Banyak Opsi Pengganti
Penolakan kencan seharusnya memang tak mengganggu hubungan, karena esensi pacaran bukanlah kencan. Pacaran adalah proses mengenal seseorang. Dulu, pacaran diidentikkan dengan apel setiap malam minggu. Kini, terjadi pergeseran. Didukung kecanggihan teknologi, untuk menunjukkan perhatian dan berkomunikasi, itu bisa dilakukan lewat SMS, telepon, chat on-line, webcam dan lainnya. Jadi, ada opsi pengganti jadwal apel. Yang paling penting adalah konsep pacaran sehat dengan mementingkan kualitas, bukan kuantitas. Wujudnya, bisa tatap muka, komunikasi dan share idea. (hil/azz)
Sumber:
Deteksi Jawa Pos, Sabtu 8 Maret 2008
Saturday, March 8, 2008
Sunday, February 10, 2008
Minta Boneka dong Yang
Bisa untuk Pengganti Pacar
Bagi seorang cewek, makna hadiah Valentine dari sang pacar bukan sekadar pemberian. Bahkan, tak jarang dijadikan pengganti kehadiran pacar. Maka, tak heran kalau cewek berusia remaja sekarang lebih ingin diberi boneka ketimbang bunga atau coklat. Format pemberian tersebut dianggap lebih long lasting dan bisa jadi sasaran ketika kangen dengan pacar. Bisa dipeluk atau sekadar dipandang. Pemilihan hadiah Valentine berupa boneka juga menunjukkan bahwa kini mulai terjadi pergeseran konsep romantisme di kalangan remaja. Itu menunjukkan bahwa dalam hal pacaran mereka ingin fun. Hadiah bunga mungkin dianggap terlalu serius. Kado cokelat barangkali terasa kurang personal. Yang pasti, pilih boneka sesuai selera si cewek. Itu akan membuat kado lebih spesial dan personal. Sesuai sifat cewek yang ingin dicintai dan diperlakukan spesial. (rum/kkn)
Sumber:
Deteksi Jawa Pos, Minggu 10 Februari 2008
Bagi seorang cewek, makna hadiah Valentine dari sang pacar bukan sekadar pemberian. Bahkan, tak jarang dijadikan pengganti kehadiran pacar. Maka, tak heran kalau cewek berusia remaja sekarang lebih ingin diberi boneka ketimbang bunga atau coklat. Format pemberian tersebut dianggap lebih long lasting dan bisa jadi sasaran ketika kangen dengan pacar. Bisa dipeluk atau sekadar dipandang. Pemilihan hadiah Valentine berupa boneka juga menunjukkan bahwa kini mulai terjadi pergeseran konsep romantisme di kalangan remaja. Itu menunjukkan bahwa dalam hal pacaran mereka ingin fun. Hadiah bunga mungkin dianggap terlalu serius. Kado cokelat barangkali terasa kurang personal. Yang pasti, pilih boneka sesuai selera si cewek. Itu akan membuat kado lebih spesial dan personal. Sesuai sifat cewek yang ingin dicintai dan diperlakukan spesial. (rum/kkn)
Sumber:
Deteksi Jawa Pos, Minggu 10 Februari 2008
Wednesday, January 9, 2008
Ada Gosip? Come to Mama
Sebagai Sarana Komunikasi
Bergosip sebenarnya punya konotasi negatif di mata masyarakat. Namun, bakal berbeda halnya kalau yang melakukan ibu dan anak. Kegiatan itu bisa berubah menjadi ajang mempererat komunikasi. Melalui bergosip, secara tidak langsung ibu juga dapat menyelami dunia si anak. Cara tersebut lebih luwes karena anak tidak akan merasa terintervensi dan tercampuri urusannya. Jika seorang anak berinisiatif bergosip dengan ibunya, itu tanda dia percaya pada ortu. Itu juga cara untuk mencoba bersikap terbuka. Syaratnya, topik yang dipilih harus benar. Agar, si anak dapat menyesuaikan diri dan tidak matang sebelum waktunya. (kiy)
Sumber:
Deteksi Jawa Pos, Rabu 9 Januari 2008
Bergosip sebenarnya punya konotasi negatif di mata masyarakat. Namun, bakal berbeda halnya kalau yang melakukan ibu dan anak. Kegiatan itu bisa berubah menjadi ajang mempererat komunikasi. Melalui bergosip, secara tidak langsung ibu juga dapat menyelami dunia si anak. Cara tersebut lebih luwes karena anak tidak akan merasa terintervensi dan tercampuri urusannya. Jika seorang anak berinisiatif bergosip dengan ibunya, itu tanda dia percaya pada ortu. Itu juga cara untuk mencoba bersikap terbuka. Syaratnya, topik yang dipilih harus benar. Agar, si anak dapat menyesuaikan diri dan tidak matang sebelum waktunya. (kiy)
