Banyak hal yang harus dilakukan untuk membina dan menjaga keharmonisan rumah tangga. Di antaranya, saling memberikan perhatian dan menghargai. Bentuk perhatian pun bisa bermacam-macam. Kebiasaan yang dilakukan Manajer Australian Education Centre di Surabaya, Josephine M. J. Ratna, merupakan salah satu contoh kecil, namun cukup berarti.
Ibu dua orang anak, kelahiran Surabaya, 4 Januari 1968 ini tidak pernah lupa memberikan ucapan selamat kepada suami, setiap tanggal kelahiran, pernikahan dan tanggal pertama pacaran. "Jadi setiap bulan, minimal tiga kali kami memberikan ucapan selamat. Suami juga melakukan hal yang sama. Untuk tanggal perkawinan dan tanggal pertama pacaran, terkadang suami yang lebih dulu memberi ucapan selamat, terkadang saya. Meski tampak sepele, sangat bermakna bagi kami," tuturnya.
Selain memberi ucapan selamat, yang juga mendapat perhatian serius adalah pakaian dalam. Masters of Clinical and Health Psychology Curtin University of Technology, Western Australia ini tidak sembarangan dalam memilih pakaian dalam. Selain memperhatikan faktor kesehatan, juga masalah keindahannya. Ia tidak mau mengenakan pakaian dalam asal-asalan, demi suami.
"Kalau kita mengenakan pakaian dalam asal-asalan, menurut saya itu sama dengan tidak menghargai suami, sebab pakaian dalam hanya suami yang melihatnya. Begitu juga pakaian di rumah. Masak kita di hadapan orang lain mengenakan pakaian bagus, di hadapan suami mengenakan pakaian seenaknya. Bisa-bisa suami lebih suka memperhatikan orang lain," kata alumni Fakultas Psikologi Universitas Airlangga Surabaya ini.
Sumber:
Rubrik Tamu Kita - Harian Surya, Jumat 11 Januari 2002
Friday, January 11, 2002
Sunday, January 6, 2002
Seks Bukan Faktor Utama Selingkuh
Tidak dapat dihitung, berapa banyak rumah tangga berantakan melakukan perselingkuhan, tak peduli yang melakukan selingkuh itu salah satu pasangan mereka, atau kedua-duanya. Semua orang juga tahu, dampak buruk perselingkuhan bukan hanya dirasakan pasangan suami isteri, tapi juga anak-anak mereka. Bahkan tidak jarang sanak famili juga ikut menanggung malu.
Boleh dikatakan budaya dan norma-norma yang ada di masyarakat tidak membenarkan perselingkuhan dan menyebut perbuatan itu sebagai aib. Semua agama juga melarangnya. Meski demikian, perselingkuhan selalu terjadi dan tumbuh subur di masyarakat. Perselingkuhan juga selalu menarik untuk dibicarakan, apalagi kalau dilakukan oleh publik figur.
Belakangan ini, perselingkuhan kembali menjadi pembicaraan nasional, menyusul pengaduan Mamay ke Polda Metro Jaya. Suami artis Nicky Astrea itu menuduh istrinya telah berselingkuh dengan laki-laki lain. Terlepas benar atau tidaknya tuduhan itu, yang jelas perselingkuhan bisa terjadi dimana-mana. Persoalannya, mengapa perselingkuhan itu terjadi?
Menurut Director International John Robert Power Surabaya, Indayati Oetomo, perselingkuhan diawali dari rasa ketertarikan, sebagai akibat kebutuhan salah satu dari pasangan suami istri tidak terpenuhi oleh pasangannya. Untuk memenuhi kebutuhan itu, ia mencari atau menemukan kepada orang lain – lawan jenis tentunya.
“Dari keteratrikan itu, disadari atau tidak akan berkembang ke arah yang lain, yang puncaknya pada masalah seks. Jadi kebutuhan seks bukan pemicu atau faktor utama, tetapi hampir dipastikan selalu mengikuti. Jadi perselingkuhan itu manusiawi, hanya saja manusiawi yang negative,” tutur Indayati, ditemui di kantornya, Jumat (4/1) siang.
Menurut dia, umumnya kebutuhan yang tidak bisa dipenuhi suami atau istri adalah kebutuhan akan pengakuan atau dihargai. Ini kebutuhan sangat mendasar bagi setiap manusia, namun sering kali dilupakan oleh pasangan suami istri. Selain itu, banyak juga karena pasangan tidak bisa atau enggan diajak bicara persoalan, khususnya persoalan yang berkaitan dengan pekerjaan, apalagi memberikan solusi. Akibatnya, uneg-uneg itu ditumpahkan kepada orang lain. karena ada kecocokan, akhirnya berkembang ke hal-hal lain.
