Oleh: Josephine M.J.Ratna, M.Psych
PEMBELAJARAN TK
Early education – pendidikan usia dini tidak lagi dimulai saat anak berusia 4 tahun, tetapi sudah lebih awal bahkan saat anak masih berusia kurang dari 1 tahun. Berbagai upaya dilakukan untuk memanfaatkan ‘golden age’ dengan harapan anak mendapatkan pendampingan dan kesempatan terbesar untuk mengoptimalisasi perkembangan otaknya. Hal ini menyebabkan banyak anak yang telah ‘disekolahkan’ sejak muda usia (mulai dari Baby school, Toddler time, Playgroup) tidak lagi merasa gamang saat berada di Taman Kanak Kanak (TK). Di mata orangtua, menyekolahkan anak sedini mungkin merupakan kebutuhan dan tidak lagi sekedar pilihan, terlebih dengan kondisi kedua orangtua bekerja sehingga peran pendampingan anak beralih ke sekolah.
Dengan latar belakang perkembangan di atas, TK tidak lagi menjadi awal perkenalan anak pada sistem sosial di luar rumah, melainkan suatu sistem pembelajaran yang harusnya sudah ‘serius’ dan bukan sekedar ‘taman belajar’ dengan mengedepankan banyak tujuan yang harus dicapai baik oleh anak sendiri, maupun tuntutan yang ditujukan pada sekolah, guru dan orangtua sendiri.
Di sisi lain, berkembangnya tuntutan kebutuhan pembelajaran TK merangsang banyak pihak pemerhati pendidikan dan ahli pendidikan mengembangkan berbagai model pembelajaran yang akhirnya menjadikan memang murid TK sebagai eksperimen (dalam arti positif). Kita lihat bahwa pengenalan tentang computer, bahasa Mandarin, bahasa Inggris, sempoa, sudah diterapkan di banyak TK, bahkan sudah dimulai di tingkat pendidikan yang lebih rendah. Tuntutan agar anak diusia belianya mampu menyerap sebanyak mungkin materi dengan tetap mempertahankan ’kesehatan psikologisnya’ , berkembanglah berbagai metode pembelajaran misalnya untuk matematika ada metode jarimatika, I-math, Kumon, Sakamoto ; untuk science ada I-science, fun science ; untuk computer ada berbagai modul pembelajaran yang sudah dikemas dalam bentuk VCD/DVD dan lain sebagainya
LANDASAN TEORITIK
Bagaimanapun tuntutan pembelajaran yang ada, tetaplah perlu memperhatikan pendapat para pakar yang berkaitan dengan pendidikan usia dini :
Maria Montessori – Montessori Education
Menekankan pentingnya anak mampu meresapi lingkungan pembelajarannya sehingga sangat pentinglah adanya fasilitas dan peralatan yang sesuai untuk mendukung pembelajaran anak. Kebutuhan anak belajar adalah unik dan keunikan belajar inilah yang harus menjadi tolok ukur suatu metode yang hendak diterapkan. Montessori menekankan pentingnya berpusat pada anak dan mengajarkan anak untuk misalnya menggunakan alat atau mainan yang ada dalam menjelaskan konsep tertentu. ”Children shouldn’t just play.... but play with toys will teach them concept”
Kritik terhadap Montessori adalah karena kurang menekankan pada perkembangan bahasa dan sosial, kreativitas, musik dan seni.
Rudolf Steiner – Waldorf Education
Juga menekankan pentingnya memusatkan perhatian pada kebutuhan anak dalam kita mengajarkan sesuatu. Pada model Waldorf ini, kreativitas anak ditumbuhkan sehingga ia mampu menggunakan apa yang ada disekelilingnya sebagai sarana belajar dan bukan pasif menunggu. Anak didorong untuk menciptakan sendiri alat belajarnya dari apa yang ada di sekitarnya. ”Children have to create their own toys from the materials which happen to be at hand”
John Dewey
Dewey menekankan bahwa sekolah adalah tempat anak untuk berkembang secara progresif, sehingga muncullah kurikulum Child-centered. Dengan berfokus pada anak dan melalui program aktivitas fisik, dapat diketahui minat anak. Dewey berpendapat bahwa pendidikan adalah proses kehidupan dan bukan sekedar persiapan untuk kebutuhan masa mendatang, namun adalah pengembangan peminatan anak melalui suatu proses.
Jean Piaget
Piaget menekankan bahwa ada 3 cara anak mengetahui sesuatu yaitu melalui interaksi sosial, interaksi dengan lingkungan dan pengetahuan fisik serta belajar tentang logika matematika melalui konstruksi mental. Perkembangan proses berpikir dan intelektualitas anak dapat dengan metode bermain sambil belajar
Howard Gardner
Menekankan pentingnya memahami bahwa tiap anak memiliki kecerdasan majemuk dan hendaknya proses pengajaran mampu mengembangkan kecerdasan majemuk anak sampai anak menemukan sendiri kecerdasan dominan yang ia miliki.
Ada 8 macam kecerdasan dan pada implementasinya dapat dilakukan dengan kreatif.
Dari beberapa masukan para ahli di atas, maka kreativitas dan inovasi pembelajaran terletak di tangan guru dan orangtua sebelum sang anak sendiri nantinya yang mampu menjadi kreatif dan memiliki metode pembelajaran sendiri.
David Werkart
Metode pengajarannya menggunakan prinsip-prinsip memberikan lingkungan yang nyaman, memberikan dukungan terhadap tingkah laku dan bahasa anak, membantu anak dalam menentukan pilihan dan keputusan, serta membantu anak dalam menyelesaikan masalahnya sendiri dengan melakukannya sendiri. Metode ini yang diterapkan di High Scope education.
TUNTUTAN PENDIDIKAN vs KENIKMATAN BELAJAR
Penerapan kurikulum TK belum seketat kurikulum di tingkat pendidikan dasar dan menengah. Masih banyak ruang yang dapat digunakan untuk mewujudkan pendidikan usia dini yang berkualitas. Namun perlu diterapkan pula suatu kurikulum dan metode pembelajaran yang seimbang bagi anak sehingga anak tidak terbeban yang terpenting adalah mencegah terjadinya hambatan pembelajaran di tingkat yang lebih tinggi.
Anak yang mengalami trauma karena tuntutan yang tinggi serta penerapan disiplin yang melewati batas toleransi anak (dan orangtuanya....), dapat mengalami kesulitan belajar dan keenganan bahkan ketakutan untuk masuk sekolah. Jika hal ini terjadi maka akan percumalah suatu upaya pembelajaran yang sudah diterapkan di TK karena tidak memberikan ’kenikmatan belajar’ dan ’ketagihan belajar yang menyenangkan’.
Diperkirakan masih banyak pelaksanaan pembelajaran yang lebih mengedepankan untuk menjejali anak dengan berbagai ilmu dan ketrampilan tetapi mengurangi porsi kenikmatan belajar sesuai usia perkembangannya di segala aspek. Anak menjadi distres dan sekolah bukan lagi menjadi tempat yang menggairahkan. Sayang sekali bila hal ini terjadi justru di awal dari usia sekolah anak. Kondisi ini semakin diperparah bila orangtua dan guru (terutama guru muda yang masih belum berpengalaman dalam mengasuh dan mendidik anak) mengatasi permasalahan ini dengan pendekatan yang keliru, misalnya orangtua membujuk anak untuk sekolah dengan membelikan berbagai macam permainan yang justru akhirnya membuat anak menjadi lebih tertarik untuk main di rumah ketimbang pergi ke sekolah.
Mengamati hal tersebut di atas, maka menjadi tantangan tersendiri bagi sekolah (terlebih yang juga mendasarkan pendidikannya mengikuti nilai religius tertentu) untuk menciptakan model pembelajaran inovatif, kreatif, atraktif, dan segala model –if yang lain (komunikatif, interaktif) yang berpihak pada kepentingan siswa namun dalam jangka panjang mampu diminati oleh orangtua untuk menitipkan perkembangan buah hati mereka. Tidak dapat dipungkiri bahwa pendidikan berkualitas menuntut dukungan finansial pula, sehingga untuk dapat berlanjut secara berkesinambungan dan terus berkembang, maka pembentukan TK i-k-a-k-i atau c (cinta kasih)-i-k-a-k-i harus didukung pula oleh sumber daya manusia yang berdedikasi dan punya komitmen jangka panjang.
MENCIPTAKAN TK YANG C-I-K-A-K-I : SUATU TANTANGAN
Tidak ada suatu lembaga pembelajaran manapun yang dapat menjawab semua kebutuhan dan menjadi tempat belajar yang paling ideal. Yang terpenting adalah adanya tempat belajar yang mampu berubah sesuai dengan kebutuhan tanpa harus ’melacurkan’ diri demi mendapatkan simpati siswa, orangtua dan masyarakat. Penting untuk meyakini sebuah nilai dan mempersiapkan implementasi dari nilai tersebut dengan sebaik-baiknya dengan dukungan penuh dari segenap warga.
1. Berpijaklah pada suatu nilai dan pandangan yang dianggap paling sesuai
2. Perhatikan tahap perkembangan anak.
Secara umum, tahap perkembangan anak dapat dilihat dari tabel kompilasi tahap perkembangan anak.Namun perlu diketahui bahwa tiap anak mempunyai kecepatan dan kematangan yang berbeda-beda, sehingga suatu model pembelajaran hendaknya juga mampu mempertimbangkan anak yang memiliki keunikan berkaitan dengan tahap perkembangan ini.
3. Kepala Sekolah dan Guru TK harus punya jadwal belajar hal baru secara berkala, termasuk mempelajari trend yang sedang berlaku
4. Permasalahan siswa banyak dilaporkan orangtua dan juga diobservasi di sekolah
James W Botkin menyebutkan bahwa proses belajar dalam suasana inovatif dapat membantu memecahkan persoalan-persoalan penting dalam pendidikan dan membentuk ketahanan anak didik maupun sekolah menghadapi kehidupan jangka panjang. Walaupun muatan kurikulum TK diisi dengan pengembangan wawasan, tetap harus di perhatikan bahwa dengan usia anak antara 4-6 tahun mereka membutuhkan ruang gerak yang cukup dan kebutuhan bermain yang esensial.
Mempertemukan pendidikan ideal dengan memperhatikan no 1-3 di atas serta tetap mampu menerapkan CIKAKI ternyata tidak mudah.
5. Setelah melakukan pemetaan di atas dan menjawab sendiri apa yang kita ketahui sebagai bahan untuk diolah dan dikembangkan menjadi suatu inovasi pembelajaran baru yang cocok dengan TK, maka di bawa ini ada beberapa alternatif pembelajaran yang banyak dijadikan acuan dalam membuat ’resep perubahan’ :
a. Pengajaran suara, bentuk, bilangan melalui :
- pengamatan alam
- keaktifan jiwa dan raga anak / active learning
- pentahapan berdasarkan tingkat kesulitan / kompleksitas
- kecerdasan majemuk
b. Pengajaran sentra, yang menekankan pada perpaduan klasikal, individual dan kegiatan biasanya berbentuk thematic learning
c. Pengajaran menjadi atraktif bila :
- mengikutsertakan dan mengijinkan kreativitas
- guru melihat minat anak (beri waktu bebas, catat apa yang dilakukan anak, gunakan hasil observasi untuk ’menjadi dekat dengan anak’)
- jadwal pelajaran bisa fleksibel untuk bidang / subyek tertentu
- penilaian berdasarkan daftar aspek yang ingin di raih dan tidak semua anak diharuskan mencapai kemampuan tertentu berpedoman pada indikator kecerdasan majemuk
- mengikutsertakan kegiatan fisik yang berkualitas / bertujuan (OR, atau Brain Gym - Kinesiologi) dan seni (gambar, tari, suara, musik)
- dilakukan dalam suasana bermain berkualitas
- guru mau dan ikut terlibat (tidak malu untuk terlihat ’aneh’)
- mengkombinasikan 3 faktor : kognitif, afekif, psikomotor
- tidak menggunakan hukuman tetapi ’belaian tegas’
6. Evaluasi inovasi secara berkala dengan menanyakan :
a. Apakah permasalahan lebih mudah diatasi ?
b. Apakah guru lebih mampu mengendalikan diri ?
c. Apakah jumlah anak yang masuk sekolah (dan gembira) meningkat ?
d. Apakah lebih banyak orangtua yang menawarkan diri untuk membantu ?
LET’S MAKE A DIFFERENCE – MARI MEMBUAT PERUBAHAN KECIL
Impikan ini ! – Suatu saat 6, 9, 12, 16 dan 20 tahun yang akan datang, kita menerima kunjungan seseorang dengan senyum, mungkin sambil membawa generasi yunior kembali ..... ke TK yang sama
Disampaikan pada Pertemuan BKS – TK Regio I, Surabaya 6 Oktober 2007 oleh Josephine M.J. Ratna, M.Psych
Saturday, October 6, 2007
Tuesday, October 2, 2007
Sahabat Berubah, Malas Dekat-Dekat
If you’re alone, I’ll be your shadow.If you want to cry,I’ll be your shoulder.If you want a hug,I’ll be your pillow.If you need to be happy, I’ll be your smile...But anytime you need a friend,I’ll just be me.
Makna short poem semacam ini biasanya bakal jadi janji pembuka dalam persahabatan. Bahkan, ada yang sengaja menulisnya di buku diary bersama sebagai janji teman abadi.
Tapi, janji tak selalu bisa ditepati. Ombak selalu bisa datang, menenggelamkan perahu persahabatan yang tak kukuh. Melunturkan janji yang tertulis di diary.
Hati-hati dengan bosan. Ketika perasaan ini nempel di pertemanan, bosan bukan lagi hal biasa. Dia bisa jadi virus. Kalau boleh jayus, virusnya mari kita beri nama BBB alias Bukan Bosan Biasa. He he he.