Sumber:
Deteksi Jawa Pos, Rabu 9 Januari 2008
Friday, December 7, 2007
Take Home Midnight - Tonton TV Tengah Malam, Film Jadi Pilihan
Perhatikan Kondisi Tubuh
Bisa dimengerti bahwa remaja sekarang lebih suka nonton TV tengah malam. Tapi, ini pun punya dampak baik dan buruk. Di satu sisi, ini bisa menguntungkan karena anak bisa refreshing setelah belajar. Di sisi lain, ini juga membahayakan. Sebab, kalau terlalu sering dilakukan, siklus tubuh bisa terganggu. Akibatnya, fungsi berpikir berkurang, mudah mengantuk, dan sering bad mood saat beraktivitas di siang hari karena kurang istirahat. Anak juga bisa tersugesti. Dari yang sebelumnya melek di tengah malam untuk nonton TV, lama-lama akan merasa harus menonton TV di tengah malam agar bisa tidur. Ini yang tidak baik. Coba kontrol diri. Kalau sudah capek dan mengantuk, sebaiknya istirahat. (rum)
Sumber:
Deteksi Jawa Pos, Jumat 7 Desember 2007
Bisa dimengerti bahwa remaja sekarang lebih suka nonton TV tengah malam. Tapi, ini pun punya dampak baik dan buruk. Di satu sisi, ini bisa menguntungkan karena anak bisa refreshing setelah belajar. Di sisi lain, ini juga membahayakan. Sebab, kalau terlalu sering dilakukan, siklus tubuh bisa terganggu. Akibatnya, fungsi berpikir berkurang, mudah mengantuk, dan sering bad mood saat beraktivitas di siang hari karena kurang istirahat. Anak juga bisa tersugesti. Dari yang sebelumnya melek di tengah malam untuk nonton TV, lama-lama akan merasa harus menonton TV di tengah malam agar bisa tidur. Ini yang tidak baik. Coba kontrol diri. Kalau sudah capek dan mengantuk, sebaiknya istirahat. (rum)
Sumber:
Deteksi Jawa Pos, Jumat 7 Desember 2007
Tuesday, November 6, 2007
Problematika dan Solusi Kualitas Pendidikan
Oleh: Josephine M.J.Ratna, M.Psych
Memperoleh pendidikan adalah hak setiap orang. Mendapatkan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan adalah permasalahan yang dihadapi semua orang, sehingga pemilihan institusi yang tepat menjadi kuncinya. Di sisi lain, institusi pendidikan menyadari kebutuhan tersebut dan dengan memadukan unsur pendidikan, bisnis, sosial dan aspek lain, muncullah berbagai kategori yang terkadang ada setelah berdirinya suatu lembaga, dan bukan sebaliknya.
Institusi pendidikan dikelompokkan berdasarkan:
1. Pengkategorian berdasarkan kurikulum dan fasilitas :
- Sekolah Internasional – kurikulum asing / IB
- Sekolah Nasional plus
- Sekolah Bertaraf Internasional
- Sekolah Nasional Bertaraf Internasional
- Sesuai kategori di atas (plus asrama)
2. Pengkategorian berdasarkan sumber dana dan pengelolaan :
- Sekolah Negeri
- Sekolah Swasta
- Sekolah berbasis agama
3. Pengkategorian berdasarkan kebutuhan khusus :
- Sekolah Umum (dan Kejuruan)
- Sekolah Luar Biasa
- Sekolah Khusus : Lambat belajar, autis, berbakat
- Home schooling
4. Pengkategorian berdasarkan kelompok usia
- Sekolah Bayi
- Playgroup
- TK, SD, SMP, SMA
Pengkategorian di atas membawa konsekuensi pentingnya sumber daya manusia pengelola dan pelaksana pendidikan yang memiliki dedikasi kuat untuk mengembangkan model yang memihak pada kebutuhan calon siswa. Pada kenyataannya, kompetisi institusi pendidikan lebih mengarah pada fasilitas yang ada (tetapi SDM yang belum berpengalaman, sehingga kurikulum yang baik tidak berjalan sesuai yang diharapkan), atau mengandalkan guru yang berpengalaman namun sistem/model pendidikan yang kurang mengakomodasi perkembangan teknologi yang ada, atau mengandalkan kurikulum asing dengan tenaga pengajar asing, fasilitas mewah dan kurikulum yang ’menggiurkan’, tetapi harus ditebus dengan harga yang melangit.
