Sunday, June 30, 2002

Bila Suami Anak Mami

Kegagalan Oedipus Complex

Menurut psikolog Dra. Josephine Ratna, M. Psych., sikap suami yang sangat tergantung secara psikis terhadap orangtua (ibu), itu karena dia gagal melampaui tahapan Oedipus Complex.

Suatu tahapan yang dilalui setiap orang pada usia antara 5-7 tahun. Dan itu terjadi akibat orangtua yang terlalu sayang kepada anak, sehingga tidak memberikan kesempatan pada anak untuk belajar mandiri. Sebuah rasa sayang terhadap anak yang salah dalam penerapannya.

"Karena terlalu sayang, si orangtua tidak memberi kebebasan anak. Setiap kali anak mau melakukan sesuatu selalu dilarang, dengan alasannya, khawatir terjadi sesuatu yang mencelakai anak. Begitu juga anak tidak diberi kesempatan mengerjakan sesuatu. Mainan atau pekerjaan yang seharusnya dilakukan anak, diambil alih, dengan alasan kasihan atau merasa anak tidak akan bisa. Itu dilakukan si ibu karena rasa sayangnya pada si anak, tanpa mengetahui atau memikirkan dampaknya psikologis pada anak," papar Vivin, panggilan akrab Josephine Maria Julianti Ratna.

Lebih parah lagi, lanjutnya, bila orangtua selalu mengatakan, "Kamu tidak bisa, sini biar mama yang mengerjakan," atau membela anak yang sedang dimarahi ayahnya. Kondisi ini membuat anak merasa nyaman bersama ibunya, sehingga tidak bisa melewati tahapan Oedipus Complex. "Kalau orangtua sayang terhadap anak, kasih sayang itu hendaknya diwujudkan dengan memberi kesempatan anak berusaha mandiri. Dan yang paling baik dilakukan adalah saat anak berusia 5-7 tahun, karena anak menentukan perkembangan dan keadaan psikis dikemudian hari.

Untuk mengubah sikap 'anak mami' menjadi seorang pria dewasa yang mandiri, menurut psikolog yang praktek di RS Surabaya International dan RSK Santo Vincentius A Paulo (RKZ) ini tidak mudah. Kuncinya ada pada ibunya. Selain harus memberi semangat untuk bersikap mandiri secara terus menerus, si ibu juga harus rela 'melepas' anaknya. "Kalau mengharapkan kesadaran muncul dari dai (suami- , Red) terlalu sulit," tandas Vivin. Kalau ibunya tidak 'rela' dan ikhlas melepas, kata Vivin, istri harus berjuang agar suami mau menjalani terapi atau konsultasi dengan psikolog. "Sekali lagi, kuncinya pada ibunya," tandas Vivin.

Sumber:
Harian Surya, Minggu 30 Juni 2002

Sunday, May 5, 2002

Bila Pasangan Tuntut Keperawanan

Media Barat pernah membanggakan selebriti kesayangan mereka, si Perawan Amerika, Brooke Shields. Meski akhirnya keperawanan si Blue Lagoon ini tidak memberinya jaminan kelanggengan biduk rumah tangganya dengan petenis Andre Agassi. Kini, publik Barat kembali menemukan sang perawan kebanggan mereka. Penyanyi remaja penuh talenta, Britney Spears, yang berani menyatakan dirinya masih perawan dan akan terus mempertahankannya sampai nanti menjelang pernikahannya.


Apa yang bisa kita tangkap? Ternyata era kebebasan yang selama ini menjadi dewa bagi negara-negara di belahan Barat sana, mereka masih berharap banyak pada sebuah keperawanan. Bagaimana dengan fenomena moral remaja dan anak baru gedhe (ABG) kita yang kian memprihatinkan itu?

“Kalau bisa dijaga bener deh sampai menjelang pernikahan nanti,” ujar keprihatinan peragawati papan atas Indonesia, Arzety Bilbina dan penyanyi R&B Sania, menyikapi keperawanan. Pasalnya, belum tentu si perempuan akan mendapat suami yang penuh pengertian mengenai keperawanan. Bagaimana kalau Mr Right atau Mr Perfect balik merongrong dengan menggunakan senjata keperawanan sepanjang hidup perkawinan mereka?