Hal yang sama diungkapkan psikolog Josephine M.J. Ratna. Ia sependapat bahwa kebutuhan seks bukan pemicu utama, tetapi selalu mengikuti dalam perselingkuhan. “Ada juga sih perselingkuhan dilakukan hanya karena untuk memenuhi kebutuhan seks, tetapi prosentasenya kecil,” kata psikolog yang dinas di RS Surabaya Internasional ini.
Sama halnya dengan Indayati Oetomo, Josephine juga berpendapat, awal perselingkuhan terjadi karena ada kebutuhan yang tidak terpenuhi oleh pasangan, dapat dipenuhi wanita atau laki-laki lain. Menurut dia, kebutuhan teman untuk membicarakan persoalan yang sedang dihadapi, terutama persoalan yang berkaitan dengan pekerjaan, paling dominan dan menjadi awal perselingkuhan.
“Merasa menemukan orang yang enak diajak bicara, mulai ketertarikan, mulai ada perhtian terhadap orang itu, dan frekunsi berkomunikasi, semakin sering. Topik pembicaraan pun berkembang, bukan hanya sebatas persoalan pekerjaan dan puncaknya pada hubungan seksual. Semua itu dilakukan secara sadar. Namun tanpa dia sadari, terjadi perubahan pada perilaku dan itu sulit dikembalikan meski perbuatan mereka diketahui istri atau suaminya,” kata psikolog yang menjabat Manager Australian Education Centre di Surabaya.
Sekalipun perselingkuhan bisa terjadi di setiap lapisan masyarakat, baik Indayati maupun Josephine tidak menyangkal bahwa kecenderungan berselingkuh lebih besar dilakukan oleh mereka yang secara ekonomi telah mapan. “Semakin tinggi tingkat ekonomi seseorang, kecenderungan berselingkuh semakin besar, karena mereka memiliki fasilitas penunjang dan kesempatan yang lebih besar. Bagaimanapun juga, perselingkuhan membutuhkan saran dan juga dana,” kata mereka.
Josephine memperingatkan, perselingkuhan bisa saja terjadi pada kehidupan rumah tangga yang adem ayem. “Biasanya hal ini dilakukan pasangan laki-laki, karena dia merasa tidak tega mengajak istri membicarakan masalah pekerjaan atau urusan-urusan di luar rumah. Dia merasa kasihan terhadap istri yang capek mengurus rumah dan anak-anak, masih harus dibebani dengan persoalan pekerjaan yang dihadapi suami. Suami memilih mencari wanita lain untuk teman bicara, dan akhirnya berkembang menjadi perselingkuhan,” kata Josephine. (lia)
Jadikan rumah seperti ‘Supermarket’
Baik Indayati Oetomo maupun Josephine M. J. Ratna sependapat bahwa perselingkuhan lebih didominasi kaum pria. Bahkan dalam tahun 2002 yang disebut-sebut sebagai kebangkitan wanita, perselingkuhan tetap masih akan didominasi kaum adam. Alasan mereka, selain faktor kesempatan, sanksi moral terhadap wanita berselingkuh jauh lebih berat dibandingkan sanksi yang dijatuhkan kepada kaum pria.
Bagaimana supaya perselingkuhan tidak ‘mengotori’ kehidupan rumah tangga? Indayati menyarankan agar wanita bisa menjadikan rumah sebagai ‘supermarket’ yang mampu memenuhi semua kebutuhan suami, jadikan rumah tangga sebagai surga, sehingga suami ingin selalu segera pulang dan betah di rumah.
“Memang tidak semudah yang diucapkan, harus ada kemauan dan kesungguhan. Selain itu juga harus ada keterbukaan. Dengan begitu bisa saling memahami keinginan pasangan,” katanya.
Selain itu, lanjutnya, wanita harus mau belajar untuk meningkatkan wawasan dan punya kepedulian terhadap persoalan-persoalan yang berkaitan dengan pekerjaan suami. Kalau toh tidak bisa memberikan solusi terhadap persoalan yang sedang dihadapi suami, paling tidak bisa memahami dan merasakan. Juga perlu menjaga penampilan agar suami tidak merasa bosan.
