Sunday, April 7, 2002

Dekatkan sejak pacaran

“Dia akan bertambah tertekan kalau ternyata suami membela ibunya”
Hubungan menantu perempuan dengan mertua perempuan selalu digambarkan penuh konflik bagaikan hubungan kucing dan anjing, tentu saja gambaran semacam itu tidak sepenuhnya benar, kenyataannya banyak yang rukun-rukun saja.
Namun juga tak dapat disalahkan, sebab kenyataannya memang banyak terjadi konflik antara menantu perempuan dan mertua perempuan.
Konflik itu muncul karena secara psikologis, mertua perempuan sadar atau tidak sadar merasa anak laki-lakinya ‘dirampas’ menantunya. Ibu yang bertahun-tahun membesarkan dan mendidik merasa kehilangan. Apalagi kalau anaknya itu anak lelaki satu-satunya atau anak kesayangan.
Keadaan bertambah parah jika sebelum menikah anak laki-lakinya itu pencari nafkah utama keluarga dan selalu mengutamakan kepentingan ibu, sedang ibunya mengurus keperluan putranya. Setelah menikah, tentu perhatian itu ditumpahkan kepada istri serta anak-anaknya. Akibatnya, ibu merasa diacuhkan dan disia-siakan.
Karena perasaan-perasaan itu, maka seringkali ibu mertua bersikap sinis, galak dan selalu mengkritik menantu perempuannya. Segala hal mengenai menantu perempuannya dinilainya kurang. Keadaan bertambah parah kalau ibu dan menantu perempuan tinggal satu rumah, apalagi tinggal di rumah miliki suami, maupun suami masih tinggal di rumah orangtuanya.
Urusan dapur pun menjadi masalah. Ibu mertua tidak mau ‘daerah kekuasaannya’ direbut menantu, karena merasa dia yang berkuasa di rumah itu. Selain itu, dia merasa lebih tahu seera makan anaknya. Sikap ibu mertua makin menjadi-jadi kalau dulu dia tidak merestui perkawinan anaknya, baik karena perbedaan status, ekonomi atau lainnya. Hal ini bisa menjadi alasan untuk menjatuhkan menantu perempuannya.
Dalam kasus seperti itu, umumnya menantu perempuan hanya bisa mengeluh pada suami, dan tentu saja hal itu mengganggu keharmonisan rumah tangga mereka. “Dia akan bertambah tertekan kalau ternyata suami membela ibunya,” kata Dra. Josephine Maria Julianti Ratna M. Psych, Psikolog di RS Surabaya International, yang juga Direktur Australia Education Centre di Surabaya.
Mengapa konflik seperti itu jarang terjadi antara menantu lelaki dan mertua perempuan ataupun mertua lelaki? “Karena menantu laki-laki kodratnya sebagai pencari nafkah keluarga, sehingga sebagian besar waktunya dihabiskan di luar rumah. Dengan demikian, sumber-sumber penyebab konflik dengan mertua bisa dihindari,” ujarnya.

Sinergi Segitiga
Untuk menghindari konflik menantu perempuan dengan mertua perempuan, menurut Josephine, mereka harus bisa menciptakan hubungan segitiga, yaitu hubungan antara istri dengan suami, istri (menantu) dengan mertua dan suami dengan ibunya.
“Jangan berupa hubungan garis lurus (istri-suami-mertua, atau istri-mertua-suami, Red), karena yang berada di tengah menjadi serba salah,” tandas Josephine.
Agar tercipta hubungan segitiga yang baik, lanjut Josephine, hendaknya dimulai sedini mungkin. Akan lebih bagus di saat masih pacaran. Hendaknya pacar sering diajak ke rumah calon mertua, supaya saling kenal dan menjadi keluarga sendiri. Dengan begitu, ketika menikah, mertua tak merasa anaknya dirampas orang lain. Sementara menantu perempuan juga harus bisa bersikap baik dan menjadikan mertua perempuan seperti ibu kandungnya sendiri.
“Bisa juga dengan cara lain. Sebelum menikah, buat perjanjian dengan suami, tak perlu harus tertulis, yang menyangkut tiga hal. Pertama, berapa lama akan bersama mertua. Kedua, apa yang diharapkan suami terhadap istri. Ketiga, tentang kewenangan. Mungkin masalah ini tidak etis bagi kita sebagai orang Timur, tapi demi kebaikan bersama, tidak ada salahnya,” tutur Josephine. (lia)