Memang kategori di atas memberikan pilihan bagi penguna (baca = orangtua dan siswa), namun tak kalah pentingnya adalah adanya berbagai upaya untuk memberikan nilai tambah agar institusi pendidikan tidak hanya mengedepankan janji mencetak lulusan berkualitas akademis dan berketrampilan/berkarakter istimewa, tetapi memungkinkan perkembangan dan pemantapan individual dari pengelola dan pelaksana pendidikan sendiri. Bagaimanapun juga perlu disadari bahwa tangan pengelola, pemikir dan pelaksana pendidikanlah yang menjadi tumpuan utama perubahan, apapun macam kategori institusi pendidikan yang ada. Mungkinkah ada pendidikan berkualitas yang diperoleh dari institusi pendidikan yang murah? Jika mungkin, mengapa tidak diupayakan ? Mungkinkah institusi pendidikan memiliki tenaga pendidikan yang tidak hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga mengajarkan kehidupan ?
Pendidikan yang menghasilkan generasi berkualitas tidak dipungkiri. Banyak lulusan yang dibekali begitu banyak ketrampilan dasar dan pelatihan yang disediakan untuk menunjang keberhasilan mereka di tingkat pendidikan yang lebih tinggi. Menjamurnya berbagai macam kursus dan pelatihan luar sekolah memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi seseorang untuk menimba lebih banyak dari yang didapatkannya di sekolah. Sementara siswa meraup banyak ketrampilan di luar sekolah, guru justru masih harus berjuang untuk mendapatkan tambahan penghasilan. Suatu situasi dilematis yang tak kunjung berakhir dan melegitimasi bahwa perkembangan pengetahuan guru tidak sebanding dengan pesat dan luasnya pengetahuan yang ada sehingga memang guru bukanlah yang paling tahu. Di sisi lain, kesadaran hal ini justru meninabobokan guru untuk berlindung dari keharusan mengembangkan diri di luar sekolah.... tidak ada waktu. Akibatnya pengembangan guru menjadi permasalahan tersendiri bahkan sangat sukar bagi manajemen pendidikan untuk memotivasi guru untuk bersedia meluangkan waktu demi upaya pengembangan diri.
Dilematis memang... tetapi ini kenyataannya. Belum lagi bila pemerintah memberlakukan sistem penilaian dan pengkategorian tertentu yang secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi perencanaan sekolah secara keseluruhan. Lalu kepada siapa institusi pendidikan berpihak ? Pemerintah ? Yayasan ? Manajemen sekolah ? Guru ? Orangtua ? Murid ? Masyarakat luas ? Semestinya memang keberpihakan tidak dipandang dari satu arah saja, melainkan suatu saling ketergantungan sehingga diharapkan semua pihak akan berkembang. Sayangnya proses perkembangan masih juga harus berhadapan dengan kebijakan yang berubah-ubah sehingga saat manajemen pendidikan belum tuntas menyelesaikan suatu permasalahan sudah dihadapkan pada permasalahan baru akibat perubahan kebijakan. Dan hal ini adalah proses pembelajaran lain pula yang menurunkan model sikap dan perilaku ’perencanaan jangka pendek’ dan bukan pemikiran jangka panjang yang mengedepankan upaya preventif.