Josephine menambahkan, selain saling terbuka, saling memperhatikan dan menciptakan komunikasi yang baik, pasangan suami istri perlu membuat perubahan dan menciptakan sesuatu yang baru yang bisa dibina secara berkelanjutan. (lia)
Sumber:
Harian Surya, 6 Januari 2002
Thursday, August 23, 2001
Seks Saat Pacaran Sarat Problem
Soal seks kadang menjadi pelik dan rumit terutama bagi pasangan yang sedang berpacaran. Apalagi bila salah satu pihak merasa tak nyaman atau dirugikan akibat tuntutan seks tersebut. Malah hubungan kadang menjadi renggang bila antara keduanya tak terjalin komunikasi yang baik dalam menyelesaikan urusan seks.
Menurut Josephine M. J. Ratna M.Psych, orang yang berani pacaran punya konsekuensi harus berani berhadapan dengan lawan jenis.
"Karena lawan jenis bisa memberikan stimulus (rangsangan) yang sangat luar biasa. Bagaimana mencegahnya, ya tergantung bagaimana mengelola stimulan itu," ujar Josephine M. J. Ratna M.Psych, Rabu (22/8).
Dosen Fakultas Psikologi Universitas Katolik Widya Mandala ini mengatakan urusan seks dalam berpacaran di Indonesia masih terikat budaya timur. Namun demikian, tak jarang norma ini dilanggar, sehingga urusan seks dalam pacaran dianggap hal biasa. Bahkan sering urusan seks dikedepankan dalam berpacaran.
Namun demikian, pacaran yang hanya mengutamakan seks bisa sarat problem karena akan menyulitkan pasangan membuat keputusan, mau menuruti permintaan pacar atau tidak.
Celakanya, tak jarang seks dianggap sebagai wujud dari cinta. "Bila itu yang diminta namanya bukan lagi cinta, namun nafsu yang memanfaatkan kesempatan dan digunakan sebagai pengalaman yang dibungkus dengan kedok cinta. Karena itu harus berani menolak," papar Josephine.
Namun mereka yang terlanjur melakukan hubungan seks pada masa pacaran, katanya, tak perlu menyesali apa yang telah dilakukan. Karena mereka yang sudah berani pacaran sudah berorientasi jangka panjang.
"Kalau ada penyesalan setelah terjadinya hubungan seks hanya akan menunjukkan sikap picik dan tidak gentlemen. Semestinya bila tahu akibat dari hubungan seks, mereka tidak melakukan hal itu," urainya.
Ditambahkan, seseorang yang terjebak hubungan seks karena ada peluang melakukan. Misalnya suasana yang mendukung. Cara mengatasinya bisa dilakukan dengan komunikasi yang baik, mengalihkan pembicaraan yang menjurus persoalan seks atau melibatkan orang lain dalam pembicaraan. "Namun yang paling penting adalah iman dan kontrol diri," imbuh Josephine.
Sumber:
Harian Surya, Kamis 23 Agustus 2001
Menurut Josephine M. J. Ratna M.Psych, orang yang berani pacaran punya konsekuensi harus berani berhadapan dengan lawan jenis.
"Karena lawan jenis bisa memberikan stimulus (rangsangan) yang sangat luar biasa. Bagaimana mencegahnya, ya tergantung bagaimana mengelola stimulan itu," ujar Josephine M. J. Ratna M.Psych, Rabu (22/8).
Dosen Fakultas Psikologi Universitas Katolik Widya Mandala ini mengatakan urusan seks dalam berpacaran di Indonesia masih terikat budaya timur. Namun demikian, tak jarang norma ini dilanggar, sehingga urusan seks dalam pacaran dianggap hal biasa. Bahkan sering urusan seks dikedepankan dalam berpacaran.
Namun demikian, pacaran yang hanya mengutamakan seks bisa sarat problem karena akan menyulitkan pasangan membuat keputusan, mau menuruti permintaan pacar atau tidak.
Celakanya, tak jarang seks dianggap sebagai wujud dari cinta. "Bila itu yang diminta namanya bukan lagi cinta, namun nafsu yang memanfaatkan kesempatan dan digunakan sebagai pengalaman yang dibungkus dengan kedok cinta. Karena itu harus berani menolak," papar Josephine.
Namun mereka yang terlanjur melakukan hubungan seks pada masa pacaran, katanya, tak perlu menyesali apa yang telah dilakukan. Karena mereka yang sudah berani pacaran sudah berorientasi jangka panjang.