Sementara Josephine M. J. Ratna, psikolog Universitas Widya Mandala (UWM) Surabaya, menyarankan senada. Idealnya perempuan saat melangsungkan pernikahan masih virgin (perawan). Begitu pula mempelai laki-laki, masih perjaka.

Tapi kalau memang mereka sudah tak lagi perawan ataupun perjaka, tidak sepatutnya masalah itu dipertanyakan. Sebab, sebelum memutuskan untuk menikah, tentu mereka terlebih dahulu harus mengenal pasangan masing-masing.

“Kalau seorang suami mempertanyakan keperawanan istri, dan sebaliknya seorang istri mempertanyakan keperjakaan suami, sudah bukan saatnya. Itu hanya mencari-cari masalah dan pandangan mereka terhadap pernikahan sangat sempit. Pertanyaan semacam itu seharusnya dilontarkan sebelum mereka memutuskan untuk menikah,” tutur Josephine.

Karena itu, lanjutnya, pacaran sangat penting. Pacaran merupakan masa penjajakan untuk mengetahui lebih jauh tentang calon suami atau istri, untuk mengetahui sejauh mana mereka cocok untuk hidup bersama.

Pada masa ini, perempuan bisa mengungkapkan keadaan dirinya. Namun, khusus soal keperawanan, hendaknya jangan disampaikan secara vulgar dan juga jangan dengan nada seperti terdakwa, karena justru bisa ditafsirkan sebagai bentuk kesalahan dan kepasrahan. Cukup dengan isyarat, dan kalau ternyata calon suami tanggapannya negative, tidak berkenan, lebih baik hubungan tidak diteruskan.

Ia merasa heran dengan pasangan suami-istri yang sudah bertahun-tahun mengarungi kehidupan rumah tangga masih tetap mempersoalkan keperawanan dan menjadikan istrinya sebagai ‘bulan-bulanan’.

Itu sama artinya dia secara mental belum siap menikahi istrinya. Dalam kondisi semacam ini, keharmonisan rumah tangga sulit diharapkan. Seharusnya mereka bisa menerima apa adanya.


Bukan masalah fisik

Tentang operasi selaput dara, menurut Josephine, akan merugikan diri sendiri, terutama kalau suami bersifat terbuka. Sebab kalau suatu saat ketahuan, suami akan merasa telah dibohongi dan sulit untuk mengembalikan kepercayaannya.

Promosi mengenai keperawanan kini tengah digencarkan Singapura lewat program Singapore Virgins menyarankan senada. Bahwa operasi selaput dara sebelum menikah bukan jaminan. Karena keperawanan bukan sekadar urusan fisik semata. Namun terkandung aspek di dalamnya, dan nurani Anda akan terus ‘mempersoalkan’ selamanya.

Sasaran Singapore Virgins sebetuknya untuk menggarap kaum muda Negeri Singa itu yang cenderung bersikap mulai mengkhawatirkan. Bahkan berkembang anggapan di kalangan mereka, bahwa masih perawan berarti kuno dan tidak trendi. Berkembang pula anggapan, mereka yang belum ‘kehilangan’ keperawanannya merasa sebagai kelompok minoritas. Mereka juga merasa ketakutan, hingga usianya yang kepala dua atau tiga masih tetap perawan.

Banyaknya anggapan yang keliru mengenai hal itu. Seperti kasus klise, menyerahkan keperawanan sebagai bukti cinta kepada pasangan. Singapore Virgins menekankan bahwa, keperawanan tidak ada sangkut pautnya dengan usia seseorang. Bahwa cinta yang sesungguhnya lahir dari hati yang dalam, bukan dari mata atau tubuh seseorang. (lia/tri/SV)


Jika Mencintainya …

Jika Anda memang benar-benar mencintainya, maka:

• Hargai dia dan keputusannya.

• Jangan pernah mencoba mempengaruhinya untuk melakukan hubungan seks.

• Jangan pernah menekan dirinya.

• Lakukan hubungan seksual hanya setelah menikah.

• Tunjukkan rasa cinta tanpa pemaksaan hubungan seksual. (tri/SV)



Sumber:

Harian Surya, Minggu 5 Mei 2002

Sunday, April 7, 2002

Beri Kesempatan Suami

Beban yang dihadapi Nia Daniaty, secara psikologis memang berat. Meskipun yang memiliki persoalan itu suami, namun ebagai public figure, justru ia yang menjadi sorotan dan pergunjingan masyarakat. Apalagi perkawinan pertamanya juga berantakan.

