis, yang menyangkut tiga hal. Pertama, berapa lama akan bersama mertua. Kedua, apa yang diharapkan suami terhadap istri. Ketiga, tentang kewenangan. Mungkin masalah ini tidak etis bagi kita sebagai orang Timur, tapi demi kebaikan bersama, tidak ada salahnya,” tutur Josephine. (lia)
Sumber:
Harian Surya, Minggu 7 April 2002
Subscribe to:
Comments (Atom)