Sumber:
Harian Surya, Minggu 7 April 2002

Sunday, February 10, 2002

Ciptakan Variasi Dalam Hubungan Seksual

Dalam kehidupan rumah tangga, tidak jarang terjadi kejemuan dalam hubungan seksual. Dalam masalah ini suami lebih merasakan, sebab langsung mempengaruhi ereksi mereka. Sementara di pihak istri merasakan akibat kegagalan suami melakukan kewajibannya.
Keadaan seperti itu menyebabkan suami mudah sekali tergoda untuk melakukan penyelewengan, lebih-lebih mereka yang tidak mempunyai keteguhan hati. Mereka akan mencoba melakukan hubungan seks dengan wanita lain, untuk membuktikan kemampuan seksualnya yang terganggu dengan sang istri.
Apabila gangguan itu semata-mata karena kejemuan, maka hubungan seks dengan wanita lain akan selalu berlangsung dengan baik, atau paling tidak, lebih baik daripada dengan istrinya. Sementara di pihak istri, seringkali menimbulkan dugaan bahwa suami tidak bisa melaksanakan kewajibannya dengan baik karena telah melakukan hubungan seks dengan wanita lain.
Akibatnya, sudah bisa dibayangkan. Meski seks bukan satu-satunya kebutuhan dalam kehidupan rumah tangga, tetapi ini bukan masalah sepele. Kegagalan dalam hubungan seksual akan besar pengaruhnya dalam keharmonisan mereka. Baik suami maupun istri sama-sama berpotensi melakukan penyelewengan ataupun perselingkuhan, dan itu merupakan awal kehancuran rumah tangga.
Menurut Psikolog RS Mitra Keluarga, Josephine M. J. Ratna, kejemuan hubungan seksual bisa terjadi pada siapa saja. Bahkan boleh dibilang setiap pasangan suami istri pernah mengalami hal semacam itu. “Ini harus segera diatasi. Kalau dibiarkan berlarut-larut, bisa menghancurkan keharmonisan rumah tangga,” tandas Josephine.
Bagaimana mengatasinya? “Pertama, harus melakukan penyegaran, menciptakan suasana percintaan baru yang lebih harmonis, untuk menghilangkan suasana monoton yang membosankan,” kata mantan Pembantu Dekan I Fakultas Psikologi Universitas Widya Mandala Surabaya itu.

Inovasi Baru
Pada prinsipnya, upaya tersebut adalah menciptakan inovasi baru yang berpengaruh secara psikis dalam hubungan pribadi dengan istri. Ini bisa dilakukan antara lain dengan berlibur berdua ke suatu tempat romantis atau ke tempat yang memiliki kenangan indah bagi Anda berdua, mengubah suasana rumah, khususnya ruang tidur, melakukan variasi posisi dan rangsangan hubungan seksual, variasi dalam penampilan dan sebagainya.
Hal seperti ini benar-benar harus diterapkan dan dilakukan dengan sebaik-baiknya, terlebih lagi dengan penuh variasi. Misalnya, dengan berlibur akan membangun suasana baru yang secara psikis memberikan rangsangan seksual yang berbeda dan baru pula.
Suasana hari-hari yang ikut memberikan variasi rangsangan seksual fisik dan psikis saat mengubah suasana ruang tidur. Bau pewangi ruangan atau bau parfum yang digunakan di dalam ruang tidur juga harus bervariasi agar tidak selalu sama. Demikian juga dengan penampilan diri sehari-hari, baik pria maupun wanita.
Dalam hal perilaku seksual, rangsangan dan posisi hubungan seksual perlu variasi, jangan itu-itu saja seperti yang dilakukan selama ini. Memang, untuk melakukan variasi, baik dalam hal suasana maupun perilaku seksual tidak semudah yang diduga. Untuk itu, diperlukan komunikasi yang baik dengan pasangan. Ini penting, karena biasanya komunikasi akan mulai macet bila disangkutpautkan dengan masalah seksual. Ada kalanya satu pihak sudah siap, namun pihak lain masih mempunyai hambatan yang disebabkan faktor tertentu. Di sini perlunya keterbukaan dalam berkomunikasi.
“Yang tidak kalah pentingnya, saling mempelajari keinginan pasangan. Harus tahu apa yang diinginkan dan apa yang tidak disukai pasangan. Dan semua ini kuncinya adalah saling terbuka dalam komunikasi,” kata psikolog yang juga Manajer AEC (Australian Education Centre) Surabaya itu.
Selain kejemuan, faktor lain seperti usia dan penyakit juga menyebabkan timbulnya gangguan terhadap pasangan suami-istri yang sudah lama menikah. Karena itu, selain mengatasi kejemuan, sebaiknya kesehatan juga perlu dijaga bagi kedua belah pihak. Ini dimaksudkan agar kehidupan seksual dapat tetap terbina. Tetapi harus dipahami bahwa terjadinya kemunduran fungsi seksual seiring dengan bertambahnya usia tidak akan dapat dihindari. Untuk yang satu ini, diperlukan saling pengertian dan keterbukaan yang besar dari kedua pasangan.
Janganlah melihat seks sebagai suatu ungkapan fisik belaka. Jika dimungkinkan, tuntutan mental dan spiritual dalam pembahasan dan perilaku seks, maka ekspresi keindahan tersebut menjadi suatu ekspresi normal dari tubuh yang normal dan sehat. (lia)