"Kalau ada penyesalan setelah terjadinya hubungan seks hanya akan menunjukkan sikap picik dan tidak gentlemen. Semestinya bila tahu akibat dari hubungan seks, mereka tidak melakukan hal itu," urainya.
Ditambahkan, seseorang yang terjebak hubungan seks karena ada peluang melakukan. Misalnya suasana yang mendukung. Cara mengatasinya bisa dilakukan dengan komunikasi yang baik, mengalihkan pembicaraan yang menjurus persoalan seks atau melibatkan orang lain dalam pembicaraan. "Namun yang paling penting adalah iman dan kontrol diri," imbuh Josephine.
Sumber:
Harian Surya, Kamis 23 Agustus 2001
Sunday, April 15, 2001
Mencurigai Mantan Pacar Istri
Harus Terbuka dan Percaya
Untuk menghindari agar tidak menimbulkan masalah di belakang hari, sebaiknya bila kita putus hubungan dengan pacar, harus ada komitmen. Berupa sikap bagaimana hubungan antara dua orang ini selanjutnya. "Apakah mereka akan menjadi teman, ataukah tidak usah berhubungan sama sekali," tutur Dra. Josephine M. J. Ratna, psikolog yang dosen di Fakultas Psikologi Unika Widya Mandala Surabaya ini.
Menurut Josephine, hidup manusia itu tidak hanya sekarang saja. Karena itu, bila kita putus hubungan dengan seseorang bukan tidak mungkin suatu saat kita akan bertemu lagi. Di sinilah pentingnya komitmen setelah putus itu harus kita lakukan.
Setelah kita putus dengan seseorang, lalu menjalin hubungan kembali dengan orang lain, ada baiknya kita terbuka dengan pasangan baru kita. "Keterbukaan itu tidak perlu terlalu mendetail, tapi cukup misalnya kita pernah dekat dengan si A, dan seterusnya," kata Josephine.
Kalau tidak cerita, bisa juga pada saat kita bertemu dengan mantan pacar, kita memperkenalkan dia pada pasangan kita bisa bermasalah. Tapi kalau pasangan tidak mempersalahkan, sebaiknya tidak usah menceritakan bagaimana hubungan kita dengan dia sebelumnya. Semua itu memang tergantung dari masing-masing pihak, dan sejauhmana keterbukaan dan kepercayaan masing-masing pasangan.
Sebenarnya mencurigai atau mencemburui mantan pacar suami atau istri itu tak perlu. Bila kita sudah memutuskan untuk menikah, semua masa lalu suami atau istri, itu adalah bagian dari masa lalu yang tidak perlu dipersoalkan.
Bila pasangan menyadari hal ini, maka curiga atau cemburu itu tidak perlu lagi. Menjalin hubungan sebagai teman dengan mantan pacar, boleh-boleh saja. Bahkan tidak jarang juga ada yang bisa menjalin hubungan bisnis dengan mantan pacar suami atau istri. Semuanya tergantung seberapa besar keterbukaan dan kepercayaan masing-masing pasangan. Selain itu, sejauh mana sikap pasangan itu terhadap mantan pacar suami atau istrinya. "Misalnya di hari-hari besar seperi Idul Fitri kita ingin mengirim kartu ucapan, mintalah izin suami atau istri, dan pakailah atas nama keluarga," kata Josephine.
Bila mantan pacar menelepon di kantor, sebaiknya juga cerita pada pasangan. Umumnya belum cerita, salah satu pasangan sudah khawatir atau takut dulu. Padahal tidak selalu demikian. Bila memang tidak ada apa-apa, tidak perlu takut. Bisa juga dengan cara lain, misalnya, meminta mantan pacar untuk menelepon di rumah, di saat suami ada, sekaligus sambil kenalan.
"Dengan begini hubungan pertemanan jadi lebih enak, karena tidak ada hubungan pribadi," ucapnya.
Dalam kesempatan ini Josephine kembali menekankan pentingnya keterbukaan dan juga kepercayaan antara pasangan untuk menyikapi hal ini. Dan bila masing-masing sudah memberikan kepercayaannya, jangan sampai kepercayaan itu disalahgunakan.
"Bagaimanapun semua orang punya masa lalu, tinggal bagaimana kita menyikapinya dengan arif, dan menjadikan masa lalu itu hanya sebagai bagian dari perjalanan hidup, bukan untuk mencari masalah baru," tutup Josephine M.J. Ratna.
