Be Careful Philih the Victim
Nge-trick saath Eifril Fool is hak everybody. But, be careful philih the victim. Better kitcha philih friends yiang seumuruyan, jyangan philih other people yiang age-nya lebhih tcua. Because, friends lebhih bhisa understanding maksyud kitcha. Kalau kitcha nge-trick other people djengan age lebhih tcua, ditcakutkhan tcimbul miss communication you know. Kelhanjutcanya, kitcha dicap not polite. Tcidak shophan. If kitcha lihath djari cici fositif, actually Eifril Fool is the day for us for beladjayar about tolerance. because, dhalam mencalanhi life, sometimes humor is needed. Believe or not, Eifril Fool also bisa membyuat dua persons yang shedang bertcengkar become friends. Finally, kalauw kitcha nge-trick other people, jhangan mhemaksa merekha untchuk maklum. If the victim marhah, kitcha harhus tcerima. (kiy/dat)
Sumber:
Deteksi Jawa Pos, Selasa 1 April 2008
Tuesday, April 1, 2008
Sunday, March 30, 2008
Mengatasi Konflik di Tempat Kerja
Setiap orang yang bekerja pasti penuh mengalami konflik di tempat kerja. Bagaimana cara tepat mengatasinya?
Tempat kerja adalah salah satu tempat bertemunya orang dengan beragam karakter dan keinginan. Perbedaan karakter ataupun keinginan dari masing-masing pekerjaannya, bukan tidak mungkin akan menimbulkan gesekan yang berujung pada terjadinya konflik.
Memang, bukan hanya di tempat kerja, di lingkungan lain pun, di mana banyak orang berkumpul, akan berisiko memunculkan konflik. Demikian yang diungkapkan Josephine M.J. Ratna, M. Psych., Cilinical and Health Psychologist dari RS Surabaya Internasional.
Namun, di tempat kerja, kata Josephine, konflik pun bisa muncul dalam tipe relasi apa pun. “Bisa berupa konflik vertical antara bawahan dengan atasan, bisa juga konflik horizontal antarsesama pekerja yang posisinya sama,” ujarnya.
Ada Perbedaan
Menurut Josephine, secara umum penybab terjadinya konflik di tempat kerja adalah karena perbedaan yang dipicu oleh masalah komunikasi. Perbedaan tersebut meliputi:
· Persepsi
Hampir tiap orang memiliki persepsi sendiri atas suatu hal yang sedang dihadapi ataupun didengar. Tanpa komunikasi yang jelas, perbedaan persepsi bisa menimbulkan konflik.
Misalnya, seorang general manager (GM) meminta manager-nya untuk mengambil barang di kantor pos. dalam persepsi si GM, manager-nya akan punya kesempatan berkenalan dengan direktur kantor pos.
Sementara dalam persepsi manager, bisa saja ia merasa diremehkan karena disuruh melakukan pekerjaan yang bisa dilakukan level office boy.
Akhirnya si manager berpikir kalau itu sikap yang merendahkannya. Itu berarti persepsi mereka tidak bertemu. Maka, terjadilah konflik!” tandasnya.
· Perlakuan
Adanya perbedaan perlakuan dari atasan pada dua orang bawahan atau lebih pada level yang sama bisa menyebabkan konflik. Misalnya, manager memfasilitasi supervisor dari divisi keuangan sesuai dengan anggaran yang diajukan.
Sementara, supervisor dari divisi produksi tidak dipenuhi fasilitasnya. Padahal, anggaran yang diajukan sama. “Hal yang tidak fair seperti itu sangat berpotensi menimbulkan konflik,” ungkap Josephine.
· Kepentingan
Setiap orang dalam sebuah organisasi tentu memiliki kepentingan masing-masing. Tak jarang kepentingan tiap individu berbeda. Sehingga, konflik bisa terjadi.
· Karakter
Karakter tiap orang yang berbeda juga bisa menimbulkan konflik. Misalnya, dalam sebuah team work, satu orang sangat memerhatikan detil, sementara orang yang lain tidak.
Atau satu orang memiliki kepribadian ekstrovert sementara yang lain introvert.
Tanpa komunikasi yang baik, pasti akan sering terjadi konflik, dalam hubungan kerja mereka,” imbuh Josephine.