Sumber:
Harian Surya, Minggu 10 Februari 2002

Sunday, February 3, 2002

Perginya Sepasang Sahabat Karib - Pakai Heroin Sebelum Bertindak Keji

Anak-Anak Mesti Diberdayakan

Mengomentari tragedi di Pasuruan ini, psikolog Josephine M. J. Ratna, M. Psych., menyatakan keprihatinannya. Kebetulan, ia mengikuti perkembangan kasus ini dari awal. Ia menduga, salah satu penyebab terjadinya kasus ini, dua pelaku adalah pemakai narkoba. "Ingat, efek dari pemakaian narkoba bisa bermacam-macam. Ada yang bisa membuat rendah diri, beringas, pembohong, dan sebagainya," papar konsultan dan dosen psikologi di Surabaya ini, Kamis (17/1).

Begitu kuatnya efek pemakai narkoba, kata Josephine, hingga meski pemakai sudah tiga tahun berhenti, dampak buruknya masih ada. "Jadi, jangan dikira sekarang berhenti, sebulan dua bulan tidak ada akibatnya," lanjutnya.

Soal begitu gampangnya para pelaku membunuh, Josephine menduga, semua itu tak lepas dari kecenderungan cara berpikir masyarakat sekarang. Masyarakat sekarang ini maunya menerapkan pola berpikir yang efektif dan efisien. Begitu juga dengan pelaku kejahatan. Dalam melanggar hukum pun dia menggunakan pola pikir seperti itu."

Josephine memerinci, "Saat pelaku ingin melenyapkan seseorang, mereka melakukan cara yang paling memungkinkan untuk menghalangi terungkapnya kejahatan mereka. Apapun caranya. Kalau perlu dengan membunuh. Sungguh mengerikan, memang."

Untuk menghadapi kejahatan seperti ini, yang paling mendesak, menurut Josephine adalah memberdayakan anak. Di antara cara yang bisa dilakukan, "Biasakan anak-anak untuk memberitahukan keberadaannya, mengajari anak berkata tidak, bila diajak seseorang yang belum kenal, atau menjerit bila diperlakukan tidak benar. Juga ada baiknya sedini mungkin anak belajar olahraga beladiri. Dengan begitu bisa membela diri bila diserang orang."

Kendati hanya anak-anak, Josephine mengingatkan, mereka bisa mencegah terjadinya kejahatan atas diri mereka bila orangtua memberi arahan tentang upaya-upaya pencegahan tadi. "Jangan remehkan anak kecil, lho. Biasanya orangtua kan suka begitu. Mereka menganggap, anak-anak bisa apa sih. Padahal mending anak diberdayakan, ketimbang tidak sama sekali."