Sumber:
Harian Surya, Minggu 15 April 2001
Untuk menghindari agar tidak menimbulkan masalah di belakang hari, sebaiknya bila kita putus hubungan dengan pacar, harus ada komitmen. Berupa sikap bagaimana hubungan antara dua orang ini selanjutnya. "Apakah mereka akan menjadi teman, ataukah tidak usah berhubungan sama sekali," tutur Dra. Josephine M. J. Ratna, psikolog yang dosen di Fakultas Psikologi Unika Widya Mandala Surabaya ini.
Menurut Josephine, hidup manusia itu tidak hanya sekarang saja. Karena itu, bila kita putus hubungan dengan seseorang bukan tidak mungkin suatu saat kita akan bertemu lagi. Di sinilah pentingnya komitmen setelah putus itu harus kita lakukan.
Setelah kita putus dengan seseorang, lalu menjalin hubungan kembali dengan orang lain, ada baiknya kita terbuka dengan pasangan baru kita. "Keterbukaan itu tidak perlu terlalu mendetail, tapi cukup misalnya kita pernah dekat dengan si A, dan seterusnya," kata Josephine.
Kalau tidak cerita, bisa juga pada saat kita bertemu dengan mantan pacar, kita memperkenalkan dia pada pasangan kita bisa bermasalah. Tapi kalau pasangan tidak mempersalahkan, sebaiknya tidak usah menceritakan bagaimana hubungan kita dengan dia sebelumnya. Semua itu memang tergantung dari masing-masing pihak, dan sejauhmana keterbukaan dan kepercayaan masing-masing pasangan.
Sebenarnya mencurigai atau mencemburui mantan pacar suami atau istri itu tak perlu. Bila kita sudah memutuskan untuk menikah, semua masa lalu suami atau istri, itu adalah bagian dari masa lalu yang tidak perlu dipersoalkan.
Bila pasangan menyadari hal ini, maka curiga atau cemburu itu tidak perlu lagi. Menjalin hubungan sebagai teman dengan mantan pacar, boleh-boleh saja. Bahkan tidak jarang juga ada yang bisa menjalin hubungan bisnis dengan mantan pacar suami atau istri. Semuanya tergantung seberapa besar keterbukaan dan kepercayaan masing-masing pasangan. Selain itu, sejauh mana sikap pasangan itu terhadap mantan pacar suami atau istrinya. "Misalnya di hari-hari besar seperi Idul Fitri kita ingin mengirim kartu ucapan, mintalah izin suami atau istri, dan pakailah atas nama keluarga," kata Josephine.
Bila mantan pacar menelepon di kantor, sebaiknya juga cerita pada pasangan. Umumnya belum cerita, salah satu pasangan sudah khawatir atau takut dulu. Padahal tidak selalu demikian. Bila memang tidak ada apa-apa, tidak perlu takut. Bisa juga dengan cara lain, misalnya, meminta mantan pacar untuk menelepon di rumah, di saat suami ada, sekaligus sambil kenalan.
"Dengan begini hubungan pertemanan jadi lebih enak, karena tidak ada hubungan pribadi," ucapnya.
Dalam kesempatan ini Josephine kembali menekankan pentingnya keterbukaan dan juga kepercayaan antara pasangan untuk menyikapi hal ini. Dan bila masing-masing sudah memberikan kepercayaannya, jangan sampai kepercayaan itu disalahgunakan.
"Bagaimanapun semua orang punya masa lalu, tinggal bagaimana kita menyikapinya dengan arif, dan menjadikan masa lalu itu hanya sebagai bagian dari perjalanan hidup, bukan untuk mencari masalah baru," tutup Josephine M.J. Ratna.
Sumber:
Harian Surya, Minggu 15 April 2001
Thursday, March 29, 2001
Ketika Cowok Lagi Mupeng
Tergantung Penilaian Masyarakat
Dari sudut pandang psikologi gender, sebenarnya hal tersebut terjadi karena peran sosial yang dilekatkan pada jenis kelamin tertentu, misalnya cowok. Masyarakat terlanjur memberi suatu peran khusus terhadap laki-laki. Mereka (laki-laki) dipandang memiliki peran yang lebih besar dalam banyak hal, termasuk dalam aktivitas seksual. Oleh karena itu, ketika laki-laki bertindak agresif, hal itu dianggap biasa dan masyarakat cenderung bisa menerima. Tapi lain halnya jika yang melakukan tersebut adalah wanita. Tindakan seperti ini akan dianggap aneh atau menyimpang. Makanya, permasalahan ini tidak bisa dilepaskan dari bagaimana masyarakat itu menilai dan memberi peran sosial pada satu golongan tertentu.