Baik dan Buruk
Sekilas mendengar kata “konflik” yang terbayang pasti sesuatu yang buruk. Padahal tidak selalu demikian. “Bahkan, jika dalam sebuah organisasi tidak ada konflik, itu namanya stagnan. Makanya, ada perusahaan yang sengaja menciptakan konflik agar ada dinamika di dalamnya,” tukas Josephine.
Tapi memang, ada berbagai akibat yang bisa ditimbulkan. “Ada yang baik dan buruk, bergantung bagaimana kita mengarahkan penyelesaiannya,” ujarnya.
Bisa berakibat baik jika penyelesaian konflik dilakukan dengan komunikasi yang tepat. “Jadi, konflik dibicarakan bersama, ada proses saling mendengarkan. Apapun hasilnya, semua saling belajar untuk memahami satu sama lain,” ucapnya.
Dengan penyelesaian yang baik, tiap individu akan menjadi lebih berkembang karena jiwanya diperkaya dengan usaha memahami pandangan orang lain.
“Konflik itu menjadi sehat selama kita bisa menjadikannya sebagai pelengkap kekurangan dan sarana belajar,” katanya.
Sebaliknya, konflik bisa berakibat buruk, misalnya jika tak kunjung diselesaikan, sengaja dihindari atau dijauhkan. Tentu itu bisa terakumulasi dan suatu saat meledak ketika ada pemicunya.
“Kalau sudah meledak, kondisi bisa jadi sangat emosional dan irasional. Ujung-ujungnya merugikan diri sendiri lho!” imbuh Josephine.
Akibat buruk bisa juga terjadi jika memang tidak ada pihak yang belajar berkompromi.
“Memang wajar kalau naluri orang itu ingin menang, tapi kan juga harus memerhatikan kepentingan orang lain. Kalau ngotot tapi merugikan banyak orang kan juga tidak baik,” ungkapnya. (bianda)
Bergantung Individu dan Sistem
Dalam pandangan Josephine, konflik bisa diselesaikan, bisa juga tidak diselesaikan. “Semua sangat bergantung pada individu dan sistem yang berlaku di perusahaan,” katanya.
Bergantung ada individu, misalnya pada orang dengan tipe introvert dan ekstrovert. “Kalau orang introvert akan cenderung menghindari konflik atau membuat jarak dengan sumber konflik. Sementara orang ekstrovert psti akan lebih konfrontatif ketika mengalami konflik,” paparnya.
Sedangkan bergantung pada sistem perusahaan, maksudnya bahwa tiap perusahaan memiliki manajemen tersendiri dalam menghadapi konflik.
Dalam sebuah perusahaan yang baik, seharunya ada wadah tersendiri untuk menyelesaikan konflik. “Pada perusahaan- perusahaan besar biasanya sudah diciptakan sistem untuk mendengar suara hati karyawan,” tukas Josephine.
Misalnya, ketika seseorang berkonflik dengan rekan kerjanya, ia bisa meminta form dari supervisornya mengenai persoalan yang dihadapinya. Kemudian form tersebut diisi untuk diserahkan pada bagian HRD.
Atau, ada juga perusahaan yang memberikan tempat khusus penampungan curhat para karyawannya, dengan meletakkan boks di depan front office. Bisa juga dengan mnciptakan line atau layanan khusus curhat tentang masalah pekerjaan. “Apapun bentuknya, sehatusnya tiap perusahaan punya. Namun, jangan sekadar punya hanya untuk menjadi formalitas. Melainkan, juga untuk ditindaklanjuti,” kata Josephine.
Selain itu, ia juga mengingakan bahwa akar tejadinya konflik adalah komunikasi. Karenanya, jika komunikasi tidak berjalan lancar, tentu konflik yang terjadi akan semakin panas dan berlarut-larut. (bianda)
Munculkan Stres
Setiap kali terjadi konfik, sudah pasti akan memicu munculnya stress. Namun, stress jangan melulu diartikan sebagai sebuah tekanan yang menimbulkan efek negative. “Sebab, ada yang namanya eustress, dan ada yang namanya distress,” ungkapnya.