Disamping menyorot pada problematika yang dihadapi oleh manajemen pendidikan, permasalahan yang berhubungan dengan anak didik (plus orangtua) di jaman sekarang sungguh memprihatinkan. Semestinya dengan kecanggihan penyusunan kurikulum diikuti dengan fasilitas yang lebih baik, permasalahan yang dialami siswa sepatutnya tidak mengkuatirkan.
Di era perkembangan teknologi dan kompetisi yang sedemikian pesat, berikut ini adalah permasalahan yang kerap muncul :
- Hurried Child Syndrome (HCS) – Sindroma ’Anak Karbitan’
- Addictions : Internet, game, drug, shopping, sms
- Free sex – premarital sex – teenage pregnancy
- Eating disorders
- ‘Electronic baby sitters’ – PS, Game boy, MP3, TV (plus DVD, VCD), PC games, dll
- Mental weakness : depresi, cemas, mudah menyerah/putus asa, bunuh diri
- Peer pressure : membentuk kelompok tanpa tujuan jelas (tidak produktif)
- Kompleksitas masalah keluarga yang mempengaruhi anak : perkawinan (kawin cerai, single parent), pengasuhan non-parental (baby sitter, kakek-nenek, asrama, child care), kedua orangtua bekerja (quality time, modelling, kontol kurang, pemenuhan materi berlebih)
- Masalah religiusitas
- Dan lain-lain
Dengan memandang hal-hal di atas, kualitas pendidikan akan sangat bergantung pada SDMnya, baik yang duduk pada tatanan pembuat kebijakan, pemberi dana, pengelola (manajemen) pendidikan, guru, orangtua, siswa dan masyarakat lain. Sangat disarankan bahwa solusi atas permasalahan pendidikan tidak hanya dibebankan pada pengelola pendidikan saja, tetapi menjadi tanggungjawab semua pihak, artinya sungguh dari setiap kita. Ibaratnya jika kita memang mampu memberikan 1 menit dari waktu yang kita miliki atau Rp. 100 dari uang yang kita miliki atau 1 meter persegi dari ruang yang ada atau 1 buku dari koleksi kita untuk pendidikan...... berikanlah dengan tulus .... BUKAN menggunakannya untuk mengecam, menyudutkan, dan bahkan mematikan pendidikan.
Can we make a difference, even only for one ? Yes, we can………… though we need more time and most importantly we need to involve our heart in making a single decision to change our attitude, ways of thinking and what we believe to see more positive changes happening all the way……
Dapatkah kita membuat perubahan/perbedaan, bahkan hanya satu hal kecil saja ? Ya, kita bisa..... walaupun untuk itu kita butuh waktu dan paling penting dibutuhkan hati yang tulus untuk mengambil suatu keputusan untuk mengubah sikap, cara berpikir dan apa yang saat ini kita yakini untuk melihat lebih banyak perubahan positif terjadi sepanjang perjalanan ........
Memperoleh pendidikan adalah hak setiap orang. Mendapatkan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan adalah permasalahan yang dihadapi semua orang, sehingga pemilihan institusi yang tepat menjadi kuncinya. Di sisi lain, institusi pendidikan menyadari kebutuhan tersebut dan dengan memadukan unsur pendidikan, bisnis, sosial dan aspek lain, muncullah berbagai kategori yang terkadang ada setelah berdirinya suatu lembaga, dan bukan sebaliknya.
Institusi pendidikan dikelompokkan berdasarkan:
1. Pengkategorian berdasarkan kurikulum dan fasilitas :
- Sekolah Internasional – kurikulum asing / IB
- Sekolah Nasional plus
- Sekolah Bertaraf Internasional
- Sekolah Nasional Bertaraf Internasional
- Sesuai kategori di atas (plus asrama)
2. Pengkategorian berdasarkan sumber dana dan pengelolaan :
- Sekolah Negeri
- Sekolah Swasta
- Sekolah berbasis agama
3. Pengkategorian berdasarkan kebutuhan khusus :
- Sekolah Umum (dan Kejuruan)
- Sekolah Luar Biasa
- Sekolah Khusus : Lambat belajar, autis, berbakat
- Home schooling
4. Pengkategorian berdasarkan kelompok usia
- Sekolah Bayi
- Playgroup
- TK, SD, SMP, SMA
Pengkategorian di atas membawa konsekuensi pentingnya sumber daya manusia pengelola dan pelaksana pendidikan yang memiliki dedikasi kuat untuk mengembangkan model yang memihak pada kebutuhan calon siswa. Pada kenyataannya, kompetisi institusi pendidikan lebih mengarah pada fasilitas yang ada (tetapi SDM yang belum berpengalaman, sehingga kurikulum yang baik tidak berjalan sesuai yang diharapkan), atau mengandalkan guru yang berpengalaman namun sistem/model pendidikan yang kurang mengakomodasi perkembangan teknologi yang ada, atau mengandalkan kurikulum asing dengan tenaga pengajar asing, fasilitas mewah dan kurikulum yang ’menggiurkan’, tetapi harus ditebus dengan harga yang melangit.