Sumber:
Deteksi Jawa Pos, Kamis 29 Maret 2001
Dari sudut pandang psikologi gender, sebenarnya hal tersebut terjadi karena peran sosial yang dilekatkan pada jenis kelamin tertentu, misalnya cowok. Masyarakat terlanjur memberi suatu peran khusus terhadap laki-laki. Mereka (laki-laki) dipandang memiliki peran yang lebih besar dalam banyak hal, termasuk dalam aktivitas seksual. Oleh karena itu, ketika laki-laki bertindak agresif, hal itu dianggap biasa dan masyarakat cenderung bisa menerima. Tapi lain halnya jika yang melakukan tersebut adalah wanita. Tindakan seperti ini akan dianggap aneh atau menyimpang. Makanya, permasalahan ini tidak bisa dilepaskan dari bagaimana masyarakat itu menilai dan memberi peran sosial pada satu golongan tertentu.
Sumber:
Deteksi Jawa Pos, Kamis 29 Maret 2001
Sunday, January 28, 2001
Menyakiti Anak, Tidak Bijaksana
Konsultasi Psikologi
Pertanyaan:
Kepada pengasuh konsultasi psikologi yang saya hormati. Saya ibu dari dua anak, anak pertama saya perempuan (2 tahun), kedua laki-laki (4 bulan). Saya tidak tahu kenapa sekarang saya jadi sedikit kurang sabar sama anak pertama saya. Sepertinya dia selalu menggoda dengan bertingkah laku yang selalu membuat saya marah dan akhirnya memukulnya, padahal menyesal setelah memukulnya.
Mungkin karena saya capek karena kerja mengurus rumah dan anak-anak sendirian, trus sorenya harus kerja lagi (gantian dengan suami waktu saya kerja). Sebenarnya tujuan saya ingin melatih dia untuk disiplin dan tahu mana yang seharusnya boleh dan tidak boleh dilakukan, pertanyaan saya adalah:
1. Apakah sikap saya terlalu berlebihan untuk usia anak saya (2 tahun)?
2. Apakah cara saya mengingatkan dia dengan memukulnya itu salah?
3. Bagaimana caranya supaya bisa mengontrol diri untuk sabar dan ngga ingin memukul?
Atas jawaban dan sarannya saya ucapkan terima kasih.
Hormat saya,
Ny. Andi, Surabaya
_________________
Jawaban:
Ibu Andi terkasih, mencermati permasalahan yang ibu alami, saya menganggap perilaku anak pertama ibu sesungguhnya merupakan suatu bentuk protes, diantaranya:
1. Kecemburuan atas kehadiran anak yang seringkali lebih menyita perhatian orangtua (khususnya ibu).
2. Merasa dibandingkan dengan adik.
3. Terhadap perubahan perilaku orangtua sendiri, artinya secara sadar dari hari ke hari si anak sesungguhnya mengamati perubahan perilaku orangtuanya sendiri. Seperti ibu sendiri juga menyatakan bahwa akhir-akhir ini ibu menjadi sering kurang sabar. Saya mengira bahwa perilaku anak (yang terkadang memicu kemarahan ibu) boleh jadi sebagai bentuk peniruan atas perilaku kita sendiri. Jangan lupa bahwa anak adalah makhluk peniru yang luar biasa terutama pada tahap perkembangan dimana ia belum memiliki nilai pribadi yang menjadi panutannya, sehingga ia lebih banyak meniru dari lingkungan terdekatnya. Bila orangtua sulit mengontrol emosi marah dan kemudian memukul anak, bukan tidak mungkin ia akan meniru perilaku memukul tersebut di kemudian hari, yang mungkin dilakukannya terhadap teman atau adiknya, ketika ia merasa marah.
4. Mencerminkan kebutuhan anak, artinya kemungkinan anak membutuhkan waktu dan perhatian yang lebih besar dari ibu, misalnya ia sesungguhnya ingin bermain dan ditemani, namun dengan usianya yang masih sangat belia, ia belum dapat mengekspresikan kebutuhannya ini, sehingga terkadang orangtua juga tidak dapat mengetahui maksud anak dengan jelas.
Pada anak usia 2-7 tahun, sikap dan perilaku anak biasanya lebih dilandaskan pada upaya untuk memperoleh hadiah dan tidak menerima hukuman. Pada usia ini, anak belum dapat membedakan mana yang benar dan tidak benar menurut orang lain. Ukuran masih didasarkan pada penilaian dirinya sendiri. Jadi agak kurang tepat bila perilaku anak diukur berdasarkan perilaku orangtuanya (yang sudah berada pada tahap perkembangan yang jauh lebih tinggi).