Untuk meringankan beban itu, menurut psikolog Dra. Josephine Maria Julianti Ratna, M. Psych., Nia Daniaty harus berpikir secara rasional, tidak perlu hanyut dalam persoalan yang dihadapi suaminya. Juga tidak perlu menyalahkan suami, karena hal itu akan memunculkan persoalan baru dalam rumah tangganya.

"Persoalan yang sedang dihadapi adalah persoalan suami dengan wanita yang pernah menjadi istrinya. Beri kesempatan kepada suami untuk menyelesaikan," kata Josephine.

Apa Nia tidak merasa ditipu? "Persoalan suami tak semuanya diketahui istri. Begitu juga sebaliknya, karena setiap individu memiliki persoalan masing-masing. Apalagi mereka baru menikah dan pacarannya juga relatif sebentar. Wong yang sudah berkeluarga selama bertahun-tahun saja belum tentu tahu semua persoalan yang dihadapi pasangan kok. Nia Daniaty tak perlu merasa dirinya ditipu," kata Josephine.

Disamping itu, lanjutnya, Nia tidak perlu banyak  berkomentar tentang kasus itu. Semakin dia banyak berbicara, akan menimbulkan polemik, dan tentunya dia akan semakin menjadi sorotan masyarakat dengan berbagai macam penilaian. Dan hal itu justru akan menjadikan beban Nia semakin berat.

Sumber:
Harian Surya, 7 April 2002

Dekatkan sejak pacaran

“Dia akan bertambah tertekan kalau ternyata suami membela ibunya”
Hubungan menantu perempuan dengan mertua perempuan selalu digambarkan penuh konflik bagaikan hubungan kucing dan anjing, tentu saja gambaran semacam itu tidak sepenuhnya benar, kenyataannya banyak yang rukun-rukun saja.
Namun juga tak dapat disalahkan, sebab kenyataannya memang banyak terjadi konflik antara menantu perempuan dan mertua perempuan.
Konflik itu muncul karena secara psikologis, mertua perempuan sadar atau tidak sadar merasa anak laki-lakinya ‘dirampas’ menantunya. Ibu yang bertahun-tahun membesarkan dan mendidik merasa kehilangan. Apalagi kalau anaknya itu anak lelaki satu-satunya atau anak kesayangan.
Keadaan bertambah parah jika sebelum menikah anak laki-lakinya itu pencari nafkah utama keluarga dan selalu mengutamakan kepentingan ibu, sedang ibunya mengurus keperluan putranya. Setelah menikah, tentu perhatian itu ditumpahkan kepada istri serta anak-anaknya. Akibatnya, ibu merasa diacuhkan dan disia-siakan.
Karena perasaan-perasaan itu, maka seringkali ibu mertua bersikap sinis, galak dan selalu mengkritik menantu perempuannya. Segala hal mengenai menantu perempuannya dinilainya kurang. Keadaan bertambah parah kalau ibu dan menantu perempuan tinggal satu rumah, apalagi tinggal di rumah miliki suami, maupun suami masih tinggal di rumah orangtuanya.
Urusan dapur pun menjadi masalah. Ibu mertua tidak mau ‘daerah kekuasaannya’ direbut menantu, karena merasa dia yang berkuasa di rumah itu. Selain itu, dia merasa lebih tahu seera makan anaknya. Sikap ibu mertua makin menjadi-jadi kalau dulu dia tidak merestui perkawinan anaknya, baik karena perbedaan status, ekonomi atau lainnya. Hal ini bisa menjadi alasan untuk menjatuhkan menantu perempuannya.
Dalam kasus seperti itu, umumnya menantu perempuan hanya bisa mengeluh pada suami, dan tentu saja hal itu mengganggu keharmonisan rumah tangga mereka. “Dia akan bertambah tertekan kalau ternyata suami membela ibunya,” kata Dra. Josephine Maria Julianti Ratna M. Psych, Psikolog di RS Surabaya International, yang juga Direktur Australia Education Centre di Surabaya.
Mengapa konflik seperti itu jarang terjadi antara menantu lelaki dan mertua perempuan ataupun mertua lelaki? “Karena menantu laki-laki kodratnya sebagai pencari nafkah keluarga, sehingga sebagian besar waktunya dihabiskan di luar rumah. Dengan demikian, sumber-sumber penyebab konflik dengan mertua bisa dihindari,” ujarnya.