Menanggapi kasus ini, Sri Redjeki Soemaryoto, S. H., Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan menegaskan bahwa para pelaku pemerkosaan sudah selayaknya mendapat hukuman yang seberat-beratnya. "Saya mengakui, UU yang kini berlaku masih harus direvisi. Hukuman bagi pelaku pemerkosaan masih terbilang rendah dan tak sebanding dengan penderitaan jiwa dan fisik yang ditanggung korban," ungkap Sri pada NOVA, Senin (21/1) di Jakarta.

Ditambahkan Sri, pihaknya tengah mendesak DPR untuk mengesahkan substansi RUU tentang hukum acara pidana mengenai perlindungan korban dan saksi peristiwa perkosaan. "Namun pemerintah tentunya tidak dapat bergerak sendiri tanpa adanya dukungan dari masyarakat."

Untuk mencapai keadilan hukum bagi perempuan dan anak, ujar Sri, seluruh masyarakat harus bergerak bersama. Masyarakat juga mesti semakin peduli melalui sikap nyata yang menentang kejahatan pada perempuan dan anak, sampai pada bentuk yang sekecil-kecilnya. "Untuk semua gerakan yang membela hak-hak anak dan perempuan, Pemerintah akan memfasilitasi. Kami juga akan memberikan advokasi dan dukungan sebesar-besarnya," tegas Sri.

Sumber:
Tabloid NOVA No. 727/XIV - 3 Februari 2002

Friday, January 11, 2002

Perhatikan Pakaian Dalam

Banyak hal yang harus dilakukan untuk membina dan menjaga keharmonisan rumah tangga. Di antaranya, saling memberikan perhatian dan menghargai. Bentuk perhatian pun bisa bermacam-macam. Kebiasaan yang dilakukan Manajer Australian Education Centre di Surabaya, Josephine M. J. Ratna, merupakan salah satu contoh kecil, namun cukup berarti.

Ibu dua orang anak, kelahiran Surabaya, 4 Januari 1968 ini tidak pernah lupa memberikan ucapan selamat kepada suami, setiap tanggal kelahiran, pernikahan dan tanggal pertama pacaran. "Jadi setiap bulan, minimal tiga kali kami memberikan ucapan selamat. Suami juga melakukan hal yang sama. Untuk tanggal perkawinan dan tanggal pertama pacaran, terkadang suami yang lebih dulu memberi ucapan selamat, terkadang saya. Meski tampak sepele, sangat bermakna bagi kami," tuturnya.

Selain memberi ucapan selamat, yang juga mendapat perhatian serius adalah pakaian dalam. Masters of Clinical and Health Psychology Curtin University of Technology, Western Australia ini tidak sembarangan dalam memilih pakaian dalam. Selain memperhatikan faktor kesehatan, juga masalah keindahannya. Ia tidak mau mengenakan pakaian dalam asal-asalan, demi suami.

"Kalau kita mengenakan pakaian dalam asal-asalan, menurut saya itu sama dengan tidak menghargai suami, sebab pakaian dalam hanya suami yang melihatnya. Begitu juga pakaian di rumah. Masak kita di hadapan orang lain mengenakan pakaian bagus, di hadapan suami mengenakan pakaian seenaknya. Bisa-bisa suami lebih suka memperhatikan orang lain," kata alumni Fakultas Psikologi Universitas Airlangga Surabaya ini.