Memang kategori di atas memberikan pilihan bagi penguna (baca = orangtua dan siswa), namun tak kalah pentingnya adalah adanya berbagai upaya untuk memberikan nilai tambah agar institusi pendidikan tidak hanya mengedepankan janji mencetak lulusan berkualitas akademis dan berketrampilan/berkarakter istimewa, tetapi memungkinkan perkembangan dan pemantapan individual dari pengelola dan pelaksana pendidikan sendiri. Bagaimanapun juga perlu disadari bahwa tangan pengelola, pemikir dan pelaksana pendidikanlah yang menjadi tumpuan utama perubahan, apapun macam kategori institusi pendidikan yang ada. Mungkinkah ada pendidikan berkualitas yang diperoleh dari institusi pendidikan yang murah? Jika mungkin, mengapa tidak diupayakan ? Mungkinkah institusi pendidikan memiliki tenaga pendidikan yang tidak hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga mengajarkan kehidupan ?
Pendidikan yang menghasilkan generasi berkualitas tidak dipungkiri. Banyak lulusan yang dibekali begitu banyak ketrampilan dasar dan pelatihan yang disediakan untuk menunjang keberhasilan mereka di tingkat pendidikan yang lebih tinggi. Menjamurnya berbagai macam kursus dan pelatihan luar sekolah memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi seseorang untuk menimba lebih banyak dari yang didapatkannya di sekolah. Sementara siswa meraup banyak ketrampilan di luar sekolah, guru justru masih harus berjuang untuk mendapatkan tambahan penghasilan. Suatu situasi dilematis yang tak kunjung berakhir dan melegitimasi bahwa perkembangan pengetahuan guru tidak sebanding dengan pesat dan luasnya pengetahuan yang ada sehingga memang guru bukanlah yang paling tahu. Di sisi lain, kesadaran hal ini justru meninabobokan guru untuk berlindung dari keharusan mengembangkan diri di luar sekolah.... tidak ada waktu. Akibatnya pengembangan guru menjadi permasalahan tersendiri bahkan sangat sukar bagi manajemen pendidikan untuk memotivasi guru untuk bersedia meluangkan waktu demi upaya pengembangan diri.
Dilematis memang... tetapi ini kenyataannya. Belum lagi bila pemerintah memberlakukan sistem penilaian dan pengkategorian tertentu yang secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi perencanaan sekolah secara keseluruhan. Lalu kepada siapa institusi pendidikan berpihak ? Pemerintah ? Yayasan ? Manajemen sekolah ? Guru ? Orangtua ? Murid ? Masyarakat luas ? Semestinya memang keberpihakan tidak dipandang dari satu arah saja, melainkan suatu saling ketergantungan sehingga diharapkan semua pihak akan berkembang. Sayangnya proses perkembangan masih juga harus berhadapan dengan kebijakan yang berubah-ubah sehingga saat manajemen pendidikan belum tuntas menyelesaikan suatu permasalahan sudah dihadapkan pada permasalahan baru akibat perubahan kebijakan. Dan hal ini adalah proses pembelajaran lain pula yang menurunkan model sikap dan perilaku ’perencanaan jangka pendek’ dan bukan pemikiran jangka panjang yang mengedepankan upaya preventif.
Disamping menyorot pada problematika yang dihadapi oleh manajemen pendidikan, permasalahan yang berhubungan dengan anak didik (plus orangtua) di jaman sekarang sungguh memprihatinkan. Semestinya dengan kecanggihan penyusunan kurikulum diikuti dengan fasilitas yang lebih baik, permasalahan yang dialami siswa sepatutnya tidak mengkuatirkan.