Memukul anak, menurut saya, kurang bijaksana, karena masih banyak cara lain yang dapat dilakukan agar tidak menimbulkan permasalahan baru. Apabila ibu merasa sedang tidak mampu mengontrol diri, maka sebaiknya ibu 'keluar' dari situasi ini dan membiarkan orang lain (misalnya suami) untuk membantu menangani anak. Bila tidak ada orang lain, cobalah untuk menarik nafas panjang dahulu dan minum segelas air untuk menenangkan diri dan kemudian kembali berusaha merespon dengan tenang.
Ajari sang kakak untuk duduk dan berhadapan sama tinggi, sehingga ibu dapat menatap matanya (jangan sekali-kali memarahi anak dengan berteriak dan berdiri karena anak hanya mendengar suara keras dan tidak mampu menangkap pesan sesungguhnya), kemudian peluklah ia dan katakan: "Ibu mencintaimu" dan tidak ingin menyakiti dia. Lalu perlahan dan lembut katakan apa yang ibu harapkan dari dia disertai janji bila anak dapat memenuhinya, maka ibu akan meluangkan waktu lebih banyak bersamanya.
Mengingat usia 2-5 tahun anak masih sangat membutuhkan pendampingan secara fisik (berada berdekatan dan bersentuhan) khususnya untuk memberikan rasa aman ("bahwa ada ibu di samping saya yang akan melindungi saya"), maka hendaknya kebutuhan akan rasa aman ini dapat diberikan oleh orangtua dengan merencanakan lebih baik lagi akan waktu kerja dan orang lain yang dapat dimintai bantuan untuk menggantikan ibu apabila ibu berhalangan.
Selamat mencoba dan semoga ibu semakin dapat menikmati peran ini dengan mengamati pertumbuhan dan perkembangan anak-anak tercinta setiap hari dengan segala keunikannya. Saya yakin dengan kesabaran yang lebih besar, disertai rasa syukur, segala permasalahan dapat dijalani dan diselesaikan.
Sumber:
Harian Surya, Minggu 28 Januari 2001
Pertanyaan:
Kepada pengasuh konsultasi psikologi yang saya hormati. Saya ibu dari dua anak, anak pertama saya perempuan (2 tahun), kedua laki-laki (4 bulan). Saya tidak tahu kenapa sekarang saya jadi sedikit kurang sabar sama anak pertama saya. Sepertinya dia selalu menggoda dengan bertingkah laku yang selalu membuat saya marah dan akhirnya memukulnya, padahal menyesal setelah memukulnya.
Mungkin karena saya capek karena kerja mengurus rumah dan anak-anak sendirian, trus sorenya harus kerja lagi (gantian dengan suami waktu saya kerja). Sebenarnya tujuan saya ingin melatih dia untuk disiplin dan tahu mana yang seharusnya boleh dan tidak boleh dilakukan, pertanyaan saya adalah:
1. Apakah sikap saya terlalu berlebihan untuk usia anak saya (2 tahun)?
2. Apakah cara saya mengingatkan dia dengan memukulnya itu salah?
3. Bagaimana caranya supaya bisa mengontrol diri untuk sabar dan ngga ingin memukul?
Atas jawaban dan sarannya saya ucapkan terima kasih.
Hormat saya,
Ny. Andi, Surabaya
_________________
Jawaban:
Ibu Andi terkasih, mencermati permasalahan yang ibu alami, saya menganggap perilaku anak pertama ibu sesungguhnya merupakan suatu bentuk protes, diantaranya:
1. Kecemburuan atas kehadiran anak yang seringkali lebih menyita perhatian orangtua (khususnya ibu).
2. Merasa dibandingkan dengan adik.
3. Terhadap perubahan perilaku orangtua sendiri, artinya secara sadar dari hari ke hari si anak sesungguhnya mengamati perubahan perilaku orangtuanya sendiri. Seperti ibu sendiri juga menyatakan bahwa akhir-akhir ini ibu menjadi sering kurang sabar. Saya mengira bahwa perilaku anak (yang terkadang memicu kemarahan ibu) boleh jadi sebagai bentuk peniruan atas perilaku kita sendiri. Jangan lupa bahwa anak adalah makhluk peniru yang luar biasa terutama pada tahap perkembangan dimana ia belum memiliki nilai pribadi yang menjadi panutannya, sehingga ia lebih banyak meniru dari lingkungan terdekatnya. Bila orangtua sulit mengontrol emosi marah dan kemudian memukul anak, bukan tidak mungkin ia akan meniru perilaku memukul tersebut di kemudian hari, yang mungkin dilakukannya terhadap teman atau adiknya, ketika ia merasa marah.