Eustress merupakan respon positif individu terhadap suatu stressor atau penyebab stress yang datang. Misalnya, ketika konflik karena perbedaan pendapat dengan atasan, seseorang justru termotivasi untuk memperuangkan pandangannya demi kepentingan orang banyak. “Itu malah baik,” kata Josephine.
Sedangkan, distress adalah kebalikannya. Sebab, merupakan respon negatif ketika individu dihadapkan pada stressor. Misalnya, karena mengalami konflik, seseorang malah jadi malasa, agresif dan hal-hal buruk lainnya. (bianda)
Sumber:
Tabloid Cantiq – edisi 36, III Maret 2008
Saturday, March 8, 2008
Nggak Kencan, Nggak Masalah
Banyak Opsi Pengganti
Penolakan kencan seharusnya memang tak mengganggu hubungan, karena esensi pacaran bukanlah kencan. Pacaran adalah proses mengenal seseorang. Dulu, pacaran diidentikkan dengan apel setiap malam minggu. Kini, terjadi pergeseran. Didukung kecanggihan teknologi, untuk menunjukkan perhatian dan berkomunikasi, itu bisa dilakukan lewat SMS, telepon, chat on-line, webcam dan lainnya. Jadi, ada opsi pengganti jadwal apel. Yang paling penting adalah konsep pacaran sehat dengan mementingkan kualitas, bukan kuantitas. Wujudnya, bisa tatap muka, komunikasi dan share idea. (hil/azz)
Sumber:
Deteksi Jawa Pos, Sabtu 8 Maret 2008
Penolakan kencan seharusnya memang tak mengganggu hubungan, karena esensi pacaran bukanlah kencan. Pacaran adalah proses mengenal seseorang. Dulu, pacaran diidentikkan dengan apel setiap malam minggu. Kini, terjadi pergeseran. Didukung kecanggihan teknologi, untuk menunjukkan perhatian dan berkomunikasi, itu bisa dilakukan lewat SMS, telepon, chat on-line, webcam dan lainnya. Jadi, ada opsi pengganti jadwal apel. Yang paling penting adalah konsep pacaran sehat dengan mementingkan kualitas, bukan kuantitas. Wujudnya, bisa tatap muka, komunikasi dan share idea. (hil/azz)
Sumber:
Deteksi Jawa Pos, Sabtu 8 Maret 2008
Sunday, February 10, 2008
Minta Boneka dong Yang
Bisa untuk Pengganti Pacar
Bagi seorang cewek, makna hadiah Valentine dari sang pacar bukan sekadar pemberian. Bahkan, tak jarang dijadikan pengganti kehadiran pacar. Maka, tak heran kalau cewek berusia remaja sekarang lebih ingin diberi boneka ketimbang bunga atau coklat. Format pemberian tersebut dianggap lebih long lasting dan bisa jadi sasaran ketika kangen dengan pacar. Bisa dipeluk atau sekadar dipandang. Pemilihan hadiah Valentine berupa boneka juga menunjukkan bahwa kini mulai terjadi pergeseran konsep romantisme di kalangan remaja. Itu menunjukkan bahwa dalam hal pacaran mereka ingin fun. Hadiah bunga mungkin dianggap terlalu serius. Kado cokelat barangkali terasa kurang personal. Yang pasti, pilih boneka sesuai selera si cewek. Itu akan membuat kado lebih spesial dan personal. Sesuai sifat cewek yang ingin dicintai dan diperlakukan spesial. (rum/kkn)
Sumber:
Deteksi Jawa Pos, Minggu 10 Februari 2008
Bagi seorang cewek, makna hadiah Valentine dari sang pacar bukan sekadar pemberian. Bahkan, tak jarang dijadikan pengganti kehadiran pacar. Maka, tak heran kalau cewek berusia remaja sekarang lebih ingin diberi boneka ketimbang bunga atau coklat. Format pemberian tersebut dianggap lebih long lasting dan bisa jadi sasaran ketika kangen dengan pacar. Bisa dipeluk atau sekadar dipandang. Pemilihan hadiah Valentine berupa boneka juga menunjukkan bahwa kini mulai terjadi pergeseran konsep romantisme di kalangan remaja. Itu menunjukkan bahwa dalam hal pacaran mereka ingin fun. Hadiah bunga mungkin dianggap terlalu serius. Kado cokelat barangkali terasa kurang personal. Yang pasti, pilih boneka sesuai selera si cewek. Itu akan membuat kado lebih spesial dan personal. Sesuai sifat cewek yang ingin dicintai dan diperlakukan spesial. (rum/kkn)