Si BBB ini adalah salah satu ombak yang sering menerpa persahabatan. Paling nggak, ada 40 persen responden yang mengaku pernah jadi korban bosan dengan teman. Betty Sanchezh dari SMAN 15 Surabaya, misalnya. Dia mengaku mulai bosan dengan salah seorang teman karena sifat si teman yang berubah.
Sejak dua tahun lalu, Betty punya geng yang berisi enam orang. "Kami selalu sama-sama. Ke mana-mana bareng. Tapi, sejak kelas tiga, ada salah seorang yang akhirnya punya pacar," cerita Betty.
Sejak saat itulah, teman Betty itu nggak lagi bisa diajak seru-seruan. Dia jadi sering absen ketemuan. "Janji-janji juga sering dibatalin mendadak. Kami jelas kecewa," ujarnya.
Betty dkk pun mulai menyusun aksi peringatan. "Setiap dia datang, kami menjauh. Setiap dia ngajak ngomong, kami cuek. Biar sadar kalau dia juga butuh teman, bukan cuma pacar," jelasnya. Karena itu, si teman pun sadar diri dan mulai mengubah sikap. "Sekarang, kami sudah baikan lagi. Dia juga tetap bisa pacaran," lanjutnya.
Permasalahan Betty mungkin lebih simpel. Tapi, Andrianto Saputro asal SMP Shafta pernah sangat kecewa hingga jadi bosan dengan temannya. "Aku ngerasa dikhianatin," kata Andri. "Aku percaya banget sama dia. Semua masalah dan rahasiaku dia pasti tahu. Eh, nggak tahunya dia malah cerita ke orang lain," kesalnya.
Andri beruntung karena punya teman yang simpati dan menegur sahabatnya tadi. "Akhirnya, sahabatku sadar kalau kelakuannya salah. Dia langsung minta maaf," sambungnya.
Bukan cuma problem pelik yang bisa membuat pertemanan renggang. Nidya Sari yang sekolah di SMP Dr Soetomo pernah bosan dengan teman karena frekuensi ketemu berlebihan. Sejak kelas satu sampai kelas tiga, mereka selalu bersama, bahkan satu bangku.
"Awalnya sih senang, tapi lama-lama pengin juga merasakan dekat sama yang lain," cuapnya. Untung bagi Nidya, si teman bisa paham. Mereka pun mulai menjaga jarak, hanya bersama ketika di sekolah. "Tapi, kami tetap dekat kok," tambahnya.
Pilih Menjauh ketika Jenuh
Pernah merasa bosan? Cara paling efektif ya menghindar. Misalnya kalau bosan makan nasi, jangan dekat-dekat penjual nasi bungkus. Kalau bosan minum susu, nggak usah dekat-dekat -sapi. Kalau bosan duit, ya jauh-jauh aja dari ATM. He he. Simpel, kan?
Dan itulah tindakan yang bakal diambil responden (32,5 persen) ketika bosan sama sahabat. Lainnya, ada yang ngomong langsung ke sahabat (27,9 persen), ada juga yang memilih curhat ke teman lain (20,8 persen).
Yang pertama pengin berandai-andai apa yang bakal dilakukan ketika bosan sama sahabat adalah Bramantya Putra Teja, pelajar SMA YPPI 2. "Untuk sementara, aku bakal jalan sama teman-teman yang lain aja. Kalau dipaksa jalan terus pasti malah bikin bosan. Nanti, kalau udah nggak bosan, baru ngajak keluar sahabatku lagi," ujarnya.
Keputusan serupa bakal diambil Adinda Mustika. Dia bakal menjauh kalau jalan bareng dua sahabatnya mulai terasa membosankan. Tapi, perjuangan Adinda untuk menjauh bakal lebih berat dari Bramantya. Pasalnya, kedua sahabatnya itu satu kelas dengannya. Nah lho, trus gimana?
Aku bakal pindah tempat duduk. Kalau perlu, yang tempatnya rada jauh dari bangku mereka. Dengan sendirinya, bakal jarang ngobrol kan?" tutur cewek asal SMPN 12 itu.
Sudah sering dengar peribahasa "lain ladang lain belalang"? Kali ini, si Det bikin baru. Lain rumah, lain halaman. Lain halaman, lain pula belalangnya. Loh, kok balik "lain belalang"? He he he. Ya udahlah, intinya pemikiran satu manusia dengan manusia lain pasti berbeda.
Beda dengan dua reponDet tadi, Ivan Sumampou, pelajar SMP Angelus Custos II berkoar tegas kalau dia bakal ngomong langsung ke dua sahabatnya jika ternyata bosan. "Kalau curhat ke orang lain, akhir-akhirnya sahabatku pasti denger dan dengan versi yang salah pula. Kan bahaya!" jelasnya. Oke, sekarang si Det tanya, kalau kamu pilih cara yang mana?
Arti Sahabat Sudah Bergeser
Psikolog Josephine M.J. Ratna MPsi mengatakan pengertian dari kata sahabat saat ini adalah teman dalam menjalankan minat. Bukan lagi orang lain yang selalu bersama kita dalam semua aktivitas dan berbagi semua rahasia.
"Itulah sebabnya, kita jadi bisa punya banyak sahabat. Misalnya begini, kita melakukan minat X dengan A. Kemudian, menjalani minat Y dengan sahabat B," katanya.
Dari pengertian di atas, bisa ditarik suatu kesimpulan bahwa sebenarnya kita bukan bosan pada sahabat. Melainkan, kita tertarik pada minat lain yang tidak melibatkan sahabat tertentu di dalamnya.
"Akibatnya, kita seperti meninggalkan sahabat. Ada cara u ntuk mencegah hal tersebut. Yaitu, memperkenalkan, mengajak, atau melibatkan sahabat pada minat kita yang baru," katanya. ***(idps)
Sumber:
Jurnalnet.com, 2 Oktober 2007
Makna short poem semacam ini biasanya bakal jadi janji pembuka dalam persahabatan. Bahkan, ada yang sengaja menulisnya di buku diary bersama sebagai janji teman abadi.
Tapi, janji tak selalu bisa ditepati. Ombak selalu bisa datang, menenggelamkan perahu persahabatan yang tak kukuh. Melunturkan janji yang tertulis di diary.
Hati-hati dengan bosan. Ketika perasaan ini nempel di pertemanan, bosan bukan lagi hal biasa. Dia bisa jadi virus. Kalau boleh jayus, virusnya mari kita beri nama BBB alias Bukan Bosan Biasa. He he he.
Si BBB ini adalah salah satu ombak yang sering menerpa persahabatan. Paling nggak, ada 40 persen responden yang mengaku pernah jadi korban bosan dengan teman. Betty Sanchezh dari SMAN 15 Surabaya, misalnya. Dia mengaku mulai bosan dengan salah seorang teman karena sifat si teman yang berubah.
Sejak dua tahun lalu, Betty punya geng yang berisi enam orang. "Kami selalu sama-sama. Ke mana-mana bareng. Tapi, sejak kelas tiga, ada salah seorang yang akhirnya punya pacar," cerita Betty.
Sejak saat itulah, teman Betty itu nggak lagi bisa diajak seru-seruan. Dia jadi sering absen ketemuan. "Janji-janji juga sering dibatalin mendadak. Kami jelas kecewa," ujarnya.
Betty dkk pun mulai menyusun aksi peringatan. "Setiap dia datang, kami menjauh. Setiap dia ngajak ngomong, kami cuek. Biar sadar kalau dia juga butuh teman, bukan cuma pacar," jelasnya. Karena itu, si teman pun sadar diri dan mulai mengubah sikap. "Sekarang, kami sudah baikan lagi. Dia juga tetap bisa pacaran," lanjutnya.
Permasalahan Betty mungkin lebih simpel. Tapi, Andrianto Saputro asal SMP Shafta pernah sangat kecewa hingga jadi bosan dengan temannya. "Aku ngerasa dikhianatin," kata Andri. "Aku percaya banget sama dia. Semua masalah dan rahasiaku dia pasti tahu. Eh, nggak tahunya dia malah cerita ke orang lain," kesalnya.
Andri beruntung karena punya teman yang simpati dan menegur sahabatnya tadi. "Akhirnya, sahabatku sadar kalau kelakuannya salah. Dia langsung minta maaf," sambungnya.
Bukan cuma problem pelik yang bisa membuat pertemanan renggang. Nidya Sari yang sekolah di SMP Dr Soetomo pernah bosan dengan teman karena frekuensi ketemu berlebihan. Sejak kelas satu sampai kelas tiga, mereka selalu bersama, bahkan satu bangku.
"Awalnya sih senang, tapi lama-lama pengin juga merasakan dekat sama yang lain," cuapnya. Untung bagi Nidya, si teman bisa paham. Mereka pun mulai menjaga jarak, hanya bersama ketika di sekolah. "Tapi, kami tetap dekat kok," tambahnya.
Pilih Menjauh ketika Jenuh
Pernah merasa bosan? Cara paling efektif ya menghindar. Misalnya kalau bosan makan nasi, jangan dekat-dekat penjual nasi bungkus. Kalau bosan minum susu, nggak usah dekat-dekat -sapi. Kalau bosan duit, ya jauh-jauh aja dari ATM. He he. Simpel, kan?
Dan itulah tindakan yang bakal diambil responden (32,5 persen) ketika bosan sama sahabat. Lainnya, ada yang ngomong langsung ke sahabat (27,9 persen), ada juga yang memilih curhat ke teman lain (20,8 persen).
Yang pertama pengin berandai-andai apa yang bakal dilakukan ketika bosan sama sahabat adalah Bramantya Putra Teja, pelajar SMA YPPI 2. "Untuk sementara, aku bakal jalan sama teman-teman yang lain aja. Kalau dipaksa jalan terus pasti malah bikin bosan. Nanti, kalau udah nggak bosan, baru ngajak keluar sahabatku lagi," ujarnya.
Keputusan serupa bakal diambil Adinda Mustika. Dia bakal menjauh kalau jalan bareng dua sahabatnya mulai terasa membosankan. Tapi, perjuangan Adinda untuk menjauh bakal lebih berat dari Bramantya. Pasalnya, kedua sahabatnya itu satu kelas dengannya. Nah lho, trus gimana?
Aku bakal pindah tempat duduk. Kalau perlu, yang tempatnya rada jauh dari bangku mereka. Dengan sendirinya, bakal jarang ngobrol kan?" tutur cewek asal SMPN 12 itu.
Sudah sering dengar peribahasa "lain ladang lain belalang"? Kali ini, si Det bikin baru. Lain rumah, lain halaman. Lain halaman, lain pula belalangnya. Loh, kok balik "lain belalang"? He he he. Ya udahlah, intinya pemikiran satu manusia dengan manusia lain pasti berbeda.
Beda dengan dua reponDet tadi, Ivan Sumampou, pelajar SMP Angelus Custos II berkoar tegas kalau dia bakal ngomong langsung ke dua sahabatnya jika ternyata bosan. "Kalau curhat ke orang lain, akhir-akhirnya sahabatku pasti denger dan dengan versi yang salah pula. Kan bahaya!" jelasnya. Oke, sekarang si Det tanya, kalau kamu pilih cara yang mana?
Arti Sahabat Sudah Bergeser
Psikolog Josephine M.J. Ratna MPsi mengatakan pengertian dari kata sahabat saat ini adalah teman dalam menjalankan minat. Bukan lagi orang lain yang selalu bersama kita dalam semua aktivitas dan berbagi semua rahasia.
"Itulah sebabnya, kita jadi bisa punya banyak sahabat. Misalnya begini, kita melakukan minat X dengan A. Kemudian, menjalani minat Y dengan sahabat B," katanya.
Dari pengertian di atas, bisa ditarik suatu kesimpulan bahwa sebenarnya kita bukan bosan pada sahabat. Melainkan, kita tertarik pada minat lain yang tidak melibatkan sahabat tertentu di dalamnya.
"Akibatnya, kita seperti meninggalkan sahabat. Ada cara u ntuk mencegah hal tersebut. Yaitu, memperkenalkan, mengajak, atau melibatkan sahabat pada minat kita yang baru," katanya. ***(idps)
Sumber:
Jurnalnet.com, 2 Oktober 2007
Arti Sahabat Sudah Bergeser
Pengertian dari kata sahabat saat ini adalah teman dalam menjalankan minat. Bukan lagi orang lain yang selalu bersama kita dalam semua aktivitas dan berbagi semua rahasia. Itulah sebabnya, kita jadi bisa punya banyak sahabat. Misalnya begini, kita melakukan minat X dengan A. Kemudian, menjalani minat Y dengan sahabat B. Dari pengertian di atas, bisa ditarik suatu kesimpulan bahwa sebenarnya kita bukan bosan pada sahabat. Melainkan, kita tertarik pada minat lain yang tidak melibatkan sahabat tertentu di dalamnya. Akibatnya, kita seperti meninggalkan sahabat. Ada cara untuk mencegah hal tersebut. Yaitu, memperkenalkan, mengajak, atau melibatkan sahabat pada minta kita yang baru. (hil)
Sumber:
Jawa Pos, Selasa 2 Oktober 2007
Sumber:
Jawa Pos, Selasa 2 Oktober 2007
Monday, July 23, 2007
Ortu Jangan Terlalu Membebani Anak
Malang - Surya
Orangtua menjadi sorotan tajam dalam perkembangan perilaku siswa yang mulai beranjak remaja. Orangtua yang terlalu protekdif terhadap anak mereka justru akan membuat siswa kurang memahami diri mereka dan lebih mudah terpengaruh pergaulan yang menjurus kepada kenakalan remaja. Hal itu dibahas dalam seminar bertajuk "Tantangan Pendidikan ke Depan" di aula SMAK St. Albertus (Dempo) yang dihadiri pakar pendidikan ITS Surabaya, Drs. Kresnayana Yahya, MSc., dan psikolog, Dra. Josephine Ratna, M. Psych.