Di era perkembangan teknologi dan kompetisi yang sedemikian pesat, berikut ini adalah permasalahan yang kerap muncul :
- Hurried Child Syndrome (HCS) – Sindroma ’Anak Karbitan’
- Addictions : Internet, game, drug, shopping, sms
- Free sex – premarital sex – teenage pregnancy
- Eating disorders
- ‘Electronic baby sitters’ – PS, Game boy, MP3, TV (plus DVD, VCD), PC games, dll
- Mental weakness : depresi, cemas, mudah menyerah/putus asa, bunuh diri
- Peer pressure : membentuk kelompok tanpa tujuan jelas (tidak produktif)
- Kompleksitas masalah keluarga yang mempengaruhi anak : perkawinan (kawin cerai, single parent), pengasuhan non-parental (baby sitter, kakek-nenek, asrama, child care), kedua orangtua bekerja (quality time, modelling, kontol kurang, pemenuhan materi berlebih)
- Masalah religiusitas
- Dan lain-lain
Dengan memandang hal-hal di atas, kualitas pendidikan akan sangat bergantung pada SDMnya, baik yang duduk pada tatanan pembuat kebijakan, pemberi dana, pengelola (manajemen) pendidikan, guru, orangtua, siswa dan masyarakat lain. Sangat disarankan bahwa solusi atas permasalahan pendidikan tidak hanya dibebankan pada pengelola pendidikan saja, tetapi menjadi tanggungjawab semua pihak, artinya sungguh dari setiap kita. Ibaratnya jika kita memang mampu memberikan 1 menit dari waktu yang kita miliki atau Rp. 100 dari uang yang kita miliki atau 1 meter persegi dari ruang yang ada atau 1 buku dari koleksi kita untuk pendidikan...... berikanlah dengan tulus .... BUKAN menggunakannya untuk mengecam, menyudutkan, dan bahkan mematikan pendidikan.
Can we make a difference, even only for one ? Yes, we can………… though we need more time and most importantly we need to involve our heart in making a single decision to change our attitude, ways of thinking and what we believe to see more positive changes happening all the way……
Dapatkah kita membuat perubahan/perbedaan, bahkan hanya satu hal kecil saja ? Ya, kita bisa..... walaupun untuk itu kita butuh waktu dan paling penting dibutuhkan hati yang tulus untuk mengambil suatu keputusan untuk mengubah sikap, cara berpikir dan apa yang saat ini kita yakini untuk melihat lebih banyak perubahan positif terjadi sepanjang perjalanan ........
Saturday, November 3, 2007
Antara Harga Diri dan Gosip - Gengsi, Malu Kalau Diputusin
Belajar Mengambil Keputusan
Keputusan dibuat supaya kita tidak menyesal di kemudian hari. Dalam pacaran, putus adalah proses remaja menerima konsekuensi dari keputusannya. Kalau memang tidak cocok setelah dikaji dari positif dan negatifnya hubungan tersebut, ya kenapa tidak putus. Masalah sakit hati memang harus kita pertimbangkan. Tapi, berani berkata tidak harus dilakukan kalau memang tidak mau. Namun, jangan serta-merta jadi sembarangan mengakhiri hubungan. Sebelum putus, ada baiknya minta pendapat orang lain. Apakah tindakan ini dilakukan karena egois. Semestinya, pasangan saling menghargai perasaan satu sama lain. (puz)
Sumber:
Deteksi Jawa Pos, Sabtu 3 November 2007
Keputusan dibuat supaya kita tidak menyesal di kemudian hari. Dalam pacaran, putus adalah proses remaja menerima konsekuensi dari keputusannya. Kalau memang tidak cocok setelah dikaji dari positif dan negatifnya hubungan tersebut, ya kenapa tidak putus. Masalah sakit hati memang harus kita pertimbangkan. Tapi, berani berkata tidak harus dilakukan kalau memang tidak mau. Namun, jangan serta-merta jadi sembarangan mengakhiri hubungan. Sebelum putus, ada baiknya minta pendapat orang lain. Apakah tindakan ini dilakukan karena egois. Semestinya, pasangan saling menghargai perasaan satu sama lain. (puz)
Sumber:
Deteksi Jawa Pos, Sabtu 3 November 2007
Tuesday, October 30, 2007
Terobsesi Langsing? Awal Gangguan Makan
Disadari atau tidak, gangguan makan seringkali diderita oleh wanita. Seperti apa sih gangguan makan yang kerap terjadi?