Sumber:
Rubrik Tamu Kita - Harian Surya, Jumat 11 Januari 2002

Sunday, January 6, 2002

Seks Bukan Faktor Utama Selingkuh

Tidak dapat dihitung, berapa banyak rumah tangga berantakan melakukan perselingkuhan, tak peduli yang melakukan selingkuh itu salah satu pasangan mereka, atau kedua-duanya. Semua orang juga tahu, dampak buruk perselingkuhan bukan hanya dirasakan pasangan suami isteri, tapi juga anak-anak mereka. Bahkan tidak jarang sanak famili juga ikut menanggung malu.
Boleh dikatakan budaya dan norma-norma yang ada di masyarakat tidak membenarkan perselingkuhan dan menyebut perbuatan itu sebagai aib. Semua agama juga melarangnya. Meski demikian, perselingkuhan selalu terjadi dan tumbuh subur di masyarakat. Perselingkuhan juga selalu menarik untuk dibicarakan, apalagi kalau dilakukan oleh publik figur. 
Belakangan ini, perselingkuhan kembali menjadi pembicaraan nasional, menyusul pengaduan Mamay ke Polda Metro Jaya. Suami artis Nicky Astrea itu menuduh istrinya telah berselingkuh dengan laki-laki lain. Terlepas benar atau tidaknya tuduhan itu, yang jelas perselingkuhan bisa terjadi dimana-mana. Persoalannya, mengapa perselingkuhan itu terjadi?
Menurut Director International John Robert Power Surabaya, Indayati Oetomo, perselingkuhan diawali dari rasa ketertarikan, sebagai akibat kebutuhan salah satu dari pasangan suami istri tidak terpenuhi oleh pasangannya. Untuk memenuhi kebutuhan itu, ia mencari atau menemukan kepada orang lain – lawan jenis tentunya.
“Dari keteratrikan itu, disadari atau tidak akan berkembang ke arah yang lain, yang puncaknya pada masalah seks. Jadi kebutuhan seks bukan pemicu atau faktor utama, tetapi hampir dipastikan selalu mengikuti. Jadi perselingkuhan itu manusiawi, hanya saja manusiawi yang negative,” tutur Indayati, ditemui di kantornya, Jumat (4/1) siang.
Menurut dia, umumnya kebutuhan yang tidak bisa dipenuhi suami atau istri adalah kebutuhan akan pengakuan atau dihargai. Ini kebutuhan sangat mendasar bagi setiap manusia, namun sering kali dilupakan oleh pasangan suami istri. Selain itu, banyak juga karena pasangan tidak bisa atau enggan diajak bicara persoalan, khususnya persoalan yang berkaitan dengan pekerjaan, apalagi memberikan solusi. Akibatnya, uneg-uneg itu ditumpahkan kepada orang lain. karena ada kecocokan, akhirnya berkembang ke hal-hal lain.
Hal yang sama diungkapkan psikolog Josephine M.J. Ratna. Ia sependapat bahwa kebutuhan seks bukan pemicu utama, tetapi selalu mengikuti dalam perselingkuhan. “Ada juga sih perselingkuhan dilakukan hanya karena untuk memenuhi kebutuhan seks, tetapi prosentasenya kecil,” kata psikolog yang dinas di RS Surabaya Internasional ini.
Sama halnya dengan Indayati Oetomo, Josephine juga berpendapat, awal perselingkuhan terjadi karena ada kebutuhan yang tidak terpenuhi oleh pasangan, dapat dipenuhi wanita atau laki-laki lain. Menurut dia, kebutuhan teman untuk membicarakan persoalan yang sedang dihadapi, terutama persoalan yang berkaitan dengan pekerjaan, paling dominan dan menjadi awal perselingkuhan.
“Merasa menemukan orang yang enak diajak bicara, mulai ketertarikan, mulai ada perhtian terhadap orang itu, dan frekunsi berkomunikasi, semakin sering. Topik pembicaraan pun berkembang, bukan hanya sebatas persoalan pekerjaan dan puncaknya pada hubungan seksual. Semua itu dilakukan secara sadar. Namun tanpa dia sadari, terjadi perubahan pada perilaku dan itu sulit dikembalikan meski perbuatan mereka diketahui istri atau suaminya,” kata psikolog yang menjabat Manager Australian Education Centre di Surabaya.
Sekalipun perselingkuhan bisa terjadi di setiap lapisan masyarakat, baik Indayati maupun Josephine tidak menyangkal bahwa kecenderungan berselingkuh lebih besar dilakukan oleh mereka yang secara ekonomi telah mapan. “Semakin tinggi tingkat ekonomi seseorang, kecenderungan berselingkuh semakin besar, karena mereka memiliki fasilitas penunjang dan kesempatan yang lebih besar. Bagaimanapun juga, perselingkuhan membutuhkan saran dan juga dana,” kata mereka.
Josephine memperingatkan, perselingkuhan bisa saja terjadi pada kehidupan rumah tangga yang adem ayem. “Biasanya hal ini dilakukan pasangan laki-laki, karena dia merasa tidak tega mengajak istri membicarakan masalah pekerjaan atau urusan-urusan di luar rumah. Dia merasa kasihan terhadap istri yang capek mengurus rumah dan anak-anak, masih harus dibebani dengan persoalan pekerjaan yang dihadapi suami. Suami memilih mencari wanita lain untuk teman bicara, dan akhirnya berkembang menjadi perselingkuhan,” kata Josephine. (lia)