Menurut Kresnayana Yahya, mengekang pergaulan anak justru akan berdampak buruk terhaap perkembangan mental anak. "Jika anak dibiarkan berinteraksi dengan lingkungan, maka anak akan menemukan berbagai inspirasi sebagai sumber kreativitas dan kompetensi siswa," papar pakar statistik ini, Sabtu (21/7).
Menurutnya, membebani anak dengan berbagai target mulai dari harus belajar serius hingga larangan menggunakan internet justru akan menciptakan anak yang lemah. Sementara saat ini persaingan dalam dunia pendidikan hingga dunia kerja makin ketat. "Beri mereka sedikit kepercayaan. Jika perlu bebaskan mereka menggunakan internet sebab di dalamnya terdapat banyak ilmu pengetahuan," paparnya.
Internet merupakan salah satu perkembangan teknologi yang tidak bisa dihindari dan semua masyarakat membutuhkannya jika mereka ingin maju. Cara melindungi siswa dari berbagai situs "aneh" adalah dengan memberikan pengertian yang benar tentang manfaat teknologi. "Yang namanya remaja selalu ingin mencoba segala hal itu wajar. Tapi beri mereka ketentuan rambu-rambu yang harus mereka patuhi," terangnya.
Hal yang sama juga diakui oleh psikolog, Josephine Ratna. Menurutnya, sikap over protektif justru akan membuat anak menjadikan WC sekolah sebagai "rumah kedua" mereka. Di dalam WC, katanya, mereka akan membaca buku yang tak seharusnya mereka ketahui. "Siswa akan encari jalan belakang, dan ironisnya lagi mereka justru didukung teman-temannya dalam melakukan berbagai tindakan yang merusak mental mereka," jelas Josephine dihadapan ratusan orangtua siswa Dempo.
Ditambahkan, orangtua harus menjadi teman yang akrab bagi anaknya, sehingga mampu mengontrol sang anak secara efektif, bukan malah mengekang anak. Jika perlu, beri mereka tanggung jawab yang akan membuat mereka berpikir lebih dewasa untuk melanggar aturan yang telah disepakati antara orangtua dan anak. "Peranan dan kedekatan emosional dengan anak justru akan sangat membantu siswa dalam melalui masa transisi (remaja - red) mereka dengan baik," tandasnya. (st11)
Sumber:
Harian Surya, Senin 23 Juli 2007
Orangtua menjadi sorotan tajam dalam perkembangan perilaku siswa yang mulai beranjak remaja. Orangtua yang terlalu protekdif terhadap anak mereka justru akan membuat siswa kurang memahami diri mereka dan lebih mudah terpengaruh pergaulan yang menjurus kepada kenakalan remaja. Hal itu dibahas dalam seminar bertajuk "Tantangan Pendidikan ke Depan" di aula SMAK St. Albertus (Dempo) yang dihadiri pakar pendidikan ITS Surabaya, Drs. Kresnayana Yahya, MSc., dan psikolog, Dra. Josephine Ratna, M. Psych.
Menurut Kresnayana Yahya, mengekang pergaulan anak justru akan berdampak buruk terhaap perkembangan mental anak. "Jika anak dibiarkan berinteraksi dengan lingkungan, maka anak akan menemukan berbagai inspirasi sebagai sumber kreativitas dan kompetensi siswa," papar pakar statistik ini, Sabtu (21/7).
Menurutnya, membebani anak dengan berbagai target mulai dari harus belajar serius hingga larangan menggunakan internet justru akan menciptakan anak yang lemah. Sementara saat ini persaingan dalam dunia pendidikan hingga dunia kerja makin ketat. "Beri mereka sedikit kepercayaan. Jika perlu bebaskan mereka menggunakan internet sebab di dalamnya terdapat banyak ilmu pengetahuan," paparnya.
Internet merupakan salah satu perkembangan teknologi yang tidak bisa dihindari dan semua masyarakat membutuhkannya jika mereka ingin maju. Cara melindungi siswa dari berbagai situs "aneh" adalah dengan memberikan pengertian yang benar tentang manfaat teknologi. "Yang namanya remaja selalu ingin mencoba segala hal itu wajar. Tapi beri mereka ketentuan rambu-rambu yang harus mereka patuhi," terangnya.
Hal yang sama juga diakui oleh psikolog, Josephine Ratna. Menurutnya, sikap over protektif justru akan membuat anak menjadikan WC sekolah sebagai "rumah kedua" mereka. Di dalam WC, katanya, mereka akan membaca buku yang tak seharusnya mereka ketahui. "Siswa akan encari jalan belakang, dan ironisnya lagi mereka justru didukung teman-temannya dalam melakukan berbagai tindakan yang merusak mental mereka," jelas Josephine dihadapan ratusan orangtua siswa Dempo.
Ditambahkan, orangtua harus menjadi teman yang akrab bagi anaknya, sehingga mampu mengontrol sang anak secara efektif, bukan malah mengekang anak. Jika perlu, beri mereka tanggung jawab yang akan membuat mereka berpikir lebih dewasa untuk melanggar aturan yang telah disepakati antara orangtua dan anak. "Peranan dan kedekatan emosional dengan anak justru akan sangat membantu siswa dalam melalui masa transisi (remaja - red) mereka dengan baik," tandasnya. (st11)
Sumber:
Harian Surya, Senin 23 Juli 2007
Monday, July 2, 2007
Korban Tak Bisa Dipaksa
PPP Menilai Penanganan Lapindo sebagai Bukti Kegagalan Pemerintah
SIDOARJO, KOMPAS - Pemerintah tidak bisa memaksa seluruh korban lumpur Lapindo Brantas Inc menerima skema ganti rugi tanah dan bangunan yang sama. Sebab, setiap korban memiliki perhitungan masing-masing yang layak diperhatikan.
Demikian pendapat Ketua Ikatan Psikologi Klinis Surabaya Josephine MJ Ratna dan sosiolog dari Universitas Airlangga Musta’in yang dihubungi terpisah, Minggu (1/7), berkait perintah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono lewat Bupati Sidoarjo agar para pengungsi korban lumpur meninggalkan Pasar Baru Porong dan menerima skema ganti rugi.
"Jika ada yang menuntut hal yang berbeda, mereka tidak boleh dikatakan tidak setia kawan dengan yang lainnya. Mereka tentunya memiliki pertimbangan yang bisa dipakai untuk melanjutkan hidupnya," kata Josephin.
Para pengungsi di Pasar Baru Porong, katanya, kebanyakan dari Desa Renokenongo. Mereka pasti sudah memikirkan akibatnya kalau menerima skema ganti rugi dari Lapindo dan mengambil uang kontrakan dua tahun.
Uang muka ganti rugi 20 persen tak akan cukup untuk membeli rumah baru. Selain itu, dengan menerima uang kontrakan, hidup mereka tak akan terjamin. "Rumah kontrakan akan jauh dari tempat bekerja dan anak-anak sekolah. Kalau mengontrak, juga akan ada uang untuk listrik atau air. Padahal, beberapa dari mereka pekerjaannya sudah hilang, ikut terendam lumpur. Kalau di pasar mereka mendapatkan makanan atau air gratis," katanya.
Sementara itu, 50 pengungsi di Pasar Porong, kemarin, berangkat ke Jakarta untuk bergabung dengan korban lumpur dari Perumahan Tanggulangin Anggun Sejahtera 1 yang sudah berada di Jakarta sejak Senin pekan lalu.
Sumber:
Kompas.Com, Kamis, 2 Juli 2007
SIDOARJO, KOMPAS - Pemerintah tidak bisa memaksa seluruh korban lumpur Lapindo Brantas Inc menerima skema ganti rugi tanah dan bangunan yang sama. Sebab, setiap korban memiliki perhitungan masing-masing yang layak diperhatikan.
Demikian pendapat Ketua Ikatan Psikologi Klinis Surabaya Josephine MJ Ratna dan sosiolog dari Universitas Airlangga Musta’in yang dihubungi terpisah, Minggu (1/7), berkait perintah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono lewat Bupati Sidoarjo agar para pengungsi korban lumpur meninggalkan Pasar Baru Porong dan menerima skema ganti rugi.
"Jika ada yang menuntut hal yang berbeda, mereka tidak boleh dikatakan tidak setia kawan dengan yang lainnya. Mereka tentunya memiliki pertimbangan yang bisa dipakai untuk melanjutkan hidupnya," kata Josephin.
Para pengungsi di Pasar Baru Porong, katanya, kebanyakan dari Desa Renokenongo. Mereka pasti sudah memikirkan akibatnya kalau menerima skema ganti rugi dari Lapindo dan mengambil uang kontrakan dua tahun.
Uang muka ganti rugi 20 persen tak akan cukup untuk membeli rumah baru. Selain itu, dengan menerima uang kontrakan, hidup mereka tak akan terjamin. "Rumah kontrakan akan jauh dari tempat bekerja dan anak-anak sekolah. Kalau mengontrak, juga akan ada uang untuk listrik atau air. Padahal, beberapa dari mereka pekerjaannya sudah hilang, ikut terendam lumpur. Kalau di pasar mereka mendapatkan makanan atau air gratis," katanya.
Sementara itu, 50 pengungsi di Pasar Porong, kemarin, berangkat ke Jakarta untuk bergabung dengan korban lumpur dari Perumahan Tanggulangin Anggun Sejahtera 1 yang sudah berada di Jakarta sejak Senin pekan lalu.
Sumber:
Kompas.Com, Kamis, 2 Juli 2007
Tuesday, June 5, 2007
Tips Memanfaatkan Masa Liburan
Jika dihitung secara kasar, jumlah hari libur di tahun 2007 ini sebanyak 71 hari libur :
• 13 hari libur nasional
• 6 hari cuti bersama (karena terdapat hari yang terjepit di antara hari libur dan akhir pekan)
• 52 hari Minggu
Bagi orangtua yang bekerja, maka 71 hari libur tersebut masih ditambah cuti bekerja sebanyak 12-15 hari kerja. Dari 71-86 hari libur tersebut sudahkah kita memanfaatkan sebaik-baiknya dan menyeimbangkan kebutuhan diri sendiri, anak-anak, bersama pasangan dan keluarga?
Melakukan kegiatan pada saat libur atau cuti pada dasarnya bertujuan untuk meningkatkan relasi yang positif antar anggota keluarga, mengatasi kebosanan dan rutinitas, memberikan energi dan emosi yang positif serta memberi kesegaran baru untuk menghadapi hari-hari selanjutnya. Semoga tips singkat di bawah ini dapat berguna :
MEMANFAATKAN LIBURAN / CUTI UNTUK DIRI SENDIRI
1. Memanjakan diri sendiri, dengan tujuan untuk memberi kesempatan diri sendiri menikmati perawatan dan mengembalikan vitalitas fisik dan mental. Biasanya kegiatan seperti berolahraga, spa / pijat / refleksi, salon, manicure, pedicure, relaksasi, perawatan wajah dan tubuh. Pada kategori ini termasuk melakukan pemeriksaan kesehatan bila dianggap perlu.
2. Melakukan hobi yang lama tidak tersentuh, dengan tujuan mengembalikan dan menjalankan minat, dan akhirnya menimbulkan emosi yang positif karena melakukan hal-hal yang disukai.
3. Melakukan sesuatu tanpa tujuan yang terencana – mengalir saja, misalnya sekedar menghabiskan waktu berjalan-jalan ke tempat yang tidak pernah dikunjungi
MEMANFAATKAN LIBURAN / CUTI BERSAMA PASANGAN
1. Melakukan refreshing berdua dengan pergi ke tempat yang romantis, saling memberikan kejutan yang menyenangkan, dll
2. Mengevaluasi rencana yang berkaitan dengan pekerjaan dan keputusan rumah tangga (misalnya investasi, pindah pekerjaan, mulai usaha baru, pindah rumah, masalah anak-anak, dll)
3. Memperkuat komitmen bersama dalam banyak hal
MEMANFAATKAN LIBURAN / CUTI UNTUK KEPENTINGAN KELUARGA
1. Mengajak semua anggota keluarga bertandang dan berkunjung ke rumah keluarga yang berada di lain kota dengan tujuan untuk mempererat tali kekeluargaan dan memperkenalkan anak pada silsilah keluarganya
2. Mengumpulkan foto keluarga dan membuat album keluarga tahunan
3. Membuat foto keluarga, baik keluarga kecil maupun keluarga besar
4. Mengijinkan anak untuk tinggal bersama anggota keluarga lain untuk mengenal kebiasaan dan aturan keluarga yang berlaku di tempat lain
MEMANFAATKAN LIBURAN / CUTI BERSAMA ANAK-ANAK
1. Mengevaluasi kembali kegiatan anak-anak dan menyeimbangkan antara kebutuhan sekolah, kebutuhan masing masing anak dan upaya untuk mengarahkan anak menurut bakat, minat dan tahap perkembangannya. Misalnya : mengevaluasi apakah anak perlu tambahan pelajaran, ingin mengikuti kegiatan luar sekolah untuk menunjang bakat dan minatnya atau memilih tempat kursus yang sesuai dengan kemampuan financial, kecocokan guru dan pertimbangan lain
2. Mengajak anak melakukan kegiatan yang/jarang bisa dilakukan dalam masa sekolah misalnya :
• pergi bersama ke tempat rekreasi / pariwisata baru (anak dapat diajak untuk mengambil keputusan bersama) selama beberapa hari
• mengunjungi tempat pariwisata ilmiah misalnya museum, pusat sains, tempat bersejarah dan mendampingi anak belajar tentang apa yang dilihatnya
• melakukan kegiatan rohani seperti retret, mengunjungi tempat-tempat rohani di luar kota dan memberikan pendampingan/siraman rohani yang dibutuhkan anak
3. Mengembangkan ide kreatif bersama anak untuk melakukan kegiatan di rumah misalnya :
• camping di halaman dan melakukan kegiatan dalam tenda
• memasak bersama dan menyiapkan segalanya secara terencana (mulai dari berbelanja kebutuhan masak, dll)
• mengubah lay out rumah dan fungsi rumah (kamar tidur anak dibenahi dan anak dilibatkan untuk merancang dan mengatur kamar masing-masing, mengecat ulang tembok bersama-sama)
• memanfaatkan barang bekas di rumah untuk dijadikan benda yang bisa digunakan kembali (mobil/boneka mainan anak dikumpulkan dan bagian-bagian yang hilang atau rusak diperbaiki)
• melakukan klipping dari koran dan majalah tentang topik yang diminati masing-masing misalnya anak laki-laki suka mengumpulkan berita otomotif; anak perempuan menyukai berita pernak-pernik; ibu mengumpulkan resep masakan; ayah mengumpulkan berita tentang kurs mata uang, dll. Anggota keluarga bersama-sama membantu mengumpulkan artikel yang dicari anggota keluarga lainnya.