Sinergi Segitiga
Untuk menghindari konflik menantu perempuan dengan mertua perempuan, menurut Josephine, mereka harus bisa menciptakan hubungan segitiga, yaitu hubungan antara istri dengan suami, istri (menantu) dengan mertua dan suami dengan ibunya.
“Jangan berupa hubungan garis lurus (istri-suami-mertua, atau istri-mertua-suami, Red), karena yang berada di tengah menjadi serba salah,” tandas Josephine.
Agar tercipta hubungan segitiga yang baik, lanjut Josephine, hendaknya dimulai sedini mungkin. Akan lebih bagus di saat masih pacaran. Hendaknya pacar sering diajak ke rumah calon mertua, supaya saling kenal dan menjadi keluarga sendiri. Dengan begitu, ketika menikah, mertua tak merasa anaknya dirampas orang lain. Sementara menantu perempuan juga harus bisa bersikap baik dan menjadikan mertua perempuan seperti ibu kandungnya sendiri.
“Bisa juga dengan cara lain. Sebelum menikah, buat perjanjian dengan suami, tak perlu harus tertulis, yang menyangkut tiga hal. Pertama, berapa lama akan bersama mertua. Kedua, apa yang diharapkan suami terhadap istri. Ketiga, tentang kewenangan. Mungkin masalah ini tidak etis bagi kita sebagai orang Timur, tapi demi kebaikan bersama, tidak ada salahnya,” tutur Josephine. (lia)

Sumber:
Harian Surya, Minggu 7 April 2002

Sunday, February 10, 2002

Ciptakan Variasi Dalam Hubungan Seksual

Dalam kehidupan rumah tangga, tidak jarang terjadi kejemuan dalam hubungan seksual. Dalam masalah ini suami lebih merasakan, sebab langsung mempengaruhi ereksi mereka. Sementara di pihak istri merasakan akibat kegagalan suami melakukan kewajibannya.
Keadaan seperti itu menyebabkan suami mudah sekali tergoda untuk melakukan penyelewengan, lebih-lebih mereka yang tidak mempunyai keteguhan hati. Mereka akan mencoba melakukan hubungan seks dengan wanita lain, untuk membuktikan kemampuan seksualnya yang terganggu dengan sang istri.
Apabila gangguan itu semata-mata karena kejemuan, maka hubungan seks dengan wanita lain akan selalu berlangsung dengan baik, atau paling tidak, lebih baik daripada dengan istrinya. Sementara di pihak istri, seringkali menimbulkan dugaan bahwa suami tidak bisa melaksanakan kewajibannya dengan baik karena telah melakukan hubungan seks dengan wanita lain.
Akibatnya, sudah bisa dibayangkan. Meski seks bukan satu-satunya kebutuhan dalam kehidupan rumah tangga, tetapi ini bukan masalah sepele. Kegagalan dalam hubungan seksual akan besar pengaruhnya dalam keharmonisan mereka. Baik suami maupun istri sama-sama berpotensi melakukan penyelewengan ataupun perselingkuhan, dan itu merupakan awal kehancuran rumah tangga.
Menurut Psikolog RS Mitra Keluarga, Josephine M. J. Ratna, kejemuan hubungan seksual bisa terjadi pada siapa saja. Bahkan boleh dibilang setiap pasangan suami istri pernah mengalami hal semacam itu. “Ini harus segera diatasi. Kalau dibiarkan berlarut-larut, bisa menghancurkan keharmonisan rumah tangga,” tandas Josephine.
Bagaimana mengatasinya? “Pertama, harus melakukan penyegaran, menciptakan suasana percintaan baru yang lebih harmonis, untuk menghilangkan suasana monoton yang membosankan,” kata mantan Pembantu Dekan I Fakultas Psikologi Universitas Widya Mandala Surabaya itu.