Sumber:
Deteksi Jawa Pos, Minggu 10 Februari 2008
Wednesday, January 9, 2008
Ada Gosip? Come to Mama
Sebagai Sarana Komunikasi
Bergosip sebenarnya punya konotasi negatif di mata masyarakat. Namun, bakal berbeda halnya kalau yang melakukan ibu dan anak. Kegiatan itu bisa berubah menjadi ajang mempererat komunikasi. Melalui bergosip, secara tidak langsung ibu juga dapat menyelami dunia si anak. Cara tersebut lebih luwes karena anak tidak akan merasa terintervensi dan tercampuri urusannya. Jika seorang anak berinisiatif bergosip dengan ibunya, itu tanda dia percaya pada ortu. Itu juga cara untuk mencoba bersikap terbuka. Syaratnya, topik yang dipilih harus benar. Agar, si anak dapat menyesuaikan diri dan tidak matang sebelum waktunya. (kiy)
Sumber:
Deteksi Jawa Pos, Rabu 9 Januari 2008
Bergosip sebenarnya punya konotasi negatif di mata masyarakat. Namun, bakal berbeda halnya kalau yang melakukan ibu dan anak. Kegiatan itu bisa berubah menjadi ajang mempererat komunikasi. Melalui bergosip, secara tidak langsung ibu juga dapat menyelami dunia si anak. Cara tersebut lebih luwes karena anak tidak akan merasa terintervensi dan tercampuri urusannya. Jika seorang anak berinisiatif bergosip dengan ibunya, itu tanda dia percaya pada ortu. Itu juga cara untuk mencoba bersikap terbuka. Syaratnya, topik yang dipilih harus benar. Agar, si anak dapat menyesuaikan diri dan tidak matang sebelum waktunya. (kiy)
Sumber:
Deteksi Jawa Pos, Rabu 9 Januari 2008
Friday, December 7, 2007
Take Home Midnight - Tonton TV Tengah Malam, Film Jadi Pilihan
Perhatikan Kondisi Tubuh
Bisa dimengerti bahwa remaja sekarang lebih suka nonton TV tengah malam. Tapi, ini pun punya dampak baik dan buruk. Di satu sisi, ini bisa menguntungkan karena anak bisa refreshing setelah belajar. Di sisi lain, ini juga membahayakan. Sebab, kalau terlalu sering dilakukan, siklus tubuh bisa terganggu. Akibatnya, fungsi berpikir berkurang, mudah mengantuk, dan sering bad mood saat beraktivitas di siang hari karena kurang istirahat. Anak juga bisa tersugesti. Dari yang sebelumnya melek di tengah malam untuk nonton TV, lama-lama akan merasa harus menonton TV di tengah malam agar bisa tidur. Ini yang tidak baik. Coba kontrol diri. Kalau sudah capek dan mengantuk, sebaiknya istirahat. (rum)
Sumber:
Deteksi Jawa Pos, Jumat 7 Desember 2007
Bisa dimengerti bahwa remaja sekarang lebih suka nonton TV tengah malam. Tapi, ini pun punya dampak baik dan buruk. Di satu sisi, ini bisa menguntungkan karena anak bisa refreshing setelah belajar. Di sisi lain, ini juga membahayakan. Sebab, kalau terlalu sering dilakukan, siklus tubuh bisa terganggu. Akibatnya, fungsi berpikir berkurang, mudah mengantuk, dan sering bad mood saat beraktivitas di siang hari karena kurang istirahat. Anak juga bisa tersugesti. Dari yang sebelumnya melek di tengah malam untuk nonton TV, lama-lama akan merasa harus menonton TV di tengah malam agar bisa tidur. Ini yang tidak baik. Coba kontrol diri. Kalau sudah capek dan mengantuk, sebaiknya istirahat. (rum)
Sumber:
Deteksi Jawa Pos, Jumat 7 Desember 2007
Tuesday, November 6, 2007
Problematika dan Solusi Kualitas Pendidikan
Oleh: Josephine M.J.Ratna, M.Psych
Memperoleh pendidikan adalah hak setiap orang. Mendapatkan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan adalah permasalahan yang dihadapi semua orang, sehingga pemilihan institusi yang tepat menjadi kuncinya. Di sisi lain, institusi pendidikan menyadari kebutuhan tersebut dan dengan memadukan unsur pendidikan, bisnis, sosial dan aspek lain, muncullah berbagai kategori yang terkadang ada setelah berdirinya suatu lembaga, dan bukan sebaliknya.