• filateli – mengumpulkan perangko bekas
4. Berolahraga bersama anak misalnya naik sepeda, lari / jalan pagi, renang, naik gunung (bila umur anak cukup), main catur, bulutangkis, tennis, tennis meja, billiard, aerobic, go kart indoor, basket, ikut rally mobil bersama keluarga dll
5. Bermain musik bersama atau menemani anak menikmati/melakukan kegiatan musikal misalnya : mengantar anak les musik, karaoke, menonton film musikal, mengajak anak menonton pertunjukkan musical
6. Melakukan kegiatan yang berhubungan dengan kesenian untuk mengajak anak belajar melakukan apresiasi terhadap seni misalnya melihat pertunjukan seni (lukis, patung, hasil karya), melihat pameran foto, belajar menggambar, dll.
7. Bertukar kegiatan, misalnya anak melakukan pekerjaan yang dilakukan ibu (anak menyiapkan masakan dibantu pengasuh misalnya), ibu melakukan pekerjaan yang dilakukan ayah (misalnya mencuci mobil), ayah melakukan pekerjaan yang dilakukan anak (misalnya menggambar). Dari bertukar kegiatan ini diharapkan semua anggota keluarga bisa lebih dekat dan saling membantu anggota keluarga lain menyelesaikan pekerjaan
8. Saling berkunjung ke rumah teman sebaya. Dorong anak untuk mau ditinggal dan bermain bersama teman sebayanya. Tentu saja orangtua sebaiknya merencanakan ini dengan orangtua yang lain sehingga anak menjadi lebih percaya diri dan belajar untuk mengaplikasikan sopan santun dan disiplin yang telah diajarkan di rumah.
9. Mengoptimalkan permainan dan buku yang ada di rumah. Ajak anak menyusun mainan dan buku agar menjadi teratur. Bisa saja anak diajak menyampul buku cerita yang ada. Orangtua dan anak bisa membaca buku yang ada atau membeli buku baru untuk dibaca selama liburan, kemudian saling menceritakan apa yang telah dibaca tentu saja dalam bahasa yang dipahami anak. Main kartu, monopoli, UNO, dan lain-lain akan mempererat kebersamaan.
10. Melakukan pemeriksaan kesehatan anak misalnya gizi, mata, gigi
11. Berkunjung ke rumah / kampung halaman pembantu / pengasuh atau supir dengan tujuan membina kedekatan anak dengan pengasuhnya dan agar anak dan pengasuh dapat semakin saling menghargai.
12. Melakukan kegiatan sosial atau mengajak anak memahami kehidupan sosial di sekitarnya. Terkadang karena kesibukan keseharian, kita bahkan tidak mengenal siapa saja yang tinggal di sekitar kita dan apa saja yang ada di dekat tempat tinggal kita. Saat liburan, sangat ideal bila hal-hal ini :
• Berkenalan dengan tetangga, memperhatikan apa yang terjadi di sekitar dan mendiskusikan dengan anak tentang apa yang dilihat. Misalnya melihat tetangga yang tidak seberuntung kita, maka anak diajarkan untuk bersyukur atas apa yang sudah dimiliki
• Mengunjungi panti asuhan untuk bermain bersama anak-anak yang kurang beruntung.
Upayakan agar dalam masa libur anak tetap didorong untuk bersosialisasi dan bukan menikmati libur sendirian (misalnya menonton TV, DVD atau bermain Play Station / Game Boy / Nintendo seharian), karena justru jika anak terbiasa hanya melakukan kegiatan sendirian dan berhadapan dengan alat (computer, game boy, PS) hal ini akan membuatnya canggung ketika harus mulai sekolah kembali dan bertemu teman dan guru di sekolah. Selain itu kegiatan ini menyebabkan anak lebih banyak mengkonsumsi makanan tidak sehat (junk food) dan kurang disiplin untuk melakukan kegiatan rutin lainnya (mandi, makan, tidur,dll) dengan alasan “permainan masih seru”. Orangtua yang tidak tegas justru akan menyebabkan anak berperilaku salah, melawan dan menimbulkan relasi yang kurang sehat. Orangtua perlu menyiapkan alternatif kegiatan yang menyenangkan.
Liburan yang istimewa adalah liburan yang direncanakan dengan baik dan disesuaikan dengan kebutuhan serta kemampuan finansial dan waktu yang dimiliki. MANFAATKAN LIBURAN UNTUK MEMPERKUAT RELASI.
*Komite Sekolah SD Bunga Bangsa Surabaya mengucapkan SELAMAT MENIKMATI LIBURAN JUNI-JULI 2007 dan SELAMAT ATAS PRESTASI ANAK-ANAK (Josephine, Cecilia, Karlina, Wulan).
• 13 hari libur nasional
• 6 hari cuti bersama (karena terdapat hari yang terjepit di antara hari libur dan akhir pekan)
• 52 hari Minggu
Bagi orangtua yang bekerja, maka 71 hari libur tersebut masih ditambah cuti bekerja sebanyak 12-15 hari kerja. Dari 71-86 hari libur tersebut sudahkah kita memanfaatkan sebaik-baiknya dan menyeimbangkan kebutuhan diri sendiri, anak-anak, bersama pasangan dan keluarga?
Melakukan kegiatan pada saat libur atau cuti pada dasarnya bertujuan untuk meningkatkan relasi yang positif antar anggota keluarga, mengatasi kebosanan dan rutinitas, memberikan energi dan emosi yang positif serta memberi kesegaran baru untuk menghadapi hari-hari selanjutnya. Semoga tips singkat di bawah ini dapat berguna :
MEMANFAATKAN LIBURAN / CUTI UNTUK DIRI SENDIRI
1. Memanjakan diri sendiri, dengan tujuan untuk memberi kesempatan diri sendiri menikmati perawatan dan mengembalikan vitalitas fisik dan mental. Biasanya kegiatan seperti berolahraga, spa / pijat / refleksi, salon, manicure, pedicure, relaksasi, perawatan wajah dan tubuh. Pada kategori ini termasuk melakukan pemeriksaan kesehatan bila dianggap perlu.
2. Melakukan hobi yang lama tidak tersentuh, dengan tujuan mengembalikan dan menjalankan minat, dan akhirnya menimbulkan emosi yang positif karena melakukan hal-hal yang disukai.
3. Melakukan sesuatu tanpa tujuan yang terencana – mengalir saja, misalnya sekedar menghabiskan waktu berjalan-jalan ke tempat yang tidak pernah dikunjungi
MEMANFAATKAN LIBURAN / CUTI BERSAMA PASANGAN
1. Melakukan refreshing berdua dengan pergi ke tempat yang romantis, saling memberikan kejutan yang menyenangkan, dll
2. Mengevaluasi rencana yang berkaitan dengan pekerjaan dan keputusan rumah tangga (misalnya investasi, pindah pekerjaan, mulai usaha baru, pindah rumah, masalah anak-anak, dll)
3. Memperkuat komitmen bersama dalam banyak hal
MEMANFAATKAN LIBURAN / CUTI UNTUK KEPENTINGAN KELUARGA
1. Mengajak semua anggota keluarga bertandang dan berkunjung ke rumah keluarga yang berada di lain kota dengan tujuan untuk mempererat tali kekeluargaan dan memperkenalkan anak pada silsilah keluarganya
2. Mengumpulkan foto keluarga dan membuat album keluarga tahunan
3. Membuat foto keluarga, baik keluarga kecil maupun keluarga besar
4. Mengijinkan anak untuk tinggal bersama anggota keluarga lain untuk mengenal kebiasaan dan aturan keluarga yang berlaku di tempat lain
MEMANFAATKAN LIBURAN / CUTI BERSAMA ANAK-ANAK
1. Mengevaluasi kembali kegiatan anak-anak dan menyeimbangkan antara kebutuhan sekolah, kebutuhan masing masing anak dan upaya untuk mengarahkan anak menurut bakat, minat dan tahap perkembangannya. Misalnya : mengevaluasi apakah anak perlu tambahan pelajaran, ingin mengikuti kegiatan luar sekolah untuk menunjang bakat dan minatnya atau memilih tempat kursus yang sesuai dengan kemampuan financial, kecocokan guru dan pertimbangan lain
2. Mengajak anak melakukan kegiatan yang/jarang bisa dilakukan dalam masa sekolah misalnya :
• pergi bersama ke tempat rekreasi / pariwisata baru (anak dapat diajak untuk mengambil keputusan bersama) selama beberapa hari
• mengunjungi tempat pariwisata ilmiah misalnya museum, pusat sains, tempat bersejarah dan mendampingi anak belajar tentang apa yang dilihatnya
• melakukan kegiatan rohani seperti retret, mengunjungi tempat-tempat rohani di luar kota dan memberikan pendampingan/siraman rohani yang dibutuhkan anak
3. Mengembangkan ide kreatif bersama anak untuk melakukan kegiatan di rumah misalnya :
• camping di halaman dan melakukan kegiatan dalam tenda
• memasak bersama dan menyiapkan segalanya secara terencana (mulai dari berbelanja kebutuhan masak, dll)
• mengubah lay out rumah dan fungsi rumah (kamar tidur anak dibenahi dan anak dilibatkan untuk merancang dan mengatur kamar masing-masing, mengecat ulang tembok bersama-sama)
• memanfaatkan barang bekas di rumah untuk dijadikan benda yang bisa digunakan kembali (mobil/boneka mainan anak dikumpulkan dan bagian-bagian yang hilang atau rusak diperbaiki)
• melakukan klipping dari koran dan majalah tentang topik yang diminati masing-masing misalnya anak laki-laki suka mengumpulkan berita otomotif; anak perempuan menyukai berita pernak-pernik; ibu mengumpulkan resep masakan; ayah mengumpulkan berita tentang kurs mata uang, dll. Anggota keluarga bersama-sama membantu mengumpulkan artikel yang dicari anggota keluarga lainnya.
• filateli – mengumpulkan perangko bekas
4. Berolahraga bersama anak misalnya naik sepeda, lari / jalan pagi, renang, naik gunung (bila umur anak cukup), main catur, bulutangkis, tennis, tennis meja, billiard, aerobic, go kart indoor, basket, ikut rally mobil bersama keluarga dll
5. Bermain musik bersama atau menemani anak menikmati/melakukan kegiatan musikal misalnya : mengantar anak les musik, karaoke, menonton film musikal, mengajak anak menonton pertunjukkan musical
6. Melakukan kegiatan yang berhubungan dengan kesenian untuk mengajak anak belajar melakukan apresiasi terhadap seni misalnya melihat pertunjukan seni (lukis, patung, hasil karya), melihat pameran foto, belajar menggambar, dll.
7. Bertukar kegiatan, misalnya anak melakukan pekerjaan yang dilakukan ibu (anak menyiapkan masakan dibantu pengasuh misalnya), ibu melakukan pekerjaan yang dilakukan ayah (misalnya mencuci mobil), ayah melakukan pekerjaan yang dilakukan anak (misalnya menggambar). Dari bertukar kegiatan ini diharapkan semua anggota keluarga bisa lebih dekat dan saling membantu anggota keluarga lain menyelesaikan pekerjaan
8. Saling berkunjung ke rumah teman sebaya. Dorong anak untuk mau ditinggal dan bermain bersama teman sebayanya. Tentu saja orangtua sebaiknya merencanakan ini dengan orangtua yang lain sehingga anak menjadi lebih percaya diri dan belajar untuk mengaplikasikan sopan santun dan disiplin yang telah diajarkan di rumah.
9. Mengoptimalkan permainan dan buku yang ada di rumah. Ajak anak menyusun mainan dan buku agar menjadi teratur. Bisa saja anak diajak menyampul buku cerita yang ada. Orangtua dan anak bisa membaca buku yang ada atau membeli buku baru untuk dibaca selama liburan, kemudian saling menceritakan apa yang telah dibaca tentu saja dalam bahasa yang dipahami anak. Main kartu, monopoli, UNO, dan lain-lain akan mempererat kebersamaan.
10. Melakukan pemeriksaan kesehatan anak misalnya gizi, mata, gigi
11. Berkunjung ke rumah / kampung halaman pembantu / pengasuh atau supir dengan tujuan membina kedekatan anak dengan pengasuhnya dan agar anak dan pengasuh dapat semakin saling menghargai.
12. Melakukan kegiatan sosial atau mengajak anak memahami kehidupan sosial di sekitarnya. Terkadang karena kesibukan keseharian, kita bahkan tidak mengenal siapa saja yang tinggal di sekitar kita dan apa saja yang ada di dekat tempat tinggal kita. Saat liburan, sangat ideal bila hal-hal ini :
• Berkenalan dengan tetangga, memperhatikan apa yang terjadi di sekitar dan mendiskusikan dengan anak tentang apa yang dilihat. Misalnya melihat tetangga yang tidak seberuntung kita, maka anak diajarkan untuk bersyukur atas apa yang sudah dimiliki
• Mengunjungi panti asuhan untuk bermain bersama anak-anak yang kurang beruntung.