Inovasi Baru
Pada prinsipnya, upaya tersebut adalah menciptakan inovasi baru yang berpengaruh secara psikis dalam hubungan pribadi dengan istri. Ini bisa dilakukan antara lain dengan berlibur berdua ke suatu tempat romantis atau ke tempat yang memiliki kenangan indah bagi Anda berdua, mengubah suasana rumah, khususnya ruang tidur, melakukan variasi posisi dan rangsangan hubungan seksual, variasi dalam penampilan dan sebagainya.
Hal seperti ini benar-benar harus diterapkan dan dilakukan dengan sebaik-baiknya, terlebih lagi dengan penuh variasi. Misalnya, dengan berlibur akan membangun suasana baru yang secara psikis memberikan rangsangan seksual yang berbeda dan baru pula.
Suasana hari-hari yang ikut memberikan variasi rangsangan seksual fisik dan psikis saat mengubah suasana ruang tidur. Bau pewangi ruangan atau bau parfum yang digunakan di dalam ruang tidur juga harus bervariasi agar tidak selalu sama. Demikian juga dengan penampilan diri sehari-hari, baik pria maupun wanita.
Dalam hal perilaku seksual, rangsangan dan posisi hubungan seksual perlu variasi, jangan itu-itu saja seperti yang dilakukan selama ini. Memang, untuk melakukan variasi, baik dalam hal suasana maupun perilaku seksual tidak semudah yang diduga. Untuk itu, diperlukan komunikasi yang baik dengan pasangan. Ini penting, karena biasanya komunikasi akan mulai macet bila disangkutpautkan dengan masalah seksual. Ada kalanya satu pihak sudah siap, namun pihak lain masih mempunyai hambatan yang disebabkan faktor tertentu. Di sini perlunya keterbukaan dalam berkomunikasi.
“Yang tidak kalah pentingnya, saling mempelajari keinginan pasangan. Harus tahu apa yang diinginkan dan apa yang tidak disukai pasangan. Dan semua ini kuncinya adalah saling terbuka dalam komunikasi,” kata psikolog yang juga Manajer AEC (Australian Education Centre) Surabaya itu.
Selain kejemuan, faktor lain seperti usia dan penyakit juga menyebabkan timbulnya gangguan terhadap pasangan suami-istri yang sudah lama menikah. Karena itu, selain mengatasi kejemuan, sebaiknya kesehatan juga perlu dijaga bagi kedua belah pihak. Ini dimaksudkan agar kehidupan seksual dapat tetap terbina. Tetapi harus dipahami bahwa terjadinya kemunduran fungsi seksual seiring dengan bertambahnya usia tidak akan dapat dihindari. Untuk yang satu ini, diperlukan saling pengertian dan keterbukaan yang besar dari kedua pasangan.
Janganlah melihat seks sebagai suatu ungkapan fisik belaka. Jika dimungkinkan, tuntutan mental dan spiritual dalam pembahasan dan perilaku seks, maka ekspresi keindahan tersebut menjadi suatu ekspresi normal dari tubuh yang normal dan sehat. (lia)

Sumber:
Harian Surya, Minggu 10 Februari 2002

Sunday, February 3, 2002

Perginya Sepasang Sahabat Karib - Pakai Heroin Sebelum Bertindak Keji

Anak-Anak Mesti Diberdayakan

Mengomentari tragedi di Pasuruan ini, psikolog Josephine M. J. Ratna, M. Psych., menyatakan keprihatinannya. Kebetulan, ia mengikuti perkembangan kasus ini dari awal. Ia menduga, salah satu penyebab terjadinya kasus ini, dua pelaku adalah pemakai narkoba. "Ingat, efek dari pemakaian narkoba bisa bermacam-macam. Ada yang bisa membuat rendah diri, beringas, pembohong, dan sebagainya," papar konsultan dan dosen psikologi di Surabaya ini, Kamis (17/1).

Begitu kuatnya efek pemakai narkoba, kata Josephine, hingga meski pemakai sudah tiga tahun berhenti, dampak buruknya masih ada. "Jadi, jangan dikira sekarang berhenti, sebulan dua bulan tidak ada akibatnya," lanjutnya.

Soal begitu gampangnya para pelaku membunuh, Josephine menduga, semua itu tak lepas dari kecenderungan cara berpikir masyarakat sekarang. Masyarakat sekarang ini maunya menerapkan pola berpikir yang efektif dan efisien. Begitu juga dengan pelaku kejahatan. Dalam melanggar hukum pun dia menggunakan pola pikir seperti itu."

Josephine memerinci, "Saat pelaku ingin melenyapkan seseorang, mereka melakukan cara yang paling memungkinkan untuk menghalangi terungkapnya kejahatan mereka. Apapun caranya. Kalau perlu dengan membunuh. Sungguh mengerikan, memang."