Jadikan rumah seperti ‘Supermarket’
Baik Indayati Oetomo maupun Josephine M. J. Ratna sependapat bahwa perselingkuhan lebih didominasi kaum pria. Bahkan dalam tahun 2002 yang disebut-sebut sebagai kebangkitan wanita, perselingkuhan tetap masih akan didominasi kaum adam. Alasan mereka, selain faktor kesempatan, sanksi moral terhadap wanita berselingkuh jauh lebih berat dibandingkan sanksi yang dijatuhkan kepada kaum pria.
Bagaimana supaya perselingkuhan tidak ‘mengotori’ kehidupan rumah tangga? Indayati menyarankan agar wanita bisa menjadikan rumah sebagai ‘supermarket’ yang mampu memenuhi semua kebutuhan suami, jadikan rumah tangga sebagai surga, sehingga suami ingin selalu segera pulang dan betah di rumah.
“Memang tidak semudah yang diucapkan, harus ada kemauan dan kesungguhan. Selain itu juga harus ada keterbukaan. Dengan begitu bisa saling memahami keinginan pasangan,” katanya.
Selain itu, lanjutnya, wanita harus mau belajar untuk meningkatkan wawasan dan punya kepedulian terhadap persoalan-persoalan yang berkaitan dengan pekerjaan suami. Kalau toh tidak bisa memberikan solusi terhadap persoalan yang sedang dihadapi suami, paling tidak bisa memahami dan merasakan. Juga perlu menjaga penampilan agar suami tidak merasa bosan.
Josephine menambahkan, selain saling terbuka, saling memperhatikan dan menciptakan komunikasi yang baik, pasangan suami istri perlu membuat perubahan dan menciptakan sesuatu yang baru yang bisa dibina secara berkelanjutan. (lia)

Sumber:
Harian Surya, 6 Januari 2002

Thursday, August 23, 2001

Seks Saat Pacaran Sarat Problem

Soal seks kadang menjadi pelik dan rumit terutama bagi pasangan yang sedang berpacaran. Apalagi bila salah satu pihak merasa tak nyaman atau dirugikan akibat tuntutan seks tersebut. Malah hubungan kadang menjadi renggang bila antara keduanya tak terjalin komunikasi yang baik dalam menyelesaikan urusan seks.

Menurut Josephine M. J. Ratna M.Psych, orang yang berani pacaran punya konsekuensi harus berani berhadapan dengan lawan jenis.

"Karena lawan jenis bisa memberikan stimulus (rangsangan) yang sangat luar biasa. Bagaimana mencegahnya, ya tergantung bagaimana mengelola stimulan itu," ujar Josephine M. J. Ratna M.Psych, Rabu (22/8).

Dosen Fakultas Psikologi Universitas Katolik Widya Mandala ini mengatakan urusan seks dalam berpacaran di Indonesia masih terikat budaya timur. Namun demikian, tak jarang norma ini dilanggar, sehingga urusan seks dalam pacaran dianggap hal biasa. Bahkan sering urusan seks dikedepankan dalam berpacaran.

Namun demikian, pacaran yang hanya mengutamakan seks bisa sarat problem karena akan menyulitkan pasangan membuat keputusan, mau menuruti permintaan pacar atau tidak.

Celakanya, tak jarang seks dianggap sebagai wujud dari cinta. "Bila itu yang diminta namanya bukan lagi cinta, namun nafsu yang memanfaatkan kesempatan dan digunakan sebagai pengalaman yang dibungkus dengan kedok cinta. Karena itu harus berani menolak," papar Josephine.

Namun mereka yang terlanjur melakukan hubungan seks pada masa pacaran, katanya, tak perlu menyesali apa yang telah dilakukan. Karena mereka yang sudah berani pacaran sudah berorientasi jangka panjang.

"Kalau ada penyesalan setelah terjadinya hubungan seks hanya akan menunjukkan sikap picik dan tidak gentlemen. Semestinya bila tahu akibat dari hubungan seks, mereka tidak melakukan hal itu," urainya.