Wanita mana sih yang tidak ingin memiliki tubuh langsing? Pasti semua wanita menginginkannya. Buktinya, demi mendapatkan tubuh langsing, wanita rela menempuh berbagai cara, mulai yang wajar sampai tidak wajar. Cara wajar untuk mendapatkan tubuh langsing antara lain dengan mengatur pola makan dan olahraga secara rutin.
Sedang cara tidak wajar untuk mendapatkan tubuh langsing misalnya, dengan menahan lapar dan memuntahkan kembali makanan yang sudah dimakan. “Cara yang tidak wajar itu sama dengan eating disorder atau gangguan makan,” ujar Josephine M.J. Ratna, M. Psych.
Ditambahkan Cilinical and Health Psychologist RS Surabaya Internasional itu, ada beberapa jenis gangguan makan, yang mungkin terjadi akibat seseorang terobsesi untuk menjadi langsing. Gangguan makan itu adalah anorexia nervosa dan bulimia nervosa.
Kedua gangguan itu pada dasarnya mempunya tujuan sama, yaitu untuk menguruskan badan. “Gangguan itu biasanya muncul ketika seseorang memasuki usia puber. Jarang terjadi pada anak-anak. Kalaupun ada, mungkin hanya ‘bibitnya’ saja,” ujar Josephine.
Berbahaya
Gangguan makan seperti apa anorexia nervosa dan bulimia nervosa itu sebenarnya? Berikut penjelasan Josephine:
Anorexia Nervosa
Anorexia Nervosa atau biasa disebut anoreksia saja adalah gangguan makan untuk membuat badan kurus, dengan cara membatasi makanan secara sengaja dan mengontrolnya sangat ketat. ”Jadi, penderitanya benar-benar menghindari aktivitas makan,” tukas Josephine.
Padahal penderita anoreksia sebenarnya sadar bahwa mereka kelaparan. Tapi, karena takut berat badannya bertambah, mereka tetap memaksakan diri menahan rasa lapar tersebut.
Selain itu, persepsi terhadap rasa kenyang mengalami gangguan, sehingga ketika mereka mengkonsumsi makanan dalam porsi kecil pun mereka akan merasa sangat kenyang. Bahkan mual!
Dan, kebanyakan, ketika mereka terpaksa makan akibat terlalu lapar, mereka akan merasa sangat bersalah, walau yang dimakan hanya sedikit. Kalau sudah berlebih mereka bahkan memuntahkan kembali makanannya.
“Nah, daripada harus merasa bersalah, mereka lebih memilih untuk mati-matian berdiet demi memiliki tubuh yang kurus.
Tak heran bila tubuh penderita anoreksia rata-rata berat badannya 15 persen kurang dari berat badan normal. Meski sudah begitu kurus, mereka masih tetap merasa dirinya gemuk,” papar Josephine.
Tanda seseorang menderita anoreksia sendiri, menurut ibu dua anak itu, bisa diketahui secara khas. Yaitu, minimal tidak mengalami menstruasi selama tiga bulan. Hal itu terjadi karena dalam tubuhnya tidak ada nutrisi yang cukup, sehingga aktivitas hormon terganggu.
Yang lebih mengkhawatirkan, perilaku anoreksia ini bisa berdampak fatal, karena menahan laparnya dilakukan mati-matian, hingga lebih kea rah bunuh diri. “Tanpa makanan dengan gizi cukup, tentu tubuh dan organ-organ di dalamnya tidak akan mampu bekerja dengan baik,” tandas Josephine.
Bulimia
Kalau penderita anoreksia mati-matian menahan lapar dan berusaha untuk tidak makan atau hanya makan dua-tiga sendok nasi saja per hari, penderita bulimia lebih cenderung ke binge. Artinya, penderita bulimia makan dalam jumlah banyak atau berlebihan.
Apalagi bila itu makanan favoritnya, bisa-bisa sulit dihentikan. “Padahal, belum tentu mereka menikmati makannya. Mereka cuma ingin mengunyah saja, ngga lapar pun ingin binge,” jelas Josephine.