Institusi pendidikan dikelompokkan berdasarkan:
1. Pengkategorian berdasarkan kurikulum dan fasilitas :
- Sekolah Internasional – kurikulum asing / IB
- Sekolah Nasional plus
- Sekolah Bertaraf Internasional
- Sekolah Nasional Bertaraf Internasional
- Sesuai kategori di atas (plus asrama)
2. Pengkategorian berdasarkan sumber dana dan pengelolaan :
- Sekolah Negeri
- Sekolah Swasta
- Sekolah berbasis agama
3. Pengkategorian berdasarkan kebutuhan khusus :
- Sekolah Umum (dan Kejuruan)
- Sekolah Luar Biasa
- Sekolah Khusus : Lambat belajar, autis, berbakat
- Home schooling
4. Pengkategorian berdasarkan kelompok usia
- Sekolah Bayi
- Playgroup
- TK, SD, SMP, SMA
Pengkategorian di atas membawa konsekuensi pentingnya sumber daya manusia pengelola dan pelaksana pendidikan yang memiliki dedikasi kuat untuk mengembangkan model yang memihak pada kebutuhan calon siswa. Pada kenyataannya, kompetisi institusi pendidikan lebih mengarah pada fasilitas yang ada (tetapi SDM yang belum berpengalaman, sehingga kurikulum yang baik tidak berjalan sesuai yang diharapkan), atau mengandalkan guru yang berpengalaman namun sistem/model pendidikan yang kurang mengakomodasi perkembangan teknologi yang ada, atau mengandalkan kurikulum asing dengan tenaga pengajar asing, fasilitas mewah dan kurikulum yang ’menggiurkan’, tetapi harus ditebus dengan harga yang melangit.
Memang kategori di atas memberikan pilihan bagi penguna (baca = orangtua dan siswa), namun tak kalah pentingnya adalah adanya berbagai upaya untuk memberikan nilai tambah agar institusi pendidikan tidak hanya mengedepankan janji mencetak lulusan berkualitas akademis dan berketrampilan/berkarakter istimewa, tetapi memungkinkan perkembangan dan pemantapan individual dari pengelola dan pelaksana pendidikan sendiri. Bagaimanapun juga perlu disadari bahwa tangan pengelola, pemikir dan pelaksana pendidikanlah yang menjadi tumpuan utama perubahan, apapun macam kategori institusi pendidikan yang ada. Mungkinkah ada pendidikan berkualitas yang diperoleh dari institusi pendidikan yang murah? Jika mungkin, mengapa tidak diupayakan ? Mungkinkah institusi pendidikan memiliki tenaga pendidikan yang tidak hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga mengajarkan kehidupan ?
Pendidikan yang menghasilkan generasi berkualitas tidak dipungkiri. Banyak lulusan yang dibekali begitu banyak ketrampilan dasar dan pelatihan yang disediakan untuk menunjang keberhasilan mereka di tingkat pendidikan yang lebih tinggi. Menjamurnya berbagai macam kursus dan pelatihan luar sekolah memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi seseorang untuk menimba lebih banyak dari yang didapatkannya di sekolah. Sementara siswa meraup banyak ketrampilan di luar sekolah, guru justru masih harus berjuang untuk mendapatkan tambahan penghasilan. Suatu situasi dilematis yang tak kunjung berakhir dan melegitimasi bahwa perkembangan pengetahuan guru tidak sebanding dengan pesat dan luasnya pengetahuan yang ada sehingga memang guru bukanlah yang paling tahu. Di sisi lain, kesadaran hal ini justru meninabobokan guru untuk berlindung dari keharusan mengembangkan diri di luar sekolah.... tidak ada waktu. Akibatnya pengembangan guru menjadi permasalahan tersendiri bahkan sangat sukar bagi manajemen pendidikan untuk memotivasi guru untuk bersedia meluangkan waktu demi upaya pengembangan diri.