Upayakan agar dalam masa libur anak tetap didorong untuk bersosialisasi dan bukan menikmati libur sendirian (misalnya menonton TV, DVD atau bermain Play Station / Game Boy / Nintendo seharian), karena justru jika anak terbiasa hanya melakukan kegiatan sendirian dan berhadapan dengan alat (computer, game boy, PS) hal ini akan membuatnya canggung ketika harus mulai sekolah kembali dan bertemu teman dan guru di sekolah. Selain itu kegiatan ini menyebabkan anak lebih banyak mengkonsumsi makanan tidak sehat (junk food) dan kurang disiplin untuk melakukan kegiatan rutin lainnya (mandi, makan, tidur,dll) dengan alasan “permainan masih seru”. Orangtua yang tidak tegas justru akan menyebabkan anak berperilaku salah, melawan dan menimbulkan relasi yang kurang sehat. Orangtua perlu menyiapkan alternatif kegiatan yang menyenangkan.
Liburan yang istimewa adalah liburan yang direncanakan dengan baik dan disesuaikan dengan kebutuhan serta kemampuan finansial dan waktu yang dimiliki. MANFAATKAN LIBURAN UNTUK MEMPERKUAT RELASI.
*Komite Sekolah SD Bunga Bangsa Surabaya mengucapkan SELAMAT MENIKMATI LIBURAN JUNI-JULI 2007 dan SELAMAT ATAS PRESTASI ANAK-ANAK (Josephine, Cecilia, Karlina, Wulan).
Saturday, December 6, 2003
Dampak Penyakit Kanker Terhadap Aspek Psikologis-Sosial dan Spiritual Penderita
Oleh: Dra.Psi. Josephine M.J. Ratna, PG.Dip.Sc (UWA), M.Psych (Curtin) - Psikolog Klinis dan Kesehatan
Pendahuluan
Ada kisah menarik yang ditulis oleh Ara Johnson (www.cancerlynx.com/comforter.html) tentang dampak reaksi dari teman terhadap seseorang yang baru saja mengetahui bahwa ia menderita kanker :
1. Temanku yang pertama datang dan menunjukkan keterkejutannya dengan berkata : “Aku tak percaya kau mengidap kanker. Kupikir kamu selalu aktif, lincah dan sehat-sehat saja”.
Setelah teman pertama pergi …. Aku merasa sendirian dan merasa aneh…. Ada sesuatu yang berbeda dari aku yang dulu
2. Temanku yang kedua datang dan menginformasikan berbagai macam pengobatan kanker, katanya : “Apapun yang kau lakukan, pokoknya jangan mau kalau harus kemoterapi ! Itu hanya akan meracuni kamu”.
Begitu temanku yang kedua pergi, aku merasa takut sekali dan kebingungan…..
3. Kemudian, temanku yang ketiga datang “Barangkali Tuhan ingin mencambukmu karena telah berbuat sesuatu yang tak pantas dalam hidupmu!”.
Sesaat setelah temanku pergi, aku merasa bersalah…..
4. Datanglah temanku yang keempat dan ia berkata :”Kalau kau percaya Tuhan, kau pasti sembuh”
Kala ia meninggalkanku, aku merasa bahwa mungkin aku salah memeluk agamaku yang sekarang……
5. Teman kelima datang dan berkata “Semua pasti ada hikmahnya”.
Saat ia pulang, aku merasa sangat marah……
6. Teman keenam tidak datang. Aku merasa sedih dan sendirian…..
7. Teman ketujuh datang dan ia hanya memegang tanganku dan berkata : “Saya peduli, saya di sini dan saya akan membantumu melewatinya”. Begitu ia pulang, aku merasa sangat dicintai….
Pengaruh Kanker terhadap Kualitas Hidup
Definisi kualitas hidup menurut WHO adalah persepsi individual tentang hidupnya dalam konteks budaya dan sistem nilai yang berlaku di tempat ia hidup dan berhubungan erat dengan tujuan hidup, harapan, standard dan hal-hal mendasar lain yang ada pada dirinya.
Saat diagnosa kanker terjadi pada seseorang, bagaimana kualitas hidupnya ? Diagnosa kanker mampu merubah status kesehatan sesorang yang tadinya normal dan berada dalam kestabilan / keseimbangan menjadi hidup dalam ‘ancaman kematian setiap saat’ yang diiukti dengan perasaan takut dan ketidakpastian.
Ada 4 dimensi kualitas hidup, yaitu dimensi fisik, psikologis, social dan spiritual. Keempat dimensi inilah yang menjadi ukuran seberapa baik kualitas hidup seseorang.
Dampak Kanker terhadap Kualitas Hidup Pada Dimensi Fisik
Yang termasuk dalam dimensi fisik kualitas hidup adalah keadaan sehat yang nyaman dan penuh mobilitas. Saat kanker menyerang dan pengobatan dimulai, maka gejala dan keluhan (tidak terjadi pada setiap penderita kanker) seperti nyeri, merasa tak berdaya, lelah, mual, kerontokan rambut, hilang nafsu makan, perubahan fungsi pembuangan membuat individu tidak lagi nyaman dan mobilitas terganggu. Kondisi ini secara langsung mempengaruhi kualitas hidup mereka.
Tim medis dan perawatan paliatif telah memiliki cara untuk mempertahankan kualitas hidup penderita kanker dengan membantu penderita menghadapi gangguan fisiologis yang dialami.
Dampak Kanker Terhadap Kualitas Hidup Pada Dimensi Psikologis
Kualitas hidup manusia dalam dimensi psikologis diukur lewat bagaimana manusia menikmati hidupnya, keterlibatannya dalam kegiatan yang menimbulkan kegembiraan dan kemampuan untuk mendapatkan kepuasan dan mengendalikan hidupnya. Tantangan pada dimensi ini menjadi demikian besar tatkala individu menderita kanker, dimana ia berhadapan dengan situasi yang penuh ketidakpastian, kecemasan dan ketakutan akan masa depan yang menggiring mereka pada situasi depresif.
Memang tidak mudah bagi penderita kanker untuk bisa menerima dan menjalani hidup sebagai penderita kanker. Kecemasan dan rasa kuatir yang berlebihan merupakan 2 bentuk yang paling sering muncul dan biasanya meningkat pada beberapa titik :
1. pada saat investigasi awal terhadap gejala-gejala yang mencurigakan ;
2. pada saat diagnosa
3. saat menjalani tahap-tahap pengobatan dan pasien diharuskan mengecek terus gejala-gejala lanjutan yang mungkin muncul
4. saat terjadi kembali gejala-gejala awal yang telah berlalu
5. saat prognosis yang kurang baik disampaikan
6. pada saat-saat akhir dari perjuangan hidup
Reaksi / perilaku penderita kanker bervariasi, antara lain :
1. Penderita yang menghadapi kenyataan dengan penuh semangat untuk melawan
2. Merasa tak berdaya (helplessness), dimana penderita cenderung merasa kehilangan dan tidak mampu melakukan semua hal akibat penyakit ini
3. Fatalisme, artinya menerima kenyataan ini tanpa menunjukkan usaha untuk menyembuhkan diri
4. Rasa cemas berlebihan dan berkelanjutan, sehingga hal-hal yang berhubungan dengan kanker begitu mendominasi hidup penderita yang secara tidak langsung justru meningkatkan kecemasan
5. Menghindar dan menunjukkan usaha bawa ia tidak kuatir terhadap apapun…
Menilik reaksi di atas, perlu nantinya dibedakan reaksi yang masih normal dan reaksi yang sudah mengarah pada gangguan. Screening terhadap hal tersebut di atas perlu dilakukan oleh tenaga professional yang telah mendapatkan pelatihan untuk mendeteksi hal tersebut, misalnya psikolog, psikiater, atau staff palliative care yang telah dilatih.
Untuk dapat menerima dan memahami mengapa seorang penderita kanker bereaksi atau berperilaku / memiliki pola pikir tertentu, maka perlu diketahui apakah :
- terdapat riwayat gangguan psikiatrik sebelumnya ?
- dukungan dari keluarga dan teman cukup/kurang ?
- penderita tidak dapat menerima perubahan fisik yang terjadi akibat penyakit dan pengobatannya (misalnya kemoterapi dapat menimbulkan berbagai efek samping)?
- Penderita kurang terlibat dalam kegiatan-kegiatan yang menyenangkan dan memberikan kepuasan?
- Terdapat riwayat pengalaman kanker pada keluarga sebelumnya ?
- Penderita merasa tidak yakin akan efektivitas pengobatan?
- Penderita dan atau keluarga sedang mengalami permasalahan lain secara bersamaan?
Untuk membantu agar penderita kanker dapat menyesuaikan diri dengan penyakit yang dideritanya dan mengantisipasi agar tidak mengalami permasalahan lain yang dapat memperparah kondisi fisik dan psikologis mereka, maka lakukanlah beberapa hal mendasar di bawah ini agar kebutuhan emosional dan spiritualnya terpenuhi :
1. yakinkan penderita bahwa mereka dapat membicarakan apa yang mereka rasakan secara privat dengan orang yang mereka pilih ;
2. ciptakan suasana informal sehingga mendorong penderita untuk mengungkapkan perasaannya dengan lebih nyaman
3. jangan menyampaikan hal-hal yang tidak diminta oleh penderita
4. gunakan bahasa yang mudah dipahami dan hindari penggunaan istilah – istilah rumit yang tidak mudah dimengerti. Cek kembali untuk mengetahui apakah penderita telah menangkap informasi dengan benar
5. tunjukkan bahwa Anda memperhatikan mereka dengan memandang penderita saat berbicara.
6. Jangan memberikan nasehat yang tidak diminta. Nasehat yang berlebihan justru tidak membantu
7. Mengacu pada usaha untuk memberikan dukungan yang sesuai dengan kondisi penderita. Biasanya bantuan yang sangat berguna dimulai dengan membuat penderita mengevaluasi skedul hariannya untuk ‘merencanakan’ hidupnya lebih realistis sesuai dengan kondisinya saat itu. Cara ini dharapkan mampu mencegah penderita masuk dalam tahap depresi.
8. Pahami masalah budaya dan hal-hal yang berhubungan dengan keyakinan yang dipegang teguh oleh penderita dan keluarganya.
Dampak Kanker Terhadap Kualitas Hidup Pada Dimensi Sosial
Dimensi ini mengukur kualitas hidup individu dari seberapa baik manusia itu berinteraksi dan berperan dalam lingkungan sosialnya. Hal ini ditunjukkan pada hubungan social dalam lingkungan keluarga dan masyarakat sekitarnya, kontribusi yang diberikan kepada orang lain (pekerjaan, pendapatan dan hasil karya), dan lain sebagainya. Kualitas hidup pada dimensi ini akan terganggu saat seseorang menderita suatu penyakit sehingga menariknya dalam situasi ‘terisolir’ dan membuat lingkungan sosial ‘mengijinkan’ si penderita bebas dari peran sosialnya. Namun hal ini dapat menimbulkan beban bagi orang lain, antara lain beban finansial atas pembiayaan pengobatan, ketidakmampuan untuk menjadi semangat bagi lingkungannya dan lain-lain.
Pada dimensi ini hubungan emosional antar individu dapat pula terganggu. Ada ‘kewajiban moral’ untuk menjauhkan penderita dari situasi yang diperkirakan akan memperparah penyakitnya seperti pasangan yang ‘merelakan diri’ untuk tidak lagi melakukan hubungan seksual karena dikuatirkan akan menyebabkan kelelahan ; penderita tidak dilibatkan dalam keputusan dalam hal pembiayaan pengobatan ; penderita dibebaskan untuk beristirahat dan tugas pencarian nafkah dialihkan pada anggota keluarga lain ; dan sebagainya. Berikut akan dipaparkan singkat ilustrasi salah satu dampak lanjut pada dimensi ini, yaitu pada hubungan seksual.
Umumnya penderita kanker memfokuskan pengobatan pada usaha melawan kanker dan berusaha sembuh. Hal ini akan mempengaruhi kualitas hidup secara keseluruhan termasuk kehidupan seksual mereka.
Dalam masa pengobatan penderita akan mengalami berbagai perubahan dalam dirinya, yaitu perubahan fisik, psikologis, emosional, spiritual dan sosial. Bagi mereka yang bekerja di bidang kesehatan, biasanya lebih memfokuskan perhatian pada faktor medis, sementara mereka yang seharusnya memberikan perhatian pada perubahan non-medis bahkan ketika menghadapi penderita non-kanker sekalipun tetap akan mengalami kesulitan bila harus membicarakan tentang perubahan seksual.
Kehidupan seksual penderita kanker menjadi ‘ditinggalkan’ karena semua pihak ‘tidak membicarakan’. Efek samping dari pengobatan kanker yang banyak dilaporkan antara lain : keletihan, nyeri, mual, insomnia, konstipasi dan lain-lain membuat penderita tidak memperhatikan kehidupan seksual mereka. Hal ini masih ditambah lagi dengan dampak psikologis yang terjadi seperti kecemasan, rasa takut, depresi dan lain-lain yang juga akan mempengaruhi kehidupan seksual mereka. Pria dapat mengalami kesulitan ereksi dan wanita menjadi tidak bergairah. Bagi penderiota yang sudah berkeluarga, kehidupan seksual yang terganggu dapat menimbulkan permasalahan lain. (Hughes, 2000)
Namun sebagai manusia, unsur kebutuhan seksual tidak dapat ditinggalkan begitu saja. Tatkala menyadari bahwa begitu banyak hal yang ‘HILANG” setelah diagnosa kanker termasuk hubungan intim, penderita dapat merasa semakin tidak berarti dan bagi pasangan dari penderita dapat timbul perasaan bahwa ia tak lagi dapat berharap pemenuhan kebutuhan ini dari pasangannya. Bila hal ini tidak segera ditangani maka bukan tidak mungkin timbul perselingkuhan atau disfungsi seksual pada kedua belah pihak.