Namun, mereka makan berlbihan hanya untuk memuaskan keinginan. Sebab, makanan itu akan dkeluarkan kembali, hingga tak ada yang tersisa. Dalam persepsi mereka, dengan cara seperti itu mereka tetap kurus, tanpa perlu menahan keinginannya untuk makan.
Untuk mengeluarkan kembali makanan yang sudah masuk, para penderita bulimia bisa melakukan dengan beberapa cara. Misalnya, memuntahkan makanan yang sudah ditelannya dengan memasukkan jari tangan, sedotan, sikat gigi, dan sebagainya.
“Kalau nggak begitu ya dengan berpuasa selama dua puluh empat jam, tanpa makan dan minum, mengkonsumsi pil pelangsing dan obat laksatif atau diare,” ujarnya.
Selain itu, mereka juga melakukan olahraga secara berlebihan, melebihi batas normal orang biasa melakukannya. Disbanding penderita anoreksia, berat badan penderita bulimia biasanya normal atau sebelumnya memang obesitas.
Bahkan, kata Josephine, sebuah penelitian menyebutkan, 40 persen mereka yang obesitas adalah penganut gaya makan binge. Dan, cirri utama para penderita bulimia adalah memiliki kebiasaan binge dan muntah berkali-kali.
Seperti halnya anoreksia, bulimia juga bisa membahayakan penderita.
Tak Segera Diterapi, Bisa Infertil
Gangguan anoreksia atau bulimia harus segera diatasi agar tidak berdampak buruk. Bukan hanya secara fisik, tapi juga psikologik.
Secara fisik, penderita anoreksia atau bulimia bisa mengalami kurang gizi, mudah sakit, bahkan infertile! Sebab, “Nutrisi yang masuk ke dalam tubuh tidak mencukupi, sehingga hormon-hormon dalam tubuh tidak bisa bekerja dengan baik. Apalagi, bila penderita mengkonsumsi pil-pil yang tak jelas,” tandas Josephine.
Sedang secara psikologis, penderita gangguan makan bisa menjadi stress, menjadi prefeksionis dengan penampilannya, sering berbohong pada orang-orang di sekitar, dan sebagainya. “Bisa juga terkait antara fisik dan psikologis. Misalnya, kalau fisik sudah terlalu lemas, maka prestasi kerjanya bisa menurun drastic,” ujarnya.
Karena itu, bila tanda-tanda gangguan makan sudah muncul, Josephine mengingatkan agar segera dilakukan terapi dengan baik. Dengan begitu, waktu yang dibutuhkan untuk menyembuhkan tidak terlalu lama. Berikut terapi yang bisa dilakukan untuk mengatasi anoreksia atau bulimia:
· Terapi Nutrisi
Dilakukan untuk mengatur jadwal makan, memberikan penjelasan mengenai tujuan terapi nutrisi, pentingnya diet sehat dan akibat buruk dari pola makan yang salah terhadap kesehatan. Terapi ini bisa dilakukan oleh dokter.
· Konseling
Terapi ini untuk membantu pasien yang depresi, terganggu emosional, atau adanya faktor sosial sehingga mendorong terjadinya gangguan makan. Tujuannya agar pasien mengeluarkan perasaannya, unek-unek dan akan membantu penderita menghadapi perubahan hidup dan memperkuat rasa percaya diri.
· Psikoterapi
Biasanya ini dilakukan oleh psikolog, yakni dengan terapi kognitif. Di mana pasien diubah persepsi dan cara berpikirnya, dari persepsi yang salah mengenai tubuhnya sampai menjadi lebih obyektif, dan menghilangkan sikap dan rekasi yang salah terhadap makanan.
· Pengobatan
Untuk terapi obat, dokterlah yang berhak memberikannya. Penderita bisa diberi obat seperti antidepresan bersama dengan pngobatan psikoterapi.
· Dukungan
Karena pengaruh lingkungan sosial sangat besar, maka dukungan dan perhatian dari orang-orang di lingkungan sekitar akan sangat berharga bagi pasien. (bianda)
Sumber:
Tabloid Cantiq – edisi 14, II Oktober 2007.
Subscribe to:
Comments (Atom)