Dilematis memang... tetapi ini kenyataannya. Belum lagi bila pemerintah memberlakukan sistem penilaian dan pengkategorian tertentu yang secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi perencanaan sekolah secara keseluruhan. Lalu kepada siapa institusi pendidikan berpihak ? Pemerintah ? Yayasan ? Manajemen sekolah ? Guru ? Orangtua ? Murid ? Masyarakat luas ? Semestinya memang keberpihakan tidak dipandang dari satu arah saja, melainkan suatu saling ketergantungan sehingga diharapkan semua pihak akan berkembang. Sayangnya proses perkembangan masih juga harus berhadapan dengan kebijakan yang berubah-ubah sehingga saat manajemen pendidikan belum tuntas menyelesaikan suatu permasalahan sudah dihadapkan pada permasalahan baru akibat perubahan kebijakan. Dan hal ini adalah proses pembelajaran lain pula yang menurunkan model sikap dan perilaku ’perencanaan jangka pendek’ dan bukan pemikiran jangka panjang yang mengedepankan upaya preventif.
Disamping menyorot pada problematika yang dihadapi oleh manajemen pendidikan, permasalahan yang berhubungan dengan anak didik (plus orangtua) di jaman sekarang sungguh memprihatinkan. Semestinya dengan kecanggihan penyusunan kurikulum diikuti dengan fasilitas yang lebih baik, permasalahan yang dialami siswa sepatutnya tidak mengkuatirkan.
Di era perkembangan teknologi dan kompetisi yang sedemikian pesat, berikut ini adalah permasalahan yang kerap muncul :
- Hurried Child Syndrome (HCS) – Sindroma ’Anak Karbitan’
- Addictions : Internet, game, drug, shopping, sms
- Free sex – premarital sex – teenage pregnancy
- Eating disorders
- ‘Electronic baby sitters’ – PS, Game boy, MP3, TV (plus DVD, VCD), PC games, dll
- Mental weakness : depresi, cemas, mudah menyerah/putus asa, bunuh diri
- Peer pressure : membentuk kelompok tanpa tujuan jelas (tidak produktif)
- Kompleksitas masalah keluarga yang mempengaruhi anak : perkawinan (kawin cerai, single parent), pengasuhan non-parental (baby sitter, kakek-nenek, asrama, child care), kedua orangtua bekerja (quality time, modelling, kontol kurang, pemenuhan materi berlebih)
- Masalah religiusitas
- Dan lain-lain
Dengan memandang hal-hal di atas, kualitas pendidikan akan sangat bergantung pada SDMnya, baik yang duduk pada tatanan pembuat kebijakan, pemberi dana, pengelola (manajemen) pendidikan, guru, orangtua, siswa dan masyarakat lain. Sangat disarankan bahwa solusi atas permasalahan pendidikan tidak hanya dibebankan pada pengelola pendidikan saja, tetapi menjadi tanggungjawab semua pihak, artinya sungguh dari setiap kita. Ibaratnya jika kita memang mampu memberikan 1 menit dari waktu yang kita miliki atau Rp. 100 dari uang yang kita miliki atau 1 meter persegi dari ruang yang ada atau 1 buku dari koleksi kita untuk pendidikan...... berikanlah dengan tulus .... BUKAN menggunakannya untuk mengecam, menyudutkan, dan bahkan mematikan pendidikan.
Can we make a difference, even only for one ? Yes, we can………… though we need more time and most importantly we need to involve our heart in making a single decision to change our attitude, ways of thinking and what we believe to see more positive changes happening all the way……
Dapatkah kita membuat perubahan/perbedaan, bahkan hanya satu hal kecil saja ? Ya, kita bisa..... walaupun untuk itu kita butuh waktu dan paling penting dibutuhkan hati yang tulus untuk mengambil suatu keputusan untuk mengubah sikap, cara berpikir dan apa yang saat ini kita yakini untuk melihat lebih banyak perubahan positif terjadi sepanjang perjalanan ........