Ditambahkan, seseorang yang terjebak hubungan seks karena ada peluang melakukan. Misalnya suasana yang mendukung. Cara mengatasinya bisa dilakukan dengan komunikasi yang baik, mengalihkan pembicaraan yang menjurus persoalan seks atau melibatkan orang lain dalam pembicaraan. "Namun yang paling penting adalah iman dan kontrol diri," imbuh Josephine.

Sumber:
Harian Surya, Kamis 23 Agustus 2001

Sunday, April 15, 2001

Mencurigai Mantan Pacar Istri

Harus Terbuka dan Percaya

Untuk menghindari agar tidak menimbulkan masalah di belakang hari, sebaiknya bila kita putus hubungan dengan pacar, harus ada komitmen. Berupa sikap bagaimana hubungan antara dua orang ini selanjutnya. "Apakah mereka akan menjadi teman, ataukah tidak usah berhubungan sama sekali," tutur Dra. Josephine M. J. Ratna, psikolog yang dosen di Fakultas Psikologi Unika Widya Mandala Surabaya ini.

Menurut Josephine, hidup manusia itu tidak hanya sekarang saja. Karena itu, bila kita putus hubungan dengan seseorang bukan tidak mungkin suatu saat kita akan bertemu lagi. Di sinilah pentingnya komitmen setelah putus itu harus kita lakukan.

Setelah kita putus dengan seseorang, lalu menjalin hubungan kembali dengan orang lain, ada baiknya kita terbuka dengan pasangan baru kita. "Keterbukaan itu tidak perlu terlalu mendetail, tapi cukup misalnya kita pernah dekat dengan si A, dan seterusnya," kata Josephine.

Kalau tidak cerita, bisa juga pada saat kita bertemu dengan mantan pacar, kita memperkenalkan dia pada pasangan kita bisa bermasalah. Tapi kalau pasangan tidak mempersalahkan, sebaiknya tidak usah menceritakan bagaimana hubungan kita dengan dia sebelumnya. Semua itu memang tergantung dari masing-masing pihak, dan sejauhmana keterbukaan dan kepercayaan masing-masing pasangan.

Sebenarnya mencurigai atau mencemburui mantan pacar suami atau istri itu tak perlu. Bila kita sudah memutuskan untuk menikah, semua masa lalu suami atau istri, itu adalah bagian dari masa lalu yang tidak perlu dipersoalkan.

Bila pasangan menyadari hal ini, maka curiga atau cemburu itu tidak perlu lagi. Menjalin hubungan sebagai teman dengan mantan pacar, boleh-boleh saja. Bahkan tidak jarang juga ada yang bisa menjalin hubungan bisnis dengan mantan pacar suami atau istri. Semuanya tergantung seberapa besar keterbukaan dan kepercayaan masing-masing pasangan. Selain itu, sejauh mana sikap pasangan itu terhadap mantan pacar suami atau istrinya. "Misalnya di hari-hari besar seperi Idul Fitri kita ingin mengirim kartu ucapan, mintalah izin suami atau istri, dan pakailah atas nama keluarga," kata Josephine.

Bila mantan pacar menelepon di kantor, sebaiknya juga cerita pada pasangan. Umumnya belum cerita, salah satu pasangan sudah khawatir atau takut dulu. Padahal tidak selalu demikian. Bila memang tidak ada apa-apa, tidak perlu takut. Bisa juga dengan cara lain, misalnya, meminta mantan pacar untuk menelepon di rumah, di saat suami ada, sekaligus sambil kenalan.

"Dengan begini hubungan pertemanan jadi lebih enak, karena tidak ada hubungan pribadi," ucapnya.

Dalam kesempatan ini Josephine kembali menekankan pentingnya keterbukaan dan juga kepercayaan antara pasangan untuk menyikapi hal ini. Dan bila masing-masing sudah memberikan kepercayaannya, jangan sampai kepercayaan itu disalahgunakan.

"Bagaimanapun semua orang punya masa lalu, tinggal bagaimana kita menyikapinya dengan arif, dan menjadikan masa lalu itu hanya sebagai bagian dari perjalanan hidup, bukan untuk mencari masalah baru," tutup Josephine M.J. Ratna.

Sumber:
Harian Surya, Minggu 15 April 2001