Penderita hendaknya diingatkan untuk melaporkan perubahan-perubahan yang mereka alami, termasuk perubahan dalam aktivitas kehiodupan seksualitasnya sehingga sebelum menjadi tambah parah (yang nantinya akan memperparah situasi menghadpi penyakit primernya yaitu kanker), hal ini sudah dapat terdeteksi dan ditangani. Oleh karenanya, para pekerja kesehatan juga hendaknya dibekali dengan pengetahuan dan ketrampilan untuk mendeteksi adanya perubahan seksualitas yang dialami oleh penderita kanker, karena hal ini secara cepat akan mempengaruhi kualitas kehidupan mereka.
Dampak Kanker Terhadap Kualitas Hidup Pada Dimensi Spiritualitas
Pada dimensi ini, seringkali lebih ditekankan pada aspek keagamaan / keyakinan yang dimiliki oleh individu. Kualitas hidup pada dimensi spiritualitas seseorang dinilai dari bagaimana ia mampu meyakini bahwa hidupnya berarti, mampu menaruh harapan pada kekuasaan yang lebih besar dari manusia (baca Tuhan, atau yang diagungkan). Pada dimensi spiritualitas ini, manusia yang kuat akan mampu menjalani ketidakpastian dan dari sini akan tumbuh dalam diri suatu penerimaan dan arti dari perjuangan hidup yang dijalani.
Diagnosa kanker pada kebanyakan penderita sering membawa mereka pada situasi keragu-raguan atas keyakinan mereka sendiri yang diwarnai dengan rasa bersalah dan konflik bathin antara menerima dan menolak kenyataan sakit ini.
Bagi penderita kanker, satu keinginan utama pada umumnya adalah untuk segera sembuh, bagaimanapun dan apapun caranya. Demikian pula pihak keluarga menginginkan hal yang sama. Dorongan untuk segera bebas dari kanker terutama didorong oleh rasa TAKUT (Fear) yang mempengaruhi segala sendi kehidupan mereka, yang termanifestasi dalam bentuk takut akan kematian, takut akan kanker itu sendiri dan takut bahwa banyak pihak akan menderita akibat penyakit ini (Bain, 2002). Dari kesemuanya ini yang paling berat menghantui seorang penderita kanker adalah bahwa sewaktu-waktu ia dapat saja meninggal dunia dan ia merasa tidak siap. Di saat inilah unsur spiritualitas muncul, seperti introspeksi terhadap perbuatan dosa yang telah dilakukan selama hidup, mengevaluasi berbagai kemungkinan bahwa kanker yang diderita mungkin saja akibat kesalahan yang telah dilakukan sebelumnya. Ketika unsur spiritualitas individu tersentuh dan penderita benar-benar ‘MENCARI SESUATU DALAM DIRINYA’, biasanya ia akan tiba pada suatu “PENEMUAN KEMBALI” tentang diri dan hubungannya dengan sang Pencipta. Namun dalam proses pencarian inilah biasanya penderita akan melewati tahap-tahap denial (penyangkalan), marah sampai akhirnya menerima kenyataan.
Untuk dapat membantu penderita kanker dengan mempertimbangkan aspek spiritualitas ini, maka akan bijaksana bila penderita dan keluarga melibatkan/memiliki teman bincang yang memiliki keyakinan keagamaan yang sama, sehingga tidak terdapat konflik yang berpangkal dari perbedaan keyakinan. Namun di sisi lain, pendampingan spiritual dalam menghadapi situasi sakit biasanya bersifat universal, sehingga siapapun sebenarnya memiliki kemampuan memberikan pendampingan spiritualitas.
Peran Keluarga dan Teman
Kanker tidak hanya mempengaruhi penderita sendiri, tetapi juga pada keluarganya. Sangat penting untuk memahami beberapa faktor berkaitan dengan keluarga penderita kanker :
1. Apakah dan bagaimana keluarga memberikan support pada penderita untuk tetap punya semangat hidup yang tinggi ?
Kemampuan keluarga penderita kanker untuk memberikan dukungan sangatlah penting. Namun perlu diingat bahwa tiap anggota keluarga mungkin mempunyai persepsi individual tentang penyakit ini termasuk pula opini terhadap model penyembuhan / intervensi dan juga pandangan tentang tenaga medis dan profesi lain yang terlibat.
Dukungan keluarga penderita kanker tidak hanya dukungan emosional dan psikologis semata, namun pada kenyataannya mereka akan terlibat pula dalam permasalahan finansial, pekerjaan, bahkan termasuk pula pembagian tugas pengasuhan (terutama bila terdapat anak dari penderita yang masih membutuhkan pengawasan dan pengasuhan). Komitmen keluarga pada awal biasanya masih mudah didapatkan, namun setelah jangka waktu tertentu focus perhatian bisa saja berubah dan penderita dan keluarga intinya tetap harus mengupayakan sendiri bagaimana menjalani hidupnya dan tidak bergantung pada keluarga saja.
2. Apakah penderita dan keluarganya mampu tetap mempertahankan hubungan interpersonal yang baik seperti sebelum salah satu anggota keluarganya menderita kanker ? Banyak penelitian menemukan bahwa penderita yang mampu menjalin dan mempertahankan hubungan baik dengan anggota keluarga yang lain lebih dapat menerima dan menyesuaikan diri dengan keadaan sakit kankernya. Apabila hubungan antar anggota keluarga memang sudah tidak harmonis, maka diagnosa kanker justru akan membuat keluarga tidak dapat diharapkan menjalankan fungsi suportif pada penderita.
3. Bagi pasangan (suami atau istri) dari penderita kanker, biasanya mereka juga merupakan pihak yang diharapkan memberikan dukungan yang terbesar, namun pada kenyataannya pasangan biasanya justru membutuhkan pendampingan emosional untuk menghadapi kenyataan ini.
4. Bila terdapat riwayat kanker pada keluarga, maka reaksi penderita dan keluarga akan berbeda karena biasanya mereka ‘lebih terbiasa dan lebih siap’, walaupun reaksi awal biasanya tak berbeda dengan mereka yang tidak mempunyai riwayat keluarga dengan kanker.
Saat ini perawatan penderita kanker sudah menekankan pentingnya pendekatan holistik, sehingga pemahaman para pekerja medis dan profesi lain yang berkaitan (psikolog, pekerja social, agamawan, dan lain-lain) terhadap pentingnya intervensi pada keluarga penderita kanker perlu terus ditingkatkan.
Sebagai seorang teman dari penderita kanker, bila Anda memutuskan untuk berperan lebih dari sekedar teman dan bermaksud memberikan dukungan bagi penderita kanker, maka beberapa hal di bawah ini dapat Anda pertimbangkan (Buchholz & Buchholz, 2003) :
1. Siapkan diri sendiri dan bertindaklah apa adanya, tidak perlu di buat-buat
2. Dengarkan dan jangan menghakimi !
3. Ketika menjadi semakin dekat, Anda bisa merasakan ‘sakit’ nya. Anda kan merasakan ‘sakit’ Anda sendiri. Artinya pertemanan Anda dengan penderita terkadang membuat Anda sendiri menemukan hal-hal yang menyakitkan dalam hidup Anda. Saat ini Anda merasa bahwa Anda hanyalah manusia biasa yang tidak kekal
4. Temukan keindahan dari sekeliling Anda. Bawalah bunga, gambar/foto keindahan alam, CD yang menggambarkan keindahan alam sekitar untuk memberikan kekuatan bahwa ciptaan Nya sungguh indah termasuk KITA
5. Dalam kebersamaan dengan penderita, Anda dan penderita bersama sesungguhnya saling ‘disembuhkan’. Menolong orang lain terkadang membuat kita menerima sesuatu pengalaman dan pelajaran berharga.
Peran Perawat dan Antisipasi Burn Out
Para pekerja kesehatan khususnya perawat ikut terkena dampak atas pekerjaan yang dilakukannya setiap hari. Bergumul dengan pasien, khususnya penderita kanker memberikan dampak fisiologis, psikologis dan sosial.
Perawat pasien dengan penyakit terminal seperti kanker, memiliki tingkat distress yang cukup tinggi, terutama bagi para perawat pemula. Berhadapan dengan penderita dan keluarganya yang depresi, merasa takut, penuh ketidakpastian dan melihat secara terus-menerus ‘perjuangan’ melawan penyakit seringkali justru menimbulkan distress yang berat pula bagi perawat. Oleh karena itu, sangat penting bagi perawat untuk secara berkala mendapat pendampingan psikologis pula untuk mencegah terjadinya burn out yang bila tidak diantisipasi justru dapat menimbulkan permasalahan yang lebih besar, seperti melakukan tindakan yang tidak sepatutnya yang dapat mengancam jiwa pasien serta akhirnya merugikan diri sendiri dan tempat kerja secara umum.
Ciri-ciri job burn out yang dapat dijadikan pertanda perlunya ‘time out’ bagi perawat antara lain meliputi aspek fisiologis, psikologis, perilaku :
Dampak fisiologis akibat burn out :
- merasa lelah berkepanjangan
- gangguan tidur
- pusing hebat
- sering sakit
Dampak psikologis yang nampak pada perilaku akibat burn out :
- menjauhkan diri dan menghindar dari pasien dan keluarganya, termasuk dari rekan sekerja
- image negatif tentang diri sendiri (misalnya merasa bersalah dan belum berbuat maksimal, menganggap diri bukan perawat yang baik, dst)
- depresi
- sering marah dan mudah tersinggung
- sering absen / minta ijin
- tidak menunjukkan perhatian pada detail pekerjaannya sebagaimana seharusnya
- timbul konflik dengan individu lain
- sulit mengambil keputusan yang berhubungan dengan perawatan pada pasien
- sulit berempati (merasakan apa yang dirasakan orang lain / pasien), sehingga terkesan tidak mau peduli, tidak perhatian (acuh tak acuh) dan tidak berperasaan
- tidak menunjukkan keinginan untuk membantu
Bagi perawat yang telah menunjukkan job burn out, hendaknya manajemen rumah sakit segera mengambil tindakan agar hal ini tidak mempengaruhi pasien lebih lanjut.
Intervensi Psikologis bagi Penderita Kanker
Banyak literature dan penelitian tentang pengaruh intervensi psikologis pada penderita kanker memberikan dampak positif pada kualitas hidup mereka. Dalam setiap tahap yang dilalui penderita mulai sejak diagnosa sampai dengan menghadapi tahap akhir kehidupan, intervensi psikologis sangat berperan.
Secara singkat pada makalah ini disampaikan bahwa pada mereka yang mengalami kesulitan penyesuaian diri terhadap penyakit kanker dan pengobatannya, maka tim paliatif bersama-sama tim psikologi merancang suatu intervensi untuk mengubah pola pikir dan perilaku melalui beberapa pendekatan baik pendekatan individual, kelompok maupun yang melibatkan keluarga. Diharapkan melalui intervensi ini, tiap dimensi kualitas hidup yang sudah dijelaskan di atas akan diperbaiki.
Contohnya, pada penderita kanker yang memiliki kecemasan yang berlebihan maka ia akan diikutsertakan pada program relaksasi, restrukturisasi kognitif, biofeedback dan cognitive-behaviour therapy. Penderita dan keluarga bersama-sama diajak berdiskusi tentang masa depan dan kebutuhan individual, sehingga penderita tidak kehilangan fungsinya sebagai manusia yang punya arti social. Pada intervensi psikologis ini penting disadari bahwa reaksi psikologis terhadap suatu perubahan adalah suatu yang wajar namun antisipasi terhadap dampak negatif berkelanjutan dari reaksi tersebutlah yang penting untuk dicegah. Dalam hal ini, pekerja kesehatan khususnya perawat mempunyai peran besar dalam mendeteksi dan menginformasikannya pada tim yang merawat penderita kanker.
Penutup
Untuk mampu memberikan penanganan yang holistic bagi penderita kanker dan keluarganya, maka latihan penajaman ketrampilan pada masing-masing profesi kesehatan perlu dilakukan secara terus-menerus. Intuisi dan pendekatan individual saja tidaklah cukup untuk mampu menjaga kualitas hidup optimal dari penderita kanker. Oleh karenanya, dari waktu ke waktu perlu ditingkatkan penelitian tentang metode dan strategi yang tepat untuk menjaga kualitas hidup penderita kanker di Indonesia khususnya, mengingat kualitas hidup berkaitan erat dengan system nilai dan budaya yang berlaku di masyarakat tempat tinggal penderita.
Disampaikan oleh Josephine M.J. Ratna, M.Psych dalam:
Seminar Keperawatan “Peran Perawat Dalam Meningkatkan Kualitas Hidup Penderita Kanker”
Akademi Keperawatan Katolik St. Vincentius A Paulo Surabaya
Sabtu 6 Desember 2003, Gedung Emaus lt. 5, jl. Jambi 12, Surabaya
Referensi
Baider, L., Cooper, C.L., Kaplan De-Nour, A. (eds) (1996). Cancer and Family. John Wiley and Sons : England.
Baider, L., Perettz, T., Hadani, P.E., Koch, U. (2001). Psychological intervention in cancer patients : a randomized study. General Hospital Psychiatry, 23(5) : 272-277.