Memperoleh pendidikan adalah hak setiap orang. Mendapatkan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan adalah permasalahan yang dihadapi semua orang, sehingga pemilihan institusi yang tepat menjadi kuncinya. Di sisi lain, institusi pendidikan menyadari kebutuhan tersebut dan dengan memadukan unsur pendidikan, bisnis, sosial dan aspek lain, muncullah berbagai kategori yang terkadang ada setelah berdirinya suatu lembaga, dan bukan sebaliknya.
Institusi pendidikan dikelompokkan berdasarkan:
1. Pengkategorian berdasarkan kurikulum dan fasilitas :
- Sekolah Internasional – kurikulum asing / IB
- Sekolah Nasional plus
- Sekolah Bertaraf Internasional
- Sekolah Nasional Bertaraf Internasional
- Sesuai kategori di atas (plus asrama)
2. Pengkategorian berdasarkan sumber dana dan pengelolaan :
- Sekolah Negeri
- Sekolah Swasta
- Sekolah berbasis agama
3. Pengkategorian berdasarkan kebutuhan khusus :
- Sekolah Umum (dan Kejuruan)
- Sekolah Luar Biasa
- Sekolah Khusus : Lambat belajar, autis, berbakat
- Home schooling
4. Pengkategorian berdasarkan kelompok usia
- Sekolah Bayi
- Playgroup
- TK, SD, SMP, SMA
Pengkategorian di atas membawa konsekuensi pentingnya sumber daya manusia pengelola dan pelaksana pendidikan yang memiliki dedikasi kuat untuk mengembangkan model yang memihak pada kebutuhan calon siswa. Pada kenyataannya, kompetisi institusi pendidikan lebih mengarah pada fasilitas yang ada (tetapi SDM yang belum berpengalaman, sehingga kurikulum yang baik tidak berjalan sesuai yang diharapkan), atau mengandalkan guru yang berpengalaman namun sistem/model pendidikan yang kurang mengakomodasi perkembangan teknologi yang ada, atau mengandalkan kurikulum asing dengan tenaga pengajar asing, fasilitas mewah dan kurikulum yang ’menggiurkan’, tetapi harus ditebus dengan harga yang melangit.
Memang kategori di atas memberikan pilihan bagi penguna (baca = orangtua dan siswa), namun tak kalah pentingnya adalah adanya berbagai upaya untuk memberikan nilai tambah agar institusi pendidikan tidak hanya mengedepankan janji mencetak lulusan berkualitas akademis dan berketrampilan/berkarakter istimewa, tetapi memungkinkan perkembangan dan pemantapan individual dari pengelola dan pelaksana pendidikan sendiri. Bagaimanapun juga perlu disadari bahwa tangan pengelola, pemikir dan pelaksana pendidikanlah yang menjadi tumpuan utama perubahan, apapun macam kategori institusi pendidikan yang ada. Mungkinkah ada pendidikan berkualitas yang diperoleh dari institusi pendidikan yang murah? Jika mungkin, mengapa tidak diupayakan ? Mungkinkah institusi pendidikan memiliki tenaga pendidikan yang tidak hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga mengajarkan kehidupan ?
Pendidikan yang menghasilkan generasi berkualitas tidak dipungkiri. Banyak lulusan yang dibekali begitu banyak ketrampilan dasar dan pelatihan yang disediakan untuk menunjang keberhasilan mereka di tingkat pendidikan yang lebih tinggi. Menjamurnya berbagai macam kursus dan pelatihan luar sekolah memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi seseorang untuk menimba lebih banyak dari yang didapatkannya di sekolah. Sementara siswa meraup banyak ketrampilan di luar sekolah, guru justru masih harus berjuang untuk mendapatkan tambahan penghasilan. Suatu situasi dilematis yang tak kunjung berakhir dan melegitimasi bahwa perkembangan pengetahuan guru tidak sebanding dengan pesat dan luasnya pengetahuan yang ada sehingga memang guru bukanlah yang paling tahu. Di sisi lain, kesadaran hal ini justru meninabobokan guru untuk berlindung dari keharusan mengembangkan diri di luar sekolah.... tidak ada waktu. Akibatnya pengembangan guru menjadi permasalahan tersendiri bahkan sangat sukar bagi manajemen pendidikan untuk memotivasi guru untuk bersedia meluangkan waktu demi upaya pengembangan diri.