Untuk menghadapi kejahatan seperti ini, yang paling mendesak, menurut Josephine adalah memberdayakan anak. Di antara cara yang bisa dilakukan, "Biasakan anak-anak untuk memberitahukan keberadaannya, mengajari anak berkata tidak, bila diajak seseorang yang belum kenal, atau menjerit bila diperlakukan tidak benar. Juga ada baiknya sedini mungkin anak belajar olahraga beladiri. Dengan begitu bisa membela diri bila diserang orang."

Kendati hanya anak-anak, Josephine mengingatkan, mereka bisa mencegah terjadinya kejahatan atas diri mereka bila orangtua memberi arahan tentang upaya-upaya pencegahan tadi. "Jangan remehkan anak kecil, lho. Biasanya orangtua kan suka begitu. Mereka menganggap, anak-anak bisa apa sih. Padahal mending anak diberdayakan, ketimbang tidak sama sekali."

Menanggapi kasus ini, Sri Redjeki Soemaryoto, S. H., Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan menegaskan bahwa para pelaku pemerkosaan sudah selayaknya mendapat hukuman yang seberat-beratnya. "Saya mengakui, UU yang kini berlaku masih harus direvisi. Hukuman bagi pelaku pemerkosaan masih terbilang rendah dan tak sebanding dengan penderitaan jiwa dan fisik yang ditanggung korban," ungkap Sri pada NOVA, Senin (21/1) di Jakarta.

Ditambahkan Sri, pihaknya tengah mendesak DPR untuk mengesahkan substansi RUU tentang hukum acara pidana mengenai perlindungan korban dan saksi peristiwa perkosaan. "Namun pemerintah tentunya tidak dapat bergerak sendiri tanpa adanya dukungan dari masyarakat."

Untuk mencapai keadilan hukum bagi perempuan dan anak, ujar Sri, seluruh masyarakat harus bergerak bersama. Masyarakat juga mesti semakin peduli melalui sikap nyata yang menentang kejahatan pada perempuan dan anak, sampai pada bentuk yang sekecil-kecilnya. "Untuk semua gerakan yang membela hak-hak anak dan perempuan, Pemerintah akan memfasilitasi. Kami juga akan memberikan advokasi dan dukungan sebesar-besarnya," tegas Sri.

Sumber:
Tabloid NOVA No. 727/XIV - 3 Februari 2002

Friday, January 11, 2002

Perhatikan Pakaian Dalam

Banyak hal yang harus dilakukan untuk membina dan menjaga keharmonisan rumah tangga. Di antaranya, saling memberikan perhatian dan menghargai. Bentuk perhatian pun bisa bermacam-macam. Kebiasaan yang dilakukan Manajer Australian Education Centre di Surabaya, Josephine M. J. Ratna, merupakan salah satu contoh kecil, namun cukup berarti.

Ibu dua orang anak, kelahiran Surabaya, 4 Januari 1968 ini tidak pernah lupa memberikan ucapan selamat kepada suami, setiap tanggal kelahiran, pernikahan dan tanggal pertama pacaran. "Jadi setiap bulan, minimal tiga kali kami memberikan ucapan selamat. Suami juga melakukan hal yang sama. Untuk tanggal perkawinan dan tanggal pertama pacaran, terkadang suami yang lebih dulu memberi ucapan selamat, terkadang saya. Meski tampak sepele, sangat bermakna bagi kami," tuturnya.

Selain memberi ucapan selamat, yang juga mendapat perhatian serius adalah pakaian dalam. Masters of Clinical and Health Psychology Curtin University of Technology, Western Australia ini tidak sembarangan dalam memilih pakaian dalam. Selain memperhatikan faktor kesehatan, juga masalah keindahannya. Ia tidak mau mengenakan pakaian dalam asal-asalan, demi suami.

"Kalau kita mengenakan pakaian dalam asal-asalan, menurut saya itu sama dengan tidak menghargai suami, sebab pakaian dalam hanya suami yang melihatnya. Begitu juga pakaian di rumah. Masak kita di hadapan orang lain mengenakan pakaian bagus, di hadapan suami mengenakan pakaian seenaknya. Bisa-bisa suami lebih suka memperhatikan orang lain," kata alumni Fakultas Psikologi Universitas Airlangga Surabaya ini.

Sumber:
Rubrik Tamu Kita - Harian Surya, Jumat 11 Januari 2002