Buchholz, W.M & Buchholz, S.W. (2003). Five Advanced Tips for Helping Friends with Cancer. http://www.cancerlynx.com/friend.html
Hilderley, L. (2001). Quality of Life. Rhode Island Cancer Council. http://www.ricancercouncil.org.issues/general_dec2001.php
Hughes, M.K. (2000). Sexuality and Cancer. http://cancerlynx.com/sexuality.html
Johnson, A. (2003). Cancer Comforters. http://www.cancerlynx.com/comforter.html
Ramirez, A.J., Graham, J., Richard, M.A., Cull, A., Gregory, W.M., Leaning, M.S., Snashall, D.C., Timothy, A.R. (1995). Burnout and Psychiatric Disorder Among cancer Clinicians. British Journal of Cancer, 71 : 1263 – 1269.
Spiegel, D., Fobair, P., Rosenbaum, E.H., Rosenbaum, I.R. (1998). Introduction to Cancer Psychosocial Support. http://www.cancersupportivecare.com/live.html
Watson, M. Psychological Adjustment Over Time. http://cope.uicc.org/updates/adjust.shtml
http://www.psychsociety.com.au/news/media_releases/10.1_5.asp
http://www.acs.ohio-state.edu/units/research/archive/caninter.htm
http://www.cancer.gov/cancerinfo/pdq/supportivecare/adjustment/healthprofessional
Pendahuluan
Ada kisah menarik yang ditulis oleh Ara Johnson (www.cancerlynx.com/comforter.html) tentang dampak reaksi dari teman terhadap seseorang yang baru saja mengetahui bahwa ia menderita kanker :
1. Temanku yang pertama datang dan menunjukkan keterkejutannya dengan berkata : “Aku tak percaya kau mengidap kanker. Kupikir kamu selalu aktif, lincah dan sehat-sehat saja”.
Setelah teman pertama pergi …. Aku merasa sendirian dan merasa aneh…. Ada sesuatu yang berbeda dari aku yang dulu
2. Temanku yang kedua datang dan menginformasikan berbagai macam pengobatan kanker, katanya : “Apapun yang kau lakukan, pokoknya jangan mau kalau harus kemoterapi ! Itu hanya akan meracuni kamu”.
Begitu temanku yang kedua pergi, aku merasa takut sekali dan kebingungan…..
3. Kemudian, temanku yang ketiga datang “Barangkali Tuhan ingin mencambukmu karena telah berbuat sesuatu yang tak pantas dalam hidupmu!”.
Sesaat setelah temanku pergi, aku merasa bersalah…..
4. Datanglah temanku yang keempat dan ia berkata :”Kalau kau percaya Tuhan, kau pasti sembuh”
Kala ia meninggalkanku, aku merasa bahwa mungkin aku salah memeluk agamaku yang sekarang……
5. Teman kelima datang dan berkata “Semua pasti ada hikmahnya”.
Saat ia pulang, aku merasa sangat marah……
6. Teman keenam tidak datang. Aku merasa sedih dan sendirian…..
7. Teman ketujuh datang dan ia hanya memegang tanganku dan berkata : “Saya peduli, saya di sini dan saya akan membantumu melewatinya”. Begitu ia pulang, aku merasa sangat dicintai….
Pengaruh Kanker terhadap Kualitas Hidup
Definisi kualitas hidup menurut WHO adalah persepsi individual tentang hidupnya dalam konteks budaya dan sistem nilai yang berlaku di tempat ia hidup dan berhubungan erat dengan tujuan hidup, harapan, standard dan hal-hal mendasar lain yang ada pada dirinya.
Saat diagnosa kanker terjadi pada seseorang, bagaimana kualitas hidupnya ? Diagnosa kanker mampu merubah status kesehatan sesorang yang tadinya normal dan berada dalam kestabilan / keseimbangan menjadi hidup dalam ‘ancaman kematian setiap saat’ yang diiukti dengan perasaan takut dan ketidakpastian.
Ada 4 dimensi kualitas hidup, yaitu dimensi fisik, psikologis, social dan spiritual. Keempat dimensi inilah yang menjadi ukuran seberapa baik kualitas hidup seseorang.
Dampak Kanker terhadap Kualitas Hidup Pada Dimensi Fisik
Yang termasuk dalam dimensi fisik kualitas hidup adalah keadaan sehat yang nyaman dan penuh mobilitas. Saat kanker menyerang dan pengobatan dimulai, maka gejala dan keluhan (tidak terjadi pada setiap penderita kanker) seperti nyeri, merasa tak berdaya, lelah, mual, kerontokan rambut, hilang nafsu makan, perubahan fungsi pembuangan membuat individu tidak lagi nyaman dan mobilitas terganggu. Kondisi ini secara langsung mempengaruhi kualitas hidup mereka.
Tim medis dan perawatan paliatif telah memiliki cara untuk mempertahankan kualitas hidup penderita kanker dengan membantu penderita menghadapi gangguan fisiologis yang dialami.
Dampak Kanker Terhadap Kualitas Hidup Pada Dimensi Psikologis
Kualitas hidup manusia dalam dimensi psikologis diukur lewat bagaimana manusia menikmati hidupnya, keterlibatannya dalam kegiatan yang menimbulkan kegembiraan dan kemampuan untuk mendapatkan kepuasan dan mengendalikan hidupnya. Tantangan pada dimensi ini menjadi demikian besar tatkala individu menderita kanker, dimana ia berhadapan dengan situasi yang penuh ketidakpastian, kecemasan dan ketakutan akan masa depan yang menggiring mereka pada situasi depresif.
Memang tidak mudah bagi penderita kanker untuk bisa menerima dan menjalani hidup sebagai penderita kanker. Kecemasan dan rasa kuatir yang berlebihan merupakan 2 bentuk yang paling sering muncul dan biasanya meningkat pada beberapa titik :
1. pada saat investigasi awal terhadap gejala-gejala yang mencurigakan ;
2. pada saat diagnosa
3. saat menjalani tahap-tahap pengobatan dan pasien diharuskan mengecek terus gejala-gejala lanjutan yang mungkin muncul
4. saat terjadi kembali gejala-gejala awal yang telah berlalu
5. saat prognosis yang kurang baik disampaikan
6. pada saat-saat akhir dari perjuangan hidup
Reaksi / perilaku penderita kanker bervariasi, antara lain :
1. Penderita yang menghadapi kenyataan dengan penuh semangat untuk melawan
2. Merasa tak berdaya (helplessness), dimana penderita cenderung merasa kehilangan dan tidak mampu melakukan semua hal akibat penyakit ini
3. Fatalisme, artinya menerima kenyataan ini tanpa menunjukkan usaha untuk menyembuhkan diri
4. Rasa cemas berlebihan dan berkelanjutan, sehingga hal-hal yang berhubungan dengan kanker begitu mendominasi hidup penderita yang secara tidak langsung justru meningkatkan kecemasan
5. Menghindar dan menunjukkan usaha bawa ia tidak kuatir terhadap apapun…
Menilik reaksi di atas, perlu nantinya dibedakan reaksi yang masih normal dan reaksi yang sudah mengarah pada gangguan. Screening terhadap hal tersebut di atas perlu dilakukan oleh tenaga professional yang telah mendapatkan pelatihan untuk mendeteksi hal tersebut, misalnya psikolog, psikiater, atau staff palliative care yang telah dilatih.
Untuk dapat menerima dan memahami mengapa seorang penderita kanker bereaksi atau berperilaku / memiliki pola pikir tertentu, maka perlu diketahui apakah :
- terdapat riwayat gangguan psikiatrik sebelumnya ?
- dukungan dari keluarga dan teman cukup/kurang ?
- penderita tidak dapat menerima perubahan fisik yang terjadi akibat penyakit dan pengobatannya (misalnya kemoterapi dapat menimbulkan berbagai efek samping)?
- Penderita kurang terlibat dalam kegiatan-kegiatan yang menyenangkan dan memberikan kepuasan?
- Terdapat riwayat pengalaman kanker pada keluarga sebelumnya ?
- Penderita merasa tidak yakin akan efektivitas pengobatan?
- Penderita dan atau keluarga sedang mengalami permasalahan lain secara bersamaan?
Untuk membantu agar penderita kanker dapat menyesuaikan diri dengan penyakit yang dideritanya dan mengantisipasi agar tidak mengalami permasalahan lain yang dapat memperparah kondisi fisik dan psikologis mereka, maka lakukanlah beberapa hal mendasar di bawah ini agar kebutuhan emosional dan spiritualnya terpenuhi :
1. yakinkan penderita bahwa mereka dapat membicarakan apa yang mereka rasakan secara privat dengan orang yang mereka pilih ;
2. ciptakan suasana informal sehingga mendorong penderita untuk mengungkapkan perasaannya dengan lebih nyaman
3. jangan menyampaikan hal-hal yang tidak diminta oleh penderita
4. gunakan bahasa yang mudah dipahami dan hindari penggunaan istilah – istilah rumit yang tidak mudah dimengerti. Cek kembali untuk mengetahui apakah penderita telah menangkap informasi dengan benar
5. tunjukkan bahwa Anda memperhatikan mereka dengan memandang penderita saat berbicara.
6. Jangan memberikan nasehat yang tidak diminta. Nasehat yang berlebihan justru tidak membantu
7. Mengacu pada usaha untuk memberikan dukungan yang sesuai dengan kondisi penderita. Biasanya bantuan yang sangat berguna dimulai dengan membuat penderita mengevaluasi skedul hariannya untuk ‘merencanakan’ hidupnya lebih realistis sesuai dengan kondisinya saat itu. Cara ini dharapkan mampu mencegah penderita masuk dalam tahap depresi.
8. Pahami masalah budaya dan hal-hal yang berhubungan dengan keyakinan yang dipegang teguh oleh penderita dan keluarganya.
Dampak Kanker Terhadap Kualitas Hidup Pada Dimensi Sosial
Dimensi ini mengukur kualitas hidup individu dari seberapa baik manusia itu berinteraksi dan berperan dalam lingkungan sosialnya. Hal ini ditunjukkan pada hubungan social dalam lingkungan keluarga dan masyarakat sekitarnya, kontribusi yang diberikan kepada orang lain (pekerjaan, pendapatan dan hasil karya), dan lain sebagainya. Kualitas hidup pada dimensi ini akan terganggu saat seseorang menderita suatu penyakit sehingga menariknya dalam situasi ‘terisolir’ dan membuat lingkungan sosial ‘mengijinkan’ si penderita bebas dari peran sosialnya. Namun hal ini dapat menimbulkan beban bagi orang lain, antara lain beban finansial atas pembiayaan pengobatan, ketidakmampuan untuk menjadi semangat bagi lingkungannya dan lain-lain.
Pada dimensi ini hubungan emosional antar individu dapat pula terganggu. Ada ‘kewajiban moral’ untuk menjauhkan penderita dari situasi yang diperkirakan akan memperparah penyakitnya seperti pasangan yang ‘merelakan diri’ untuk tidak lagi melakukan hubungan seksual karena dikuatirkan akan menyebabkan kelelahan ; penderita tidak dilibatkan dalam keputusan dalam hal pembiayaan pengobatan ; penderita dibebaskan untuk beristirahat dan tugas pencarian nafkah dialihkan pada anggota keluarga lain ; dan sebagainya. Berikut akan dipaparkan singkat ilustrasi salah satu dampak lanjut pada dimensi ini, yaitu pada hubungan seksual.
Umumnya penderita kanker memfokuskan pengobatan pada usaha melawan kanker dan berusaha sembuh. Hal ini akan mempengaruhi kualitas hidup secara keseluruhan termasuk kehidupan seksual mereka.
Dalam masa pengobatan penderita akan mengalami berbagai perubahan dalam dirinya, yaitu perubahan fisik, psikologis, emosional, spiritual dan sosial. Bagi mereka yang bekerja di bidang kesehatan, biasanya lebih memfokuskan perhatian pada faktor medis, sementara mereka yang seharusnya memberikan perhatian pada perubahan non-medis bahkan ketika menghadapi penderita non-kanker sekalipun tetap akan mengalami kesulitan bila harus membicarakan tentang perubahan seksual.
Kehidupan seksual penderita kanker menjadi ‘ditinggalkan’ karena semua pihak ‘tidak membicarakan’. Efek samping dari pengobatan kanker yang banyak dilaporkan antara lain : keletihan, nyeri, mual, insomnia, konstipasi dan lain-lain membuat penderita tidak memperhatikan kehidupan seksual mereka. Hal ini masih ditambah lagi dengan dampak psikologis yang terjadi seperti kecemasan, rasa takut, depresi dan lain-lain yang juga akan mempengaruhi kehidupan seksual mereka. Pria dapat mengalami kesulitan ereksi dan wanita menjadi tidak bergairah. Bagi penderiota yang sudah berkeluarga, kehidupan seksual yang terganggu dapat menimbulkan permasalahan lain. (Hughes, 2000)
Namun sebagai manusia, unsur kebutuhan seksual tidak dapat ditinggalkan begitu saja. Tatkala menyadari bahwa begitu banyak hal yang ‘HILANG” setelah diagnosa kanker termasuk hubungan intim, penderita dapat merasa semakin tidak berarti dan bagi pasangan dari penderita dapat timbul perasaan bahwa ia tak lagi dapat berharap pemenuhan kebutuhan ini dari pasangannya. Bila hal ini tidak segera ditangani maka bukan tidak mungkin timbul perselingkuhan atau disfungsi seksual pada kedua belah pihak.
Penderita hendaknya diingatkan untuk melaporkan perubahan-perubahan yang mereka alami, termasuk perubahan dalam aktivitas kehiodupan seksualitasnya sehingga sebelum menjadi tambah parah (yang nantinya akan memperparah situasi menghadpi penyakit primernya yaitu kanker), hal ini sudah dapat terdeteksi dan ditangani. Oleh karenanya, para pekerja kesehatan juga hendaknya dibekali dengan pengetahuan dan ketrampilan untuk mendeteksi adanya perubahan seksualitas yang dialami oleh penderita kanker, karena hal ini secara cepat akan mempengaruhi kualitas kehidupan mereka.