Dilematis memang... tetapi ini kenyataannya. Belum lagi bila pemerintah memberlakukan sistem penilaian dan pengkategorian tertentu yang secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi perencanaan sekolah secara keseluruhan. Lalu kepada siapa institusi pendidikan berpihak ? Pemerintah ? Yayasan ? Manajemen sekolah ? Guru ? Orangtua ? Murid ? Masyarakat luas ? Semestinya memang keberpihakan tidak dipandang dari satu arah saja, melainkan suatu saling ketergantungan sehingga diharapkan semua pihak akan berkembang. Sayangnya proses perkembangan masih juga harus berhadapan dengan kebijakan yang berubah-ubah sehingga saat manajemen pendidikan belum tuntas menyelesaikan suatu permasalahan sudah dihadapkan pada permasalahan baru akibat perubahan kebijakan. Dan hal ini adalah proses pembelajaran lain pula yang menurunkan model sikap dan perilaku ’perencanaan jangka pendek’ dan bukan pemikiran jangka panjang yang mengedepankan upaya preventif.
Disamping menyorot pada problematika yang dihadapi oleh manajemen pendidikan, permasalahan yang berhubungan dengan anak didik (plus orangtua) di jaman sekarang sungguh memprihatinkan. Semestinya dengan kecanggihan penyusunan kurikulum diikuti dengan fasilitas yang lebih baik, permasalahan yang dialami siswa sepatutnya tidak mengkuatirkan.
Di era perkembangan teknologi dan kompetisi yang sedemikian pesat, berikut ini adalah permasalahan yang kerap muncul :
- Hurried Child Syndrome (HCS) – Sindroma ’Anak Karbitan’
- Addictions : Internet, game, drug, shopping, sms
- Free sex – premarital sex – teenage pregnancy
- Eating disorders
- ‘Electronic baby sitters’ – PS, Game boy, MP3, TV (plus DVD, VCD), PC games, dll
- Mental weakness : depresi, cemas, mudah menyerah/putus asa, bunuh diri
- Peer pressure : membentuk kelompok tanpa tujuan jelas (tidak produktif)
- Kompleksitas masalah keluarga yang mempengaruhi anak : perkawinan (kawin cerai, single parent), pengasuhan non-parental (baby sitter, kakek-nenek, asrama, child care), kedua orangtua bekerja (quality time, modelling, kontol kurang, pemenuhan materi berlebih)
- Masalah religiusitas
- Dan lain-lain
Dengan memandang hal-hal di atas, kualitas pendidikan akan sangat bergantung pada SDMnya, baik yang duduk pada tatanan pembuat kebijakan, pemberi dana, pengelola (manajemen) pendidikan, guru, orangtua, siswa dan masyarakat lain. Sangat disarankan bahwa solusi atas permasalahan pendidikan tidak hanya dibebankan pada pengelola pendidikan saja, tetapi menjadi tanggungjawab semua pihak, artinya sungguh dari setiap kita. Ibaratnya jika kita memang mampu memberikan 1 menit dari waktu yang kita miliki atau Rp. 100 dari uang yang kita miliki atau 1 meter persegi dari ruang yang ada atau 1 buku dari koleksi kita untuk pendidikan...... berikanlah dengan tulus .... BUKAN menggunakannya untuk mengecam, menyudutkan, dan bahkan mematikan pendidikan.
Can we make a difference, even only for one ? Yes, we can………… though we need more time and most importantly we need to involve our heart in making a single decision to change our attitude, ways of thinking and what we believe to see more positive changes happening all the way……
Dapatkah kita membuat perubahan/perbedaan, bahkan hanya satu hal kecil saja ? Ya, kita bisa..... walaupun untuk itu kita butuh waktu dan paling penting dibutuhkan hati yang tulus untuk mengambil suatu keputusan untuk mengubah sikap, cara berpikir dan apa yang saat ini kita yakini untuk melihat lebih banyak perubahan positif terjadi sepanjang perjalanan ........
Subscribe to:
Comments (Atom)