4. Mencerminkan kebutuhan anak, artinya kemungkinan anak membutuhkan waktu dan perhatian yang lebih besar dari ibu, misalnya ia sesungguhnya ingin bermain dan ditemani, namun dengan usianya yang masih sangat belia, ia belum dapat mengekspresikan kebutuhannya ini, sehingga terkadang orangtua juga tidak dapat mengetahui maksud anak dengan jelas.
Pada anak usia 2-7 tahun, sikap dan perilaku anak biasanya lebih dilandaskan pada upaya untuk memperoleh hadiah dan tidak menerima hukuman. Pada usia ini, anak belum dapat membedakan mana yang benar dan tidak benar menurut orang lain. Ukuran masih didasarkan pada penilaian dirinya sendiri. Jadi agak kurang tepat bila perilaku anak diukur berdasarkan perilaku orangtuanya (yang sudah berada pada tahap perkembangan yang jauh lebih tinggi).
Memukul anak, menurut saya, kurang bijaksana, karena masih banyak cara lain yang dapat dilakukan agar tidak menimbulkan permasalahan baru. Apabila ibu merasa sedang tidak mampu mengontrol diri, maka sebaiknya ibu 'keluar' dari situasi ini dan membiarkan orang lain (misalnya suami) untuk membantu menangani anak. Bila tidak ada orang lain, cobalah untuk menarik nafas panjang dahulu dan minum segelas air untuk menenangkan diri dan kemudian kembali berusaha merespon dengan tenang.
Ajari sang kakak untuk duduk dan berhadapan sama tinggi, sehingga ibu dapat menatap matanya (jangan sekali-kali memarahi anak dengan berteriak dan berdiri karena anak hanya mendengar suara keras dan tidak mampu menangkap pesan sesungguhnya), kemudian peluklah ia dan katakan: "Ibu mencintaimu" dan tidak ingin menyakiti dia. Lalu perlahan dan lembut katakan apa yang ibu harapkan dari dia disertai janji bila anak dapat memenuhinya, maka ibu akan meluangkan waktu lebih banyak bersamanya.
Mengingat usia 2-5 tahun anak masih sangat membutuhkan pendampingan secara fisik (berada berdekatan dan bersentuhan) khususnya untuk memberikan rasa aman ("bahwa ada ibu di samping saya yang akan melindungi saya"), maka hendaknya kebutuhan akan rasa aman ini dapat diberikan oleh orangtua dengan merencanakan lebih baik lagi akan waktu kerja dan orang lain yang dapat dimintai bantuan untuk menggantikan ibu apabila ibu berhalangan.
Selamat mencoba dan semoga ibu semakin dapat menikmati peran ini dengan mengamati pertumbuhan dan perkembangan anak-anak tercinta setiap hari dengan segala keunikannya. Saya yakin dengan kesabaran yang lebih besar, disertai rasa syukur, segala permasalahan dapat dijalani dan diselesaikan.
Sumber:
Harian Surya, Minggu 28 Januari 2001
Labels:
Harian Surya,
konsultasi psikologi,
pengasuhan
Tuesday, January 9, 2001
Masa Generativity
Sebagai anak muda, munculnya bayangan tentang malam pertama itu wajar. Mereka sedang mengalami perkembangan sebagai seorang manusia. Pada suatu saat, akan memasuki masa generativity, yaitu masa mencari pasangan hidup. Munculnya gambaran itu bisa dipicu oleh hal-hal seperti percakapan dengan sesamanya, setelah menonton suatu film, atau saat membicarakan masa depan. Umumnya, malam pertama yang ada dalam benak mereka bergantung pada harapan mereka sendiri. Apa yang ada dalam pikiran cowok dan cewek tentu berbeda. Cowok cenderung melihat keadaan diri mereka, sedangkan cewek lebih ke arah pasangannya. Jadi sebaiknya, tiap individu mencari gambaran tentang malam pertama mereka sendiri, agar kelak sesuai dengan yang diharapkan.
Sumber:
Deteksi Jawa Pos, 9 Januari 2002
Sumber:
Deteksi Jawa Pos, 9 Januari 2002
Subscribe to:
Comments (Atom)