Dampak Kanker Terhadap Kualitas Hidup Pada Dimensi Spiritualitas
Pada dimensi ini, seringkali lebih ditekankan pada aspek keagamaan / keyakinan yang dimiliki oleh individu. Kualitas hidup pada dimensi spiritualitas seseorang dinilai dari bagaimana ia mampu meyakini bahwa hidupnya berarti, mampu menaruh harapan pada kekuasaan yang lebih besar dari manusia (baca Tuhan, atau yang diagungkan). Pada dimensi spiritualitas ini, manusia yang kuat akan mampu menjalani ketidakpastian dan dari sini akan tumbuh dalam diri suatu penerimaan dan arti dari perjuangan hidup yang dijalani.
Diagnosa kanker pada kebanyakan penderita sering membawa mereka pada situasi keragu-raguan atas keyakinan mereka sendiri yang diwarnai dengan rasa bersalah dan konflik bathin antara menerima dan menolak kenyataan sakit ini.
Bagi penderita kanker, satu keinginan utama pada umumnya adalah untuk segera sembuh, bagaimanapun dan apapun caranya. Demikian pula pihak keluarga menginginkan hal yang sama. Dorongan untuk segera bebas dari kanker terutama didorong oleh rasa TAKUT (Fear) yang mempengaruhi segala sendi kehidupan mereka, yang termanifestasi dalam bentuk takut akan kematian, takut akan kanker itu sendiri dan takut bahwa banyak pihak akan menderita akibat penyakit ini (Bain, 2002). Dari kesemuanya ini yang paling berat menghantui seorang penderita kanker adalah bahwa sewaktu-waktu ia dapat saja meninggal dunia dan ia merasa tidak siap. Di saat inilah unsur spiritualitas muncul, seperti introspeksi terhadap perbuatan dosa yang telah dilakukan selama hidup, mengevaluasi berbagai kemungkinan bahwa kanker yang diderita mungkin saja akibat kesalahan yang telah dilakukan sebelumnya. Ketika unsur spiritualitas individu tersentuh dan penderita benar-benar ‘MENCARI SESUATU DALAM DIRINYA’, biasanya ia akan tiba pada suatu “PENEMUAN KEMBALI” tentang diri dan hubungannya dengan sang Pencipta. Namun dalam proses pencarian inilah biasanya penderita akan melewati tahap-tahap denial (penyangkalan), marah sampai akhirnya menerima kenyataan.
Untuk dapat membantu penderita kanker dengan mempertimbangkan aspek spiritualitas ini, maka akan bijaksana bila penderita dan keluarga melibatkan/memiliki teman bincang yang memiliki keyakinan keagamaan yang sama, sehingga tidak terdapat konflik yang berpangkal dari perbedaan keyakinan. Namun di sisi lain, pendampingan spiritual dalam menghadapi situasi sakit biasanya bersifat universal, sehingga siapapun sebenarnya memiliki kemampuan memberikan pendampingan spiritualitas.
Peran Keluarga dan Teman
Kanker tidak hanya mempengaruhi penderita sendiri, tetapi juga pada keluarganya. Sangat penting untuk memahami beberapa faktor berkaitan dengan keluarga penderita kanker :
1. Apakah dan bagaimana keluarga memberikan support pada penderita untuk tetap punya semangat hidup yang tinggi ?
Kemampuan keluarga penderita kanker untuk memberikan dukungan sangatlah penting. Namun perlu diingat bahwa tiap anggota keluarga mungkin mempunyai persepsi individual tentang penyakit ini termasuk pula opini terhadap model penyembuhan / intervensi dan juga pandangan tentang tenaga medis dan profesi lain yang terlibat.
Dukungan keluarga penderita kanker tidak hanya dukungan emosional dan psikologis semata, namun pada kenyataannya mereka akan terlibat pula dalam permasalahan finansial, pekerjaan, bahkan termasuk pula pembagian tugas pengasuhan (terutama bila terdapat anak dari penderita yang masih membutuhkan pengawasan dan pengasuhan). Komitmen keluarga pada awal biasanya masih mudah didapatkan, namun setelah jangka waktu tertentu focus perhatian bisa saja berubah dan penderita dan keluarga intinya tetap harus mengupayakan sendiri bagaimana menjalani hidupnya dan tidak bergantung pada keluarga saja.
2. Apakah penderita dan keluarganya mampu tetap mempertahankan hubungan interpersonal yang baik seperti sebelum salah satu anggota keluarganya menderita kanker ? Banyak penelitian menemukan bahwa penderita yang mampu menjalin dan mempertahankan hubungan baik dengan anggota keluarga yang lain lebih dapat menerima dan menyesuaikan diri dengan keadaan sakit kankernya. Apabila hubungan antar anggota keluarga memang sudah tidak harmonis, maka diagnosa kanker justru akan membuat keluarga tidak dapat diharapkan menjalankan fungsi suportif pada penderita.
3. Bagi pasangan (suami atau istri) dari penderita kanker, biasanya mereka juga merupakan pihak yang diharapkan memberikan dukungan yang terbesar, namun pada kenyataannya pasangan biasanya justru membutuhkan pendampingan emosional untuk menghadapi kenyataan ini.
4. Bila terdapat riwayat kanker pada keluarga, maka reaksi penderita dan keluarga akan berbeda karena biasanya mereka ‘lebih terbiasa dan lebih siap’, walaupun reaksi awal biasanya tak berbeda dengan mereka yang tidak mempunyai riwayat keluarga dengan kanker.
Saat ini perawatan penderita kanker sudah menekankan pentingnya pendekatan holistik, sehingga pemahaman para pekerja medis dan profesi lain yang berkaitan (psikolog, pekerja social, agamawan, dan lain-lain) terhadap pentingnya intervensi pada keluarga penderita kanker perlu terus ditingkatkan.
Sebagai seorang teman dari penderita kanker, bila Anda memutuskan untuk berperan lebih dari sekedar teman dan bermaksud memberikan dukungan bagi penderita kanker, maka beberapa hal di bawah ini dapat Anda pertimbangkan (Buchholz & Buchholz, 2003) :
1. Siapkan diri sendiri dan bertindaklah apa adanya, tidak perlu di buat-buat
2. Dengarkan dan jangan menghakimi !
3. Ketika menjadi semakin dekat, Anda bisa merasakan ‘sakit’ nya. Anda kan merasakan ‘sakit’ Anda sendiri. Artinya pertemanan Anda dengan penderita terkadang membuat Anda sendiri menemukan hal-hal yang menyakitkan dalam hidup Anda. Saat ini Anda merasa bahwa Anda hanyalah manusia biasa yang tidak kekal
4. Temukan keindahan dari sekeliling Anda. Bawalah bunga, gambar/foto keindahan alam, CD yang menggambarkan keindahan alam sekitar untuk memberikan kekuatan bahwa ciptaan Nya sungguh indah termasuk KITA
5. Dalam kebersamaan dengan penderita, Anda dan penderita bersama sesungguhnya saling ‘disembuhkan’. Menolong orang lain terkadang membuat kita menerima sesuatu pengalaman dan pelajaran berharga.
Peran Perawat dan Antisipasi Burn Out
Para pekerja kesehatan khususnya perawat ikut terkena dampak atas pekerjaan yang dilakukannya setiap hari. Bergumul dengan pasien, khususnya penderita kanker memberikan dampak fisiologis, psikologis dan sosial.
Perawat pasien dengan penyakit terminal seperti kanker, memiliki tingkat distress yang cukup tinggi, terutama bagi para perawat pemula. Berhadapan dengan penderita dan keluarganya yang depresi, merasa takut, penuh ketidakpastian dan melihat secara terus-menerus ‘perjuangan’ melawan penyakit seringkali justru menimbulkan distress yang berat pula bagi perawat. Oleh karena itu, sangat penting bagi perawat untuk secara berkala mendapat pendampingan psikologis pula untuk mencegah terjadinya burn out yang bila tidak diantisipasi justru dapat menimbulkan permasalahan yang lebih besar, seperti melakukan tindakan yang tidak sepatutnya yang dapat mengancam jiwa pasien serta akhirnya merugikan diri sendiri dan tempat kerja secara umum.
Ciri-ciri job burn out yang dapat dijadikan pertanda perlunya ‘time out’ bagi perawat antara lain meliputi aspek fisiologis, psikologis, perilaku :
Dampak fisiologis akibat burn out :
- merasa lelah berkepanjangan
- gangguan tidur
- pusing hebat
- sering sakit
Dampak psikologis yang nampak pada perilaku akibat burn out :
- menjauhkan diri dan menghindar dari pasien dan keluarganya, termasuk dari rekan sekerja
- image negatif tentang diri sendiri (misalnya merasa bersalah dan belum berbuat maksimal, menganggap diri bukan perawat yang baik, dst)
- depresi
- sering marah dan mudah tersinggung
- sering absen / minta ijin
- tidak menunjukkan perhatian pada detail pekerjaannya sebagaimana seharusnya
- timbul konflik dengan individu lain
- sulit mengambil keputusan yang berhubungan dengan perawatan pada pasien
- sulit berempati (merasakan apa yang dirasakan orang lain / pasien), sehingga terkesan tidak mau peduli, tidak perhatian (acuh tak acuh) dan tidak berperasaan
- tidak menunjukkan keinginan untuk membantu
Bagi perawat yang telah menunjukkan job burn out, hendaknya manajemen rumah sakit segera mengambil tindakan agar hal ini tidak mempengaruhi pasien lebih lanjut.
Intervensi Psikologis bagi Penderita Kanker
Banyak literature dan penelitian tentang pengaruh intervensi psikologis pada penderita kanker memberikan dampak positif pada kualitas hidup mereka. Dalam setiap tahap yang dilalui penderita mulai sejak diagnosa sampai dengan menghadapi tahap akhir kehidupan, intervensi psikologis sangat berperan.
Secara singkat pada makalah ini disampaikan bahwa pada mereka yang mengalami kesulitan penyesuaian diri terhadap penyakit kanker dan pengobatannya, maka tim paliatif bersama-sama tim psikologi merancang suatu intervensi untuk mengubah pola pikir dan perilaku melalui beberapa pendekatan baik pendekatan individual, kelompok maupun yang melibatkan keluarga. Diharapkan melalui intervensi ini, tiap dimensi kualitas hidup yang sudah dijelaskan di atas akan diperbaiki.
Contohnya, pada penderita kanker yang memiliki kecemasan yang berlebihan maka ia akan diikutsertakan pada program relaksasi, restrukturisasi kognitif, biofeedback dan cognitive-behaviour therapy. Penderita dan keluarga bersama-sama diajak berdiskusi tentang masa depan dan kebutuhan individual, sehingga penderita tidak kehilangan fungsinya sebagai manusia yang punya arti social. Pada intervensi psikologis ini penting disadari bahwa reaksi psikologis terhadap suatu perubahan adalah suatu yang wajar namun antisipasi terhadap dampak negatif berkelanjutan dari reaksi tersebutlah yang penting untuk dicegah. Dalam hal ini, pekerja kesehatan khususnya perawat mempunyai peran besar dalam mendeteksi dan menginformasikannya pada tim yang merawat penderita kanker.
Penutup
Untuk mampu memberikan penanganan yang holistic bagi penderita kanker dan keluarganya, maka latihan penajaman ketrampilan pada masing-masing profesi kesehatan perlu dilakukan secara terus-menerus. Intuisi dan pendekatan individual saja tidaklah cukup untuk mampu menjaga kualitas hidup optimal dari penderita kanker. Oleh karenanya, dari waktu ke waktu perlu ditingkatkan penelitian tentang metode dan strategi yang tepat untuk menjaga kualitas hidup penderita kanker di Indonesia khususnya, mengingat kualitas hidup berkaitan erat dengan system nilai dan budaya yang berlaku di masyarakat tempat tinggal penderita.
Disampaikan oleh Josephine M.J. Ratna, M.Psych dalam:
Seminar Keperawatan “Peran Perawat Dalam Meningkatkan Kualitas Hidup Penderita Kanker”
Akademi Keperawatan Katolik St. Vincentius A Paulo Surabaya
Sabtu 6 Desember 2003, Gedung Emaus lt. 5, jl. Jambi 12, Surabaya
Referensi
Baider, L., Cooper, C.L., Kaplan De-Nour, A. (eds) (1996). Cancer and Family. John Wiley and Sons : England.
Baider, L., Perettz, T., Hadani, P.E., Koch, U. (2001). Psychological intervention in cancer patients : a randomized study. General Hospital Psychiatry, 23(5) : 272-277.
Buchholz, W.M & Buchholz, S.W. (2003). Five Advanced Tips for Helping Friends with Cancer. http://www.cancerlynx.com/friend.html
Hilderley, L. (2001). Quality of Life. Rhode Island Cancer Council. http://www.ricancercouncil.org.issues/general_dec2001.php
Hughes, M.K. (2000). Sexuality and Cancer. http://cancerlynx.com/sexuality.html
Johnson, A. (2003). Cancer Comforters. http://www.cancerlynx.com/comforter.html
Ramirez, A.J., Graham, J., Richard, M.A., Cull, A., Gregory, W.M., Leaning, M.S., Snashall, D.C., Timothy, A.R. (1995). Burnout and Psychiatric Disorder Among cancer Clinicians. British Journal of Cancer, 71 : 1263 – 1269.
Spiegel, D., Fobair, P., Rosenbaum, E.H., Rosenbaum, I.R. (1998). Introduction to Cancer Psychosocial Support. http://www.cancersupportivecare.com/live.html
Watson, M. Psychological Adjustment Over Time. http://cope.uicc.org/updates/adjust.shtml
http://www.psychsociety.com.au/news/media_releases/10.1_5.asp
http://www.acs.ohio-state.edu/units/research/archive/caninter.htm
http://www.cancer.gov/cancerinfo/pdq/supportivecare/adjustment/healthprofessional
Subscribe to:
Comments (Atom)
